PREMAN CEO

PREMAN CEO
Bersenang-senang Dahulu


__ADS_3

Kediaman keluarga Tanoesoeroyo tampak meriah. Balon-balon ditempel di atap rumah, confetti bertaburan, kue dan juga camilan tersaji di ruang tengah. Bir-bir dan aneka minuman beralkohol ikut menemani kemeriahan pesta.


"Selamat, nak! Kau memang yang terbaik!" ujar Nyonya Tanoesoeroyo bangga.


"Suamiku memang nomor satu!" pekik Velly tak mau kalah.


Presdir tak segan menyunggingkan senyuman. Ia pun berharap, anaknya dapat terpilih menjadi walikota Jakarta Barat.


"Kalau kamu berhasil jadi walikota, kamu berhak jadi penerus grup!" titah Sang Presdir yang diiringi tepuk tangan paling meriah oleh Gaus dan Velly. Selangkah lagi, rencana mereka akan menuai hasil.


Seluruh televisi lokal sedang menyiarkan pengumuman calon walikota di DKI Jakarta. Untuk Daerah Pilihan Jakarta Barat, ada 2 calon walikota yakni No. 1 Gaus Tanoesoeroyo dan No. 2 adalah Pikita Hernandez, seorang mantan jaksa.


Cathy yang baru pulang sekolah, tampak jengah dengan kebisingan yang ada di rumahnya. Ia menaiki tangga dengan cepat supaya segera sampai ke kamarnya. David-Ellijah tidak tampak di kediaman, mereka sedang berlibur ke Malibu, Amerika Serikat. Anak yang tak dianggap, Celina, tentu saja sedang sekarat bersama suaminya, begitu menurut Velly. Jadi, rencana mereka berjalan sempurna.


"Sayang, jangan lupa, nanti malam ada interview lho di Indosiram," ujar Velly mengingatkan. Mereka sedang menikmati pie buah dengan wine sambil menari-nari bergembira.


"Ya, ok!"


*


Gaus dan Velly sampai di stasiun TV Indosiram. Mereka menunggu di ruangan khusus untuk narasumber, sebelum tampil di studio untuk siaran. Tampak tim tata rias sedang mempermak wajah Gaus agar tampak mencolok jika terkena sorotan kamera. Tak berselang lama, kru TV memberi sedikit briefing sebelum akhirnya memanggil Gaus untuk memasuki studio. Di sana, ia akan diwawancarai santai sebagai calon walikota Jakarta Barat oleh pewara terkenal, Nazwa Shahab.


"Yak, pemirsa, kembali lagi bersama saya Nazwa Shahab, di Mata Nazwa. Hari ini, kita kedatangan bintang tamu dari perpolitikan. Mari kita sambut, Pak Gaus Tanoesoeroyo. Seorang pengusaha yang saat ini sedang menuai peruntungan di bidang politik dengan mencalonkan diri sebagai walikota. Mari kita sapa dulu, apa kabar Pak Gaus?" ujar pewara itu sambil membaca teleprompter-- alat elektronik yang menampilkan teks berjalan secara otomatis-- dan tersenyum manis ke arah Gaus.


"Baik, Mbak Nazwa. Alhamdulillah. Mbak gimana?" tanya Gaus ke pewara tersebut.


"Alhamdulillah, baik juga. Bapak, bisa bapak ceritakan nih, visi-misi bapak sebagai calon walikota Jakarta Barat?"


"Visi saya tentu saja ingin Kota Jakarta Barat menjadi kota yang canggih dan beradab, serta inovatif,"


"Wah, jadi apa nih, langkah konkretnya supaya bisa jadi kota canggih dan beradab, serta inovatif ya, Pak?" tanya pewara menyelidik. Nazwa Shahab memang terkenal kritis dan sadis dalam mewawancarai narasumbernya.


"Jadi gini, mbak Nazwa. Seperti yang ada di misi saya, pertama, saya skan rombak itu kinerja lelet para ASN, dan mengganti para pesuruh/honorer dengan AI canggih, sehingga kerjanya lebih cepat dan akurat, serta tidak boros biaya,"


"AI? Artificial Intelligence ya, Pak? Wah. Menarik sekali... Kemudian?"


"Ya benar sekali. Kebetulan grup kami kan beroperasi di bidang elektronik dan teknologi. Jadi saya bisa memastikan hal ini akan terjadi. Selain itu, saya juga akan pastikan, integritas para pekerja dengan akhlak yang baik, sehingga korupsi dan nepotisme tidak menjamur di pemerintahan,"


"Wah, kalau ini agak absurd ya, Pak?"


"Absurd bagaimana, Mbak? Orang-orang yang beragama dan berakhlak tentu akan baik kinerjanya," ujar Gaus ngotot.


"Bagaimana menilai akhlak itu, Pak? Bukannya tidak terlihat, Ya?"


"Iya, memang. Makanya, akan ada evaluasi bulanan. Pekerja pemerintah yang selalu solat tepat waktu, mengaji, atau kalau yang non-muslim, sering ke gereja, atau ke kuil, akan ada pencatatan dan pencocokan dengan kinerja mereka. Lalu tentu ada reward-nya,"

__ADS_1


"Baik.Menarik juga idenya. Lalu? Apalagi, Pak?"


"Ya, kami akan menggandeng tim IT untuk digitalisasi semua program pemerintah, sehingga bisa diakses seluruh masyarakat. Mulai dari hasil rapat, kebijakan yang sedang terjadi, pelaporan/keluhan, segala macam lah. Nanti akan tau sendiri, jika saya terpilih," ujar Gaus mantap. Istrinya, Velly, tampak bertepuk tangan sendirian dari bangku penonton.


"Baik, rupanya Pak Gaus ini man of vision, Ya. Kami akan tunggu pak, realisasi programnya jika bapak terpilih, ya. Semangat terus, Pak Gaus. Semoga sukses!"


Mereka pun kemudian bersalaman dan mengakhiri sesi wawancara tersebut. Velly mengacungkan dua jempol ke arah suaminya. Chris tampak baru saja tiba, dan menenteng dokumen dalam sebuah tas.


"Malam, Pak," sapanya.


Velly berdehem, dan menjauhkan diri. Ia tak ingin mencampuradukkan antara hubungan pribadi dengan bisnis.


"Ada apa, Chris?" tanya Gaus tampak tak senang dengan kehadiran selingkuhan istrinya itu.


"Ini dokumen dari Pak Presdir, ada rekomendasi sponsor untuk Bapak," ujarnya seraya menyerahkan tas dokumen tersebut pada Gaus. Ia menerima hadiah itu dengan senang hati, dan mempersilahkan Chris untuk membawa pergi istrinya. Velly memekik gembira dan mencium pipi suaminya itu. Ia lantas berjalan beriringan dengan Chris karena tak ingin menampakkan hubungan terlarang mereka di depan publik.


*


"Itu tadi apaan, Chris?" tanya Velly yang baru saja selesai mencumbui bibir tebal Chris yang rasanya agak pahit akibat espresso yang baru saja diminumnya.


"Dokumen sponsor. Presdir memerintahkan aku untuk ngasih ke suamimu," jelasnya lalu ******* kembali bibir wanita yang tampak seperti bibinya itu.


"Hmmppph.. Bentar.. Bentar... Sponsor, siapa aja?" tanya Velly penasaran sambil menjauhkan bibir Chris yang tak sabar untuk segera beradu liur dengannya.


"The Royal Tree, itu organisasi paling elit," jelas Chris, lalu mereka menyelesaikan agenda panas mereka sampai pagi menjelang. Velly seringkali menghabiskan malam di apartemen Chris ketimbang di kediaman Tanoesoeroyo. Tidak ada pula yang menanyakan kemana ia pergi, bahkan suaminya sekalipun. Bagi keluarga Tanoesoeroyo, selama mereka selalu patuh menjalankan kewajiban mereka sebagai anggota Tanoesoeroyo, apapun yang mereka lakukan adalah hak pribadi mereka, asal tak ada skandal yang tercipta.


*


"Pretty! Kamu telat lagi!" Romy mendengus ke arah rekan kerjanya.


"Maaf, Rom. Kemarin ultah adikku, kita party sampai pagi, heheh.... " jawab gadis itu asal.


"Awas aja kalo nanti pulang tenggo, ya! Lembur!" ujarnya menghardik pura-pura ke arah Pretty. Di ruang VIP yang pintunya sedikit terbuka, sedang ada tamu yang menunggu. Romy sedang berpura-pura menjadi atasan teladan dengan memberi hukuman pada bawahannya yang tidak tepat waktu. Padahal, jam kerja karyawan Royal Tree sangat fleksibel, dan bos mereka tak pernah mempermasalahkan jam kerja, asal pekerjaan mereka selesai dengan baik.


"Permisi, Pak. Silakan masuk. Bu Hilda sudah menunggu," ujar Romy sambil membukakan pintu ruang direktur.


"Baik, terima kasih," ujar pria yang memakai setelan hitam dengan sepatu pantofel mengkilat bersama ajudannya.


"SIlakan duduk, Pak... Gaus, ya?" tanya Hilda mencoba memastikan tamu yang sedang ditemuinya.


"Betul, Bu. Saya Gaus Tanoesoeroyo. Calon walikota Jakarta Barat," ujar Gaus dengan senyuman.


"Baik. Pak Gaus. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Hilda tanpa basa-basi.


"Langsung saja, nih, Bu. Kami ingin surat rekomendasi dari anda untuk dipasang di iklan media massa,"

__ADS_1


"Ya? Mengapa harus begitu?" tanya Hilda terheran. Baru kali ini ia mendengar suratnya akan dipasang di media massa.


"Ya, supaya terbaca banyak orang, Bu. Royal tree kan sangat terkenal. Bahkan, orang-orang di gang kelinci pun nonton TV. Surat ibu nanti tayang di TV juga, Bu. Mereka biar lebih yakin sama Pak Gaus," jelas Hermann, ajudannya.


"Mengapa saya harus merekomendasikan anda? Bukankah pada calon lainnya?" tanya Hilda sekalian mewawancarai kepiawaian Gaus dalam berpolitik. Ia tidak ingin dukungannya sia-sia.


"Bu Hilda dari grup Tang, kan? Kami akan melancarkan proyek-proyek dari Grup ibu ke depannya," terang Gaus dengan yakin dan to the point. Tawar-menawar seperti ini memang sering terjadi, istilahnya memberi dan menerima. Tidak ada dukungan yang gratis di dunia ini.


"Hmm...," Hilda mencoba berpikir sejenak.


Perseteruan Grup Tang dengan Grup Tanoesoeroyo memang menjadi masa lalu bagi generasi pertama. Gaus dan Hilda hanyalah anak-anak dari para presdir. Mereka tidak ikut andil secara langsung dalam eksekusi tender grup ayah mereka.


Namun, jika Hilda dapat membuka jalan untuk kelancaran proyek-proyek pembangunan kota Jakarta Barat ke depannya, maka itu pasti menjadi kesempatan yang baik. Jalur bisnis untuk Ken-- adik tersayangnya-- tentu akan mulus. Hilda tidak tertarik untuk mengelola bisnis Grup. Namun, ia akan melakukan yang terbaik untuk mendukung adiknya. Apalagi, keluarga Tanoesoeroyo adalah besan mereka. Siapa tahu, konflik antargrup bisa mereda dengan pernikahan Ken dengan Celina.


"Baiklah, Romy, bawakan surat kontrak kemari," perintah Hilda pada ajudannya.


Gaus dan Hermann berpandangan dengan gembira. Senyum kemenangan merekah di antara ujung bibirnya.


"Ini undangan perayaan terpilihnya Pak Gaus menjadi calon walikota, mohon diterima. Para sponsor kami undang untuk memeriahkan acara," Hermann menyerahksn sepucuk surat undangan pada Hilda. Ia menerimanya dengan senang hati. Mereka berdua pun undur diri. Hilda juga harus melanjutkan agenda kerja hari ini.


"Bu, ada telepon dari Pak Ken," Romy menyodorkan ponselnya. Ponsel Hilda rupanya lupa dicharge sehingga mati mendadak.


<"Halo, Dek?">


<"Halo, Kak. Lagi sibuk?">


<"Enggak. Baru aja meeting sama kakaknya Celine,">


<"Seriuss? Wahahaa. Gaus Ya? Ngapain dia?">


<"Minta rekomendasi ama sponsor gitu deh. Kakak lagi usaha buat kamu nih,">


<"Haha.. Nggak perlu! Nggak perlu! Tapi bagus! Kakak memang TOP! Biarkan dia terbang tinggi-tinggi, biar kalo sayapnya patah, jatohnya sakit sekali,">


Hilda tak mengerti dengan maksud perkataan adiknya. Ia juga tidak tahu-menahu bahwa adiknya dan Celina sedang berada di Pulau Sembunyi setelah menjadi korban kekerasan dari pihak Tanoesoeroyo.


<"Kamu ngomong apa sih, Dek? Yaudah, kapan ketemu kakak?">


<"Secepatnya, Kak. Sambil bawa paket hadiah,"> ujar Ken misterius.


Hilda tak mau ambil pusing. Ia pamit dan menutup telepon dari adiknya itu, kemudian, menuju ke Sukabumi. Hari ini adalah hari pembagian sembako para keluarga asuh The Royal Tree di Rumah Harapan yang terletak di Sukabumi, Jawa Barat. Hilda secara personal akan pergi kesana untuk acara bagi-bagi sembako sekaligus evaluasi bulanan para pekerja sosial. The Royal Tree cukup terkenal dan mendapat basis massa yang besar karena pengelolaan proyek-proyek sosialnya setara unit PBB. Oleh karena itu, banyak anggota partai politik yang mencari dukungan agar basis massa The Royal Tree sampai juga ke mereka.


...****************...


...bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2