Posesif love

Posesif love
Hadiah seorang teman


__ADS_3

Pukul 7:25 malam


Kevin duduk di dalam ruangan kantornya, Iya sedang meredakan amarahnya ketika melihat kepingan gambar Istrinya dan Antonio sedang tertawa lepas di sebuah cafe.


"Apa yang membuatnya sangat gembira? Iya bahkan tak pernah tertawa seperti itu denganku, dan mengapa Iya harus berbohong kalau Iya pergi dengan Antonio?" Ketus Kevin sambil memukul keras mejanya, pertanyaan demi pertanyaan menghampirinya. Iya mulai curiga dengan Zeline sejak kemarin sifatnya sangat aneh ditambah lagi dengan Antonio yang menelfonnya berulang kali, alhasil Iya menyuruh seorang mengikuti Zeline dan benar apa yang Iya sangkakan, Zeline diam-diam untuk bertemu Antonio.


Kevin menghela nafasnya, Iya mencoba untuk berfikir positif. "Zeline Kali ini Aku akan mempercayaimu!" Ucap Kevin mencoba menenangkan dirinya, Iya tak mau berbuat yang tidak-tidak pada Zeline, kemudian Kevin turun dari ruangannya lalu memasuki mobil yang sudah parkir di depan lobby sedari tadi.


Sesampainya Kevin dirumah, Zeline sudah tertidur.


iya melihat sosok Zeline yang sedang tertidur, betapa cantiknya dia, amarahnya seakan mereda. Kemudian Iya membelai rambut Zeline, lalu mencium keningnya. Kevin terasa ingin menggigit manja leher Zeline namun Iya hentikan ketika melihat bekas merah pada leher Zeline. Kevin mengerenyitkan dahi, lalu pelan-pelan tangan Kevin menuju bagian intim Zeline, Kevin membeliak kan mata, Zeline hanya memakai celana dalam, iya tidak memakai pembalut.


Emosi Kevin seakan meluap-luap, lalu Iya keluar dari kamarnya. "Apa yang telah kau lakulan di belakangku Zeline?" Batin Kevin sambil menghantam dinding.


Iya mencoba mencerna apa yang dilihatnya, dua hari lalu Zeline bilang kalau dia sedang period. Namun malam ini Iya pulang dengan tanda merah di leher, bahkan dia tidak menggunakan pembalut, "Apakah dia sudah berhubungan intim dengan Antonio?" Tanya Kevin dalam hati, matanya memerah Iya ingin menanyakan langsung hal ini pada Zeline, namun Iya harus menunggu hari esok.


.......


Zeline terbangun dipagi hari, Iya tidak melihat Kevin disisinya. Zeline terasa sesak, biasanya bangun dari tidur Iya melihat Kevin di sampingnya, bahkan Iya kadang terbangun karna pelukan Kevin yang membuat kram sendi-sendinya.


Zeline melihat jas yang Kevin bawa ke kantor kemarin, berarti Kevin sudah pulang dari semalam, namun kenapa Iya tak merasakan kehadiran Kevin semalam. Zeline mencoba berlari menuju ruang kerja Kevin, dan yaaah, Zeline melihat Kevin dengan kemeja putihnya sedang tertidur di kursi kerjannya, bisa-bisanya Iya tertidur dengan posisi begitu. Kemudian Zeline memeluk Kevin, Iya menangis.


"Kevin bodoh, kerja apa yang kau lakukan hingga membuatmu tertidur di ruang kerja dengan posisi begini, apa sendimu tidak merasa kram?" Ucap Zeline merasa terharu.


Kevin tersadar karna merasa ada titikan air pada wajahnya, lalu Iya membuka mata, ternyata Zeline sedang menangis memeluknya. Sontak Kevin terbangun lalu memeluk Zeline yang sedang menangis. "Kenapa kau tak membangunkan ku semalam? Aku menunggumu sampai ketiduran, Aku mimpi buruk bahwa kau meninggalkanku, dan ketika Aku bangun kau tiada di sisiku!" ucap Zeline sambil memukul dada Kevin.


"Huss, sayang jangan menangis, apapun yang terjadi Aku tak akan meninggalkanmu!" Ucap Kevin membelai lembut rambut Zeline kemudian mencium keningnya.


Zeline menangis dan pelukan Kevin pun makin erat.

__ADS_1


Kevin mengurungkan niatnya untuk bertanya hal kemarin, mungkin Zeline punya alasan tersendiri


.........


Sebulan sudah berlalu, makin hari Zeline makin sensitive, pernah suatu hari Kevin menunda rapat pentingnya karna harus menemani Zeline di rumah, dan juga porsi makanan Zeine pun bertambah tak seperti biasanya.


Zeline duduk menikmati angin di balkon kamarnya, kemudian Iya teringat sesuatu. "Oh Iya, seharusnya hari ini adalah hari ketiga Aku menstruasi, namun kenapa belum juga? Aku juga merasa sangat sensitive kebelakangan ini, apakah Aku hamil?" Ucap Zeline berbicara dengan sendirinya. Iya sangat kebingungan lalu Iya menelfon Kevin namun tak kunjung di angkat .


Selang bebrapa menit Antonio menelfon.


"Halo Zeline apa kabar? Aku baru saja kembali dari luar negri, Aku membawakan mu buah tangan, tiba-tiba saja ketika melihat barang ini, Aku teringatkan dirimu!" Ucap Antonio dalam telfon.


"Oh hai Antonio, tepat sekali Aku juga ada hal penting yang ingin kuceritakan padamu!" Jawab Zeline


"Kalau begitu sampai jumpa di tempat biasa Piazza Navona!" Balas Antonio.


Kemudian Zeline turun dan menyuruh Abra mengantarnya menuju Piazza Navona, Iya bahkan lupa untuk memberi tahu Kevin.


.....


Sesampainya di Piazza Navona, seperti biasa Zeline menyuruh Abra pulang dan menjemputnya pada sore hari. Zeline pun pergi menuju tempat biasa Iya berjumpa dengan Antonio.


Kemudian Abra menelfon Kevin, Iya ingat pesanan Kevin setiap hari seblum berangkat, Iya menyuruh Abra mengawasi Zeline.


"Halo Tuan, Aku baru saja menghantar Nyonya menuju Piazza Navona!" jelas Abra dalam telfon.


"Mmm," Jawab Kevin singkat lalu mematikan telfon.


Kemudian Kevin memanggil Edward

__ADS_1


"Edward suruh anak buahmu mengawasi Istriku, sekarang dia sedang berada di Piazza Navona!" Ucap Kevin ketika menyadari Edward sudah di dalam ruangannya.


"Kevin apa ini tidak terlalu berlebihan? Kau bahkan menyuruh seorang untuk menguntit Istrimu, kalau kau mencitainya kenapa tak mempercayainya saja?" Jawab Edward, Iya merasa tindakan Kevin sangat konyol dan kekanakan.


"Jangan sok mengguruiku Edward, lakukan saja perintahku!" Jawab Kevin tegas dengan pandangannya yang seakan ingin membunuh orang.


"Baiklah!" Jawab Edward kemudian keluar dari ruangan Kevin, lalu menelfon anak buahnya untuk pergi ke Piazza Navona.


...........


"Hai Nona, kau seperti agak sedikit gemukan sekarang!" Ucap Antonio, ketika melihat Zeline didepannya.


"Huuuh benarkah?" Tanya Zline seraya duduk.


"Oh iya, Aku membawakan mu gelang ini, pasti sangat cocok untuk mu!" Ucap Antonio kemudian memberikan sebah bingkisan yang di dalamnya ada gelang dengan permata warna merah maroon, terlihat sangat cocok untuk kulit putih Zeline.


Kemudian Zeline mangambil bingkisan itu dan memakainya langsung.


"Terimakasih Antonio!" Ucap Zeline tersenyum.


"Sama-sama, tapi kenapa wajahmu terlihat pucat sekali?" Tanya Antonio memerhatikan wajah Zeline.


"Mm Aku rasa ada yang aneh denganku!" Jawab Zeline menunduk. "Aku rasa aku sedang hamil, Aku ingin memastikannya, namun Aku belum siap untuk mengetahui kenyataannya!" Lanjut Zeline.


Antonio mengerenyitkan sebelah alisnya.


"Sudahlah jangan terlalu memikirkannya, ayo Aku akan menemanimu ke spesialis dokter kandungan pribadi milik keluargaku!" Ucap Antonio sambil memegang pundak Zeline, Iya membawanya ke klinik pribadi miliknya karna sangat tidak mungkin Zeline pergi ke dokter kandungan swasta bersamanya, karna berita tentang Zeline adalah Istri Kevin mulai tersebar, akan menimbulkan banyak kesalahfaham bagi orang yang melihat atau terjumpa dengan paparazi nantinya.


Zeline mengikuti perkataan Antonio, mereka keluar dari cafe kemudian masuk kedalam mobil, mereka bahkan tak sadar kalau ada yang sedang mengikuti mereka dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2