Posesif love

Posesif love
Episode 48 : Harus melupakanmu


__ADS_3

Kuberikan restuku, untukmu yang benar-benar kucintai di masalalu”


Aurora sedang duduk bersantai menyandarkan tubuhnya disebuah sofa yang terletak di family room, iya duduk menghadap jendela besar nan tinggi yang menghadapkannya dengan pemandangan alam berupa pohon dan bukit-bukit, iya mendekap kedua tangannya, iya teringat kejadian minggu lalu saat Antonio menemaninya ke shoping mall, dari awal iya menuruni anak tangga sampai menemaninya berbelanja, iya kerap menyebut nama Zeline, hal itu sangat mengganggunya.


“Haruskah aku berhenti menyukaimu? Hatiku sangat senang ketika mendapat perlakuan baikmu, namun sangat sakit saat melihat dan mendengar nama lain dalam ucapan dan hatimu!” lirih Aurora berbicara pada dirinya sendiri sambil memejamkan mata, kemudian iya menyuruh maid untuk membuka jendela, dia ingin menikmati hembusan angin, kemudian iya bangkit dari duduknya lalu berdiri di dekat jendela sambil mendongak-kan kepalanya, iya memejamkan mata lalu menghirup udara segar dari pepohonan sambil merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya. Kemudian iya dikejutkan karna Antonio tiba-tiba mendekapnya, sambil menyandarkan kepalanya pada bahu milik Aurora.


“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Antonio pada Aurora, sambil menghembuskan nafasnya pada tengkuk Aurora.


“Eheem.. tentu!” jawab Aurora sambil melepaskan diri dari dekapan Antonio, kemudian duduk dikursi tempat duduknya tadi. Namun Antonio menarik tangannya dan membawanya berjalan menuju sebuah tempat, Aurora mengerenyitkan mata namun langkahnya tetap mengikuti Antonio, kemudian mereka sampi di rooftop, Aurora memerhati sekeliling iya baru tau kalau rooftop rumah milik Antonio sangat cantik di lengkapi dengan sebuh sofa berwarna merah dan satu meja, ditambah dengan hembusan angin yang meniup rambut panjangannya, dengan pemandangan yang indah menenangkan jiwa.


“Aku biasa kesini kalau hatiku sedang kacau!” jelas Antonio iya berjalan menuju sofa kemudian duduk.


“Aku rasa ini lebih baik daripada berada dalam ruangan kosong!” Sindir Aurora kemudian berjalan menuju Antonio dan ikut duduk disampingnya.


Antonio menarik nafasnya, kemudian menyandarkan tubuhnya, pandangannya tertuju pada pemandangan yang ada di depannya, matanya fokus pada segerombolan burung yang bertengger pada pohon.


“Kau mau menanyakan apa?” ucap Aurora sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Antonio.


“Bagaimana kau dengan mudahnya melupakan Kevin?” Jawab Antonio sambil menatap kosong didepannya, iya selalu teringat malam ketika mereka keluar bersama dan berjumpa secara tidak sengaja dengan Zeline dan Kevin, iya sempat memerhati reaksi Aurora waktu itu, reaksinya biasa saja, tidak terlihat perasaan apapun pada matanya saat sedang berbicara dengan Kevin.


Aurora menegakkan kepalanya, iya membetulkan duduknya, iya kaget dengan pertanyaan Antonio, kemudian dia memandang wajah tampan Antonio, wajah yang selalu tersenyum didepan semua orang, namun siapa sangka orang yang selalu telihat ceria depan semua orang adalah orang yang sangat tersakiti, dan hanya dirinya yang tau betapa sedih dan sakitnya Antonio.

__ADS_1


Kemudian Aurora kembali menghadap depan sambil melihat pemandangan bukit-bukit yang ada didepannya, iya menghela nafas kemudian bekata. “Aku tidak melupakannya, aku hanya melanjutkan hidupku tanpa dirinya, melupakan bagiku sangat sulit Antonio hanya beberapa orang didunia ini yang dapat melakukannya, karna semakin kita mencoba melupakan, semakin juga kita akan selalu mengingat!”


“Jadi, maksutnya kau belum bisa melupakan perasaanmu padanya? Namun kenapa kau terlihat tenang dan seperti tidak pernah terjadi sesuatu diantara kalian, saat kita bertemu dengan mereka minggu lalu?” Tanya Antonio, sambil menolehkan wajahnya pada Aurora.


Aurora tersenyum mendengarkan Antonio, “Bagiku, ada dua jenis melupakan, yang pertama melupakan perasaan kita terhadap seseorang, dan kedua melupakan kenangan saat kita bersamanya, aku tidak tau melupakan yang mana yang kau tanyakan, yang jelas aku sudah melupakan perasaanku padanya, namun kenanganku saat bersamanya masih melekat dalam memori.” Jawab Aurora tatapan berubah menjadi tatapan kosong, hidung dan matanya memerah ketika mengingat kenangan manisnya bersama Kevin.“Kevin adalah lelaki yang sangat baik, apalagi terhadap orang yang iya cintai, iya hanya terlihat dingin dan kejam dari luar, tapi sebenarnya Kevin sangat rapuh, lebih rapuh darimu!” lanjutnya.


Antonio hanya terdiam mendengar penjelasan Aurora, iya mencoba mencerna maksut dari perkataan Aurora.


“Semua orang selalu bertanya hal ini terhadapku, tapi mereka tidak tau bagaimana perasaanku saat ditanyakan hal seperti ini, aku bahkan tidak pernah berfikir akan menjadi seperti ini, dulunya kami sangat saling mencintai, namun setelah kejadian kecelakaan itu, aku tidak dapat ditemukan, dan semua orang mengaggapku telah meninggal, namun tiga bulan setelahnya aku tersadar disebuah lab, kemudian aku bertanya pada orang yang telah menemukanku tetntang apa yang telah terjadi terhadapku, kemudian dia menjelaskannya lalu  membawaku menuju pemakaman yang disitu tertulis nama dan gambarku, aku sangat shock ditambah lagi dengan wajahku yang hancur saat kecelakaan, karna aku tidak mau menjalani operasi, maka butuh waktu bertahun-tahun untuk menunggunya pulih kembali, kebetulan orang yang menemukanku adalah seorang alchemist mereka sudah menikah namun belum mempunyai anak, kemudian mereka mengangkatku sebagai anak mereka, dan pada saat itu hari-hariku menjadi berubah, setiap hari aku sangat merindukan Kevin, namun aku tidak mempunyai keberanian untuk menemuinya disebabkan wajahku yang hancur, aku selalu melihatnya dari jauh dan mendengar banyak cerita betapa hancurnya dia saat kehilanganku, aku bahkan sempat melihat reaksi kesedihannya, namun dia terlalu jauh untuk kugapai, kemudian aku terpaksa harus mengikuti orang tua angkatku pindah ke luar kota, dan hari itu adalah hari terakhir aku bisa melihat Kevin dari kajauhan,” jelas Aurora panjang lebar ditemani dengan air mata disetiap perkataannya, iya kembali mengingat kejadihan bertahun-tahun lalu. “Tiga tahun setelahnya, wajahku kembali seperti sedia kala, aku sangat senang dan tidak sabar untuk segera menemui Kevin, dalam perjalanku menuju tempatnya aku membayangkan bagaimana reaksinya nanti saat melihatku berdiri didepannya, namun setelah aku sampai dirumahnya aku sangat terkejut, sama seperti Kevin yang sangat terkejut ketika melihatku tiba-tiba didepannya, kemudian aku berlari saat mengetahui kalau gadis yang bersamanya adalah Zeline istrinya, harapan dan hatiku sangat hancur kala itu, kemudian Kevin mengejarku, iya mencoba menenangkanku lalu membawaku ke sebuah hotel, iya menjelaskan semuanya padaku, sekaligus memberitahuku bahwa dia sudah tidak mempunyai perasaan apapun terhadapku, aku sangat shock, aku tidak dapat menerima kenyataan, aku hampir bunuh diri, karna aku merasa tidak mempunyai harapan untuk hidup lagi, namun dia memeluk dan menyadarkanku, kemudian aku meminta satu bulan waktunya untuk bersamaku, hanya bersamaku, dan yaaa.. Tentu saja dia menepatinya, setelah satu bulan berlalu, kemudian Kevin mengadiahkanku sebuah rumah, tepatnya rumah itu dulunya adalah rumah impian kami berdua, rumah yang jauh dari kebisingan kota, tentram dan hanya ada kami berdua, namun siapa sangka hanya aku sendiri yang akan menempati rumah itu! Aku mencoba menerima kenyataan dan menjelaskan semuanya terhadap Zeline, kemudian pulang menjalani hari-hariku sebagaimana mestinya, namun satu tahun kemudian aku mengetahui soal kematian Zeline, kemudian aku pergi menuju pusat kota, berharap aku bisa menghibur Kevin dan kembali seperti dulunya, namun….”


“Cukup Aurora, jangan melanjutkannya lagi!” Ucap Antonio memotong cerita Aurora, iya tak tega melihat Aurora melanjutkan ceritanya, iya bisa melihat sebuah kesedihan yang tidak berkesudahan pada mata dan tangisnya.


Berbeda dengan Antonio, iya merasa bersalah karna telah menuduh dan berfikir kalau Aurora telah menelantarkan cintanya, iya tau apa yang dirasakan Aurora, kemudian iya memeluk Aurora dan mencoba menenangkannya, “Maafkan aku oke! Aku sudah menanyakan hal yang menyakitkan, dan membuatmu mengingatnya kembali,” ucap Antonio sambil mencium dahi Aurora kemudian mengelusnya dan memelunya erat.


Aurora hanya terdiam tanpa jawaban, kemudian mencoba melepaskan pelukan Antonio, “Apa bedanya dirimu dengan dia, kau juga telah membuatku merasakan itu untuk kedua kalinya!” tegas Aurora sambil menyeka sisa air mata pada sekitar mata dan wajahnya.


Antonio kaget, iya terdiam tanpa kata, iya tidak tau harus menjawab seperti apa, lidahnya merasa kelu, iya tahu kalau Aurora menyukai dirinya namun iya tidak tau bagaimana harus membalasnya.


Sakit bukan! Saat mencintai orang yang mencintai orang lain, mencoba memenangkan hatinya, namun pada akhirnya menemukan jawaban yang sama. Dan malangnya harus merasainya untuk kali kedua.


“Sudahlah tidak perlu terlalu memikirkannya, lagipun kau dan aku baru saling mengenal, mungkin saja perasaan yang ada padaku hanya sementara,” ucap Aurora iya mencoba mengusir ketegangan diantara mereka, dan juga tidak mau terlalu memaksakan Antonio untuk menyadari tentang perasaanya, iya sedang mencoba untuk melupakan perasaanya  terhadap Antonio, iya tidak mau perasaan ini nantinya akan menyulitkannya.

__ADS_1


Kemudian Aurora mendekap tubuhnya sambil menyandark pada sofa, iya memejamkan mata, menikmati tiupan angin dan suara kicauan burung. Dan tak terasa kemudian dirinya terlelap.


“Dasar tukang tidur!” Ucap Antonio tersenyum sambil melihat wajah cantik Aurora, kemudian iya meraih kepala Arora dan menyandarkannya pada bahunya, sesaat kemudian dia melihat awan yang cerah berubah menjadi mendung dan angin yang semakin bertiup kencang, kemudian iya menangkat tubuh Aurora dan menggendongnya ala bride style, iya akan menghantar Aurora yang sedang tertidur pulas menuju kamarnya, iya tak ingin Aurora sakit dan masuk angin. Setelah sampai di kamar Aurora, kemudian Antonio membaringkan tubuh Aurora dan menutupinya dengan selimut, “Tidur yang nyenyak!” ucapnya kemudian mencium dahi Aurora, lalu iya melangkah keluar dari kamar Aurora dan menutup rapat pintu kamarnya.


“Maafkan aku, pasti sangat sakit bukan?” Ucapnya ketika pintu telah tertutup rapat, iya merasa Aurora sangat penting baginya namun iya belum ingin memulai hubungan apapun, “Aku sangat berharap suatu hati nanti kau bisa melupakanku!” lanjutnya berjalan sambil memasuk-kan kedua tangan pada saku celananya.


Tepat pada sore hari Aurora terbangun dari tidurnya, iya sempat kaget saat membuka mata, dan mengetahui dirinya sudah berada dalam kamarnya, iya kemudian memicit kepalanya, lalu mengikat rambutnya, sesaat kemudian iya  mendengar ketukan pintu dari Maid, kemudian iya bangkit dari ranjang lalu membukakan pintu.


“Nona anda telah tertidur sedari tadi siang, saatnya makan!” Ucap maid.


“Baiklah! Aku akan makan sebentar lagi,” jawabnya sambil merenggangkan tangan dan bahunya, kemudian para maid membungkuk lalu meminta diri dari hadapannya, lalu Aurora kembali masuk kedalam kamarnya, iya ingin mandi terlebih dahulu.


Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian, iya kemudian berjalan menuju ruang makan, kemudian iya menanyakan Antonio pada para maid, lalu para maid menjawab kalau Antonio juga belum makan sedari tadi, kemudian iya pergi mencari Antonio menuju kamarnya, iya mengetuk pintu berulang kali, kemudian iya mencoba membukanya karna pintunya tidak terkunci, lalu iya masuk menuju kamar Antonio, namun iya tidak menemukannya disana. Aurora kemudian menghela nafas, iya sedang berfikir kira-kira saat ini Antonio sedang berada diamana? “Apa dia berada diruangan itu lagi?” fikirnya kemudian iya berjalan menuju ruangan kosong tempat Antonio selalu menghabiskan waktunya.


Aurora menghentikan langkahnya ketika sampai pada depan pintu ruangan pribadi Antonio, ternyata  sangkaannya benar, Antonio sedang berada didalam, karna iya dapat mendengar iringan music yang sedang Antonio putar dari luar.


Aurora meletak-kan tangannya pada gagang pintu, “Nampaknya aku harus betul-betul melupakanmu,” ucapnya sambil memejamkan mata menunduk-kan kepala, kemudian iya mengambil selangkah mundur, dan membalik-kan badan, iya pergi menjauh dari ruangan pribadi Antonio, iya tak ingin mengganggunya. Kemudian Aurora pergi menuju ruang makan, iya akan makan tanpa Antonio.


Setelah selesai makan, Aurora menyuruh maid mengambil telfon bimbitnya didalam kamar, telfon bimbit yang jarang sekali iya gunakan, bisa dibilang hampir tak terpakai olehnya. Kemudian maid tadi menghampirinya lalu memberikan telfon bimbitnya, lalu iya meraihnya. Aurora tersenyum melihat telfon bimbit bermerk Iphone Xmax warna rose gold miliknya, kemudian iya membuka menu dan mulai mendownload aplikasi sosial media, seperti Facebook, Instagram,Twiter dan lain sebagainya, kemudian setelah selesai mendownload iya memasuk-kan akun lama miliknya, setelah selesai, kemudian iya mengaupload fotoya. Alhasil sepuluh menit kemudian, iya mendapatkan banyak like dan komentar-komentar dari teman lamanya, ada yang menanyakan kabar dan ada pula yang mengajaknya bertemu untuk reonian.


Tak terasa sudah dua jam Aurora menghabiskan waktunya didepan telfon, iya tak menyangka mendapat banyak sabutan dan followers yang makin bertambah, dahulunya Aurora adalah kembang sosial media, dan pengikutnya semua sangat mengidolakan dirinya, baik lelaki maupun perempuan, namun karna kecemburuan Kevin dia jadi menunistal semua akun sosial medianya. Namun sekarang tidak adalagi Kevin, dan juga iya ingi melupakan Antonio secapat mungkin, mana tau dalam sosial media dia bertemu jodoh yang memang ditakdirkan uuntuknya.

__ADS_1


__ADS_2