
Zeline menelan salivanya mendengar perkataan kevin, iya terpaksa harus mengikutinya, bisa saja iya pulang ke indonesia, tapi iya sudah merasa betah diroma.
"Baiklah, tapi .." Ucap Zeline terhenti sambil menatap dalam pada Kevin "Jangan pernah mencintai ku, bisa jadi itu akan sangat menyakitkan bagiku dan juga bagimu!" Lanjutnya dengan penuh keyakinan, iya tak ingin menjalin hubungan serius dengan siapapun saat ini.
Tiga menit kemudian, seorang datang dan memberitahu Kevin bahwa ruangan yang iya minta telah siap. Kevin pun menatap Zeline yang sedari tadi sedang membetulkan rambut untuk menutupi kesan Merah di lehernya.
faham akan tatapan kevin, Zeline pun keluar mengikuti orang tadi, mereka menuju ruangan baru untuknya yang telah disiapkan oleh Kevin sebagai sekertarinya,
"Sial bisa-bisa nya seorang perempuan berkata seprerti itu terhadap ku!" gumam Kevin sambil menegntak beberapa file ke arah meja kerjanya, iya juga tak faham akan perasaannya dengan Zeline, iya sangat ingin menjadikan Zeline miliknya dan ingin selalu berada dekat dengannya. Apakah itu yang dinamakan cinta? Iya tidak tau mengapa harus Zeline, padahal bisa saja iya mencari wanita tercantik di kota ini, namun tetap saja! Pandangannya terhenti pada Zeline davira, seorang yang tak pernah menunjuk-kan rasa ketertarikan padanya sedikitpun dari awal bertemu hingga sekarang.
"kringg .. kringgg!" Suara telfon Zeline berbunyi. Dia melihat nomer baru,entah siapa lagi yang menelfon nya.
".ciao. Con chi sto parlando?(halo, saya berbiacara dengan siapa)" Jawab Zeline dalam telfon.
"Cih! apakah kau belum menyimpan nomor telfon ku?" Jawab salah seorang lelaki dari dalam telfon,
Zeline kenal pemilik suara itu adalah Kevin, "maafkan aku, aku tidak sempat menyimpan nomor tlfn mu!" balasnya.
"Aku tunggu di bawah, pelayan sudah memindahkan semua barangmu ke tempatku!" Jawab Kevin kemudian menutup telfon sejurus setelah menyelesaikan perkataannya.
"Dia bahkan tau alamat apartement ku!" gumam Zeline, iya heran mungkin Kevin telah menyuruh seseorang untuk menyelidikinya, dan juga setaunya dia tidak memberi nomor tlfonnya ke siapapun, kecuali Monica. "Hufft sudahlah, yang penting dia tak akan menyakiti ku!" Lanjutnya berbicara sendiri, iya merasa kalau Kevin tak akan berani menyakitinya, entah dari mana iya merasakan semua itu, yang jelas dia tidak takut sama sekali bila berada di dekat Kevin, yang dia takutkan hanya, dampak buruk yang iya dapat kalau menolak atau menentang kevin. "Orang kaya mah bebas!" Ucap Zeline kembali, dia memang seorang putri terkaya nomor tiga di kotanya, namun kekayaan orang tuanya sangat jauh jika dibandingkan dengan keluarga kevin.
__ADS_1
...
Jam kerja kantor sudah habis, dan semua pekerja pun telah pulang namun ada satu atau dua karyawan yang sedang menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Zeline masih berada di dalam ruangannya, iya menunggu para karyawan yang masih berada dikantor untuk pulang, karna iya takut nanti ada yang melihatnya pulang bersama dengan Kevin. setelah mengecheck sekeliling dan merasa kalau semua karyawan telah pulang, Zeline pun mengambil tote bagnya kemudian memasuki lift, dan menekan tombol G yang akan membawanya langsung menuju lobby kantor. tak lama kemudian, lift pun terbuka, dan iya telah sampai dilobby, dari kejauhan Zeline melihat Kevin yang sedang berdiri mendekapkan kedua tangan pada dadanya, sambil menyandarkan tubuhnya dekat dengan pintu sebelah kiri mobil. Kemudian Zeline berjalan kearah Kevin, matanya memerhatikan Kevin. Pria tampan dengan kulit putih, tinggi bak model runaway, dengan gaya rambut yang sangat sesuai dengan dirinya, begitu juga dengan hidung dan matanya, sangat sempurna, ditambah dengan kekayaannya yang tidak akan habis walau lima belas turunan sekalipun, Kevin adalah sebuah paket lengkap idaman seluruh wanita. Zeline tak habis fikir kenapa Kevin menjadikannya kekasih.
Begitulah cinta ...
iya hadir , tanpa bisa di prediksi .
kadangkala iya bisa menjadi cinta yang sangat manis dan indah ,
namun ada juga cinta yang harus menjadi cerita ..
Kevin yang telah menyadari Zeline sudah berdiri tepat ditedepannya pun, membukakan pintu untuk Zeline kemudian mereka masuk ke dalam mobil mewahnya. "Haruskah aku menunggumu satu hari di sini?" Ketus Kevin, iya sangat kesal baru kali ini ada seorang yang membuatnya menunggu begitu lama.
"Kalau begitu kau harus mengingat jalan pulang ke rumahku!" Jawab Kevin sambil mendekap Zeline.
"Ada supir di depan, aku merasa malu jangan memeluk ku seperti ini!" ucap Zeline, mukanya memerah.
Kevin yang menyadari perubahan muka Zeline pun semakin mengeratkan pelukannya. "Ini hukuman untuk mu, karna telah membuatku begitu lama menunggu!" tegas Kevin sambil merebahkan kepalanya dibahu Zeline
Zeline hanya memejamkan matanya, yang apa yang dikatakannya tak kan di dengar oleh Kevin, percuma saja! Semakin dilarang Kevin semakin membuatnya, lebih baik diam! Fikirnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Kevin, kemudian mereka di sambut oleh beberpa Maid. Zeline sangat kagum dengan arsitektur rumah ini, rumah yang bernuansa perumahan elite modern ini sangat indah, dan megah tentuunya, dengan sebuah taman bunga yang berada tepat di halaman depan rumah, dan dinding-dinding yang berdiri kokoh, pasti biaya pembuatan rumah ini sangat mahal, "Patutlah! kau membawaku pulang ke rumahmu, mungkin kau merasa kebosanan sendiri, dirumah sebesar ini" Ucap Zeline, matanya tak henti-hentinya memerhatikan sekeliling.
Kemudian Zeline meminta untuk diajak berkeliling oleh Kevin, dan Kevin pun setuju lalu menunjukkan beberapa ruangan dan sebuah taman yang terdapat sebuah danau, tepat dibelakang rumahnya, Zeline berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya, rumah Kevin bak istana, sangat luas hingga membuat kakinya merasa pegal dan merekapun duduk beristirahat disebuah kursi panjang.
Tak lama kemudian seorang lelaki paruh baya yang berpenampilan rapi datang menghampiri mereka, jika dilihat dari pakaiannya lelaki itu adalah seorang housekeper dirumah ini, "Tuan, nona makan malam telah siap!" Ucapnya sopan sambil setengah membungkuk.
Kemudian Kevin mengangguk tanda menjawab, kemudian housekeeper itu pun beredar.
"Kevin, aku tidak merasa lapar, aku ingin beristirahat, kau makan sendiri saja!" ucap Zeline sambil memijit kakinya, iya merasa lelah dan ingin beristirahat, berjalan dirumah Kevin sangat melelahkan daripada bekerja dikantor;
Kevin yang mendengar perkataan Zeline terdiam, dan memerhatikan wajah Zeline yang memang terlihat kelelahan, lalu iya pun menghantar Zeline menuju kamarnya.
...
Sesampainya di kamar Zeline terkejut, semua barangnya sudah di rapikan, namun yang lebih membuat iya terkejut iya melihat ada barang Kevin juga di dalam kamar ini. "Apakah ini artinya aku akan berbagi kamar dengannya?" ucap Zeline dalam hati.
"Ini adalah kamarku, dan kamarmu juga, lebih tepatnya kamar kita berdua!" Ucap Kevin dengan santai, seolah-olah tau dan, menjawab apa yang sedang Zeline fikirkan saat ini
"Kevin kita belum menikah, mana mungkin kita bisa berbagi kamar! lagipun aku tidak habis fikir kalau rumah seluas dan semegah ini hanya memiliki satu kamar!" Jawab Zeline sambil mencekak pinggang.
__ADS_1
Kevin yang mendengar itu pun tertawa. "Kau tidak perlu khawatir! aku tidak akan berbuat apa-apa, kecuali kalau sedang dalam keadaan marah, lagipun aku jarang menempati kamar ini, aku biasa tertidur di ruang kerja, view dari kamar ini juga bagus untuk mu!" Jelas Kevin.
Zeline terdiam, iya mengerti maksut Kevin, bahwa Kevin memberikan kamar ini untuknya, karna view dalam kamar ini adalah yang tecantik dirumah ini, karna memiliki sebuah balkon yang berukuran luas dan menghadap pada danau yang terdapat di taman belakang rumahnya, serta ditambah dengan taburan gemerlap bintang bertemankan sinar rembulan, sangat pass untuknya yang menyukai langit malam!