
Zeline masuk menuju kamarnya dadanya terasa sesak saat melihat Kevin memeluk Jesica.
"Begitu cepatnya seorang berpindah hati, Kevin bahkan terlihat sangat menjaga perasaannya!" Lirih Zeline sambik mendongakkan kepala, pandangannya tertuju pada langit-langit kamar.
Pukul 9:00 malam
Zeline merasa mengantuk setelah memakan banyak buah apel dan anggur yang di bawa Abra, ia merasa loya kalau memakan nasi mungkin karna pembawaan saat hamil, namun ia sedang menunggu bunga mawar yang di pintanya dari Abra, ia selalu mencium harum bunga sebelum dan sebangun tidur, pembawaan bayi yang sangat aneh!
"Krieekk .." Suara pintu di buka.
"Abra kau lama sekali, aku sudah mengantuk!" Ucap Zeline, ia mengira orang yang membuka pintu itu adalah Abra, karna biasanya Abra yang selalu menghantar semua keperluan Zeline selama mengandung.
"Apa kehamilan membuat mu buta? Tak bisa membedakan ku dengan Abra?" ketus kevin lalu mengambil duduk di kursi samping tempat tidur.
Zeline menoleh, ternyata benar bahwa Kevin."Maaf, aku tidak melihatmu!" Ucap Zeline.
Kemudian Kevin memberi bunga mawar yang di pinta Zeline melalui Abra. "Terimakasih!" Ucap Zeline terharu, selama 6 bulan kehamilannya ini adalah pertama kalinya Kevin memberi apa yang ia idamkan. Kemudian air matanya pun terjatuh tepat di kelopak mawar yang sedang di pegangnya.
"Kau jangan senang dulu, aku kesini bukan hanya untuk memberi bunga ini, aku juga menghantar sebuah dokumen yang membutuhkan persetujuan mu!" Ucap Kevin dengan nada dingin, tidak ada kelembutan di wajahnya, yang ada hanya benci dan kecewa.
Kemudian Zeline membuka dokumen yang di bawa Kevin. Dia terbeliak setelah membaca dokumen tersebut. Dalam dokumen itu tertulis tentang persetujuan Zeline untuk membiarkan Kevin menikah kali kedua.
"Cepat tanda tangan!" Ucap Kevin sambil memberi sebuah pen pada Zeline.
"Apa-apaan ini Kevin, kau sudah gila?" Tanya Zeline dengan tatapan tajam ke arah Kevin.
"Aku akan menjadikan Jesica Nyonya dirumah ini, agar tak di tindas olehmu selama aku tidak ada dirumah!" Jawab Kevin santai sambil mendekap tubuhnya sendiri.
"Kevin, aku tidak pernah melihat dua nyonya dalam satu rumah, aku tidak akan pernah menandatanganinya, kalau kau bersikeras untuk tetap menikahinya, ceraikan aku terlebih dulu!" Ucap Zeline tegas.
"Menceraikan mu??? Hahaha dan setelah itu kau akan hidup bahagia dengan Antonio? Aku tidak akan membiarkan hidupmu semudah itu Zeline, aku akan memberimu rasa sakit yang kurasakan!" Jawab Kevin dengan pandangan yang mematikan.
"Kau bodoh Kevin, sudahku katakan banyak kali, aku hanya mengganggap Antonio sebagai sahabat, dan anak dalam kandunganku ini adalah anakmu!" balas Zeline.
"Jangan mengataiku Zeline, aku sudah memiliki banyak bukti!" Tegas Kevin.
"Hahhahahah, bukanya kau pernah bilang kau sangat mencintaiku? Kemana sudah perginya cinta itu, mengapa kau tak pernah mempercayaiku?" Tanya Zeline dengan iris mata yang kian memerah.
"Bagaimana aku akan mempercayai seseorang yang sudah membohongi ku? Jangan membodohiku Zeline atau kau akan terima akibatnya!" Jawab Kevin.
"Akibat apa Kevin? Kau berbuat ini semua hanya untuk menghukumku? Atau sedang menyakiti dirimu sendiri? Kau bilang kau sedang memberiku rasa sakit yang kau rasa, tapi kau lupa, kau merasakan sakitnya juga! Apa kau tidak lelah seperti ini?" Balas Zeline.
"Aku tidak bodoh Kevin, untuk apa aku menunggumu di sini sedangkan waktu itu kau tidak pernah pulang, apalagi sekedar menelfonku, bahkan sekarang aku masih tetap bertahan walau kau membawa wanita simpananmu kerumah ini, apa itu semua belum cukup bagimu? Kau mau aku seperti apa lagi agar kau mempercayaiku?" Lanjut Zeline, sorot matanya menatap tajam pada wajah dingin Kevin, emosi sedang meluap-luap dalam dirinya, bercampur aduk bersama kecewa dan patah hati.
"Cukup Zeline, aku lebih mempercayai apa yang aku lihat dari pada yang aku dengar!" Ucap Kevin kemudian melangkah keluar dari kamar.
Zeline kemudian menangis tersedu-sedu setelah melihat Kevin pergi dari kamarnya. "Kevin kau akan menyesali perbuatanmu!" Ucap Zeline dalam hati.
__ADS_1
............
Keesokan paginya Zeline terbangun. Setelah itu ia mandi dan kemudian mengenakan pakaiannya, lalu turun ke bawah. Sesampainya di anak tangga ia terkejut melihat Kevin dan Jesica sedang berciuman. Matanya terbeliak melihat seorang yang bergelar suami sedang bercumbu dengan wanita lain, lebih-lebih lagi Kevin melakukan itu dirumah mereka, wajah Zeline serasa panas, ingin sekali ia melerai kedua orang ini, namun ia tahan, ia tak ingin terlihat lemah di depan Jesica.
"Ehmmm, mungkin dirumah ini sudah tidak cukup kamar, sehingga aku melihat dua orang sedang bercumbu di depan tangga!" Ucap Zeline yang sedang lewat di depan mereka.
Kevin hanya memandang tajam ke arah Zeline.
Kemudian Zeline pergi ke ruang makan untuk sarapan. Ketika sarapan Zeline hampir selesai. Kevin dan jesica pun datang. Lalu Zeline bangun dan mengakhiri sarapannya.
"Tunggu! Kenapa kau pergi setelah melihat kami datang?" Tanya Kevin.
"Tuan Kevin melvian alexander, tidak kah anda lihat aku sudah selesai sarapan, lagian kamu seharusnya bersukur, kalian bisa lebih bebas bermesraan!" Jawab Zeline kemudian kembali kekamarnya.
Entah mengapa Kevin merasa sakit hati dengan perkataan Zeline, seharusnya ia merasa senang namun malah sebaliknya.
........
Sudah satu minggu Zeline melewati hari-hari seperti di neraka baginya. Sore hari Zeline sedang duduk-duduk di balkon kamarnya, ia merasa haus kemudian turun untuk mengambil minuman sekalian ingin berjalan-jalan di taman belakang rumah.
Ketika ia hendak turun, Zeline mendengar suara desahan Jesica dari belakang pintu, kebetulan kamar yang di tempati jesica dekat dengan tangga.
*deg .... deg*...
Dada zeline sesak, hingga secara tak sadar kaki dan tangannya bergerak sendiri. Ia hendak mendorong pintu yang tak dikunci bahkan tak di tutup rapat, pantas saja suara Jesica terdengar hingga ke luar. Kemudian Zeline mendorong pintu kamar Jesica.
Dia melihat Kevin dan Jesicca, sedang berhubungan intim. Zeline menutup mulutnya, ia tak percaya apa yang barusan dilihatnya, walaupun Zeline sudah pasti tau Kevin dan Jesica akan melakukan hubungan seperti itu, namun dia tak menyangka akan sesakit ini saat melihat mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan disini, keluar!" Ucap Kevin.
Kemudian Kevin berdiri lalu memakai baju, dan menyeret Zeline keluar.
"Apa yang kau perbuat, lancang sekali kau membuka kamar orang lain!" Ucap Kevin menatap tajam pada Zeline.
"Maaf, aku hanya ingin memberitahumu untuk mengunci pintu dan mengecilkan suara, aku yang akan merasa malu jika para Maid mengetahui apa yang sedang kalian lakukan!" Jawab Zeline.
Kevin merasa tak karuan, seharusnya Zeline menangis depannya dan memohon-mohon, namun malah sebaliknya.
"Kenapa Kevin, kau kaget? Oh ia aku lupa bukanya kamu bilang, kamu ingin melihatku menderita? Hahaha pasti kamu sangat kecewa pada ekspresiku sekarang!" Ucap Zeline terkekeh.
"Lepaskan aku, aku sudah sangat muak!" Ucap Zeline melepaskan genggaman Kevin, saat Kevin mencoba menggenggam tangannya.
Sesampainya di kamar, Zeline menjerit.
Hatinya sangat terluka, hati mana yang tak sakit ketika melihat suaminya sendiri bersama dengan orang lain, namun Zeline tak ingin menujukkan rasa sakit hatinya di depan Kevin.
Tidak lama kemudian Zeline mengambil handphone genggamnya lalu menelfon Antonio.
__ADS_1
"Halo Antonio, kau diamana? Aku butuh bantuan mu!" Ucap Zeline dalam telfon.
"Aku baru sja sampai apartement, kenapa?" Jawab Antonio.
"Tolong jemput aku dirumah, nanti kalau sudah sampai tunggu aku di jalan belakang rumah!" Ucap Zeline pada Antonio.
"Baiklah aku jalan sekarang, tapi ada apa? Apa yang sedang terjadi?" Tanya Antonio merasa heran, karena tidak sepeti biasanya Zeline bertingkah seperti ini.
"Aku akan menjelaskan semuanya nanti!" Ucap Zeline kemudian menutup telfon.
Zeline tak membawa banyak barang, ia hanya membawa handbag berisi kad identitas dan beberapa surat penting. Kemudian ia mengambil sebuah dokumen yang ia siapkan seminggu sebelumnya. Dan juga sebuah surat untuk Kevin.
........
kringg ... kringg .. (bunyi handphone)
"Halo Zeline, aku sudah berada di luar!" Ucap Antonio dalam telfon.
"Baiklah, tunggu sebentar, aku akan keluar!" Jawab Zeline kemudian meletakkan dokumen perceraianya beserta surat untuk Kevin diatas meja riasnya.
Kemudian Zeline turun, ia sengaja ingin berjalan di taman belakang rumah sendirian, disana ada satu pintu dengan pagar besi, mengarah ke jalan belakang rumah, dan kebetulan tak dijaga security. Zeline sengaja menyuruh Antonio menunggunya di jalan sana agar mereka tak ketauan.
"Nyonya!" panggil Abra.
Zeline yang tadinya hendak membuka pagar, tiba-tiba terhenti kemudian menoleh karna mendengar suara Abra memanggilnya.
"Nyonya hendak kemana?" Tanya Abra.
"Kumohon Abra, anggap saja kau tak melihatku malam ini." Ucap Zeline memohon pada Abra dengan tangan yang gemetaran, serta wajah yang memucat karna kaget dan ketakutan.
Abra tersenyum, ia faham maksut Zeline.
"Nyonya, aku membawakanmu buah dan seikat mawar, berhati-hati lah!" Ucap Abra, ia tau dan faham apa yang selama ini Zeline rasakan, dia tak tega melihat Zeline tersakiti setiap hari.
Zeline terharu kemudian memeluk Abra. "Terimakasih Abra!" Ucapnya sambil mengambil buah dan mawar yang di bawa Abra.
"Hati-hati Nyonya!" Ucap Abra.
"Terimakasih " ucap Zeline kemudian keluar. Sesampainya di luar, Zeline melihat mobil Antonio yang sedang parking di tepi jalan.
Menyadari kedatangan Zeline, Antonio pun keluar dan membukakan pintu mobil untuk Zeline.
Zeline pun masuk.
"Ayo cepat jalan" Ucap Zeline tergesa-gesa.
Kemudian Antonio mengikuti perkataan Zeline tanpa banyak tanya. Dia menyalakan mobil lalu melaju meninggalkan area perumahan Kevin.
__ADS_1
Zeline menghela nafas lega saat mobil mereka sudah jauh dari area rumah Kevin ...