
Sudah satu bulan Antonio memerhati Aurora, iya selalu sibuk dengan telfon genggamnya, biasanya Aurora akan menemui dirinya setelah bangun tidur kemudian mengajaknya sarapan dan makan bersama, namun kini tidak lagi.
“Ehem!” kejut Aurora padanya ketika sedang duduk bersantai di rooftop rumah, kemudian Antonio menoleh, iya melihat Aurora sudah rapi dengan midi dress casual warna hitam. Serta highhelss warna silver bertali.
“Ada apa?” tanya Antonio keheranan melihat cara style berpakaian Aurora seperti hendak berkencan. “Apa aku ada janji untuk keluar dengannya?” gumamnya dalam hati, iya mencoba mengingat kembali kalau-kalau saja ada yang terlupa.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memberitahumu kalau malam ini aku akan pergi dengan seorang teman, dan kemungkinan tidak pulang!” Jawab Aurora sambil tersenyum ceria, rumah Antonio sangat jauh dari pusat kota, makanya iya memutuskan untuk menginap di hotel saja.
Antonio menelan salivanya, iya hampir saja salah sangka. “Kau akan pergi dengan siapa? Biarkan aku menghantarmu!” Balas Antonio.
“Tidak perlu! David sudah menungguku dibawah, Aku kesini hanya ingin memberitahumu saja,” Ucap Aurora tersenyum, iya merasa tidak sopan kalau tiba-tiba pergi begitu saja, karna walaupun Antonio yang mengajaknya kerumah ini, tetap saja Antonio adalah tuan dirumah ini, iya harus menunjuk-kan sopan santunnya.
Antonio kaget mendengar Aurora menyebut nama seorang lelaki, iya mengangkat sebelah alisnya, “Apa kamu akan pergi berkencan?” Tanyanya mencoba memastikan.
“Mm mungkin iya, dan mungkin tidak!” Jawab Aurora tersipu malu, David adalah teman sekelasnya saat SMA, mereka sempat dekat dan hampir berbapacaran, setelah iya mengaktifkan sosial media, orang pertama yang menchatnya adalah David, sang mantan gebetan, iya menerima ajakan David untuk bertemu dengannya, sekaligus ingin bernostalgia masa SMA.
Antonio terdiam mendengar jawaban Aurora, iya tak dapat mengeluarkan kata walau sepatah, kemudian iya mengangguk sambil berkata”Hati-hati, dan selamat bersenang-senang.”
Kemudian Aurora mengangguk membalas perkataan Antonio, lalu iya turun kebawah untuk menemui David yang telah menunggunya sedari tadi.
Antonio terdiam mematung sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa, hatinya merasa tak karuan mendengar Aurora keluar bersama lelaki lain, apalagi akan bermalaman. “Mmm nampaknya aku sudah lama tidak kekantor!” Ucap Antonio pada dirinya sendiri, kemudian iya bangkit dari duduknya dan langsung bergegas menuju kamarnya, iya akan menukar pakaian lalu pergi menuju kantornya yang terletak di pusat kota.
Setelah selesai mengenakan pakaian, iya pun bergegas menuruni anak tangga lalu berjalan menuju motor sportnya, kemudian memasukinya dan melaju menuju pusat kota.
…
Aurora sudah sampai dipusat kota bersama David, iya merasa sangat menyenangkan saat bersama David, biasanya kalau bersama dengan Antonio iya selalu tertidur karna tidak ada hal yang dibicarakan, namun lain halnya saat bersama dengan David, pohon yang hanya diam pun bisa menjadi topik pembicaranya, David adalah seorang yang banyak bicara dan lucu, sepanjang jalan mereka bernostalgia, membicarakan tentang zaman waktu mereka sekolah bersama, dan sepanjang jalan juga Aurora merasa sakit perut karna dibuat tertawa.
Kemudian mereka masuk ke sebuah shoping malll, dan berjalan-jalan disekitar sana. Mereka pergi ke studio foto setelah itu pergi ke game zone, tempat mereka selalu pergi dulunya seusai habis sekolah. Matahari terlihat telah membenamkan diri, secara tak sadar mereka melewati waktu tujuh jam penuh, kemudian mereka pun pergi menuju tempat makan yang selalu mereka pergi sewaktu jaman sekolah.
“Ternyata kau masih ingat tempat ini, aku hampir lupa!” Ucap Aurora pada David ketika mereka sedang hendak masuk kedalam restaurant.
“Tentu! Aku juga kadang sering makan disini, rasanya juga masih sama seperti dulu!” Balas David tersenyum sambil merangkul pinggang Aurora. Kemudian mereka duduk dan memesan makanan.
…
Jam sudah menunjukkan pukul 9:00 Aurora dan David sedang duduk dekat area Trevi fontain.
“Ayo aku akan mengantarmu pulang!” Ucap David ketika mereka sedang duduk bersama disebuah kursi yang menghadap ke air mancur.
“Tidak perlu! Aku sudah memesan kamar di hotel area sini, aku akan pulang besok!” Balas Aurora tersenyumm sambil menghadapkan wajahnya pada David.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu aku akan menghantarmu ke hotel, lalu pulang!” Ucap David sambil mengusap kepala Aurora.
Aurora hanya tersenyum mendapat perlakuan dari David, iya teringat saat mereka masih zaman sekolahan dulu, David selalu mengelus kepalanya seperti nak kecil, namun Aurora sangat suka dengan perlakuan David.
Sesaat kemudian, setelah merasa puas memandangi sekeliling, Aurora pun meminta kembali menuju hotel dan kemudian dihantar oleh David, ketika berada didalam mobil, telfon bimbit milik Aurora berbunyi, iya mendapat panggilan dari Antonio. “Halo! Ada apa?” Tanya Aurora usai menjawab panggilan.
“Hai, aku berada dikantor sekarang, ayo pulang bersamaku!” Jawab Antonio. Iya sebenarnya sengaja pergi kekantor, hanya sebagai alasan untuk mengikuti Aurora.
“Tidak perlu, aku sudah memesan hotel, aku akan kembali besok sore!” Ucap Aurora menolak ajakan Antonio. “Aku sedang dalam perjalanan menuju hotel besama David, tidak usah menghkawatirkanku!” Ucap Aurora kemudian menutup telfon.
…
Antonio merasa kesal setelah Aurora menutup panggilan begitu saja, dan yang paling iya kesali adalah dia sedang bersma David. “Apa yang akan mereka lakukan disana?” Gumam Antonio, fikirannya melayang kesana kemari, hatinya merasa tak tenang, iya juga tak tau mengapa, iya seolah terlihat seperti seorang kekasih yang sedang cemburu.
Kemudian Antonio menyuruh sekrtarisnya mengecheck alamat IP Aurora, iya akan menuju kesana. Selang beberapa menit kemudian Antonio mendapat alamat hotel yang Aurora tempati, kemudian iya segera bergegas kesana.
Setelah sampai dihotel, Antonio mencoba menelfon Aurora namun tak kunjung dijawab, hatinya semakin tak tenang, fikirannya negatifnya terbang kesana sini, iya sedang membayangkan apa yang lelaki dan perempuan sedang buat ketika berduaan dikamar hotel, Antonio menjadi tak sabaran, iya menelfon Aurora berkali-kali namun tetap saja tak ada jawaban. Kemudian iya menarik nafas panjang lalu berjalan melangkah menuju resepsionis, lalu menanyakan nomor kamar yang dipesan oleh Aurora, setelah mendapat kunci kamarnya, Antonio bergegas masuk kedalam lift, kemudian menekan butang nomor delapan, Aurora berada dilantai delapan nomor kamar 109. Setelah pintu lift terbuka, kemudian iya keluar dengan pandangan yang menoleh kekiri dan kanan mencari letak nomor kamar Aurora. Setelahh melihat kelibat nomor yang sama persis dengan kunci yang ada dikamarnya, kemudian tanpa fikir panjang Antonio kemudian hendak membuka pintu kamar Aurora, namun iya terhenti sejenak. “Apa perlu aku membukanya?” Tanyanya pada diri sendiri, iya merasa ragu-ragu dan takut akan reaksi Aurora nantinya kalau iya tiba-tiba membuka pintu kamar hotelnya, iya menelan salivanya kemudian menarik nafas, sambil memejamkan mata iya mencoba menggesek kunci kartu kamar yang diberikan resepsionist, setelah pintu terbuka iya menggagahkan diri, lalu melangkah masuk kedalam. “Halo! Apa ada orang?” Tanyanya sambil memerhatikan sekeliling. Kemudian pandangannya tertuju pada rak tempat penyimpanan sepatu, iya menghela nafas lega sewaktu melihat hanya ada satu pasang sepatu, yaitu milik Aurora saja. “Berarti David tidak ada disini!” gumamnya, kemudian iya berjalan menuju sofa lalu duduk sambil memicit kepalanya sambil berkata pada diri sendiri, “Mungkin aku terlalu berlebihan!” Iya terlalu khawatir dengan Aurora, sampai-sampai memberanikan diri untuk sampai kesini.
.
Aurora baru saja keluar dari kamar mandi, iya terkejut ketika melihat Antonio yang sedang duduk di sofa. “Kau! Sedang apa kau disini?” Tanyanya sambil membetulkan tali bathing suit panjang berwarna putih yang sedang iya kenakan. Kemudian iya mencoba mengingat-ngingat kalau saja iya ada memberitahu Antonio tentang keberadaannya.
“Kebetulan yang sangat aneh! Oh iya maaf aku tidak sempat mengangkat telfon darimu, karna aku baru saja selesai mandi!” Ucap Aurora, kemudian ikut duduk di sofa samping Antonio. “Ada perlu apa?” Lanjutnya pada Antonio.
“Tidak ada, aku hanya sengaja ingin bertemu denganmu!” Jawab Antonio, ekspresinya seakan-akan kebingungan tidak tau harus bagaimana.
“Baiklah! Aku sangat lelah, aku ingin beristirahat, kau boleh pulang!” Balas Aurora sambil memijit kakinya, gara-gara jarang sekali keluar jalan-jalan, kakinya merasa kebas dan pegal.
“Baiklah, hubungi aku besok!” Jawab Antonio sambil bangkit dari duduknya, iya juga tidak tau harus membahas apa dengan Aurora jika berlama-lama disitu.
Kemudian Aurora juga bangkit dari duduknya, lalu menghantar Antonio sampai pintu keluar. Setelah itu Aurora berjalan menuju kamar lalu merebahkan tubuhnya keatas ranjang.
….
Keesokan harinya Aurora sudah bangun tepat pada pukul 9:00, lalu iya mengecheck telfon bimbit miliknya, kemudian iya mendapati pesan whatsup dari Zeline, iya membeliakkan mata, merasa heran, kira-kira untuk apa Zeline mengirim pesan padanya. Kemudian Aurora membuka pesan tersebut, pesan itu hanya berisi sapaan “Hai!” dari Zeline, kemudian iya membalasnya sedemikian juga, lalu meletakkan handphonenya, kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Seusai mani Aurora mengenakan baju yang memang sudah disiapkannya kemarin, iya mengenakan midi ruffle dress bersiluet S degan warna grey, sangat cocok sekali bila dikenakan olehnya. Lalu iya mengambil handphonenya dan hendak menelfon Antonio, namun sesaat iya hendak menekan butang call pada handphonenya, Zeline tiba-tiba menelfonnya.
“Halo?” Jawab Aurora dalam telfon.
“Hai Aurora! Bisakah kita bertemu hari ini? Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu!” Jawab Zeline dalam telfon.
__ADS_1
“Erm.. Tentu! Kebetulan aku sedang berada di hotel dekat Trevi fontain.” Jawab Aurora keheranan, iya masih kefikiran, kenapa Zeline tiba-tiba ingin mengajaknya bertemu!
“Baiklah! Kalau begitu sampai jumpa disana, dua jam lagi aku akan berada disana!” Balas Zeline. Kemudian mematikan telfon.
Aurora menghela nafas sambil mengangkat kedua bahunya, kemudian meletakkan telfon kembali, lalu memakai sepatu hellsnya, iya akan turun untuk bersarapan.
Dua jam kemudian Zeline telah sampai dihotel tempatnya menginap, kemudian Aurora yang sedari tadi duduk pada sofa yang disediakan dilobby hotel mengangkat tangannya sambil menyahut nama Zeline, setelah mendengar sahutannya Zeline pun berjalan menuju dirinya.
“Hai! Maaf telah membuatmu menunggu lama!” Ucap Zeline sambil memeluk dirinya.
“Hai! Tidak apa-apa, aku juga baru saja selesai sarapan!” Jawab Aurora. Kemudian Aurora mengajak Zeline duduk.
“Eheeem, sebetulnya aku kesini ingin menyerahkan sesuatu padamu!” Ucap Zeline dengan wajah rasa bersalah, iya menghidari kontak mata dengan Aurora.
“Ada apa Zeline? Santai saja!” balas Aurora tersenyum.
Tak lama kemudian seorang yang berpenampilan rapi dengan jas warna hitam membawa sebuah kotak kaca dengan cover warna biru pada emreka, Aurora memerhati kotak itu dari jauh, iya tahu maksut Zeline.
“Maafkan aku Aurora! Aku tidak berniat untuk membuatmu sakit hati, aku tidak sengaja menemukan barang ini diruang kerja Kevin, kemudian aku memberikannya kembali pada Kevin, namun dia menyuruhku untuk membuangnya, aku merasa tak sampai hati, maka aku serahkan barang ini krpadamu! Maaf karna aku tak sengaja melihat isinya!” Jelas Zeline ketika bodyguard yang di suruh Kevin menemaninya setiap saat itu menyerahkan sebuah kotak kaca pada Aurora.
Aurora menelan salivanya, iya tahu isi dalam kotak kaca itu adalah sebuah surat dan gambar potret dirinya bersama Kevin ketika masih bersama dulu. Kemudian tangannya meraih kotak tersebut, lalu secara tak sadar iya membukanya didepan Zeline, terlihat sebuah gambar mereka disaat mengenakan seragam sekolah, gambar ketika mereka kecil dan masih banyak gambar kebersamaan lainnya lagi. Beserta surat-surat cinta yang mereka tulis satu sama lain, iya membuka salah satu surat itu dan membacanya.setelah selesai membaca surat tadi, iya manangis sambil mengatup mulutnya, iya teringat akan kenangan indah saat bersama Kevin. Kemudian Aurora mengusap airmatanya, kemudian berkata, “Terimakasih! Seharusnya kau membuangnya saja seperti kata Kevin!” Ucapnya sambil tersenyum dengan pandangan tajam, iya serasa ingin marah terhadap Zeline, namun menahannya.“Aku sangat terkejut kalau Kevin masih menyimpan semua barang ini!” lanjutnya.
“Walaupun sekarang barang ini sudah tidak penting untuknya!” Ucap Aurora dalam hati, iya tak habis fikir setega itu Kevin terhadap sisa-sisa kenangan mereka, sampai menyuruh Zeline membuangnya, iya merasa tersakiti, walaupun sekarang mereka sudah tidak mempunyai hubunguan apa-apa lagi.
“Apa kau marah denganku?” Tanya Zeline memastikan, sambil memegang tangan Aurora.
Kemudian Aurora tertawa dengan pertanyaan Zeline, iya menarik tangannya dari genggaman Zeline. “Aku tidak hanya marah denganmu Zeline, tapi aku sangat ingin membencimu! Aku tidak pernah berbuat salah apa-apa denganmu, namun kau memberiku sakit yang teramat. Pertama kau mengambil Kevin dariku, aku hanya diam dan merelakannya denganmu, dan kedua, secara tak sengaja kau juga telah mengambil hati orang yang baru kucintai, aku juga diam! Dan sekarang kau memberiku ini, secara tak sengaja kau menyakiti hatiku Zeline!” Jawab Aurora sambil menyembunyikan amarahnya, “Sekarang giliranku bertanya padamu! Apa diamku tidak cukup untukmu?” lanjutnya sambil memicit kepalanya.
“Aku minta maaf Aurora, aku tau pasti sangat sulit bagimu!” Jawab Zeline prihatin sambil menundukkan kepalanya.
Aurora tersenyum kembali, “Aku hanya becanda! Tak usah mengambil hati tentang apa yang aku katakan! Lagipun barang ini sudah tidak berarti lagi, kau seharusnya menuruti kata Kevin untuk membuangnya, aku sangat berterimakasih atas kepedulianmu! Karna kau sudah membawa barang ini kepadaku, maka aku akan mengambil dan menyimpannya sendiri!” Balas Aurora.
“Sama-sama, aku tidak apa-apa,” Ucap Zeline tersenyum.
“Errmm, baiklah kalau begitu aku akan kembali, karna aku ada janji setelah jam dua belas nanti!” Balas Aurora tersenyum meminta diri, lalu bangkit dari duduknya, kemudian meraih kotak kaca yang Zeline bawakan untuknya. Ketika hendak melangkah pergi, langkah Aurora terhenti saat merasakan Zeline sedang menahan lengannya, kemudian iya menoleh.
“Aku minta maaf sekali lagi, aku tau itu pasti sangat sulit bagimu, aku sangat berharap suatu saat nanti kau menemukan kebahagianmu, dan terimakasih karna tidak membenciku!” Ucap Zeline pada dirinya. kemudian ia hanya tersenyum tanpa sepatah kata membalas perkataan Zeline lalu melangkah kembali dan meninggalkan Zeline.
Iya serasa ingin menangis lagi, jujur iya sangat marah dengan Zeline, iya juga belum bisa memaafkan Zeline, namun tidak ada untungnya juga bagi diri Aurora untuk membenci Zeline, iya melangkah sambil memeluk kotak kaca dengan mata merahnya, kemudian iya melihat Antonio yang sedari tadi memanggilnya, namun iya hanya mengabaikannya lalu masuk kedalam lift.
Hatinya tergores kembali saat melihat kenangan yang tersisa dalam hubungan indah yang telah berakhir, air mata saat melihat benda itu menjadi tanda kesedihannya atas hubungan yang tidak bisa diulang kembali.
__ADS_1