
Gawai Ken yang baru saja menyala, memunculkan banyak sekali notifikasi. Ken yang pusing membaca satu per satu notifikasi yang tertera di layar, seketika mematikan gawainya dan menghentikan aktivitas mengecek pesan dan panggilan telepon yang baru ia lakukan. Ada satu panggilan darurat yang terlewat. Ken tidak menyadarinya.
*
Ken yang menyadari bahwa ia telah meninggalkan KSP terlalu lama, memutuskan untuk mengecek kondisi koperasi miliknya. Ken biasa memanggil ajudannya, Virza, untuk menjemputnya di titik lokasi tertentu. Namun, kali ini, tidak dilakukannya. Ponsel Virza tidak bisa dihubungi. Ken terpaksa melakukan perjalanan mandiri untuk sampai ke KSP.
Sesampainya di KSP Amanah. Tidak ada tanda-tanda kondisi buruk yang terjadi. Suasana kantor tampak biasa saja, tidak sepi, namun tidak terlalu ramai juga. Para pegawai yang berjaga di KSP juga tidak terlalu peduli pada Ken. Mereka menganggap Ken adalah klien biasa. Tidak ada pegawai yang mengenali bosnya, karena, ada kepala koperasi yang mengatur keperluan kantor tanpa harus ada pemilik. Ken juga merahasiakan keberadaannya supaya kamuflase-nya sempurna.
"Maaf, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" Sapa pegawai KSP yang mendapati Ken sedang berkeliling di teras depan.
"Oh, enggak.. Saya lagi nyari Virza," jawab Ken. Namun ia menepuk kepalanya. Virza bukanlah anggota resmi KSP, melainkan anak buah bawah tanah miliknya.
"Maaf, Virza siapa?" tanya pegawai yang bernama LARASATI itu padanya. Ken lalu menggeleng dan pergi begitu saja. Pegawai itu tampak heran dengan gelagat anehnya.
*
Setelah mengecek keadaan KSP yang baik-baik saja, Ken mencoba kembali menghubungi Virza. Namun, tidak diangkatnya. Perasaan Ken menjadi tidak enak, karena, Virza tidak biasanya mengabaikan bosnya. Ken lalu melaju ke gudang KSP dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Ada garis polisi yang membentang mengelilingi gudang. Pintu utama rusak, seperti telah terjadi perkelahian. Perabot patah, dan berserak. Jendela-jendela pecah seperti terkena hantaman senjata. Ken mempercepat langkahnya dan menelusuri setiap sudut ruang gudang yang ada. Banyak bercak darah dan tongkat pukul yang tidak karuan bentuknya. Bau anyir memenuhi gudang yang dibiarkan begitu saja. Ken mencoba menghubungi anak buahnya yang lain. Namun, nihil hasilnya. Ken lalu menuju ke kantor polisi terdekat untuk mengecek apakah ada perkelahian di sekitar?
"Oh iya mas, ada. Tiga hari yang lalu, ada perang gangster deket sini. Kayaknya rebutan wilayah, " sahut polisi yang bertugas, dengan santainya. Ken tampak geram. Anak buahnya tak ketahuan ada dimana, apakah masih hidup atau sudah meninggal.
"Pelakunya siapa, Pak?" tanya Ken kemudian.
Polisi itu tampak malas menyahuti Ken yang tingkahnya seperti wartawan.
"Maaf, kenapa anda nanya-nanya?" Bukannya memberi jawaban, polisi itu malah ganti bertanya.
"Ada adik saya yang kerja di gudang itu, Pak!" jawab Ken ketus setengah membentak. Polisi itu bangkit dari kursinya.
__ADS_1
"Anda kalau nanya yang sopan, ya!" hardiknya.
Ken mencoba menarik nafas dalam-dalam. Lalu melanjutkan pembicaraan.
"Maaf pak, saya emosi. Bisa tolong kasih tau, dimana korban dirawat? Pasti ada yang terluka, kan?"
"Nah, gitu.. Kayak preman aja bentak-bentak saya. Kalo nanyanya enak kan jawabnya juga enak," Tukas polisi tersebut, lagi-lagi tanpa menjawab pertanyaan dari Ken.
Tak lama kemudian, ia menyerahkan secarik kertas berisi alamat rumah sakit tempat korban dirawat. Sebelum beranjak menuju rumah sakit, Ken menyempatkan diri mengecek sel-sel tahanan untuk memastikan tidak ada anak buahnya yang ditahan. Aman. Tidak tampak anak buah Ken di dalam sel tahanan Polsek.
*
Ken meluncur ke Rumah Sakit Persahabatan, tak jauh dari Polsek Keramat Djaya. Ia lalu mencari informasi soal korban perkelahian antar-geng yang terjadi tiga hari lalu di gudang dekat sini. Ada seorang perawat yang menunjukkan bangsal tempat para korban dirawat. Ken terbelalak mendapati semua anak buahnya berada di sana, termasuk Virza. 15 orang terkapar tak berdaya.
"Semuanya masih belum boleh bergerak, ya, Pak. Harus dirawat inap secara intensif dulu. Namun, kabar baiknya, masa kritis mereka sudah lewat," jelas perawat yang mengantarkan Ken.
"Vir.. Kenapa semua?" tanya Ken agak gemetar melihat Virza yang terbaring lemah di ranjang pasien. Virza yang mengetahui Bos Ken sedang berada di sisinya, menitikkan air mata.
"Maaf, Bos. Kami lengah.... " ujarnya lirih.
"Katakan, apa yang terjadi?" Ken memegang balik tangan Virza yang mencoba meminta pengampunan.
"Kami disergap, Bos. Sama gangster Black Venom. Mereka rentenir penguasa wilayah sebelah. Mereka gak terima sama keberadaan kita, pelanggan mereka habis semua katanya diambil sama kita," jelas Virza dengan suara pelan, namun tetap terdengar. Ken mengepalkan tinjunya, ia sangat kesal dengan aksi biadap kelompok rentenir itu.
"Berapa orang yang nyerang kemarin?," Tanya Ken menyelidik.
"10 mobil, Bos. Mungkin 50 orang," jawab Virza sambil mengernyit. Kepalanya mendadak sakit karena dipaksa mengingat kejadian. Tempurung kepala Virza bocor terkena hantaman tongkat bisbol. Setelah dioperasi darurat, akhirnya ia siuman sejak kemarin pagi.
Wajah Ken merah padam. Ia bersumpah akan mencerabut akar Black Venom dan membuat mereka menyesal karena telah cari gara-gara dengannya. Black Venom dimiliki oleh seorang wanita serakah yang menguasai wilayah Pasar Jumat. Keberadaan Black Venom memang cukup lama, sudah 20 tahun. Tentu saja mereka merasa terganggu dengan hadirnya KSP Amanah yang menawarkan pinjaman dengan bunga rendah.
__ADS_1
Ken kemudian memberi cek kosong pada kepala Polsek Keramat Djaya supaya menarik berkas kasus perkelahian gudang, dan menyelesaikan pembayaran rumah sakit para anak buahnya. Ia tak ingin masalah ini berlarut-larut, namun pihak kepolisian tak ingin melepaskan kasus ini begitu saja. Black Venom lolos, tentu saja KSP Amanah sebagai korban harus bertanggung jawab. Kepala Polsek harus melapor ke atasan atas insiden yang terjadi, jadi gak mungkin ia tinggal diam. Tapi, Ken belajar penyelesaian kasus secara mudah ketika berada dalam tahanan. Tentu saja, dengan membayarkan sejumlah uang.
*
"Jadi, ada apa itu tiga hari lalu di daerahmu?" Kapolres menelepon Kapolsek Keramat Djaya dengan nada tajam. Banyak wartawan yang sudah membuat kepalanya pusing dari kemarin, namun, ia belum bisa memberi jawaban.
Kapolsek tampak mengetik pesan terpisah dari ponselnya, tanpa mengatakan sesuatu yang mencurigakan.
"Biasa, pak. Ada perkelahian geng," jawabnya. Kapolsek terus mengetik pesan di ponselnya, kemudian....
TRING!
DRRRRRT...
Kapolres memeriksa gawainya.
TRING!
Matanya terbelalak. Senyumnya merekah.
"Baiklah kalau begitu. Coba itu anak-anak dikasih penyuluhan. Biar nggak berantem aja. Yasudah ya, kita akhiri saja. Ho... Ho... Ho.... " suaranya melunak, wajahnya tampak cerah gembira. Ia sudah membayangkan akan membeli banyak barang hari ini karena baru saja menerima rejeki nomplok dari anak buahnya.
__ADS_1