
Zeline masih mengurung diri di dalam kamar dia mencoba menenangkan fikirannya.
"Apa aku cemburu?" Tanya Zeline pada diri sendiri dulu ketika berpacaran dengan Wiliam dia tak pernah merasa cemburu, karna Wiliam sangat pandai menjaga perasaannya dan juga pandai menenangkan hatinya. Berbeda dengan Kevin, Zeline yang harus mengalah karna kalau tidak, Kevin akan berbuat yang bukan-bukan sangat merepotkan bagi Zeline.
Ujian cinta kali ini sangat berat bagi Zeline, Iya harus faham semua karakter Kevin, namun jika dibandingkan Kevin dengan Wiliam mereka berdua sangat jauh berbeda bagai langit dan bumi. Inilah resiko orang bercinta ketika gagal dalam hubungan sebelumnya mau tidak mau harus faham dan mengenal orang baru, tidak heran jika ada dua pasangan yang sudah lama bercinta mencoba untuk bertahan walau terkadang ada sifat yang tidak cocok dari masing-masing pasangan. Karena jika disuruh memilih antara bertahan dan mencari cinta baru, kebanyakan orang akan memilih bertahan, bertahan dengan orang yang sudah ditau sifat, kebiasan dan cintanya, daripada mencoba mengenal orang baru harus memantas diri kembali, dan belum tentu dia yang baru kita kenal cara dia memperlakukan dan mencintai kita akan sama seperti sebelumnya.
Seperti inilah yang di rasai Zeline sekarang, ibarat seseorang yang pandai menyanyi namun harus belajar melukis hal yang sama sekali iya tak kuasai.
......
Tiba-tiba seorang Maid mengetuk pintu dan berkata "Nyonya, makan malam sudah siap!"
"Mmm Aku akan makan nanti!" Jawab Zeline dari dalam kamar.
"Perlukah Saya mebawakan makanan ke kamar Nyonya?" Tanya Maid merasa khawatir dengan kesehatan Nyonyanya karna Zeline belum makan dari tadi siang.
"Tidak perlu" Jawab Zeline singkat, kemudian Maid pun turun.
....
Pukul 9:35 malam
Kevin baru saja selesai menyelesaikan kerjanya, kemudian turun lalu memanggil Abra.
__ADS_1
"Apa Nyonya sudah makan?" Tanya Kevin
"Maaf tuan muda, Nyonya belum makan dari tadi siang, Maid sudah memanggilnya namun Nyonya menjawab nanti!" Jawab Abra setengah membungkuk
"Baiklah kamu istirahatlah!" Ucap Kevin pada Abra.
Lalu Kevin naik menuju kamar. Iya mengetuk pintu yang baru saja tadi sore di perbaiki tadi siang, Kevin mendobraknya karna sangat panik.
Kevin masuk karna kebetulan pintunya tidak terkunci.
Kevin melihat Zeline yang sedang duduk di balkon termenung sambil memandang bulan, lalu menghampirinya. "Sayang, Kau masih marah padaku?" Tanya Kevin kemudian mengambil duduk di sisi Zeline.
Zeline hanya terdiam bahkan tak memandang Kevin sedikitpun.
Kevin bukanlah lelaki yang mudah di dedekati permpuan, memang sangat banyak wanita yang menggilainya namun Iya sangat pandai menjaga jarak dengan mereka semua dan tidak mudah tergoda.
"Sayang jangan diamkan Aku, hatiku sangat sakit di diamkan olehmu, namun Aku juga sangat bahagia kalau kamu mencemburuiku, karna itu tandanya kamu menyayangiku!" Ucap Kevin menggenggam tangan Zeline kemudian menciumnya.
Zeline yang sedari tadi mendengar penjelasan Kevin tersenyum. "Sudahlah Aku tidak ingin membahasnya lagi!" Jawab Zeline.
"Kalau begitu cium aku!" Ucap Kevin sambil mengarahkan jari telunjuknya pada bibirnya.
Zeline pun menurutinya, Iya mencium pipi Kevin lalu Kevin membalasnya dengan pelukan .
__ADS_1
"Sayang Aku lapar, mari makan! Kamu juga belum makan dari tadi siang." Ucap Kevin dengan muka manjanya, seperti anak yang sedang meminta di belikan mainan oleh orang tuanya.
Zeline tersenyum melihat raut muka Kevin "Baiklah ayo turun!" Ajak Zeline.
Sesampainya di ruang makan, Kevin hendak membangunkan para Maid untuk memanaskan makanan, namun Zeline mencegahnya, Iya akan memanaskan makanan itu sendiri, lagipula sudah tugasnya sebagai seorang Istri untuk menyiapkan makanan untuk Suaminya, dan juga Zeline merasa kasihan dengan para Maid, mungkin mereka sudah lelah, Iya tak mau mengganggu istirahat mereka.
Setelah siap memanaskan makanan, mereka berdua pun menikmati makan malam mereka dengan tentram dan berselera.
Setelah selesai makan, Zeline mencuci piring dan dibantu oleh Kevin. Zeline tertawa geli melihat tangan kekar Kevin membasuh piring, Iya sepertinya tak pernah melakukannya, berbeda dengan Zeline walau keluarganya juga kaya raya, namun Iya sudah terbiasa membasuh piring, baju dan pekerjaaan dapur lainnya, karena Iya dulu tinggal sendiri dalam apartementnya.
"Sayang kenapa kamu tersenyum seperti mengejek ku?" Tanya Kevin .
"Aku hanya merasa lucu melihat seorang penerus keluarga Alexander pertama kalinya berdiri membasuh piring denganku!" Jawab Zeline terkekeh.
"Huh! Jangan mengejekku, Aku hanya ingin membantu istriku tercinta, anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena telah membuat mu salah faham!" jawab Kevin dengan wajah dinginnya.
Setelah selesai cuci piring mereka berdua pun masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di tempat tidur.
Kemudian Kevin mendekap Zeline, lali memberinya kiss mark berkali-kali.
"Ughhh, Kevin hentikan, Aku sedang datang bulan hari pertama, perutku masih sakit, jangan menambah sakitnya!" Ucap Zeline sambil mendorong wajah Kevin yang sedang asik mengigit manja lehernya, kalau di hitung sudah ada lima bekas kiss mark yang telah mendarat pada tengkuk lehernya.
"Tidurlah!" Ucap Zeline. Dan beberapa lama kemudian mereka berdua terlelap dalam dekapan hangat penuh kasih.
__ADS_1