Posesif love

Posesif love
Kesempatan kedua (end season about Zeline&Kevin)


__ADS_3

Zeline sedang sibuk didapur bersama Lisa, iya sedang membuat brownis kesukaan Natalia dan Alvin, ketika sedang asik mengolah adonan, telfon bimbit zeline berdering, iya melihat nomor tak dikenal sedang menelefonnya.


"ciao, chi è questo?" (halo, ini siapa?) tanya zeline ketika menjawab telfon.


"ZELINE DAVIRA!" jawab seorang lelaki di dalam telfon.


Zeline terkejut mendengar suara seseorang dalam panggilan telfonnya, iya sangat pasti kalau pemilik suara itu adalah kevin, iya terdiam tanpa sepatah kata, jantungnya memompa dengan cepat, iya merasa sesak didadanya, kemudian seluruh tubuhnya gemetaran.


"Sayang pembalasanmu padaku begitu kejam, tidak ada yang seberani ini terhadapku kecuali dirimu, kuberi waktu satu jam dari sekarang, kalau kau tidak datang kerumahku, kau tidak akan pernah bertemu dengan anak kita, seperti yang kau lakukan padaku empat tahun lepas," jelas kevin kemudian mematikan telfon.


Zeline semakin shock mendengar ancaman kevin, kepalanya terasa pusing, hingga secara tak sadar iya menjatuhkan telfon bimbit miliknya.


"Zeline apa kau baik - baik saja?" tanya Lisa, iya terkejut saat mendengar suara barang jatuh, kemudian iya menghampiri zeline, dah melihat wajah Zeline yang sudah memucat.


" aku baik - baik saja, tolong ambilkan handbag di dalam kamar dan suruh supir menyiapkan mobil untuk ku, aku akan pergi ke suatu tempat," ucap Zeline pada lisa. Setelah mendengar perkataan bosnya, kemudian Lisa langsung beredar dan melakukan perintah.


Sembari menunggu, Zeline berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa sambil memicit kepalanya, iya sangat takut akan ancaman kevin.


Beberapa lama kemudian lisa datang memberi handbag yang dipintanya, sekaligus memberitahukannya, kalau mobil telahpun siap.


kemudian zeline berjalan menuju loby rumahnya, dan memasuki mobil yang sudah siap parking di hadapan lobby rumahnya. Selama dalam perjalanan, zeline sangat gelisah, iya bingung bagaiamana akan menjelaskannya pada kevin, iya tak menduga kalau kevin akan mengetahui kebenarannya secepat ini.


................


Usai menelfon zeline, kevin duduk pada kursi di dalam kamarnya sambil mengatup kedua tangan tepat di wajahnya, iya sedang menunggu kedatangan Zeline, iya telah memerintahkan abra untuk membawa anak - anak ke taman bermain.


................


Beberapa lama kemudian zeline sudah tiba dirumah megah milik kevin, kebanyakan semua penghuni area perumahan elite ini adalah berasal dari kalangan bangsawan dan usahawan kelas atas.


Zeline menarik nafas panjang ketika hendak turun dari mobil, ini pertama kalinya setelah empat tahun lepas iya menginjakkan kaki kembali kerumah ini, pandangannya melihat area sekeliking, tidak ada satupun yang berubah dari rumah ini, masih terlihat sama sewaktu iya menjadi nyonya dirumah ini seketika dulu, kemudian para maid berbaris menyambut dirinya sambil berkata, " Selamat datang kembali nyonya, tuan sudah menunggu nyonya di kamar atas," ucap salah seorang maid sambil setengah membungkuk. Zeline memerhati wajah maid yang berkata tadi, wajah maid terlihat pucat dan cara berbicaranya juga seperti ketakutan seperti melihat hantu, tapi yasudahlah, Zeline tak ingin memikirkannya, mungkin saja maid itu sangat terkejut akan kedatangannya, kemudian Zeline hanya membalasnya dengan senyuman, lalu iya berjalan menaiki tangga, setiap langkahnya diringi dengan degupan jantung yang seakan ingin berlari keluar dari tubuhnya, dirinya tak menyangka akan kesini lagi.


Setelah sampai di pintu depan kamar, Zeline menarik nafas sambil memejamkan matanya, tangannya meraih gagang pintu kamar kemudian memutarnya, seketika pintu terbuka iya melihat kevin yang sedang duduk dikursi membelakangi dirinya, iris mata zeline memerah, dan degupan jantungnya semakin kencang, iya merasa tak sanggup berhadapan dengan Kevin, ingin rasanya iya kembali.


Kevin yang telah menyadari kedatangan zeline kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan manuju Zeline yang sedang berdiri kaku didepan pintu yang telah tertutup.


Jantung Zeline semakin berdegup kencang, nafasnya tersengal - sengal, dirinya seakan ingin meledak, tatapan mereka saling beradu. Kemudian tanpa sepatah kata kevin memeluk dirinya dengan sangat erat hingga tak menyisakan ruang oksigen untuknya.


Zeline menitik-kan airmata, lalu mencoba meleraikan pelukan dari Kevin. Namun Kevin menolak, malah makin erat memeluk dirinya.

__ADS_1


" Kenapa kau berbuat sebegininya terhadapku, kenapa kau setega ini sayang?" ucap Kevin sambil melepaskan pelukannya lalu kembali mencengkeram Zeline dan menempelkan tubuhnya pada dinding.


Zeline hendak menjawab pertanyaan Kevin, namun terhenti karena Kevin tiba-tiba mencium dirinya, Kemudian Zeline mengalihkan wajahnya saat Kevin mencoba mencium bagian bibirnya.


"Kevin kumohon jangan melakukannya," ucap Zeline yang sedang berada di dalam cengkraman Kevin.


Kevin marah mendengar penolakan Zeline, kemudian iya menggangkat tubuh Zeline lalu menggendongnya ala bride style, dan menghempaskan tubuhnya keatas ranjang, lalu menindihnya. Iya mengunci kedua tangan Zeline di posisi atas kepala menggunakan sebelah tangan kirinya, agar Zeline tidak meronta. Kevin **** Zeline dengan posisi paha kiri dan kanannya mengimpit pinggul Zeline, iya melekuk-kan lutut sebelah kirinya agar lebih leluasa. Kemudian mulai mencium bagian bibir Zeline. Setelah puas menciumnya di bagian bibir. Kevin berpindah ke bagian leher kemudian meninggalkan jejak ciumannya, sudah lama Kevin tidak mencium bau aroma sensual dari tubuh Zeline. Hasrat seksualnya semakin membara, Kevin benar-benar tidak dapat menahan dirinya iya menginginkan lebih dari ini, lalu iya menyobek baju yang dipakai Zeline hingga menampakkan pakaian dalamnya, kemudian melemparkan bajunya ke seberang arah.


"Hentikan Kevin! kumohon, jangan lakukan ini," rintih Zeline sambil mengentak-hentakkan kakinya, iya mencoba menyadarkan Kevin dari amarahnya. Namun Kevin tidak mendengar sama sekali rintihannya, Iya kembali meninggalkan jejak ciuman pada buah dadanya. Zeline mengerang kesakitan, Kevin benar-benar tak terkontrol, ternyata iya masih sama seperti dulu, jika sedang marah atau kesal, Kevin akan melampiaskan semuanya dengan ciuman atau lebih dari itu.


"kevin hentikan! atau aku akan membencimu selamanya!" tegas Zeline, iya mencoba melawan ketika Kevin sedang lengah, iya mendorong kevin, kemudian terbangun mengambil selimut yang ada didekatnya, lalu menutupi tubuhnya yang sudah setengah telanjang.


"membenciku huh? bukankah selama ini kau memang sudah membenciku? kau telah memalsukan kematian mu! dan menyembunyikan kedua anak ku, sayang! apa kau fikir itu semua adil untuk ku? kau telah memenjarakan cintaku, selama ini aku selalu merindumu, aku sangat hancur karena kehilanganmu," tegas Kevin sambil kembali mencengkram bahu Zeline sehingga membuat posisinya terbaring kembali.


"aku tidak ingin mempermasalahkan hal yang telah lalu, salahkan dirimu untuk datang kembali, sayang! kali ini, aku tidak akan melepaskanmu walau sejengkalpun! kau milik-ku, dan akan selamanya menjadi milik-ku." Lanjut Kevin sambil menyentuh wajah Zeline kemudian dengan lembut iya mengelusnya menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menopang tubuhnya agar tidak **** Zeline, tatapannya yang tadi mengintimidasi berubah menjadi tatapan lembut, penuh kasih sayang.


Zeline manatap tajam pada Kevin, tiba-tiba saja, rasa bersalah menghampirinya, matanya berkaca-kaca.


"apa aku sudah membuatmu menderita selama ini?" tanya Zeline sambil menatap Kevin.


"tentu, apa kau tau saat kali pertama membaca surat mu! hatiku ikut mati bersamaan dengan kata terakhir dalam surat itu," jawab Kevin.


Kemudian Zeline memeluk erat Kevin sambil menangis tersedu-sedu. "kali ini, aku akan memberi kesempatan kedua untuk hubungan kita," ucap Zeline dalam hati, iya abaikan ego dan logikanya, sekarang waktunya mengikuti hati dan perasaannya.


Zeline mengerang kesakitan, iya menjambak rambut Kevin sekuatnya, namun Kevin hanya diam saja, malah iya makin lama menggigit manja bagian tubuh Zeline. Kini tubuh Zeline sudah dipenuhi dengan jejak ciuman dari Kevin.


"urghhh, hentikan Kevin, nanti anak-anak akan melihatnya," ucap Zeline mencoba menghentikan dengan mendorong wajah kevin.


Namun Kevin tak menghiraukannya sama sekali, Iya malah makin membuka pakaian yang masih iya kenakan, dan melemparnya ke sebarang arah, kemudian iya membuka skirt yang dipakai Zeline, mereka berdua benar-benar telanjang bulat.


"Jangan Kevin, kita belum menikah," ucap Zeline sambil menutup mata Kevin menggunakan tangannya.


"Belum menikah? apa kau yakin? kita sudah mempunyai tiga orang anak! aku juga tidak pernah menandatangani surat cerai, kau masih istri sahku nyonya alexander!" jawab kevin sambil melepaskan tangan Zeline dari wajahnya. Sebuah senyuman nakal terlukis diwajahnya.


Zeline hanya terdiam mendengar jawaban Kevin, iya menghela nafas, saat Kevin mencoba menciumnya kembali dibagian bibir, kemudian iya membalasnya, lidah dan saliva mereka saling berpaut. Zeline memejamkan mata sambil memegang wajah Kevin, iya merasakan tangan Kevin sedang menyentuh area sensitivenya. Mereka melewati malam panjang dengan kehangatan sentuhan berisi rindu yang tak dapat terjelaskan.


.................


keesokan harinya Zeline terbangun, iya melihat Kevin yang sedang tidur pulas sambil memeluk dirinya, kemudian memandanginya dengan mata berkaca-kaca, Zeline tidak pernah sebelumnya memikirkan akan kembali pada Kevin.

__ADS_1


Sebenci dan semarah bagaiamanpun kita dengan pasangan kita, pada akhirnya perasaan itu tak akan berguna lagi, karena ada hati yang harus bahagia, dan cinta pula yang harus terpenuhi.


Kemudian Zeline bangun dari tempat tidur, lalu mengikat rambut pendek sebahunya, iya hendak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun tiba-tiba saja iya teringat kalau iya tak membawa baju ganti. Kemudian Zeline menarik nafas panjang sambil berjalan menuju almari, iya sempat memerhatikan sekeliling kamar ini. Masih melekat rapat foto perkawinan mereka yang terpanjang pada dinding dengan ukuran yang sangat besar, ternyata selama ini Kevin tidak pernah memindahkannya. Kemudian Zeline membuka pintu almari, iya terkejut melihat semua pakaiannya masih tertata rapi berada didalam almari, iya mengangkat sebelah alisnya kemudian memajukan wajahnya, iya mencoba mencium bau pakaian-pakainya, ternyata masih wangi! iya tersenyum sendiri sambil mennggelengkan kepala.


Kevin yang sedari tadi telah membuka mata sedang memerhatikan Zeline yang sedang berada didepan almari, kemudian iya mengeliat lalu berjalan ke arah Zeline, lalu mendekapnya.


"Sayang! aku selalu menyuruh para maid untuk merawat pakaianmu, jangan heran aku masih menyimpan semua barang kepunyaanmu," ucap kevin menjawab kebingungan pada wajah Zeline, seolah-olah tau apa yang Zeline sedang fikirkan.


Zeline tersenyum mendengar perkataan Kevin, iya menyentuh wajah Kevin yang sedang menjatuhkan kepalanya pada tengkuk lehernya, lalu menambah jejak ciuamannya.


"Hentikan Kevin, aku merasa geli." Ujar Zeline sambil mendorong wajah Kevin menjauh dari tengkuknya.


Namun Kevin tak mendangar iya semakin mempererat dekapannya, sehingga membuatkan Zeline susah bernafas, iya sangat senang, iya masih merasa ini semuanya mimpi, karna sosok Zeline yang telah dipercayainya meninggal empat tahun lalu, kini kembali lagi kepelukannya, dengan dia orang anak kandungnya.


"Bagaimana rasanya melahirkan tiga anak sekaligus sayang? apa tidak sakit?" tanya Kevin sambil mengusap perut Zeline.


"Aku sudah lupa rasanya, lepaskan aku sayang! aku ingin kekamar mandi," jawab Zeline tersenyum.


Kemudian Kevin melepaskan dekapannya, dan diganti dengan ciuman dari Zeline. Wajah Kevin memerah, iya sangat tersipu, kemudian iya ikut berjalan kekamar mandi menyusul Zeline.


Zeline terkejut ketika Kevin sudah berada dikamar mandi bersamanya, lalu iya tersenyum, kemudian mereka mandi bersama-sama.


.............


Seusai mandi dan mengeringkan rambut, kemudian Zeline mengenakan pakaiannya, iya mengenkan ruffle dress warna biru dengan kain chifon eklusive dengan motif bunga, dan memiliki panjang sampai dipertengahan antara siku dan mata kaki, kemudian iya turun untuk sarapan dan menemui Kevin dan anak-anak yang sudah siap sedari tadi di meja makan.


"Mama, benarkah yang ayah katakan kalau kita akan tinggal bersama?" tanya Alvin, iya berlari kecil menuju ke arah Zeline, ketika melihatnya sampai di anak tangga terakhir.


Zeline tersenyum kemudian menggendong Alvian.


"Iya sayang, mulai hari ini kita akan tinggal disini dengan ayah," Jawabnya.


Ketiga anak-anak Zeline bersorak kegirangan, mereka juga merasa bahagia, karna kini keluarganya bersatu kembali, mereka tidak harus takut dan malu kalau ada seseorang yang mencemoh mereka.


Kemudian mereka berempat bersarapan, setelah itu Natalia, Alvin dan Alvian. Bersiap untuk pergi berangkat ke sekolah, awalnya Alvian tidak mau, karna iya lebih suka belajar secara home schooling, namun Zeline tidak mengizinkannya, iya ingin membiasakan Alvian bergaul dengan teman-teman sebayanya, karna iya fikir akan susah nanti mencari teman saat sudah dewasa, apalagi dengan latar belakang ayahnya, pastinya yang mendekati dirinya hanya untuk meraih keuntungan semata, iya juga menginginkan Alvian untuk menikmati masa kecilnya bermain dan tertawa bersama dengan teman-teman sebayanya!


Seperti biasa, Zeline mengahantar mereka sampai lobby rumah, bedanya dulu Zeline sendirian, namun sekarang ada Kevin yang berdiri disampingnya, sambil mengiringi keberangkatan mereka bertiga.


Sebelum berangkat Alvian, Natalia dan Alvin menyalami kedua orang tuanya sambil memberiman triplle kiss, pada dahi, pipi, dan bibir. "bye ma, bye ayah," ucap mereka bertiga sebelum menaiki mobil.

__ADS_1


Zeline tersenyum sambil memeluk lengan kevin dan menyandarkan kepala dibahunya, kemudian Kevin tersenyum ke arah Zeline sambil memcium dahinya, tangan kanannya merangkul Zeline, dan mana kala tangan kirinya iya masuk kan ke saku celananya.


"Terimakasih telah datang kembali, dan memberi kebahagian dihidupku, tak dapat ku jelaskan semuanya dengan perkataan, yang jelas! perasaan sayang dan cintaku masih seperti dulu, tak pernah berubah sedikitpun,"


__ADS_2