
Suasana kantor yang riuh di pagi hari, terasa menyegarkan bagi Celina. Gadis itu memang terkenal sebagai workaholic dan lebih senang menghabiskan waktu di kantor daripada di pusat sosial.
"Jeff, hari ini meeting sama siapa?" Tanyanya sambil melirik ke asistennya, Jeff Gregory. Pria bule peranakan yang merupakan teman kuliahnya sewaktu di Amerika.
"Sama walikota, Ma'am. Untuk bahas tender seragam ASN," Jawabnya. Visual Celina dan Jeff dikenal seantero Rainbow Tower sebagai visual idol. Jika kedua rekan kerja itu melintas, para karyawan tentu akan menghentikan sejenak aktivitas mereka dan menikmati pemandangan indah ciptaan Tuhan yang sedang berada di sana.
"Ma'am, ada telepon dari Nyonya besar," Jeff mengoper ponselnya pada Celina. Dalam hati Celina bertanya-tanya mengapa ibunya menelepon Jeff, bukan padanya langsung? Pasti ada yang tak beres.
"Lina! Hapemu kok tidak aktif? Mama nelpon terus ngga diangkat," Ibunya mengomel dari arah sebrang. Celina merogoh sakunya dan mendapati ponselnya telah kehilangan daya.
"Oh My God, Sorry, Ma. Lina lupa nge-ces," jawab gadis itu sambil terus berjalan menaiki lift hingga lantai 9.
"Yaudah, malam ini kamu datang ke Hotel Horison. Mama udah siapin dress dan Make Up Artist dari Salon Fabiosa, nanti mereka bakal ke sana. Jam 6 (malam) teng ya. Kerjaanmu harus sudah selesai!" Perintah ibunya tanpa menanyakan pendapat putrinya. Celina memijit kepalanya yang dipaksa berpikir hal yang tak diketahuinya. Pagi-pagi belum buka agenda kerja, malah dapat tugas negara.
"Okay, Ma. Tapi jelasin dulu, kenapa harus gitu? Lina nggak ngerti,"
"Ikut perjodohan," tegas Ibunya. Celina memutar bola matanya. Jeff yang sedang bersiap di dekatnya tampak mengerti situasi yang sedang dihadapi oleh bosnya itu. Celina tak ingin membantah ibunya. Ia mengikuti kemauan sang nyonya tanpa banyak bertanya. Celina akhirnya menyelesaikan agenda kerjanya lebih cepat dan bersiap untuk bertemu calon jodohnya ketika malam tlah tiba.
*
__ADS_1
"Like.. Crazy, You know... Dia tuh ngga berenti ngebahas lini bisnis keluarga, trus barang-barang branded kesukaannya. Itu, cowok loh. Dah kayak bestie aku yang ada di sini," Celina mengeluh melalui telepon.
Jeff sedang berada di sebrang sana menerima curhatan sahabat sekaligus bosnya itu. Jeff terkekeh namun berusaha bersimpati pada situasi Celina. Perjodohan seperti ini memang sering terjadi. Tapi, sepertinya kali ini agak gawat. Tentu saja karena Celina yang sudah berada pada fase siap untuk menikah. Sebagai sesama anak orang, Jeff memahami perasaan Celina. Ia pun sering dijodohkan ibunya karena Jeff lebih serius bekerja dan mengembangkan karier ketimbang menjalani hidup secara normal.
Celina yang puas menumpahkan keluh kesahnya, kemudian tertidur. Jeff mematikan teleponnya. Keesokan harinya, Celine dikagetkan soal berita pertunangannya dengan calon jodoh yang bernama Lionel itu. Lionel adalah anak pemilik tambang emas dari Papuma, pemasok emas nomor satu di Indonesia. Acara temu jodoh hanya berlangsung sekali, kemudian pertunangan akan dilangsungkan seminggu setelahnya. Celina yang baru saja bangun tidur di kamarnya tentu terperanjat sampai tak bisa berkata-kata. Kemarin malam, setelah dari perjodohan, Celina pulang ke rumah utama, bukan ke apartemen. Rencananya, pagi ini ia akan melaporkan kejadian temu jodoh yang tak sesuai seleranya. Bukannya melapor, ia malah dikejutkan oleh keputusan keluarganya. Celina langsung bersiap ke kantor tanpa berkomentar apa-apa. Ia masih syok dan tidak tahu harus bagaimana. Ibu dan Ayahnya memang selalu memutuskan sepihak tentang nasib anak-anak mereka.
*
"Jadi, ya gitu deh, Ken.. Ceritanya," Celina yang sedang membuat sarapan sekalian menceritakan perlakuan keluarganya atas hidupnya. Ken yang sedang menyeruput kopi pagi, setelah puas tidur semalaman, menyimak dengan seksama.
"Ada yang bisa gue bantu?" tawarnya. Celina menggeleng. Ia malah senang bisa membuatkan sarapan untuk orang lain, karena selama ini Celine selalu makan sendirian.
Ken merengut, ia tak senang dengan statusnya sebagai back up, bukan pilihan utama. Celina tertawa, karena Ken melakukan hal yang tak masuk akal. Seperti sudah menjadi kekasih sungguhan saja, ada bumbu cemburu segala.
Celina tak mengetahui bahwa Ken serius dengan ucapannya. Ken juga tak menunjukkan perasaan aslinya. Biarlah kepura-puraan ini berlangsung seperti biasa, sambil mengenal satu sama lain secara perlahan.
Terhitung sejak ijab-qobul kilat waktu itu, berarti, sudah dua hari Celina dan Ken resmi menjadi pasangan suami-istri. Sehari istirahat total di rumah, dan sehari baru sempat beraktivitas normal. Ken dan Celine masih merahasiakan hubungan mereka dari siapapun. Ken bahkan merahasiakannya dari Chiko dan Hans. Ken tak ingin merusak rencana Celina untuk membuat kehebohan massif, empat hari lagi.
*
__ADS_1
"Bapak ibu sekalian, harap bersabar sebentar. Sesaat lagi, pihak perempuan akan hadir bersama kita di sini," suara MC pertunangan Celine dengan Lionel nampak bergetar. Sudah 40 menit berlalu sejak waktu yang ditentukan, namun, tak tampak kehadiran bakal calon pengantin perempuan. Keluarga Tanoesoeroyo nampak kesal. Ibunya bahkan sudah memendam amarah atas keterlambatan putrinya itu. Bisa-bisanya Celina tidak tepat waktu di hari penting begini, sungguh tak seperti sikapnya selama ini.
"Sorry... Gue telat," Celina nampak berjalan agak cepat dari pintu utama Plenary Hall di Hotel Harison. Seluruh lantai dua disewa hanya untuk melangsungkan acara pertunangan Celina dengan Lionel.
Para undangan nampak riuh menyambut bintang acara hari ini. Keluarga kedua pihak akhirnya bisa tersenyum lega, sebelum Celina mengajak seseorang untuk berbarengan masuk dan menggandeng tangannya.
"Kenalin, ini suami gue," Ujar Celina lantang. Ibunya yang sedang menahan amarah langsung naik pitam dan menghambur ke arah gadis itu untuk menjambak rambutnya. Ayahnya tak kalah terkejut namun dengan sigap melarang istrinya untuk makin mempermalukan keluarga mereka.
Calon besan juga uring-uringan dan menuntut penjelasan. Lionel terdiam, tanpa tahu harus berbuat apa. Lelaki sejati tentu akan menghajar pria yang diakui sebagai suami itu karena telah merebut calon pengantinnya. Namun, bagi Lionel, hal itu tak perlu karena hanya akan melukai tangannya.
"KAU GILA???!! " Ibu Celina tak sabar untuk segera menampar putrinya. Ken berdiri di depan istrinya itu untuk menghalangi siapapun melukai wanitanya.
"Nih, surat-suratnya. Baca!" Celina menyodorkan surat nikah dan dokumen-dokumen pendukung keabsahan pernikahan mereka. Berikut foto ketika ijab-qobul di KUA. Ibu Celina pingsan. Ia tak tahan lagi dengan kelakuan anaknya. Calon besan mendadak pulang dengan menanggung malu, dan akan memperkarakan hal ini ke pengadilan. Lionel tampak acuh tak acuh meski batal menikahi calon tunangannya. Para tamu undangan yang awalnya heboh, juga membubarkan diri satu per satu. Dua pasangan yang tersenyum malam itu hanyalah Celine-Ken dan Gaus-Velly.
"Bagus!" desis Velly sambil menyikut rusuk Gaus. Mereka bersulang.
Celina dan Ken juga pamit undur diri secara sopan, meski meninggalkan tempat acara yang sudah kacau berantakan diiringi suara sirine ambulans yang mengangkut ibu mereka.
"Lina! Kau!" Ayahnya menghardik, namun Ken menutupi telinga Celina sambil terus berjalan hingga ke parkiran. Segala sumpah serapah tak terdengar karena suami Celine hanya membisikkan kata-kata manis selama istrinya berjalan keluar dari neraka yang bernama 'keluarga'.
__ADS_1