Posesif love

Posesif love
Alvian acceelyno alexander


__ADS_3

"Tuan muda, ayolah tuan muda belum makan dari tadi pagi, kalau ayah anda tau, nanti kita semua bisa di marahi!" Ucap Janate sambil membawa makanan ke arah Alvian.


Alvian tumbuh menjadi seorang yang menggemaskan, pintar dan cerdas bahkan ia sudah pandai menguasai lima bahasa, salah satunya bahasa Indonesia, namun ia tak seperti anak pada umumnya, yang seharusnya bermain di taman atau pun berteman dengan anak seumurannya, dia layaknya seperti orang dewasa juga berwajah dingin seperti ayahnya. Dia bahkan tak suka di ajak ke taman bermain, ia lebih suka melihat ayahnya bekerja sepanjang hari di kantor dan yang paling ia sukai adalah membaca kabar berita di pagi hari.


"Tidak mau, Aku mau bertemu dengan ayah" Kata Alvian sambil mendekap tangannya dengan wajah yang cemberut, sifatnya sama seperti ayahnya sama-sama keras kepala.


"Baiklah tuan muda, saya akan menelfon tuan," ucap Jannate sambil mengambil telfon di sakunya.


"Tidak usah bibi Janate, Aku ingin menuju kantornya!"


Jannate menghela nafas, kemudian memberitahu supir pribadi mereka untuk menghantar Alvian.


“Tidak mau, Aku mau dihantar oleh Abra!” Kata Alvian saat hendak masuk kedalam mobil.


“Tidak bisa, Abra sudah tidak boleh memandu lagi!” Jelas Janate, Abra sudah terlalu tua untuk mengemudi, walaupun pandangannya masih nampak jelas, ia tidak mau mengambil beresiko.


“Kenapa? Abra terlihat baik-baik saja!”


“Tidak bisa Tuan muda, Abra sudah tua untuk itu, nanti akan sangat berbahaya bagi kita, dan juga abra adalah seorang house keeper, dia harus selalu berada dirumah.”


“Huh!!” Balas Alvian, dengan muka cemberutnya ia terpaksa menuruti perkataan Janete.


Kemudian setelah mereka sampai di kantor dan hendak memasuki ruangan, mereka di berhentikan oleh security


"Maaf anda tidak boleh masuk, bos kami sedang ada tamu penting!"


"Siapa yang lebih penting dari Aku? Apa kau mau di pecat dari pekerjaanmu huh?" Kata Alvian


"Maaf tuan muda, tapi bos kami sudah memesan untuk tidak memberi siapa pun masuk!"


"Aku ingin masuk, kalau kau masih menghalangiku kau akan di pecat sekarang juga!" Ucap Alvian lantang, dia mendapat julukan seorang tuan muda yang kejam, karna di usianya yang menginjak empat tahun, dia bahkan sudah memecat lima orang pekerja ayahnya, ia juga bisa menguasai semua mata pelajaran yang susah di pecahkan orang dewasa, apalagi tingkat kecepatan menghafalnya, tak di ragukan lagi anak seusianya sangat cemerlang, nyaris sempurna!


“Tuan muda, anda tidak boleh berkata seperti itu pada orang yang lebih tua, itu sangat tidak sopan!” Kata Janete, sudah seringkali ia menasehati Alvian, namun keras kepala dan sifat angkuhnya masih tetap ada, sudah sebati dengan dirinya, mana tidaknya dia selalu menghabiskan waktu melihat ayahnya melakukan hal yang sama, membentak, juga bersikap dingin dengan orang lain saat bekerja, like father like son, namun dibalik semua itu, mereka berdua sebenarnya sama-sama rapuh, kurang kasih sayang seorang ibu.


“Maaf, karna sudah keteraluan, tolong jangan dimasukkan hati, dia hanya anak kecil yang sedang tantrum!” Lanjut Janete meminta maaf atas nama Alvian pada security tadi, kemudian memintanya untuk membukakan pintu. Sedangkan Alvian hanya terdiam dengan muka cemberutnya, sejak kecil dia sudah di asuh oleh Janate. Setelah ayahnya, Alvian juga patuh pada Janete.


Sesampainya di dalam ruangan Alvian melihat ayahnya sedang berbincang dengan perempuan, cara berpakaian perempuan itu terlihat elegant, tapi di mata Alvian terlihat mirip seperti cara berpakaian sang penggoda.


"Ayah, jadi ini alasanmu meninggalkanku tadi pagi! Kau meninggalkanku sendrian, karna ingin berduaan dengan perempuan penggoda ini!" Kata Alvian cemberut, ia sangat marah pada ayahnya karna telah meninggalkan dirinya demi orang lain, seperti seorang istri yang sedang cemburu.


“Hei! Perkataan itu terlalu kasar untuk anak seumuranmu! Minta maaf sekarang!” Kata Kevin, ia terkadang pusing dengan keangkuhan anaknya, dia tidak tau lagi harus bagaimana, andaikan saja ada Zeline mungkin semuanya akan jadi mudah!

__ADS_1


"Tidak apa-apa Kevin, dia masih kecil, dia tidak bermaksut!" Kata Aurora sambil, mencubit manja hidung Alvian. “Dia tampan sekali Kevin, seperti versi kecil dirimu!” Lanjut Aurora.


“Jangan menyentuhku!” Kata Alvian sambil menepis tangan Aurora.


"Alvian jangan keterlaluan, dia lebih tua darimu, kau harus menghormati orang tua!" Kata Kevin setelah melihat kelakuan anaknya,


“Maaf Aurora, Aku kurang mendisiplinkannya!” Lanjut Kevin merasa bersalah atas perlakuan anak kesayangannya. Dimanja sejak kecil membuat dirinya bertambah angkuh.


Setelah dibentak oleh ayahnya, Alvian merasa sedih dan menangis kemudian mengajak Janete pergi.


“Aku baik-baik saja Kevin, itu wajar, dia masih kecil dan tidak tau apa-apa, apalagi soal perasaan orang lain, pergi kejar dia, sebelum dia bertambah kesal!” Kata Aurora. Mereka sudah sering bertemu dan berjumpa setelah kepergiannya lima tahun yang lalu, saat Zeline masih ada di sisi Kevin, namun setelah tau kemalangan yang menimpa mereka berdua, Aurora hadir kembali di kehidupan Kevin untuk menghiburnya, alhasil Aurora selalu menjadi tempat yang pas untuk Kevin mencurahkan kesedihannya. Berawal dari mantan tersayang beralih menjadi teman bercerita.


  Kevinpun menyusul Alvian yang hendak pergi, ia menarik nafas panjang sambil mempercepat langkahnya, ia merasa menyesal sudah membentak Alvian, ini pertama kalinya ia membuatnya menangis, terkadang Alvian mirip seperti ibunya, kalau ada apa-apa masalah langsung pergi dan mengindar begitu saja.


"Bibi Janate, apa ayah sudah tidak sayang padaku lagi? Dia membentakku didepan perempuan itu! Kata Alvian sambil menangis


"Tenanglah tuan muda, mereka hanya teman, tuan memiliki banyak pekerjaan belakangan ini, mungkin ia merasa stress hingga membentak tuan muda!" Kata Janete mencoba menenangkan Alvian.


"Aku ingin pergi ke apartement mama, di Piazza Navona!" Pinta Alvian. Kemudian merekapun menuju kesana.


Kevin sebelumnya sudah menceritakan semua tentang Zeline pada Alvian, ia bahkan masih menyimpan gambar pernikahan mereka dan masih banyak lagi gambar Zeline yang dipajang dirumah, supaya Alvian tau bagaimana rupa wajah ibunya. Kevin selalu bercerita pada Alvian, betapa dia mencintai Zeline ibunya, dan sampai saat ini ia masih merasa kalau Zeline masih hidup, ia bahkan tidak ada niat sama sekali untuk mencari pengganti Zeline, karna di hatinya tetap ada Zeline seorang, bahkan ia masih mengenakan cincin pernikahan mereka.


 Sesampainya di Piazza Navona, Alvian pergi ke apartement tempat Zeline tinggal dulunya, Kevin masih menjaga properti milik Zeline, bahkan tempat ini menjadi suatu kenangan manis bagi dirinya, dan disinilah Awal mula adanya Alvian. Juga entah mengapa kalau sedang merasa bersedih atau merindukan mamanya, Alvian selalu ke apartement milik Zeline, pernah waktu itu dia tidak ingin pulang kerumah, karna merasa kesal gara-gara Kevin akan pergi selama dua minggu meninggalkannya karna ada urusan bisnis.


Alvian mengusap foto mamanya, ia merasa sedih, dia sangat ingin sekali bertemu dengan mamanya.


"Mama Aku merindukanmu, Aku sangat ingin bertemu dengan mu!" Lirih Alvian


Tak lama kemudian setelah lelah menangis, ia kemudian tertidur sambil memeluk foto mamanya.


Malam pun tiba Kevin menelfon Janete kemudian menanyakan keberadaa Alvian, setelah tau Alvian di apertement ibunya ia langsung pergi menuju Piazza navona untuk menjemputnya.


"Selamat datang tuan, tuan muda sudah tertidur di kamarnya." Kata Janete menyambut kedatangan Kevin


Kevin kemudian pergi menuju kamar, ia melihat mata sembab Alvian yang sedang tertidur sambil memeluk foto mamanya. Kemudian Kevin duduk di sebelah Alvian yang sedang tidur di atas tempat tidur lalu mengelus rambutnya.


"Kau pasti sangat merindukannya, begitu juga Aku!" Kata Kevin. Sudah empat tahun berlalu, ia sangat merindukan mendiang istrinya, sangat sakit rasanya merindukan orang yang telah tiada.


kemudian Kevin berjalan menuju arah jendela, sambil melihat suasana di Piazza navona, ia menarik nafas panjang sambil berkata.


"Seandainya saja, ada teknologi yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati, Aku akan mendapatkannya berapa pun harganya, walaupun sampai mengahabiskan hartaku, Aku tidak peduli, karna dirimu lebih penting dari semuanya!" Lirih Kevin, ia merasa menjadi orang kaya yang tak berguna, bahkan sampai saat ini ia tak tau dimana Zeline di kebumikan.

__ADS_1


"Zeline, andai saja kau ada disini, kau pasti akan sangat senang melihat anak kita yang sudah membesar seperti sekarang ini, dia sangat pintar, wajahnya makin mirip sepertiku bahkan juga sikapnya, tapi mungkin kau akan merasa sedikit kesal karna sifatku menurun padanya!”


Keselahan yang di lakukan Kevin memang sangat fatal,dan ia juga sudah menerima hukumannya dengan kehilangan Zeline, satu-satunya orang yang di cintainya. Kini ia hanya ada Alvian seorang, ia akan menjaga dan memberinya kasih sayang sepenuh hati.


Setelah lama berdiri dan tenggelam dalam nostalgianya bersama Zeline.


Kevin pun tidur di samping Alvian, mereka berdua terlelap dalam keheningan malam.


Dua orang yang terlihat memiliki segala-galanya, namun siapa tau dalam hati mereka, kosong dan kering kerontang.


..


Keesokan harinya Alvian terbangun, saat membuka mata ia melihat Kevin ayahnya sedang tertidur pulas disampingnya. Namun ia masih marah atas kejadian kemarin. Kemudian Alvian sengaja menggoyangkan tubuh ayahnya, agar terbangun.


"Anak kecil Jangan mengganggu tidurku!" Kata Kevin sambil menggeliat


"Kau sudah membentakku kemarin, dan hari ini kau tiba-tiba disini tidur denganku!” Jawab Alvian, lagi-lagi terdengar seperti istri yang sedang memarahi suaminya. Sebenarnya ia takut jika Kevin dekat dengan perempuan lain, maka ia tak akan mendapat perhatian dan kasih sayang lagi, maka dari itu ia selalu membenci semua perempuan yang dekat dengan ayahnya.


"Dia hanya seorang teman sayang!"


"Jangan membohongiku ayah, Aku tak bisa kau bohongi! Dia sebenarnya bukan temanmu, tapi mantan kekasihmu, setiap pagi Aku selalu mendengar gosip dari perempuan yang bekerja di kantor, mereka selalu membicarakan tentang cinta lama yang akan bersemi!" Kata Alvian dengan muka cemberutnya.


"Hahahaha sejak kapan kau menjadi ahli gosip?" Jawab Kevin, ia tertawa mendengar penjelasan dari anak kesayangannya itu


"Jangan menetertawakan ku ayah!" Balas Alvian kesal karna ditertawakan.


"Maafkan ayah oke? Ayah selalu mengayangimu dan mama, tidak ada orang bisa menggantikan kalian, lagipun itu semua adalah gosip!" Kata Kevin kemudian memeluk Alvian, mereka berdua saling berpelukan, dan semua masalah dan salah fahampun terselesaikan.


Kemudian Kevin memanggil Janete untuk menyiapkan baju yang ia sendiri bawa dari rumah tadi, Setelah itu Kevin membukakan baju untuk Alvian, seperti biasa jika ada waktu senggang ia selalu memandikan Alvian setiap paginya.


“Ini terakhir kalinya ayah memandikanmu, setelah ini kau harus belajar mandi sendiri! Kau sudah besar,” Kata Kevin


“Baiklah!” Kata Alvian, ia adalah anak yang penurut, namun cepat sekali merajuk


Kemudian sehabis mandi, Alvian menuju Janete untuk dipakaikan baju.


"Huuhh, ketampanan ini sangat menyiksaku bibi Janete, Aku merasa tidak nyaman saat semua orang menatapku dengan tatapan kagum!" Kata Alvian terhadap Janete, ketika ia sedang melihat dirinya didepan cermin, memang tak dipungkiri, Alvian sangat tampan seperti ayahnya, sedari kecil saja sudah tampan, apalagi nanti kalau besarnya.


Saat keduanya sudah siap, mereka pun pergi sarapan dan berjalan-jalan melihat susana di Piazza navona, mereka menyempatkan untuk berjalan-jalan disana sebelum pulang, mereka sudah jarang menghabiskan waktu semenjak bertambahnya kerjaan kantor yang semakin menumpuk.


 Hari sudah sore usai puas berjalan-jalan mereka pun hendak kembali pulang. Sementara menunggu supir mengambil mereka, Kevin mengajak Alvian duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap ke air mancur, sambil melihat suasana sekeliling, juga orang-orang yang sedang berlalu lalang. Kemudian pandangan Alvian terhenti pada empat orang dari kejauhan, ia terkejut saat melihat wanita yang sedang berjalan dengan membawa dua orang anak yang sepertinya sama umur dan sekilas terlihat mirip seperti dirinya. Lalu ia mencoba memerhatikan anak yang dibawa wanita tadi, ia terbeliak merasa heran dengan apa yang dilihatnya, wajah mereka sangat mirip dengan dirinya, Kemudian ia mencoba memerhatikan wanita itu juga, dan terlihat sangat mirip dengan gambar mamanya yang terpajang besar didalam kamar, Alvian sering kali mengusap kedua matanya untuk memastikan pandangannya, karna mungkin saja ia salah liat, namun saat kembali melihat ke arah orang yang tadi, mereka sudah tidak ada.

__ADS_1


Alvian mengerenyitkan dahi, matanya mencari-cari keberadaan orang tadi namun sepertinya mereka sudah pergi jauh. Dan tak lama kemudian supir sudah tiba ditempat mereka menunggu, kemudian mereka pun memasuki mobil lalu pulang menuju rumah.


__ADS_2