
Cuaca siang ini terasa sangat mencekat tenggorokan. Ken yang sedang melaju menggunakan motor tentu terbakar teriknya sengatan matahari yang sedang panas-panasnya. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Posisi sang surya berada tepat di atas kepala. Seharusnya Ken membawa mobil Hilda, tapi, tidak mungkin berkendara dengan cepat di jam istirahat begini. Kemacetan Jakarta tidak manusiawi di jam-jam makan siang. Moda transportasi yang paling ramah supaya lekas sampai ke tujuan, ya hanya motor saja.
"Pak, nanti turunin di depan gang aja," perintah Ken pada sopir ojek daring yang sedang disewa. Pengendara motor yang merupakan seorang bapak paruh baya itu mengangguk pelan sambil tetap berkonsentrasi memacu kuda besinya. Helm mereka kadang bergemeletuk jika melintasi jalan berlubang atau tak sengaja ngegas tanpa melihat undakan kecil yang dibuat warga untuk menahan kecepatan kendaraan yang melintasi gang mereka.
"Di sini aja nih, Bos?" Bapak itu menghentikan laju motornya di depang Gang Sikatan X, sesuai instruksi Ken.
"Ya, Pak. Makasih ya," ujar Ken melambaikan tangannya.
"Jangan lupa Bintang 5, Bos," Lambainya dibalas petuah template pengemudi ojek daring yang senantiasa mencari rating demi kelancaran pesanan.
"Beresssss!"
Ken lalu melangkahkan kaki memasuki gang padat penduduk yang biasa dijumpai di Kota Depok. Gang Sikatan X hanya memiliki lebar 2 meter dengan selokan kecil di kanan dan kiri jalan. Tentu saja mobil tak akan muat masuk ke dalam gang. Sepanjang jalan, banyak rumah berjajar dengan luas yang tak seberapa. Pepohonan juga tak ada. Suasana terik semakin tak terelakkan.
Ken menepi ke arah rumah yang cukup tua, namun tampak bersih. Dinding rumah saling menempel antar-tetangga. Efisiensi salah kaprah soal bangunan yang membuat tempat tinggal tidak nyaman. Namun, apa daya seorang pengontrak rumah yang hanya numpang tinggal? Mereka bahkan tidak ikut andil dalam rencana pembangunan. Tentu saja, mau tak mau mereka menyewa rumah itu meski harus hidup dalam kebisingan yang mungkin diciptakan oleh tetangga sebelahnya.
"Assalamu'alaikum, permisi," Ken mengetuk pintu rumah bercat hijau. Dalam satu komplek bangunan, terdapat empat rumah berderet rapi dengan dinding bersekat, namun memiliki warna tembok yang berbeda. Mungkin supaya mudah dituju oleh tamu-tamu mereka, karena bentuk rumah pengontrak antara satu dengan lainnya, benar-benar mirip dan tampak dimiliki oleh satu juragan saja.
Tok.
Tok.
"Permisiiii....... "
Ken mencoba mengetuk rumah itu lagi, tapi masih tanpa jawaban. Tiba-tiba tetangga sebelah membuka pintu rumahnya.
"Nyari siape, tong (nak)?" tanya seorang pria berkumis dengan kaos singlet dan sarung agak melorot, pada Ken.
"Nyari ibuk yang tinggal di sini, Pak," jawab Ken. Pria itu mencoba mengetuk pintu dengan keras.
BRAK!
__ADS_1
BRAK!
BRAK!
"POK ELIIIIH.... ENIHHH.. ADE NYANG NYARIIIKKKK!!!,"
Ken terjingkat tak percaya bahwa bertamu di Depok harus memiliki jiwa seperti TIM S.W.A.T yang siap mendobrak rumah tersangka penculikan.
"IYEE.. IYEEE.. BENTAAAARRRR!!" sahut seseorang dari balik pintu.
"Maaf ye, Tong. Die tu agak bolot (tuli)," jelas bapak itu. Ken tersenyum canggung namun sangat berterima kasih atas kebaikan hati tetangga yang membantunya untuk bertamu dengan lancar.
"Udeh ye, Babe mo tidur lagi, Ati-ati ntar pulangnye," pesan si bapak dan dibalas anggukan Ken.
"Sape sih bedug-bedug gini," wanita yang berada di dalam rumah mengomel namun tetap membukakan pintu.
"Iye? Siape ye?"
"Wa'alaikumsalam, Oh, Si Dito? Kemane ye tu anak. Udah dua hari kagak pulang,"
"Saya cuma mau ambil buku, kok, Bu. Boleh masuk ke kamarnya?" ujar Ken berbohong.
"O.. Iye Iye.. Masuk masuk,"
Tanpa curiga, Ibunya Dito membiarkan Ken masuk ke rumah kontrakan. Merasa tak punya barang berharga yang bisa dicuri atau perabot mahal yang mungkin diambil, Ibunya Dito santai saja mempersilakan orang asing masuk ke dalam rumahnya.
Ken melihat sekeliling, rumah yang kecil namun cukup rapi. Hanya ada sebuah kamar, satu kamar mandi, dan dapur yang terhubung dengan tempat cucian baju serta piring. Di sudut dapur ada area khusus untuk tempat kardus, botol dan gelas air mineral bekas yang terkumpul di dalam karung. Profesi Ibu Dito sebagai pemulung tampak jelas ketika melihat ruangan yang penuh sampah kering siap pilah.
"Di atas situ, tuh," tunjuk Ibunya Dito ke sebuah tangga kayu yang cukup lebar, dan terhubung ke sebuah kamar yang sempit. Tidak ada dek khusus yang membuat lantai dua tampak layak huni. Hanya tangga maksa yang menyambungkan lantai satu ke balkon kamar Dito.
"Permisi ya, Bu.... "
__ADS_1
"Iye... Naek aja... "
Ken melangkah pelan menyusuri tangga yang terbuat dari kayu itu. Ia mendapati banyak buku bertumpuk dan sebuah foto yang tergantung. Foto Dito dengan ibu dan kakaknya. Benar rupanya, wanita yang mati di Club X adalah kakaknya.
Dengan sigap, Ken mencari-cari petunjuk yang bisa berguna. Dibongkarnya tumpukan buku dalam kardus yang sudah tersegel. Kardus itu ditulisi "Barang-barang kakak".
Disobeknya perekat cokelat yang menyegel bagian atas kardus, hanya ada tumpukan buku dan baju serta aksesori khusus wanita. Ken menyingkap tumpukan itu sehingga dapat memeriksa secara seksama, namun ia tak menemukan petunjuk apapun. Rak-rak buku ambalan yang terletak di atas ranjang juga hanya menyimpan komik, serta buku pelajaran.
"Huaaah.... "
Keringat Ken membasahi sebagian besar atas tubuhnya seperti berada di sebuah sauna. Ken tampak kelelahan dan merasa sesak karena berada terlalu lama di kamar sempit itu. Kaosnya dikibar-kibarkan untuk menangkap angin yang masuk melalui jendela krapyak di bagian atas foto berpigura emas milik Dito, hanya ada potret mereka bertiga, tak ada foto bapaknya.
Ken kemudian terduduk sambil mengamati seisi kamar sempit milik Dito. Jika ada barang yang mencurigakan, tentu sudah diambil oleh kepolisian untuk dijadikan barang bukti. Namun, mereka tak menemukan apapun di sini. Pasti ada suatu tempat rahasia yang dapat dijadikan penyimpanan petunjuk penting atas kematian kakak Dito, Shayna Narendra.
Ken mengedarkan pandang kembali. Ia penasaran dengan foto yang ada di bawah jendela. Ken agak lupa wajah Shayna karena hanya bertemu sekilas. Diambilnya foto itu, rupanya Shayna sangat mirip dengan Ibu Elih, karena berperawakan kurus, berbeda dengan adiknya yang bulat dan gendut. Ken lalu hendak mengembalikan pigura itu namun tangannya tergelincir karena basah oleh keringat. Pigura itu pun jatuh dan pecah.
PYAAAARRR!
"Eh, Tong!! Eluh gak papa? Ape yang pecah???" Teriak Ibu Elih antara kaget dan khawatir mendengar sesuatu yang pecah di atas rumahnya.
"Nggak papa bu, maaf ini fotonya kesenggol tadi," jawab Ken mencari alasan. Matanya mendelik menemukan sesuatu yang mencurigakan. Tangannya mendekat mengambil barang itu dengan hati-hati agar tak terkena goresan kaca yang hancur berkeping-keping. Senyumnya tersungging, wajahnya menjadi cerah.
"Tong... Ibuk gakbisa naek yak, takut ambruk. Eluh buruan turun gih. Beresin dulu itu pecahannye.... " perintah Bu Elih yang tak pernah mengecek kamar Dito karena takut terjatuh. Di usianya yang tak muda lagi, terpeleset adalah sebab yang dapat mengancam jiwa.
"Siap, Bu!" jawab Ken semangat.
Kali ini, ia menemukan barang yang ia cari. Tak selang beberapa lama, Ken pamit undur diri. Ia lantas meluncur ke Markas KSP yang ada ring tinjunya. Ken sudah tak sabar untuk menjalankan aksi selanjutnya.
...****************...
(Bersambung)
__ADS_1
...****************...