PREMAN CEO

PREMAN CEO
Au Revoir, Mon Amour!


__ADS_3


Prok!!


Prok!!


Prok!!


Prok!!


Suara tepuk tangan menggema di penjuru hall utama Dragon Tower di lantai 5. Kilatan lampu kamera milik para wartawan berkedip-kedip, seperti taburan permata yang melayang di antara peserta konferensi. Ken dan Presdir melambaikan tangan dan tersenyum, kemudian melangkah keluar dari panggung acara. Pertanyaan-pertanyaan dari wartawan telah dijawab dengan baik, dan akan ada rilis resmi di website perusahaan tentang konferensi pers hari ini, sehingga, tidak ada rumor-rumor buruk yang berkembang.


Presdir dan Ken berjalan menuju ke pintu keluar. Virza, yang kali ini seperti seorang ajudan Ken, tampak sigap menyambut Bosnya dari arah berlawanan.


"Mari, Pak Presdir," sapanya. Ken memiringkan senyuman dan mendelik. Virza tampak mengulum kedua bibirnya untuk menahan tawa.


"Belom, Bre!" desisnya ke arah Virza.


"Siap!" sahut Virza dengan gelagat formal.


Rombongan Presdir Devon, Ken dan ajudan serta sekretaris mereka tampak berjalan dengan barisan rapi sesuai urutan kekuasaan.


"Direktur Ken. Silakan, ini ruangan anda. Tiga bulan ke depan, baru pindah ke lantai atas, ya," ucap Presdir Devon sembari membukakan pintu ruangan direktur yang berada di lantai 6. Bangunan seluas 200 meter persegi itu tampak mewah dan dilengkapi perabot yang indah dan mesin-mesin canggih untuk membantu kinerja seorang pimpinan. Ada bilik kecil untuk ruangan ajudan, dan juga beberapa kubikel untuk para staf sekretaris. Di hadapan pintu utama, terdapat ruangan untuk menjamu tamu yang ditata sedemikian rupa sehingga nyaman ditempati. Sofa berbahan beludru impor, meja estetik, dan juga mesin pembuat kopi, menjadikan ruangan itu tampak nyaman.


"Terima kasih, Presdir," ucap Ken sambil menjabat tangan ayahnya.


Presdir Devon menyambut jabatan tangan puteranya dengan genggaman erat dan mata yang berkaca-kaca. Belum habis rasa haru pria tua yang sekian lama telah menelantarkan putera bungsunya itu. Presdir Devon merasa bersalah karena kurang piawai mengungkapkan kasih sayangnya sebagai ayah untuk Ken.


"Ayah,"


Ken yang menerima genggaman tangan Presdir, segera menarik tangan pria itu ke arah wajahnya. Ia lalu memeluk pria yang telah membesarkannya dengan susah-payah meski tanpa bantuan seorang istri. Ken sedikit paham tentang hubungan ayah dan anak setelah melewati proses pernikahan, dan memiliki tanggung jawab selain pada dirinya sendiri.


"Putraku," desis Presdir sambil menepuk-nepuk punggung putra kecilnya yang sudah lebih besar darinya.


"Maafkan ayah, Nak," lanjutnya kemudian.


Ken semakin mempererat pelukannya. Ia lalu menggengam kedua tangan ayahnya dan mengucapkan terima kasih karena telah memberinya pelajaran hidup yang berharga. Baru kali ini, Ken dan Presdir dapat berbicara dari hati ke hati dan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi selama ini.

__ADS_1


"Ehem.. Bo.. Bos, ada telepon," Virza menyodorkan ponsel bosnya yang sedang dititipkan padanya selama konferensi berlangsung.


<"Halo? Lin?">


Ken menjawab panggilan dari nomor istrinya dengan wajah ceria. Namun, keceriaan yang terpancar dari suaranya itu tak mendapat sambutan serupa. Istrinya sedang berbicara dengan nada sumbang dan suara bergetar, seakan ingin menyampaikan kabar bahwa besok dunia akan kiamat.


<"Bisa kita ketemu?">


<"Tentu saja! Dimana?">


<"Di kafe tempat kita pertama kali ketemu, deket polsek itu">


<"Oke! 30 menit lagi ya! Aku langsung ke sana">


Tut.


Telepon terputus.


Ken segera menyambar jas yang baru saja dilepaskannya, dan mengambil kunci mobil yang ada pada Virza.


"Bos, saya antar saja, ya?"


"Ken, nanti bilang kakakmu ya, Papa berangkat ke Kanada lagi," ujar Presdir sebelum Ken mencapai pintu keluar.


"Siap, Pah! Ati-ati ya, nanti kalo papa sudah balik, aku kenalin istriku," sahut Ken dengan langkah meninggi seperti anak kecil yang akan mendapatkan permen. Ken begitu gembira karena hendak bertemu dengan Celina, istrinya.


'Iyaa.. Papah sabar... Papah sabar.... " jawab Presdir yang pasrah melihat putranya telah menyandang status sebagai suami orang tanpa seizinnya.


"Bye, Pah!"


"Ya, hati-hati juga untukmu,"


Mereka pun berpisah jalan. Ken sedang dalam perjalanan untuk bertemu istrinya dengan hati gembira, Presdir sedang dalam perjalanan untuk ke bandara dan bertolak ke Kanada dengan perasaan tenang. Suasana di Keluarga Tang tampak semakin harmonis, meski Hilda tak ikut bergabung. Ia masih sibuk di Dark Cell mengurus 'paket hadiah' dari adiknya, yakni Madam Gie. Hilda sangat gembira bisa bermain-main dengan wanita tua jahat yang sudah memporakporandakan kehidupan keluarganya.


*


"Lin!"

__ADS_1


Ken melambaikan tangannya ke arah istrinya, yang sudah duduk di meja dekat jendela. Celina membalas lambaian tangan suaminya dengan wajah datar dan bibir yang pucat. Ken segera mendekat ke arah istrinya.


"Mau pesen apa? Aku traktir ya, Sayang," tanya Ken sambil menawarkan diri. Celina menggeleng dan segera mengambil sesuatu dari tasnya.


"Tanda tangan disini," ujarnya tanpa ekspresi.


Ken yang baru saja tiba, tak mengerti dengan maksud istrinya itu.


"Apa ini?" tanya Ken penasaran karena tak bisa membaca dokumen yang baru saja dikeluarkan istrinya dengan jelas. Ken lantas mengambil dokumen tersebut dan membacanya dengan seksama.


"Itu, surat cerai," ujar Celina dengan suara bergetar dan sikap canggung tanpa memandang wajah suaminya. Celina sedang berusaha menahan tangis dan amarah yang bergemuruh di dalam dadanya.


"Sayang? Kamu kenapa??"


Kali ini, Ken sangat terkejut dan meminta penjelasan atas sikap istrinya yang tiba-tiba berubah. Baru saja mereka berbulan madu, lantas, kali ini harus bercerai? Apa maksud istrinya ini? Ken tak paham sama sekali.


"Cepat! Tanda tangani surat itu dan mari bercerai secara baik-baik!" ucap Celina bersungut-sungut.


"Lin! Sayang! Aku bisa jelaskan!" Ken tak menerima keputusan sepihak dari Celina. Jika ini tentang identitas palsu dan sandiwara yang selama ini dimainkan oleh Ken, ia bisa menjelaskan secara rinci kepada Celina.


"Sudahlah! Aku sudah tidak sudi ditipu lagi! Cepat!! Ce.. Cepat!! Selesaikan pernikahan palsu ini!" pekik Celina yang kali ini sudah tak dapat membendung amarah akibat pengkhianatan Ken. Bulir-bulir hangat mengalir dari kedua pelupuk matanya. Bibirnya bergetar. Suaranya menjadi serak.


"Lin, please.... Aku bisa jelaskan. Aku tidak mau bercerai!" ujar Ken melembut sambil meraih kedua tangan istrinya.


"Bullshit! Puas kamu menipu aku, hah? Senang kamu liat aku seperti orang bodoh! Oh, Damn!!! Ken! **** you!!"


Celina menepis tangan Ken, kemudian bergegas pergi setelah menamparnya. Celina harus menyingkir tanpa membawa hasil. Ia berlari ke arah pintu keluar setelah bertengkar dengan suami yang tak mau menandatangani surat perceraian. Celina kemudian masuk ke dalam mobil yang pintunya telah terbuka. Masih tampak, dari arah kaca depan, Celina sedang menangis dalam pelukan Jeff.


"Damn it!" Desis Ken kesal.


Ia tak ingin memperkeruh keadaan dengan mengejar istrinya yang sedang menghindarinya. Tinjunya terkepal, dadanya sesak oleh kecemburuan dan juga penyesalan karena telah membuat sedih istrinya. Ken akan memberi Celina waktu untuk menjernihkan hati dan pikirannya. Ken tak akan memaksa, atau malah membenarkan perbuatannya karena telah menipu Celina. Hal terbaik yang dapat ia lakukan adalah menunggu. Tentu saja, Ken akan menunggu, meski tidak sebentar, sampai istrinya datang kembali padanya.


...****************...


...Namun, rupanya, penantian itu akan berakhir sia-sia....


...****************...

__ADS_1


...bersambung...


...****************...


__ADS_2