Posesif love

Posesif love
Episode 47


__ADS_3

Apa yang akan kamu lakukan, jika pergi dan menetap adalah memiliki suatu alasan yang sama?


Seperti itulah yang dirasakan oleh Antonio, iya telah menghabiskan satu minggu waktunya hanya untuk memikirkan alasan yang sama, bak seorang pujangga yang sedang mencari jati dirinya, terkadang iya memikirkan kata Aurora ada benarnya juga, “Namun cintanya pada Zeline begitu besar, tak bisa iya lupakan begitu saja.” Kata-kata seperti itulah yang selalu terngiang dalam kepalanya.


“Boleh aku duduk?” Tanya seseorang perempuan yang datang secara tiba-tiba, menuju dirinya yang sedang duduk menyandarkan tubuhnya, dibawah pohon beringin sambil menikmati merdunya siulan burung, dan suara gemercik dedaunan yang diterpa angin.


“Tentu!” Jawab Antonio pada sosok perempuan itu, perempuan itu adalah Aurora, siapa lagi kalau bukan dia, kecuali para Maid, hanya dia wanita yang berada dimansion ini.


“Ayahmu tadi menelfonku, iya menanyakan tentang kabarmu!” ucap Aurora sambil duduk menyandar pada pohon beringin, di bagian belakang Antonio, dirinya baru saja mendapat telfon dari ayah Antonio, iya menanyakan keberadaan anaknya yang telah satu minggu lebih tak memunculkan batang hidungnya dikantor. Aurora merasa agak canggung terhadap Antonio, karna sebenarnya setelah kejadian satu minggu yang lalu itu, mereka berdua saling mendiamkan diri, hingga hari ini.


“Oh! Baiklah,lainkali kalau dia menelfonmu abaikan saja,” jawab Antonio sambil tersenyum menghadapkan wajahnya ke samping kanan, ekor matanya mengarah pada Aurora yang sedang menyandar tepat dibelakangnya, mereka berdua sama-sama bersandar pada pohon yang sama.


Sebenarnya Antonio sengaja mengabaikan telfon dari sang Ayah karna dirinya tau, Ayahnya pasti akan menanyakan  soal ketidak hadirannya dikantor, selama satu minggu ini dia tidak pernah mengurus pekerjaan kantor, iya serahkan semuanya pada tangan kanannya. Iya ingin memiliki waktu sendiri, bersama sepi dan perasaan yang tidak berkesudahan.


“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, ohiya! Sore ini aku akan pergi menuju Shoping mall untuk membeli beberapa keperluan,” ucap Aurora, kemudian  hendak berdiri dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Antonio.


Antonio kemudian menggapai tangan Aurora yang hendak berjalan meninggali dirinya, hingga membuat Aurora berhenti sekrtika sambil menoleh pada dirinya, “Aku akan menemanimu,” ucapnya sambil tersenyum pada Aurora.


Aurora menggangguk-kan kepalanya, seraya tersenyum tanda mengiyakan perkataan Antonio, kemudian iya melepaskan lingkaran jemari-jemari Antonio dari pergelangan tangannya, lalu melangkah pergi menjauh dari Antonio. Terasa ada perasaan senang dan bahagia bersemayang dihati Aurora, saat mendegar perkataan Antonio tadi.


….………..


Hari menjelang sore, Aurora sedang bersiap didalam kamarnya, iya mengenakan atasan Blouse warna hitam polos sampai pergelangan kaki, dan dipadankan dengan highhells warna merah. Iya sedang  memoles makeup di wajahnya, jika Zeline terlihat cantik dan anggun dengan soft makeup diwajahnya, maka berbeda dengan Aurora, iya lebih suka mengenakan makeup dengan warna-warna bold, iya merasa sangat sesuai dengan dirinya, terlihat seperti sosok wanita kuat nan elegant! Setelah selesai memoles-moles wajahnya, Aurora memberi sentuhan terakhir, yaitu lipstick, iya menggunakan lipstick warna merah maroon pada bibirnya. Aurora tak henti-hentinya memandang kearah cermin, iya ingin terlihat cantik, setidaknya hanya didepan antonio.


Setelah merasa yakin dengan penampilannya Aurora kemudian keluar dari kamarnya dan  menuruni anak tangga, iya berjalan menuju Antonio yang telah menunggunya sedari tadi.



Tepat setengah jam Antonio menunggu Aurora untuk bersiap, iya jadi teringat saat dirinya sedang menunggu Zeline, iya membayangkan wajah kesalnya dulu karna telah menunggu Zeline selama berjam-jam hanya untuk bersiap, kemudian iya tersenyum, teringat kembali kesalnya yang hilang setelah melihat Zeline menuruni anak tangga dengan penampilan yang akan membuat siapapun tercengang takjub saat melihatnya.


“Hei!” Ucap Aurora membuyarkan nostalgia Antonio. Kemudian iya tersenyum pada Aurora, sepintas iya melihat Aurora seperti Zeline, iya memuji penampilan Aurora namun menyebut nama Zeline!


Aurora yang mendengar itupun hanya terdiam, iya merasa sedih dan kecewa, “yasudahlah.” Ucap Aurora dalam hati, iya memalingkan wajahnya sambil menyeka matanya yang berair, dan kembali menghadap Antonio, lalu tersenyum. Kemudian mereka pun berjalan menuju mobil BMW milik Antonio yang telah siap sedia menunggu, Aurora merasakan lingkaran tangan Antonio pada pinggulnya. Setelah sampai didepan mobil, kemudian Antonio membukakan pintu untuknya, mereka akan menuju Shoping mall di area pusat kota, namun sebelumnya Antonio mengajaknya pergi makan malam terlebih dahulu.



Setelah berkendara selama kurang lebih dua jam, mereka akhirnya sampai di sebuah restaurant yang terletak di pusat kota,  kemudian Antonio membangunkan Aurora yang tertidur sedari tadi, iya menyentuh wajah Aurora yang terlihat damai dalam tidurnya, matanya memandang lekat wajah Aurora sambil mengelus-elus wajahnya, “Hei! Si cantik Aurora, bangunlah! Kita sudah sampai,” ucapnya.

__ADS_1


Kemudian Aurora pun terbangun, iya melihat jemari Antonio pada wajahnya saat iya membuka mata, iya menegak-kan posisi duduknya sejurus saat Antonio menarik tangannya dari wajahnya, kemudian iya menggeliat, iya merasakan sakit pada pinggangnya, rumah Antonio agak jauh dari pusat kota, membuatnya ngantuk dan tertidur di sepanjang jalan. Kemudian iya menarik nafas panjang, mencoba menetralisasi tubuhnya yang baru terbangun dari tidur.


Sesaat kemudian, Antonio turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Aurora, “terimakasih, aku bisa membukanya sendiri!” Ucap Aurora pada Antonio, Aurora seolah-olah memberi signal pada dirinya kalau iya tidak suka dengan perlakuannya ini! Namun iya  hanya tersenyum sambil menggapai tangan Aurora, iya tidak mengganggap serius perkataan Aurora tadi.


Kemudian Aurora turun dari mobil, sambil meraih tangan Antonio yang sedari tadi menunggu untuk digapai, lalu mereka berdua sama-sama melangkah menuju dalam restourant.


Aurora memerhati sekeliling restaurant, ini pertama kalinya iya makan direstauran ini, terlihat indah dengan artistik dan design yang sangat klasik, walau dipandang banyak kali tidak akan membosankan, kemudian ada dua orang pelayan yang menyambut mereka berdua dan membawa mereka menaiki anak tangga. Kemudian mereka sampai disebuah rooftop restaurant yang tidak kalah cantiknya dengan didalam tadi, mereka disuguhkan dengan suasana pemandangan kota Roma dilengkapi dengan sinar rembulan dan gemerlap bintang-bintang serta lilin-lilin yang sengaja dipasang pada atas meja bundar yang telah dilapisi dengan kain putih, menambah suasana romantis malam ini.


Kemudian Antonio menggeser kursi, dan memepersilahkan Aurora untu duduk. “Terimakasih,” ucap Aurora pada Antonio sambil mendongak sejurus saat mengambil langkah duduk.


Kemudian mereka berdua memesan makanan. Setelah selesai memesan, kemudian Writer pun pergi.


Aurora menopang dagu dengan kedua tangannya, matanya berkeliling memandang disekelilingnya, iya sangat takjub dengan pemandangan yang didepannya. Tak lama kemudian pandangannya terhenti pada dua orang yang tak asing dimatanya, Aurora kaget lalu membeliakkan mata, “kebetulan apalagi ini?” ucapnya dalam hati.


Antonio merasa bingung dengan ekpresi Aurora yang tadinya memancarkan aura senang dan bahagia, kini berubah! Kemudian iya membalik-kan badannya, iya penasaran dengan sesuatu yang membuat mimik wajah Aurora berubah seketika.


….………………..


Hari ini Zeline merasa bosan berada dirumah, karna ketiga anaknya sedang tidak berada dirumah! Mereka pergi mengikuti kegiatan sekolah, dan ditemani oleh Lisa. “Sayang, kau terlihat seperti tidak senang hari ini!” Tanya Kevin yang tiba-tiba mendekapnya dari belakang, “Bersiaplah! Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat!” Bisiknya.


Setelah keduanya selesai bersiap mereka pun sama-sama menuruni anak tangga, dan berjalan keluar menuju mobil yang telah siap terparking di depan lobby rumah, “Silahkan masuk tuan putri,” ucap Kevin sambil membuka-kan pintu, mempersilahkan Zeline untuk masuk, kemudian Kevin menutup dengan perlahan pintu mobil, kemudian iya duduk dikursi bagian pemandu, iya akan menyetir sendiri, lalu iya menyalakan engine mobil dan pergi menuju suatu tempat yang sudah iya siapkan tempo hari!


Setengah jam kemudian merekapun sampai di salah satu restaurant bintang lima di kota ini, restaurant ini memiliki ciri khas tersendiri, lain dariapada yang lain, iya tau Zeline pasti akan menyukainya. “bagaimana? Apa kau menyukai tempat ini?” Tanya Kevin pada Zeline yang  terlihat memerhatikan sekelilingnya.


“Tentu!” Jawab Zeline tersenyum sambil memandang Kevin, kemudian memeluk lengannya dan berjalan mengikuti pelayan yang tadi menyambut mereka dipintu masuk. Kemudian dua orang tadi membawa mereka ke rooftop restaurant yang tak kalah cantiknya dengan yang pertama dilihatnya didalam tadi, kononnya bagian rooftop ini hanya buka pada saat malam saja, itu pun setiap malamnya hanya boleh ada dua pasangan saja yang menempati tempat ini.


Saat melangkah menuju tempat duduk yang telah disediakan, langkah Zeline terhenti, iya merasa seperti ada yang memerhatikannya, kemudian Zeline memalingkan wajahnya ke arah orang yang memerhatikannya.


“Hai! Kebetulan sekali kita bertemu didsini.” Sapa seorang lelaki yang menghampirinya.


“Halo Antonio,” jawab Kevin sambil menjabat tangan Antonio, sedangkan Zeline hanya tersenyum, sebelah tangannya masih memeluk lengan Kevin, iya merasa canggung terhadap Antonio setelah tau kebenarannya.


Kemudian mereka memutuskan untuk bergabung bersama dalam satu meja, sesaat kemudian makanan yang dipesan Aurrora dan Antonio telah sampai, namun mereka memutuskan untuk menunggu pesanan Kevin dan Zeline, supaya mereka bisa makan bersamaan.


Lima menit kemudian pesanan mereka pun datang! Kemudian mereka berempat menyantap makanan mereka amasing-masing.


Aurora sedari tadi diam-diam memerhatikan tingkah laku Antonio, dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya lewat senyum, entah Zeline sadar atau tidak dengan makna senyum yang diperlihatkan Antonio, senyuman yang mengandung rasa sakit dan cinta, terlihat pada dalamnya pancaran sinar matanya saat memandang Zeline.

__ADS_1


“Eheeem. Aku permisi ke toilet sebentar,” ucap Zeline sambil mengelap bibirnya menggunakan tisu, kemudian iya bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju toilet.


Setelah melihat Zeline telah menjauh dari mereka, Aurora pun ikut meminta diri ke toilet, dan meninggalkan Antonio dan Kevin berduaan!



“Terimakasih telah menjaga Zeline selama ini,” ucap Kevin tajam pada Antonio.


Antonio mengangguk sambil tersenyum membalas perkataan Kevin, “sudah seharusnya aku menjaganya saat ketiadaanmu,” ucap Antonio.


“Aku harap kamu sadar diri, dari perasaan yang tak seharusnya ada dalam dirimu, sekeras bagaimanapun kamu mencoba, Zeline akan tetap kembali kepadaku,” balas Kevin sambil memajukan wajahnya ke Antonio, matanya menatap tajam pada  Antonio, iya tau selama ini Antonio menyimpan perasaan spesial terhadap Zeline, iya merasa terganggu akan hal itu.


“Dia milikmu atau siapapun, aku akan tetap mempertahankan perasaanku, bahkan walau dia tak mencintaiku sedikitpun aku akan selalu mencintainya!” Tukas Antonio sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi, iya faham maksut dari Kevin.


Kevin mengepal kuat tangannya, iya sedang menahan amarahnya, ingin sekali iya memukul Antonio, untuk  memberinya pelajaran atas apa yang tadi dikatakannya,  namun iya tidak ingin membuat kekacauan di tempat ini, “Kali ini aku akan membiarkanmu demi jasamu terhadap Zeline, namun jika kau mengatakannya sekali lagi aku tidak akan segan untuk memberimu sebuah hadiah!” ucapnya seraya menyandarkan tubuh sambil mendekap kedua tangannya.


“Aku sangka kau sudah berubah Kevin, ternyata kau masih berpegang teguh dengan sifat posesif  yang ada dalam dirimu, apa kau lupa! Kau telah kehilangan dia sebelumnya karna sifat itu, aku tidak yakin kalau kau ingin membuatnya meninggalkanmu untuk kali kedua.” Sindir Antonio, “Dan satu hal lagi yang harus kau tau, dari dulu walaupun aku mencintainya, aku tidak pernah berniat merebutnya darimu, karna aku tau cintanya hanya untukmu! Kau boleh panggil aku gila karna itu, dan jangan lupa jaga cintamu baik-baik, karna jika kau kehilangan dia untuk kedua kalinya, aku tidak akan diam saja!” tegas Antonio kemudian iya bangkit dari duduknya, dan melangkah pergi menjauh dari hadapan Kevin.


Kevin hanya terdiam, perkataan Antonio seperti sindiran keras baginya, tubuhnya diam mematung, namun matanya tajam mengawasi kepergian Antonio dari hadapannya.


Kemudian Antonio mengirim pesan pada Aurora bahwa dirinya akan menunggu di mobil.


….…


“Tunggu!” ucap Aurora pada Zeline, sehingga membuat langkahnya terhenti kemudian  menoleh ke arah Aurora. “Ada perlu apa Aurora?” tanyanya tersenyum.


“Kau tidak usah bertingkah seolah-olah tidak mengetahui apa-apa Zeline,” jawab Aurora sambil mendekatkan dirinya pada Zeline, iya yakin kalau Zeline sudah tau kebenaran tentang Antonio.


Zeline kemudian tersenyum, “Lalu kau ingin aku berbuat apa Aurora? Kau ingin aku menelantarkan ketiga anak-ku dan Kevin, lalu pergi ke pelukan Antonio kemudian  membalas cintanya?” Tegas Zeline to the point,  semenjak iya tau tentang kebenaran itu, hatinya menjadi tidak karuan, iya sangat merasa bersalah, padahal selama ini iya telah menganggap Antonio adalah sahabat terbaik yang iya miliki, namun itu semua hancur karna perasaan yang tak seharusnya ada.


Aurora terdiam, iya kehabisan kata-kata! Perkataan Zeline ada benar juga, karna tidak ada siapapun yang bisa disalahkan dalam masalah ini. Kemudian iya mengambil ponsel dari handbagnya, iya menerima sebuah pesan dari Antonio, kemudian membacanya.


“Kalau begitu aku permisi dulu, kuharap kau tidak akan membahas masalah ini lagi saat kita bertemu dilain waktu!” ucap Zeline tersenyum pada Aurora, iya tidak ingin mencetus permusuhan dengan Aurora iya juga tidak tau bagaimana Aurora bisa kenal dan dekat dengan Antonio. Lalu iya  melangkah pergi meninggalkan Aurora sendirian.


Aurora menangguk mengiyakan perkataan Zeline, iya tidak ingin ikut campur lagi dalam masalah diantara mereka berdua, iya merasa tiada hak, iya menghela nafas sambil berkata pada diri sendiri “Aku tidak tau kesalahan apa yang telah aku perbuat dimasalalu, namun hal ini sangat menyakitkanku! Jika boleh, aku ingin membenci dirimu Zeline, kau bukan saja mengambil cinta pertamaku, namun telah mengambil hati dari seorang yang sekarang sedang kusukai juga,” lirihnya memejamkan mata sambil menekan dadanya.


Kemudian Aurora kembali menuju meja makan lalu berpamitan pada Kevin dan Zeline, lalu iya pergi menuju Antonio yang telah menunggunya di mobil.

__ADS_1


__ADS_2