
BIIPP
BIIPP
BIIPP
Suara alarm berbunyi, kali ini, bukan alarm Chiko, namun alarm milik Ken. Setelah semalam bertemu dengan kakaknya, Ken memutuskan untuk menjadi lebih rajin dari sebelumnya.
Sebelum bertemu dengan Kak Hilda, Ken harus membereskan pekerjaan yang tertunda di KSP. Para anak buah Ken baru saja menangkap tikus penjual informasi yang menyusup ke dalam unit bisnisnya. Sebelum menghabisi tikus tadi, mereka tentu akan menginterogasi supaya tahu siapa dalang dibalik pembocoran data. Tidak ada yang bisa didapat, tikus tersebut lebih memilih mati ketimbang membongkar identitas kliennya. Anak buah Ken hanya menemukan sebuah kop surat bersegel yang ada di tasnya. Kop surat berisi kertas kosong, tanpa tulisan apapun. Ken memerintahkan salah seorang dari mereka untuk melacak segel kop yang mencurigakan itu, lantas membuang mayat mata-mata itu ke dalam danau di tengah hutan.
*
Setelah membereskan mata-mata di KSP miliknya, Ken bergegas menuju ke Resto France. Ia sangat menikmati makan malam bersama kakaknya, jika saja tak ada pembicaraan tentang ayah mereka. Namun, karena Ken sudah menyanggupi, tentu saja ia tak ingkar janji. Mulai hari ini, Ken memutuskan untuk mencari kerja ber-resumé. Ia bahkan memasang alarm tepat pukul 07:00 WIB. Ken mencoba bangun lebih pagi dari Chiko sekalian latihan jika nanti diterima menjadi karyawan suatu perusahaan.
Sebelum membuka laptop untuk mencari lowongan kerja, Ken beranjak ke dapur terlebih dahulu. Setelah bersih-bersih diri, ia mulai membuat sarapan. Dua buah telur mata sapi, dua mangkok nasi dan dua gelas kopi. Kiranya, menu sederhana itu cukup untuk makan pagi dua lajang yang belum punya istri. Memang tampak apa adanya, namun penuh energi dari karbohidrat. Pembantu Chiko sepertinya mulai bekerja esok hari. Tentu saja ini kabar baik, Chiko dan Ken menjadi lebih santai.
*
Ken mulai membuka laptopnya. Ia berselancar di internet untuk mencari informasi lowongan kerja.
PT. FINANCE 234
Dibutuhkan: Marketing Staff
Syarat:
- S1 semua jurusan
- Terampil, Dapat Bekerja Di Bawah Tekanan
- Berintegritas Tinggi
- Mampu Bekerja dengan Target
- Ketrampilan Bahasa Inggris Diutamakan
- Minimal 3 tahun pengalaman.
__ADS_1
Ken tampak sibuk memilah dan memilih jenis pekerjaan yang cocok baginya. Seumur hidup, baru kali ini ia membuka iklan lowongan kerja. Siapa yang menyangka? Seorang ahli waris konglomerat harus mencari kerja?
Ken mengucek matanya yang mulai panas karena berada terlalu lama di depan laptop. Tidak ada satu pun pekerjaan yang cocok untuknya. Lebih tepatnya, ia tak memiliki kualifikasi minimun yakni: LULUSAN SARJANA.
Ken menepuk jidatnya.
Benar kata Kak Hilda, bagaimana bisa dia mencari kerja jika tak punya ijazah?
Ditutupnya laptop yang sudah bekerja keras mencarikannya pekerjaan. Namun sayang, tak ada yang berhasil. Ken melirik ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 17:00 WIB. Betapa banyak waktu yang terbuang untuk mencari sebuah pekerjaan. Ia menghela nafas panjang dan beranjak dari sofa. Sepertinya perutnya sudah protes minta diberi makan. Sebelum mulai belanja, Ken meregangkan ototnya terlebih dahulu. Kemudian mulai berolahraga ringan. Sayang sekali waktunya sedari tadi habis untuk duduk-duduk tak jelas. Seharusnya ia jogging terlebih dahulu.
*
Setelah menenggak habis minumannya, Ken menemukan sebuah selebaran yang kusut terinjak-injak di bawah ayunan. Ada potret gadis cantik yang dikenalnya, berikut nama perusahaan tempatnya bekerja.
Rupanya sebuah selebaran event. Ken memungut selebaran yang hampir rusak itu dan membersihkannya dari pasir-pasir taman yang melekat. Ia merasa sayang jika melihat wanita yang disukainya terinjak oleh anak-anak yang sedang bermain, meski hanya potret wajahnya. Puas berdiam di taman. Ken memutuskan untuk kembali ke apartemen. Meski gagal mencari kerja hari ini, Ken tak putus asa. Ken berencana untuk menempelkan selebaran event Celina di rak buku dekat dengan laptopnya. Ketika lelah scroll-scroll lowongan kerja, ia bisa melirik penyegaran mata bernama CELINA itu dari balik komputernya. Membayangkannya saja sudah membuat hati Ken gembira. Ia jadi bersemangat untuk mencari lowongan kerja lagi.
*
Ken, Chiko dan Hans kembali berkumpul di basecamp mereka, apalagi kalau bukan Apartemen Chiko.
Tiga sekawan itu duduk berjejer, namun, dengan ekspresi yang serupa.
Hans yang baru saja datang, merapikan posisinya namun dengan muka tertekuk. Hari ini, ia gagal mewawancarai seorang selebritas.
Chiko yang sudah duluan berada di apartemen, tampak gundah. Jadwal operasinya bertabrakan dengan jadwal kencannya. Padahal, gadis yang baru saja ia dekati termasuk primadona. Chiko gelisah jika melewatkan kesempatan ini, namun, ia tak bisa meninggalkan pasiennya.
Ken yang melongok dari pintu sambil membawa camilan, tampak bingung dengan keadaan kedua temannya. Mereka yang bekerja mapan, mengapa gundah gulana? Ken saja belum bisa mendapat pekerjaan impiannya.
"HHHHHHHHHHHH......... "
__ADS_1
Mereka bertiga menghela nafas bersama-sama. Ken membagikan eskrim supaya sahabatnya itu tak putus asa. Mereka mengulum es dengan wajah datar.
"Aduh, dingiiiiinn," Hans terkesiap karena esnya meleleh ke dadanya yang terbuka. Mereka bertiga akhirnya bisa tertawa.
"Bre... Kerja dimana ya enaknya?" Ken memecah keheningan, Chiko dan Hans beradu-pandang. Tak mengerti maksud dari Tuan Muda Grup Tang itu.
"Oiya, Lo kan nggak dianggep anak ya ama bokap? " Chiko akhirnya paham maksud Ken. Hans terkikik. Ken melengos namun masih menantikan sebuah jawaban.
"Udah coba cari di internet?" tanya Hans. Ken mengangguk. Ia menceritakan bahwa hari ini didedikasikan hanya untuk mencari lowongan kerja. Namun, tak dapat hasil apa-apa.
"Kantor Lo, dong?" Pinta Ken memelas. Hans tertawa, memangnya Ken paham urusan media. Ken yang hanya senang beradu tinju tentu tidak ingin diributkan dengan penyusunan kata-kata untuk sebuah artikel berita. Meminta bantuan Chiko lebih tidak mungkin karena Ken hanya bisa membuat luka, bukan mengobatinya. Chiko dan Hans kemudian menepuk pundak Ken supaya tabah. Situasi Ken sudah mirip dengan situasi rakyat kebanyakan yang susah mencari pekerjaan. Ken mendengus kesal, seandainya saja ia tak berjanji pada kakaknya. Ken tentu bisa bebas mendeklarasikan diri sebagai rentenir pasar.
Terlihat pesan pop-up di gawai Ken.
"Iyesss!! Ini dia!" Ken bersemangat. Ia lalu menekan tombol 'daftar' dan langsung diterima. Chiko dan Hans ikut gembira, akhirnya, sahabatnya bisa bekerja. Hal ini tentu mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia.
*
Keesokan paginya, ketika Ken datang ke sekretariat keamanan, ia dikejutkan oleh syarat khusus yang diberikan.
"Ya...Jadi, monggo... Mbayar dulu Mas'e... 2 juta (rupiah) ya.. Buat ongkos pelatihan," ujar salah seorang pria yang berjaga di meja depan, sepertinya resepsionis. Perawakannya yang tambun berisi, dengan kumis lebat membuatnya jauh dari kesan sangar. Dharmawan Sudarjo. Nama yang tertera di seragam security-nya.
Ken melongo.
"Jadi, harus bayar dulu nih, Pak?" tanyanya tak yakin.
"Yaiyalah, Mas'e. Niat kerja nggak sich? Kalau mau kerja itu ya kudu modal, tho," jawab Pak Dharmawan acuh tak acuh.
Ken memutar bola matanya. Pantas saja pengangguran banyak sekali, mau kerja supaya dapat uang, malah keluar uang.
"Cash apa Transfer nih, Pak?"
"Ya terserah, Mas'e.... Mau cash bisa, mau transfer bisa... Yang ngga bisa itu nyicil, ya... "
Ken mulai mengeluarkan seratus-ribuan sebanyak 20 lembar. Ia lalu menandatangani kwitansi dan surat kontrak. Ken dapat mengikuti pelatihan esok hari, selama dua minggu. Setelahnya, ia akan ditugaskan di salah satu perusahaan rekanan "SECURE FIT" yang tersebar di ibu kota.
"Makasih, Ya, Mas'e... Semoga beruntung, Sing sabar ya Mas'e... Bekerja itu berat.... " petuah Pak Dharmawan sok bijak. Ken tersenyum kecut lalu pamit pulang.
"Anjirrrrrr.... Dasar mafia," umpat Ken dalam perjalanan pulang ke apartemen. Ken tak sadar bahwa dialah mafia yang sesungguhnya. Ken berjalan pelan menuju ke jalan raya, lalu menyetop taksi untuk mengantarkannya ke KSP Amanah. Banyak yang harus ia selesaikan sebelum resmi bekerja di "SECURE FIT".
__ADS_1