PREMAN CEO

PREMAN CEO
Awas, Jangan Sampai Bocor!


__ADS_3

Bunyi monitor pemantau detak jantung terdengar stabil, embusan angin dingin membuat ruang perawatan pasien tampak nyaman. Sekilas, ruang itu terlihat familiar, hanya berbeda nomor pintu depan. Tata letak dan perabot di dalam kamar mirip dengan ruang VVIP yang pernah digunakan oleh Ken.


Samar-samar, terdengar bunyi langkah kecil yang cepat dari koridor di luar kamar. Tak berselang lama, seorang wanita berusia 35 tahunan masuk dan menghambur ke ranjang pasien. Wanita lain tampak sedang terbaring di sana, dengan usia yang lebih tua. Sedetik kemudian, seorang perawat masuk dan membawa cairan infus lain sebagai pengganti. Terdapat identitas yang lazim dilihat, Ny. Gienanta, Pasien VVIP, Rumah Sakit Persahabatan Hati.


"Gimana keadaan Mamah saya, Sus?" tanya wanita yang ternyata adalah Velly, anak Madam Gie, pasien yang baru masuk ke RSPH.


"Sudah stabil kok, Bu. Tadi juga sudah ada dokter yang visit," jelas perawat itu lalu mengganti infus Madam dan mencatat perkembangan pasien dalam sebuah buku memo kecil.


"Makasih, sus,"


"Sama-sama, Bu. Jika ada yang diperlukan, pencet bel saja ya. Mari.... Selamat istirahat," pamit perawat itu kemudian menutup pelan pintu geser yang berada di kamar 4501. Jam dinding menunjukkan pukul 22:00 WIB. Sudah cukup malam untuk tidur, namun Velly perlu mengecek sesuatu pada ibunya. Ia lantas melaju ke rumah sakit, tapi ibunya belum juga sadar. Dokter memberi obat tidur dan juga infus nutrisi karena Madam ngamuk-ngamuk ketika dibawa ke rumah sakit. Tubuh gendutnya menjadi kisut, karena kekurangan gizi.


Terdampar di hutan selama 3 hari 2 malam membuatnya kehilangan akal. Madam yang terbiasa hidup mewah dan hanya bisa memberi instruksi di sana-sini, tentu bingung, marah, dan kelaparan. Ia jadi berhalusinasi dan tak bisa membedakan waktu.


Ketika dijemput petugas tol dan diangkut ke dinas sosial terdekat, Madam memberontak dan marah-marah. Tekanan darahnya menjadi naik, dan ia pingsan mendadak. Velly dan Chris yang berhasil menyusul mobil petugas, langsung membopong Madam yang pingsan di depan gerbang. Mereka lantas memberikan identitas resmi sebagai keluarga Madam, dan wanita itu boleh dibawa pulang. Velly langsung menginstruksikan Chris supaya menyetir ke RSPH. Di sana, mereka bisa mendapat perawatan medis terbaik dan tentu saja gratis, karena rumah sakit itu milik keluarga Tanoesoeroyo, mertua Velly.


*


Sudah hari kedua, Madam dirawat. Kali ini, matanya tampak terbuka satu-satu. Jemarinya juga mulai bergerak. Velly yang baru terbangun dari tidurnya menggeliat pelan. Ia lantas melongok ke arah ibunya. Senyumnya merekah melihat Madam telah membuka mata. Ia langsung memakai kedua sepatu haknya, dan mendekat ke arah ibunya.


"Mamah!" Pekik Velly bahagia melihat ibunya mulai membuka mata.


"Hmmmmmm," sahut ibunya masih lemah.


"Mamaaaah!"


Kali ini, Velly menggoyang-goyangkan badan ibunya agar wanita itu tak kembali tidur. Velly sudah bosan menunggu berhari-hari untuk menanyakan hal yang penting pada ibunya.


"Pusing, Goblok!" maki ibunya sambil memegangi kepalanya yang terguncang.


"Eh, maaf, hehe..... " Velly melepaskan tangannya.


"Mamah, Mamah... Gawat ini! Markas Black Venom kebakaran gara-gara anak buah mamah yang goblok itu! Mereka mabok terus berantem! Habis gitu, mereka malah ngebakar gedung! Goblok banget kan?? Kesel deh!!!" cerocos Velly tanpa titik koma. Madam yang ada di sebelahnya langsung meremas mulut putrinya yang sangat berisik itu.


"Hhhmmppppphhhh" Velly meronta tak bisa bernapas.


"Brisiiikk!!!!" pekik Madam marah.

__ADS_1


Grafik monitor pemantau detak jantung menukik tajam dan berderap-derap. Bunyi tit tit tit-nya makin kencang. Perawat langsung datang dengan panik, ia mengira kondisi Madam memburuk.


"SUSTEERRR!! USIR BOCAH ITU KELUAR!! BRISIKKKK!!!!" perintah Madam pada perawat yang baru datang. Perawat itu bingung dan mencoba menilai situasi yang terjadi.


Putri sang pasien juga tampak marah karena kekhawatirannya sia-sia, ibunya tetap seperti banteng rodeo yang siap nyeruduk siapa pun. Tanpa diusir, Velly pergi dari kamar 4501 dengan langkah terhentak-hentak pertanda kesal. Grafik monitor Madam normal kembali, kali ini, dia bisa beristirahat dengan tenang.


*


"Gimana, Vel? Berhasil?" tanya Chris setelah Velly beranjak masuk ke mobil.


"Berhasil apanya, diusir malahan," jawabnya bersungut-sungut.


"Duh, gimana dong? Gimana kita bisa ngecek map merah itu? Kan grup bos besar juga bisa kena masalah," ujar Chris khawatir.


"Hubbv... Iya sih. Yaudah nanti aku balik lagi, kita juga gabisa ke markas, bisa-bisa ikut diinterogasi," desis Velly.


"Mati deh gue kalo ketauan mantunya Tanoesoeroyo. Mana banyak garis polisi lagi," lanjutnya kemudian. Velly tak bisa memikirkan rencana lain kecuali menanyai ibunya tentang keberadaan map merah sakral yang menjadi kunci pemenangan tender Grup Tanoesoeroyo.


Map merah, menyimpan sebuah surat perjanjian rahasia yang menjadi kunci pemenangan tender proyek jalan tol lintas Sumatera. Pertarungan Grup Tang dengan Grup Tanoesoeroyo terhenti akibat skandal Club X yang disebabkan oleh putera Grup Tang. Praktis, tender dimenangkan oleh Grup Tanoesoeroyo.


Namun, bisa gawat jadinya jika markas preman milik Madam yang sudah menjadi afiliasi grup, terkekspos. Bisa-bisa, kasus proyek Tol Sumatera diusut kembali jika map merah yang menjadi bukti sabotase ditemukan. Anak Grup Tang yang menjadi target operasi juga tentu tak akan tinggal diam.


Velly pusing harus memikirkan hal itu. Ia memilih untuk tidur di pelukan Chris daripada harus menerka jalan apa yang harus ditempuh supaya keluarga besarnya aman. Velly akan menyerahkan rencana pelarian efisien pada Gaus.


'Ya..Ya.. Gitu aja, enak saja dia cuma malas-malasan di rumah!' desis Velly membatin sambil menggesek-gesekkan pipinya di dada bidang milik Chris. Kulit kencang kekasihnya itu memang yang terbaik, tak seperti kulit Gaus yang sudah kendor dan penuh keriput. Tak ada gairah sama sekali jika Velly sedang bersama Gaus. Hanya saja, suaminya kaya raya, jadi kegembiraannya bisa ditebus dengan belanja barang-barang mewah.


*


"Mamah sayang, aku bawa kue.... "


Hari sudah malam, kali ini, Velly membawa kue sifon bertabur keju kesukaan ibunya. Velly juga sudah mengganti sepatu dan berusaha memelankan suaranya supaya tidak berisik. Madam yang hanya berbaring tentu saja bosan. Ia ingin bermain gaple, tapi, dokter baru memperbolehkannya pulang esok hari.


"Tumben.... " sahut Madam sembari menoleh ke arah putrinya. Pandangannya mengarah pada sepatu Velly yang tak berbunyi. Tidak seperti biasanya. Mereka memang sering bertengkar hanya karena suara sepatu Velly yang berisik. Pendengaran Madam yang kelewat sensitif tidak bisa mentolerir kebisingan apapun.


"Iya, Mah. Kan mamah lagi sakit. Nanti kalo marah-marah lagi, kambuh loh," ujar Velly masuk akal. Rupanya mereka sedang gencatan senjata.


"Yaudah, bawa sini kuenya,"

__ADS_1


"Okay..... Yuk, makan bareng-bareng,"


Velly mendekat lalu membuka kotak kue sifon The Harpers yang baru saja dibelinya. Aroma keju yang kental menyeruak dari dalam kotaknya. Air liur Madam hendak menetes karena membayangkan lezatnya kue yang dibawa putrinya. Suasana hatinya sangat baik. Velly menyeringai dan bersiap melancarkan aksinya.


"Aaaak.... "


"Ammmm.... Nyam... Nyam... "


Velly menyuapi Madam. Ia makan dengan lahap. Dalam lima menit, kue sekotak habis tak bersisa. Pelan tapi pasti, Velly mulai menanyakan duduk masalah kebakaran markas Black Venom.


Madam menjawab dengan singkat dan lugas, tanpa berteriak ataupun bertengkar. Velly kemudian paham. Namun, yang dikhawatirkan Velly rupanya terjadi. Map merah itu telah hilang!


"Mamaah gimana sih! Mamah bodoh deh! Huhu.... Bisa abis kita, Mah!" Velly merutuk. Ibunya tak membalas. Ia juga paham bahwa apa yang dibangunnya selama ini bisa hancur gara-gara map konyol itu. Madam lalu berpikir sejenak untuk mencari solusi. Gaus belum diberitahu oleh Velly.


Ia jadi tak punya pemikiran apapun untuk situasi ini.


"Vel, lu kenal Bos KSP?"


"Ya? KSP apa, Mah?"


"Itu, yang ada di Kramat Djaya,"


Velly lalu membuka gugelmaps dari gawainya dan mencari letak KSP yang dimaksud. Rupanya adalah KSP AMANAH. Ia lalu mengeklik informasi KSP tersebut, dan muncul nama Kenny Wijaya sebagai pemilik, Virza Oktora sebagai Direktur dan Hafiz Hidayat sebagai Kepala Koperasi. Skala bisnis ini cukup kecil, namun rating-nya sempurna. Banyak ulasan positif dari netizen.


"Ini, Mah?" Velly menunjukkan gawainya.


"Ya.. Ya.. Itu... Bosnya itu yang ngambil map merah," jelas ibunya.


Velly berpikir sejenak, lalu menelepon keponakannya, Ferdi, untuk mengurus masalah ini. Ferdi pun tersenyum kecut dari seberang sana. ia lalu merencanakan sesuatu, namun tak diberitahukan pada Velly.


Namun, siapa sangka, rencana Ferdi hanya sebuah aksi yang akan disesalinya.


...****************...


(Bersambung)


...****************...

__ADS_1


__ADS_2