
3 bulan kemudian.
Sudah tiga bulan semenjak Zeline kembali bersama dengan Kevin, mereka banyak menghabiskan waktu bersama, seperti berkeliling ke luar kota, bahkan pergi berliburan ke beberapa negara, seperti London, china dan jepang. Mereka juga membawa anak-anak dan ditemani Lisa sang asisten yang selalu ada disampingnya, Lisa juga ikut pindah kerumah Kevin sehari setelah kedatangan Zeline.
Zeline berjalan-jalan di sekitar taman belakang rumahnya, kebetulan pagi ini iya hanya sendiri, anak-anak sudah berangkat kesekolah ditemani Lisa, sedangkan Kevin baru saja berangkat ke kantor, dia pergi pagi sekali karna akan ada meeting.
Kemudian Zeline duduk di kursi goyang yang menghadap ke tanaman bunga mawar merah, yang disampingnya ada danau, taman pribadi milik Kevin terbilang luas. Zeline merebahkan tubuhnya sambil memejamkan mata, iya menarik nafas panjang membiarkan udara segar masuk menuju paru-parunya, iya sangat menikmati pagi harinya. Namun tiba-tiba, ada seorang maid yang memanggil namanya. Kemudian Zeline membuka mata, iya melihat wajah maidnya yang bernama Vita, seperti sedang kebingungan.
"Anu nyonya, kakak saya akan melahirkan, bolehkah saya meminta izin pergi untuk menghantarnya?" tanya Vita dengan sambil setengah membungungkuk, pelipisnya berkeringat.
"Tentu saja, tapi kenapa kamu terlihat begitu kebingungan?" jawab Zeline penasaran sambil memerhatikan maidnya yang menunduk seketika ditanya. Kemudian Zeline teringat, kalau diarea perumahan ini sangat jarang sekali ada taksi.
"Baiklah, ayo! aku akan ikut menghantar kakakmu ke rumah sakit," Ucap Zeline tersenyum, sebenarnya bisa saja iya hanya meminta tolong Abra saja untuk pergi menghantar Vita, namun kali ini iya ingin ikut menyaksikan bayi yang akan lahir.
"Terimakasih nyonya, ttttaaaapi," ucap Vita sambil menunduk, iya tergagap karena merasa sungkan terhadap nyonya-nya.
"Sudahlah! tidak usah banyak tapi, ayo kita pergi sekarang, tunjuk kan jalan menuju tempat kakakmu, setelah itu kita kerumah sakit terdekat." Tegas Zeline, kemudian iya bangun dari duduknya, lalu mengambil tangan Vita kemudian menggenggamnya sambil berjalan menuju garasi mobil. Zeline sangat baik terhadap semua maidnya, iya menganggap mereka semua seperti teman, iya tidak pernah sekalipun merendahkan maid-maidnya.
Sesampainya di garasi mobil, Zeline meminta Abra untuk menghantarnya pergi menuju tempat kediaman kakak dari maidnya, dan benerapa saat kemudian mereka menaiki mobil dan melaju menuju tempat yang akan dituju.
.......
"Terimaksih atas bantuannya nyonya, saya tidak tau bagaiamana harus membalasnya," ucap Vita pada Zeline yang sedang bersamanya duduk di ruang tunggu, iya sangat berterimakasih pada nyonya karna telah membantunya, sangat jarang memiliki majikan seperti Zeline.
"Sama-sama, itu hanya sebagian hal kecil," jawab Zeline tersenyum sambil menggenggam tangan Vita. Kemudian iya meminta diri dan berjalan menuju toilet. Namun saat hendak berbelok memasuki toilet, Zeline dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba muncul secara tak disengaja di hadapannya, orang itu terlihat sibuk dengan memerhati data-data pasien yang di pegangnya. Kemudian tanpa fikir panjang Zeline menghampiri orang itu, seorang itu bernama Alice, dokter sekaligus teman yang dulu membantunya melahirkan cahaya matanya.
"Alice! lama tidak bertemu apa kau masih mengingatku?" sapa Zeline, iya berdiri sambil melambai tangan tepat di hadapan Alice. Iya melihat Alice sedang memandang tajam dirinya, mungkin Alice sedang mencoba mengingat sesuatu. "Aku Zeline, apa kau lupa?" Lanjut Zeline mencoba mengingatkan Alice tentang dirinya.
"Zeline? apa benar kau Zeline? penampilanmu sangat berbeda dari sebelumnya, apa kabar? sejak kapan kau kembali ke roma?" Ucap Alice tersenyum kegirangan kemudian memeluk Zeline, sudah lama mereka tidak bertemu. "Eh! ayo kita berbicara di dalam ruanganku saja, disini sepertinya tidak nyaman." Lanjut Alice kemudian membawa Zeline menuju ruangannya.
Sesampainya mereka dalam ruangan, Alice mempersilahkan Zeline duduk si Sofa samping meja kerja nya, kemudian mereka duduk bersama dan saling bertukar cerita, hingga tak terasa mereka menghabiskan satu jam waktu.
"Oh iya, bukankah kau sedang malakukan research di china? kapan kamu kembali dari sana? kenapa antonio tak memberiku kabar tentang kepulanganmu?" tanya Zeline penasaran.
"Mmm. maaf aku tidak mengerti maksut pertnyaanmu Zeline," Jawab Alice, raut mukanya terlihat sedih saat Zeline menyebut nama antonio.
__ADS_1
Zeline sedikit kebingungan melihat ekspresi Alice, kemudian iya menceritakan semua kepada Alice, yang telah Antonio ceritakan pada dirinya tentang mereka.
Alice terlihat terdiam usai mendengar cerita Zeline, iya tiba-tiba teringat akan sesuatu yang sebenernya terjadi antara mereka.
"Alice, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Zeline, iya bertambah bingung dengan ekspresi Alice.
"Zeline, sebenarnya Antonio tidak memberitahumu perkara yang sebenarnya," Jawab Alice dengan mata sayu, terlihat kesedihan pada sinar matanya bagai langit yang sedang mendung. "Aku dan Antonio tidak pernah menjalin suatu hubungan, semua yang diceritakan Antonio kepada dirimu hanya sebuah kebohongan, sebenarnya akulah yang meminta untuk menjalin hubungan bersama dirinya, namun dia menolak ku karna masih ada dirimu dalam hatinya, dan setelah itu kami tidak pernah saling berhubungan satu sama lain lagi, aku juga tidak pernah kemana-mana selama empat tahun belakangan ini," jelas Alice dengan sejuta kesedihan disetiap kata dari penjelasanya, Antonio adalah cinta pertamanya, namun dia telah mendapatkan penolakan langsung dengan alasan yang cukup jelas.
Zeline terkejut, sejurus saat mendengar penjelasan dari Alice, raut wajahnya memucat, iya mencoba memahami semua yang dikatakan Alice, tak disangka hingga saat ini Antonio masih mencintai dirinya, dan berbohong tentang hubunganya dan Alice. "Maafkan aku Alice, aku tidak tahu menahu tentang semua ini." Jelas Zeline
"Sudahlah, lagipula itu sudah berlalu, aku sudah melupakan Antonio begitu juga cintaku padanya," balas Alice tersenyum.
Kemudian, tiba-tiba seorang Nurse mengetuk pintu dan memberitahukan pada Alice, kalau ada pasien yang sedang membutuhkan penanganannya. Zeline yang mendengar itu semua pun, meminta diri dan berjalan kembali menuju mobil, iya ingin pulang, menentramkan hati dan fikirannya setelah apa yang iya dengar dari Alice.
................
Mencintaimu adalah hal terindah dalam hidupku..
Tidak perlu membalasnya, jika tak bisa!
Biarkan aku menikmati indahnya.......
Sampai iya hilang dengan sendirinya..
Antonio sedang duduk di sebuah ruang pribadi miliknya, hanya dirinya yang boleh masuk menuju ruangan itu, kecuali salah satu maid kepercayaanya, yang masuk kesana dalam satu minggu sekali, itupun hanya untuk memberisihkan ruangan pribadi milik antonio, ruangan miliknya mendominasi dengan warna abu-abu, lambang warna yang memiliki arti kesedihan dan tak tentu arah, sama seperti yang dialaminya sekarang, tiada apa-apa di dalam ruangannya itu, hanya ruang kosong berisi gramaphone dan sebuah gambar yang berukuran 80×95cm, yang diletak-kan pada dinding tepat didepan kursi.
Antonio memutar lagu klasik jaman dulu, kemudian duduk dikursi, iya memandangi potret yang sengaja di simpannya menghadap tepat di depan tempat duduknya. Kemudian iya menatap dalam sebuah potret yang sangat membekas dalam hatinya, potret disaat mereka berdua berada di Piazza Navona, nampak indah dengan senyum yang merekah dibibir seorang yang masih iya cintai hingga kini, yaah potret itu adalah dirinya dengan Zeline, yang kebetulan saat itu mereka mengenakan warna baju yang sepadan dengan berlatar belakang air terjun trevi montain, iya memberi sebuah tulisan tangan pada gambar itu dengan tulisan "Let me love you" mana kala perasaan yang ada dalam dirinya mirip seperti yang tertulis dalam corak baju yang iya kenakan dalan gambar itu "unforgettable".
Antonio memejamkan mata, dirinya seakan hanyut dilamun kenangan saat bersama dengan Zeline diiringi dengan musik tahun 90an, yang memiliki makna cinta yang sangat luar biasa baginya. Namun sesaat kemudian iya tersadar dari lamunannya.
"Hentikan semuanya Antonio, apa kau tidak lelah?" Ucap seorang perempuan yang bernama Aurora, dia adalah seorang mantan kekasih Kevin yang dianggap telah meninggal dulunya, iya bertemu pertamakali dengan Aurora saat pesta Masquerade, mereka adalah pasangan dansa pada saat itu, dan saat itu juga dirinya merasa ingin dekat dengan Aurora, karena entah mengapa hatinya merasa seakan terguncang saat pertemuan itu, namun tetap saja tidak bisa mengalahkan cintanya pada Zeline. Seminggu saat kepindahanya dari rumah Zeline, iya mencoba mendekati Aurora, dan dari sanalah mereka semakin dekat, hingga Antonio membawa Aurora untuk tinggal bersama. Mereka tinggal bersama disebuah mansion yang berada jauh dari ibu kota. Mansion itu adalah sebuah peninggalan dari kakek buyutnya. Mansion yang bertemakan rumah-rumah para bangsawan di era 80an itu dibuatnya sebagai tempat untuk Pulang dari segala lelah dan stress yang iya alami.
"Siapa yang mengizinkanmu memasuki ruangan pribadiku Aurora?" Tanya Antonio pada Aurora, kemudian bangkit dan berdiri tepat didepan Aurora.
"Tidak ada yang tidak kuketahui tentang dirimu Antonio, termasuk tentang ruangan ini," jawab Aurora, sebelumnya Antonio telah menceritakan tentang dirinya pada Aurora, tanpa terkecuali, namun iya tidak memberitahu tentang isi dari ruangan milik Antonio yang tak boleh tersentuh oleh siapapun, termasuk dirinya.
__ADS_1
"kau sangat lancang Aurora, aku harus menghukum-mu karna terlalu memanjakanmu," ucap Antonio sambil mendekatkan wajahnya menuju wajah Aurora, mana kala kedua tangannya menggenggam tangan Aurora.
"Menghukumku? bagaimana kalau membuatku jatuh cinta padamu? itu akan menjadi sebuah penghukuman terbesar bagiku Antonio!" Jawab Aurora sambil memejamkan mata, dahi mereka sama-sama saling bersentuhan, entah sejak kapan iya mulai mencintai Antonio.
"Aku sudah bilang padamu, jangan pernah mencintaiku Aurora, karna diriku bukanlah milik ku, aku tidak bisa berkehendak untuk membalas cinta darimu," jawab antonio sambil melepaskan genggaman tangannya dan menjauh dari Aurora sejurus saat iya mendengar perkataannya, seolah-olah mengerti makna dibalik perkataan yang disampaikan Aurora.
"Kau telah mencintainya tanpa pembalasan apapun Antonio, kau malah membantunya kembali bersama dengan orang lain, aku muak melihatmu terlarut dalam cinta yang kau reka sendiri!" Tukas Aurora pada Antonio, setiap hari Antonio selalu menghabiskan waktu berada di ruang kosong ini, iya merasa muak dengan Antonio yang terus menerus berlarut dalam cinta tanpa pembalasan.
"Aku bukan seperti dirimu! Aurora yang begitu gigih dan meninggalkan cintanya. Cinta menurutku adalah suatu yang suci, tidak melibatkan ego dan keuntungan, dia tak harus dimiliki, cukup dirasai." Ucap antonio sambil memandang dalam sedalam ombak lautan potret dirinya dengan Zeline.
"Apakah kau tega meninggalkan hidupmu demi cinta? membuang waktu berhargamu untuk memandangi benda mati, berlarut setiap hari dalam kenangan yang telah lalu? apa kau akan menjadi Qays, seorang pujangga yang menjadi gila karna cintanya sendiri?" Jawab Aurora sambil mencengkram pundak Antonio dan membalik-kan paksa tubuh antonio dan menghadap dirinya.
"Cukup untuk semua yang kau lakukan Antonio, dan perlu kau ingat, aku bukan meninggalkan cintaku, tapi aku membiarkan cintaku pergi bersama orang yang menurutnya iya cintai, untuk apa memaksakan kehendak jika dia yang kau cintai telah melupakan dirimu," Lanjut Aurora kemudian menarik nafas.
"Kau tidak mengerti arti cinta yang sesungguhnya Aurora, cinta bukan hal mudah yang bisa kau biarkan begitu saja, ini menyangkut masalah hati dan perasaan," jawab Antonio sambil melepaskan tangan Aurora dari pundaknya.
"Lalu cinta bagaimana yang kau maksutkan? Antonio pertanyaan ini sudah seringkali kutanyakan padamu! apa kau sama sekali tidak pernah tertarik kepadaku? dan tidak pernah merasakan cinta yang ada pada diriku walau hanya sesaat?" Tanya Aurora sambil melangkah mendekatkan dirinya pada Antonio, dengan tatapan tajam seperti tatapan seorang pemanah yang sedang membidik sasarannya.
Antonio terdiam seketika mendengar pertanyaan Aurora, sudah banyak kali pertanyaan seperti itu dilontarkan pada dirinya, namun tetap saja iya tak bisa menjawabnya seperti seorang pujangga yang telah kehabisan kata, iya terdiam sesaat, fikirannya mencoba mencerna bagaimana sosok Aurora dalam hidupnya.
"Jawab aku Antonio, apa bagimu aku hanya sebuah alat untuk menyaksikan kesedihanmu? apa bagimu aku hanya se......." ucap Aurora terpotong karna tiba-tiba antonio membungkam bibirnya dengan sebuah kecupan yang membuat dirinya membeliak-kan mata, iya sangat tekejut, karna selama ini Antonio tidak pernah sama sekali menyentuh dirinya.
Setelah memberi kecupan pada Aurora kemudian Antonio memandang lekat wajah Aurora yang terlihat kaget, iya tidak tau mengapa. Hatinya menggerak-kan tangan dan tubuhnya seolah-olah itu adalah jawaban dari pertanyaan Aurora. Emosi yang ada dalam dirinya meluap-luap hingga kembali menciumi Aurora memberikannya french kiss, mempertautkan lidah miliknya dan Aurora, hingga saling bertukar saliva kedua-duanya hanyut dalam ciuman.
Tak lama kemudian, Aurora tersadar lalu menghentikan ciuman mereka kemudian menjauhkan wajahnya dari Antonio, lalu mendorong tubuh Antonio yang sedang merangkul erat pinggangnya. Iya mencoba mengatur kembali pernapasannya, jantungnya berdetak kencang seakan boleh terdengar dari luar.
"Kau tau apa yang menyakitkan selain menunggu? Iyalah mencintai seseorang yang tidak pernah melihat betapa besarnya cintamu," Tegas Aurora kemudian meninggalkan Antonio seorang diri didalam ruangannya, iya tidak tau apa maksut dari ciuman Antonio, namun sesaat iya terasa begitu menikmati ciuman itu.
"Antonio! hanya permpuan bodoh yang tidak akan mencintai lelaki sepertimu," ucap Aurora pada dirinya sendiri, iya melangkah menuju kamarnya dengan rintikan airmata yang tak dapat dihentikannya. Antonio adalah sosok yang sempurna dimata semua orang, dengan ketampanannya serta keramahan dan kebaikannya, akan membuat siapa saja jatuh cinta padanya, termasuk dirinya, dari sejak pertama mereka bertemu saat pesta waktu itu, dia merasakan getaran cinta yang tumbuh dalam dirinya saat kedua tangan mereka saling besentuhan. Dan karna itulah dia bersedia ketika antonio mengajaknya tinggal bersama, dan setelah tau lebih dalam soal Antonio dan cerita-ceritanya, perasaan itu semakin kuat, hingga tak disadari, hatinya terasa begitu sakit saat melihat antonio meratapi cintanya bersama orang lain.
Setelah sampai dikamarnya, Aurora duduk di sebuah meja rias yang berada di dinding samping kanan dekat ranjangnya, iya memandangi dirinya di cermin sambil berbicara sendiri.
"Aku mengerti cinta yang kau maksutkan Antonio! cinta yang walau tak memilikinya, namun ikut bahagia melihatnya tertawa lepas bersama seorang yang dicintainya, meskipun itu bukan kita. Dan perasaan seperti itulah yang aku rasakan saat Kevin bersama dengan kekasih hatinya, namun bukan berarti sebagai gantinya aku harus meratapi saat-saat bersamanya. Justru aku harus mencari dan melanjutkan ceritaku sendiri dan bahagia bersama orang yang mencintaiku!"
Secara tak sengaja Antonio mendengar perkataan Aurora ketika hendak mengetuk pintu kamarnya yang sedikit terbuka, iya tidak tau alasan apa yang membuatnya mengejar Aurora yang tadi meninggalkannya, sama seperti alasan kenapa iya mengajak Aurora tinggal satu rumah dengannya. Kemudian iya mengurungkan niatnya untuk bertemu Aurora, iya kembali menuju kamarnya, sambil mencari arti dari apa yang sedang terjadi.
__ADS_1