
Sesampainya di klinik dokter kandungan Zeline pun menjelaskan apa yang terjadi padanya setelah itu dokter melakukan check up, sedangkan Antonio duduk di ruang tunggu, Iya rasa tak harus berada di dalam. Setelah check up selesai, Dokter memberikan sebuah lembaran yang menyatakan Iya positif hamil.
"Selamat Nyonya, usia kehamilan anda sudah masuo 5 minggu." Ucap dokter tadi tersenyum.
"Terimakasih!" Jawab Zeline kemudian memasukkan kertas tadi dalam handbagnya.
"Jadi bagaimana?" Tanya Antonio setelah melihat Zeline keluar dari ruang pasien.
Zeline menatap Antonio denngan raut muka kebingungan. "Aku hamil!" Ucap Zeline datar, sorot matanya terlihat sayu, tidak memancarkan aura kebahagian sama sekali.
"Itu bagus, kamu seharusnya senang!" Balas Antonio tersenyum, Iya agak bingung dengan sifat Zeline, kebanyakan orang pasti akan sangat bahagia jika memiliki cahaya mata.
"Aku merasa takut antonio, Aku belum siap menjadi seorang Ibu, Kevin juga tidak pernah menyinggung soal anak padaku!" Ucap Zeline, tangannya gemetaran hingga mengeluarkan air mata setakut itukah Zeline?
Kemudian Antonio memeluk Zeline yang sedang berdiri kaku di depannya. "Zeline tidak usah takut Kevin pasti akan sangat senang mendengar hal ini , kamu pasti bisa jadi seorang Istri dan Ibu yang baik!" Ucap Antonio lembut. Tangannya mengusap ubun-ubun Zeline, Iya mencoba untuk menenangkannya.
Zeline hanya terdiam mendengar antonio . "Entah kenapa Aku merasa sangat ketakutan Antonio!" Lirih Zeline.
"Kau tidak usah takut, lagian ini juga anak Kevin kan!! tidak ada yang perlu kamu takutkan, ini hanya sindrom Ibu hamil!" Ucap Antonio menenangkan Zeline.
"Sekarang kamu harus pulang dan memberitahu kabar gembira ini pada Kevin, Aku akan menghantarmu ke tempat tadi!" Ucap Antonio tersenyum.
"Mmm...." Jawab Zeline sedikit tenang.
Kemudian mereka berjalanan menuju mobil, Antonio akan menghantar Zeline ke cafe di Piazza navona, Abra sudah menunggunya di sana.
"Antonio sepertinya mobil itu dari tadi mengukuti kita!" Ucap Zeline melihat ke arah kaca di depan mobil.
"Itu hanya perasaanmu saja Zeline, mungkin kita memiliki tujuan yang sama dengan mobil di belakang!" Jawab Antonio santai, pandangannya fokus ke arah depan. "Haishh, apakah semua wanita hamil menjadi sesensitive ini?" Lanjut Antonio terkekeh.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di Piazza navona, dan Zeline pun sudah masuk ke mobil Abra, dia sedang dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Zeline di sambut beberapa Maid, kemudian Iya langsung berjalan masuk menuju kamar Iya mengeluarkan selembar kertas dari handbagnya yang di beri oleh dokter tadi, kertas yang bertuliskan iya positif hamil. "Huh kira-kira, bagaimana cara Aku memberitahu Kevin ya?" Tanya Zeline pada diri sendiri, Iya merasa geli hati juga agak sedikit gugup, Iya merasa seperti akan terjadi sesuatu.
.....
Kevin menerima kabar dari Edward dan memberinya sebuah sampul surat berisi gambar.
"Kau mungkin tidak akan menyukainya Kevin, Aku permisi dulu, Aku ingin berpesan padamu, jangan cepat terbawa emosi!" Ucap Edward sebelum keluar dari ruangan Kevin.
Kevin mengangkat sebelah alisnya kemudian membuka sampul surat tersebut. Kevin membeliakkan mata setelah melihat isi dari sampul sirat herwarna kuning keemasan tadi, emosinya seakan meluap hingga menghempas seluruh barang yang di dekatnya. Iya melihat gambar mereka di sebuah cafe dalam gambar itu Antonio terlihat sedang memakaikan gelang untuk Zeline. Kemudian dia melihat gambar ke dua, mereka berada di lobby klinik dokter kandungan milik keluarga Jacob, Kevin tau tempat itu. Kemudian gambar terakhir, terlihat mereka sedang berpelukan.
"Apa yang telah Kau lakukan disana Zeline? Untuk apa kau pergi ke tempat itu bersama Antonio?" Ucap Kevin dalam hati sambil menggenggam tangannya sendiri.
Tidak lama kemudian Kevin turun dan menaiki mobilnya dengan kecepatan 120km/jm, Iya ingin segera sampai rumah untuk menanyakan apa yang di lihatnya tadi.
Sesampainya dirumah, Kevin langsung berjalan menuju kamar, iya mengabaikan para Maid dan Abra yang menyambutnya.
Sesampainya di kamar Kevin melihat Zeline sudah tertidur dengan selembar kertas di genggamannya.
Sesampainya didalam kamar, Kevin kemudian melihat kertas putih yang bertulis dalam gengaman Zeline yang sedang tertidur lelap, Iya kemudian mengambil kertas itu kemudian membacanya.
Saking marahnya Iya menarik kerah baju Zeline, hingga membuat Zeline terbangun dengan wajah kaget.
Zeline yang tertidur sedari tadi menunggu Kevin, terkejut ada seseorang yang menarik kerah bajunya pandangan Zeline buram karna baru saja terbangun, lalu Iya mengusap-usap kedua matanya.
"Zeline cepat beritau Aku, apa yang sudah kamu lakukan selama ini di belakang ku? Siapa Ayah dari anak ini?" Tanya Kevin dengan pandangan yang mematikan.
Zeline terkejut, Iya tak tau harus berbicara apa, dengan kondisinya yang baru saja bangun. Ditambah lagi dengan Kevin yang tiba-tiba marah padanya seperti ini. "Kevinn, lepaskan dulu kenapa kamu tiba-tiba sepert ini?" Tanya Zeline, Iya masih tidak tau sebab apa Kevin tiba-tiba marah.
Kevin menarik nafas panjang dan melepaskan tangannya yang sedari tadi menarik kerah baju Zeline, Iya mengacak-acak rambutnya, Iya coba mencerna dan mengingat-ingat kejadian bulan lalu.
Matanya terbeliak, Iya kemudian mengingat sesuatu, bulan lalu Zeline pulang habis menemui Antonio, dan Kevin melihat leher Zeline merah dan tidak memakai pembalut, padahal waktu itu dia bilang sedang period.
__ADS_1
"Kevin ... kamu kenapa sayang, apa yang membuatmu semarah ini?" Ucap Zeline lembut memegang bahu Kevin dari belakang. Kemudian Kevin mendorong Zeline hingga terhempas untung saja Iya terhempas ke atas kasur, kalau tidak akan sangat bahaya bagi kandungannya.
"Zeline jangan main-main denganku, siapa Ayah dari bayi ini?" Ucap Kevin sambil mencengkram wajah Zeline.
"Mmmggh, apa maksutmu Kevin? Ini anak mu!" Jawab Zeline menahan sakit, karena cengkraman Kevin sangat kuat.
Kevin melepaskan Zeline dan mengambil sebuah file, kemudian melemparnya tepat di muka Zeline.
"Jangan membodohiku Zeline, selama ini Kau telah menipuku, Kau berkata ingin menemui seorang teman lama, namun yang Kau temui adalah Antonio" Ucap Kevin.
Zeline terkejut melihat beberapa fotonya bersama Antonio, ternyata benar yang dirasakannya bahwa selama ini ada orang yang mengikutinya. "Apa maksut semua ini Kevin?" Tanya Zeline, Iya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.
Kemudian Kevin menempelkan tubuh Zeline pada tembok. "Jangan berlagak bodoh Zeline, seharusnya Aku yang bertanya kepadamu, bulan lalu Kau bertemu dengan Antonio dan pulang ke rumah dengan tanda merah di lehermu dan sekarang Kau baru habis dari dokter kandungan milik keluarga Jacob, bahkan Antonio memberimu sebuah gelang yang tak ternilai harganya, apa Aku harus memberitahumu lebih detail lagi Zeline?" Balas Kevin kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Zeline.
"Iiiitttttuuuuu, sseemua salah faham Kevin!" Ucap Zeline tergagap iya sangat takut dengan Kevin bahkan iya memalingkan wajahnya dari Kevin, Iya tak berani menatap wajah Kevin.
"Salah faham apalagi Zeline? Memangnya ada seorang yang memberi sebuah gelang yang harganya tak ternilai pada seorang teman? Bukanya semuanya sudah jelas, Kau ingin menyangkal lagi huhhh?? Pantas saja sifatmu sangat aneh kebelakangan ini!" Ucap Kevin sambil melirik gelang di tangan Zeline, berlian limited edition yang di buat oleh disigner terkenal di london.
Kemudian Kevin menghempas tubuh Zeline ke atas sofa. "Gugurkan anak itu sekarang juga, kalau tidak Aku akan menghancur kan keluarga Jacob!" Ucap Kevin dengan posisi membelakangi Zeline sambil mendekap dirinya.
Zeline membeliakkan mata, Iya terkejut dengan perkataan Kevin.
"Tidak mungkin Kevin, Aku tidak akan menggugurkan bayi ini!" Ucap Zeline.
"Cihhhhhh, kalau begitu Aku akan menghancurkan keluarga Jacob sekarang juga!" Ucap Kevin kemudian melangkah keluar, Iya akan menghubungi Edward untuk membatalkan semua kontrak kerja sama mereka.
Kemudian Zeline menghentikan langkah Kevin Iya terduduk kemudian memeluk kaki Kevin.
"Jangan lakukan itu Kevin, Antonio tidak bersalah! Dia tidak tau apa-apa, percayalah ini semua salah faham!" Lirih Zeline.
Kevin menendang Zeline hingga tersungkur agak jauh kemudian menghampirinya.
__ADS_1
"Berani sekali kamu berkata seperti itu setelah apa yang sudah kamu lakukan terhadapku Zeline!" Ucap Kevin mencengkram wajah Zeline.
Zeline menangis tersedu-sedu, takut bercampur kecewa di rasainya malam ini, mengapa Kevin tidak mempercayainya??