
Ken berkali-kali mencubit pipinya. Ia bahkan minta ditonjok Rully dan Beni yang sedang berjaga bersamanya.
"Sakit, Anjirrrrr.... " Desisnya yang membuat keduanya mundur lima langkah, takut terkena serangan balasan.
Penguntit yang mengaku bernams Romeo itu sudah diamankan pihak kepolisian. Setelah memberi keterangan, Ken kembali lagi ke Pos Jaga dan mulai duduk bertopang dagu sambil melamun semalaman. Rully dan Beni tak ingin mengganggu, mereka menganggap Ken sedang banyak pikiran.
'Eh gila, gua diajak kawin ma si Celine. Ketiban duren montong ini mah' batin Ken bersorak gembira. Namun, untuk langsung mengiyakan ajakan Celine yang di luar nalar, harga diri Ken menahannya. Ia tak ingin dianggap seperti anning kelaparan yang baru dilempari mangsa.
Sebentar lagi, waktu menunjukkan pukul 07:00 WIB yang artinya jam kerja Ken hampir selesai. Sebelum serah-terima shift selanjutnya, Ken mengirim pesan pada Celine. Mereka kemudian bertemu di KUA setempat untuk melangsungkan akad nikah dengan wali hakim dan uang yang banyak untuk mempercepat proses administrasi dan lainnya.
*
"Saya terima nikahnya Celina Tanoesoeroyo dengan mas kawin emas batangan 5 gram dibayar tunai," Ucap Ken mantap dalam sekali tarikan nafas. Ijab-Qobul mereka pun dinilai sah, dan dalam waktu kurang dari 1 jam, segala dokumen dan surat nikah sudah di tangan.
'PLAKKKK'
Ken menampar pipinya sendiri, ketika sedang berada di kamar mandi. Berkali-kali ia melihat ke cermin. Apakah sudah ada vibes bapack-bapack? Oh ternyata sudah.
"Ken.... "
__ADS_1
Panggil istrinya, Celine, lembut, dari depan kamar mandi.
"I.. Iya.. Bentar,"
Seumur hidup, baru kali ini Ken gemetar menjawab panggilan seseorang. Istri. Panggilan dari istri sungguh membuat bulu kuduk berdiri.
"Ayo kita pulang," Ajak Celine.
"Pulang? Pulang Ke?"
"Apartemen aku lah, masa ke tempat Chiko?"
"Selamat yhaa, Pak... Bu... Met jadi penganten baru," Ujar kepala KUA sambil menyerahkan bungkusan batik yang seperti kado manten untuk mereka. Ken dan Celine menerimanya dengan senang hati. Mereka pun pamit untuk memulai malam pengantin yang disambut sorak-sorai para pegawai KUA.
*
"Taraaa.... Welcome! Home sweet home!" Celine membuka pintu apartemen dan menunjukkan suasana rumah tinggalnya pada suami barunya, Ken.
Ken tampak biasa saja karena sudah mengetahui tata letak apartemen yang serupa dengan milik sahabatnya. Celine kemudian mengantar Ken untuk beristirahat di kamar tamu, karena status pernikahan kontrak mereka.
__ADS_1
Pernikahan yang sedang dijalani Ken bukanlah pernikahan normal, namun sarat kepentingan. Ken akan menerima gaji bulanan, dan Celine akan menerima kebebasan. Status pernikahan ini juga masih dirahasiakan, sampai waktu pertunangan Celine diumumkan. Celine berencana mempernalukan keluarga besarnya yang sudah seenaknya mencampuri hidup damainya.
*
"Oke, diingat ya.. No skinship, No ***, No kiss, pokoknya hanya harus jadi pasangan show window di luar, dan rekan kerja jika di dalam rumah," Ujar Celine mengingatkan.
"Show window maksudnya?" Ken tak paham istilah asing yang baru ia dengar.
"Maksudnya, pura-pura jadi pasangan ideal gitu. Sayang-sayangan, mesra, tapi tetap jaga martabat ya, biar kepalsuan hubungan kita nggak kedetect orang," jelas Celine kemudian.
Ken mengangguk paham.
"Dan, gaji lo... 30 juta sebulan, cukup kan?" tanya Celine. Ken tersenyum, kemudian pura-pura terkejut.
"Astaga, Bu Bos.. Apa gak kebanyakan?"
Celine tergelak.
"Paan sih, Bu Bos.. Bu Bos...Haha.. Ya Enggak lah, sepadan. Sori ya. Lo jadi gabisa kawin ama gadis impian, Lo. Nanti kalau udah setahun, baru deh, kita cerai. Lo bisa bebas,"
__ADS_1
Ken berdehem, namun dalam hati membatin. Celine tak tahu-menahu bahwa gadis impiannya sudah menjadi istrinya saat ini. Namun, karena masih ingin mengikuti permainan Celine, Ken mengiyakan saja syarat-syarat yang diberikan oleh istri tercintanya itu. Nanti, akan tiba saatnya, Ken membalik kartu yang sedang ia pegang.