
Suasana lounge Hotel Ritz-Carbon nampak agak lengang. Mungkin karena ini hari kerja. Tidak banyak muda-mudi yang biasa berseliwer dan tertawa-tawa sambil mengangkat gelasnya.
Velly yang baru saja tiba, terlihat celingak-celinguk mencari seseorang yang sudah janjian dengannya.
"Tante!" Teriak seorang pemuda dari kursi yang ada di dekat jendela.
"Ferdi!" Velly menghampiri Ferdi yang sudah menunggunya sekitar setengah jam yang lalu. Ferdi mencium tangan tantenya, dan mengajaknya naik ke lantai atas, ke restoran hotel yang tengah menyajikan santap siang.
*
"Gimana kabar keponakannya tante ini? Sehat?" tanya Velly setelah mereka sampai di restoran. Ferdi tersenyum dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Ferdi lalu memanggil pelayan untuk menunjukkan buku menu pada mereka.
__ADS_1
"Hari ini apa main course-nya?" Tanya Ferdi pada pelayan yang bernama Rita itu.
"Hari ini main course kita Risotto truffle dengan jamur shiitake dan parmesan, Tuan. Apakah anda suka? Atau mau direkomendasikan hidangan lainnya?" jawab Rita ramah dan menawarkan alternatif.
Ferdi memandang ke arah tantenya, Velly mengisyaratkan OK. Merekapun memesan nasi khas italia itu sebagai makan siang.
"Jadiiiiii???" Ferdi menanti tawaran tantenya yang sampai harus memanggilnya di tengah-tengah jam kantor yang sibuk.
"Gini loh, Fer. Om-mu kan mau nyalon walikota," Velly membuka percakapan. Ferdi mengangguk, tanda mendengarkan.
"Investasi, gimana, Te?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Yah, jadi promotor. Buat biaya kampanye, kan ngga sedikit, Fer," tukas Velly. Ferdi memahami maksud tantenya, ia mencoba memikirkan hal yang bisa dibantu.
"Kan kemarin-kemarin (10 tahun lalu) aku udah invest ke Black Venom. Ambil dari situ kali ya?" Ferdi mencoba mengingat instrumen-instrumen investasi liquid yang dipunyainya. Saat ini, asetnya sudah beralih ke bitcoin, jadi, ia hanya punya dana darurat saja.
"Nah, itu maksud tante. Tante kan juga mau ambil nih di BV. Kalo bagian tante ditambah bagian kamu, cocok lah. Om kamu kan juga pasti nyiapin. Belum lagi dari kolega yang lain.. Yaaah.. Kira-kira butuh 100 Milyar lah, biar tuntas sampai jadi," jelas Velly panjang lebar.
Rupanya, Velly adalah salah satu putri dari Janda Kaya pemilik Black Venom, Madam Gie. Madam terkenal berkat keuletannya bekerja dan meraih sukses dari akar rumput. Terlahir dengan sendok yanah, tak membuat Madam putus-asa. Ia membuktikan diri bisa sukses tanpa koneksi hebat seperti para konglomerat.
Mengawali pekerjaan sebagai kuli angkut, membuat Madam banyak kenalan preman pasar. Ia sangat tahu kebutuhan uang dadakan para pedagang dan juga back-up keamanan supaya bisnis lancar. Pelan tapi pasti, Madam menabung, untuk kemudian membuka bank keliling sebagai sarana pinjam uang berbunga. Tak disangka, respon pedagang sangat bagus. Bisnisnya lancar, kemudian, ia merambah ke persewaan jasa preman. Dan itu adalah hal yang mengubah hidupnya. Bisnis makin berkembang. Namanya kian tenar. Madam lalu menamai gabungan bisnis renten dan sewa preman sebagai BLACK VENOM. Ia kemudian menjadi milyuner di usia kurang dari 40 tahun, lalu menikahi pria tampan yang merupakan aktor terkenal. Sayang Madam diselingkuhi, pria itu tewas di tangannya.
Black Venom yang didirikan Madam sudah merajai dunia renten selama hampir 20 tahun lamanya. Madam memiliki 2 orang putri dari sang aktor, yakni Ellie dan Velly. Ellie adalah ibu Ferdi yang dinikahkan pada konglomerat keluarga Tang. Menjadi besan dari anak pertama, seharusnya bisa ikut memiliki hartanya. Suami Ellie adalah ahli waris Grup Tang. Namun sayang, Presdir (Kakek Ken) tidak menyukai dunia gelap, dan memblokir besannya itu sehingga tak bisa menghubungi putrinya.
__ADS_1
Madam marah dan kecewa karena ia tak bisa menyetir menantunya dan mengembangkan bisnis seperti yang dibayangkan. Madam pun tak pernah bertemu Ellie sejak saat itu. Tak lama kemudian, Velly dinikahkan ke konglomerat keluarga Tanoesoeroyo, sebagai rencana cadangan madam untuk memperluas bisnis renten-nya. Usahanya berhasil. Bisnisnya makin tersebar.
Nahas nasib anak pertama Madam, tak selang beberapa lama, Ellie yang baru 5 tahun menikah, terlibat kecelakaan dan meninggal dunia bersama suaminya. Ferdi, cucu satu-satunya akhirnya diasuh oleh Pamannya. Madam tak mengakui anak itu sebagai cucu. Baginya, keluarga haruslah menguntungkan dirinya, bukan malah menyusahkan. Hubungan Madam dan Ferdi pun buruk. Beruntung, Velly menyambung kembali hubungan mereka, ketika Ferdi sudah agak dewasa. Velly pun mengompori Ferdi supaya tidak memaafkan perlakuan keluarga Tang pada keluarga dari pihak ibunya. Velly juga mencuci otak Ferdi supaya bisa merebut kembali apa yang menjadi haknya. Seharusnya, Ferdi-lah yangenjadi ahli waris Keluarga Tang, bukan sepupunya.