
Waktu menunjukkan pukul 22:00 WIB. Belum terlalu malam, namun para penjaga sebuah gedung suram tampak kelelahan. Mereka baru saja beradu-panco untuk bersenang-senang. Seseorang yang kalah akan dicekoki alkohol dan ditampar, sebagai hukuman.
Gedung suram yang mereka jaga adalah Markas Besar Black Venom. Madam Gie tak suka kemewahan dalam markas, karena tak sejalan dengan aura gelap yang mereka pancarkan. Kemewahan dan keglamoran hanya ada pada kediaman Madam. Ia tak suka jika anak buahnya bermalas-malasan dan lupa jika tugas utama mereka adalah sebagai penjaga dan pemasok klien yang butuh utang.
Dalam keheningan malam yang hanya ada suara para penjaga, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sorot lampu jarak jauh dan deru motor yang melaju kencang.
BRRRRMMMM...
BRRRRMMMMM.....
BRRRRRMMMMM......
Laju motor mencapai kecepatan maksimal. Sang pengendara dengan nekat menabrak gerbang besi yang melingkari gedung. Tampak para penjaga bersiap menyerang dengan mengacungkan senjata. Belum sempat melibas sang pengendara, para penjaga sudah kabur berpencar karena akan ditabrak kuda besi yang sedang meluncur kencang.
Seorang penjaga memencet tombol darurat, dan seketika, gedung suram itu penuh dengan pantulan merah dari sirine besar yang meraung-raung. Sekelompok pria dengan badan kekar dan tato sangar muncul dari dalam gedung dengan senjata tajam pilihan. Sang pengendara motor terdesak, namun ia tetap memacu kencang motornya dan menghajar satu per satu kawanan pria yang sedang mengepungnya.
"SERAAAAANGGG!" Perintah seseorang yang sepertinya menjabat sebagai bos mereka. Tampak pembawaannya yang berbeda dengan tubuh ceking dan hanya mengomando, tanpa ikut berperang. Anak buah pria itu kemudian menghambur bersamaan ke arah pengendara motor dan menyabetkan celurit, pedang, hingga pecut berbelati yang dipunya. Pengendara motor itu dengan gesit menghindar serangan demi serangan dari pengeroyoknya, dan membalas dengan hantaman roda yang dipacunya ke arah mereka. Pria-pria itu pun roboh.
BRRRRMMMM...
BRRRRMMMMM.....
BRRRRRMMMMM......
PRAAAANGG...
Kali ini, pemotor itu memasuki area gedung dan menerobos pintu depan yang terbuat dari kaca. Pria-pria kekar lain menghajarnya secara bersama-sama, namun, selalu bisa dihindarinya. Terkadang, tinju dan tendangan sang pengendara juga ikut melayang ke arah musuh-musuhnya. Kekuatan otot yang tidak main-main, memberikan informasi bahwa sang pengendara motor bukan orang yang awam bela diri.
BRUUUKKKK..
Seorang penyerang berhasil menghantam kepala sang pemotor, ia pun ambruk. Deru motor menghilang, dan berganti dentingan senjata yang bertalu-talu seperti sebuah orkestra. Sang pemotor, mencoba bangkit meski kepalanya terasa berat. Mau tak mau, ia harus bertarung dengan tangan kosong.
BUGHHHH
BUUUGGHHH
PRAAAAKKK
PRANNNNGG
__ADS_1
DAAASSSS
PYAAAARRRR
Kekacauan tak terelakkan. Perabot hancur, kaca-kaca pecah, darah-peluh berceceran, pakaian robek, semua tampak menjadi pemandangan yang bisa terlihat. Perkelahian tetap berlangsung, namun, para pria dari Markas Black Venom itu terus muncul, seperti tak ada habisnya.
Sang pemotor terdesak. Ia berusaha sebisa mungkin untuk bertahan dan menyerang mereka satu per satu hingga tak ada lagi yang bisa bangkit melawan.
DOR!
Perjuangan sang pemotor menjadi sia-sia ketika dihadapkan oleh pistol yang mendadak muncul dan mengarah pada kakinya. Sebuah timah panas bersarang pada kaki sang pengendara, ia pun tersungkur dengan darah bercucuran. Kehadiran Madam menyembul dari balik pria-pria kekar tadi.
"Dasar orang-orang bodoh! Lama banget ngebersin tikus satu gitu aja, CUIH!" Umpat Madam sambil meludah, ke arah anak buahnya. Pria-pria itu menunduk, antara memberi hormat, dan juga takut kena sasaran peluru selanjutnya.
Pemotor itu mencoba bangkit, namun gagal. Ia tak bisa menahan jalaran rasa sakit yang menyergap karena sebutir timah panas yang sedang merongrong betisnya.
"Nah, Bajingan. Lepas helm-mu!" Perintah Madam dengan mengacungkan pistol itu ke arah sang pemotor.
Pemotor itu melepaskan helmnya.
"Siapa kau?" tanya Madam menyelidik. Ia mendekat ke arah sang pengendara yang sedang sekarat tak berdaya. Wajahnya nampak pucat, dan kakinya tak bisa diberdirikan.
"Hooo..... Kamu bosnya? Wah.. Ganteng juga," Madam semakin mendekat kearah penyusup tak berdaya itu. Ia tampak tak bisa berbuat apa-apa. Namun, rupanya Madam salah besar. Ken tentu tak akan dengan mudahnya dikalahkan.
Ketika Madam sudah berada dalam jangkauan, Ken langsung berdiri dan menghantam dagu Madam, lalu merebut pistol yang ada padanya. Meski menahan nyeri di kaki, Ken masih bisa bergerak dan mengancam balik mereka.
"Jatuhkan senjata kalian! Cepat!" Perintah Ken mengganti posisi Madam. Para anak buah Madam tampak ragu. Ken kemudian menembakkan pistol ke udara sebagai tanda peringatan. Tubuh Madam yang sedang dijadikan sandera oleh Ken bergetar hebat. Ia lalu berteriak, "HEH BUDEG!! DENGERIN KATA BOSNYA!".
Ken tersenyum sinis ke arah Madam. Kali ini, ia setuju dengan perintahnya. Anak buah Madam kemudian meletakkan senjata mereka satu per satu. Ken melangkah secara perlahan menuju kantor Madam.
"Buka brangkasnya!" Perintah Ken. Madam menolak. Namun, moncong pistol terkokang yang siap diletuskan setiap saat, membuat Madam akhirnya mematuhi perintah Ken. Ia pun membuka brangkas dan menunjukkan bahwa tak ada uang di sana.
Ken tidak sedang mencari uang. Ken sedang mencari harta paling berharga apa yang disimpan oleh Black Venom dalam brangkasnya. Ken kemudian penasaran dengan map merah yang ada di sana. Ia pun mengambil map tersebut dan membaca sekilas. Ken begitu terkejut dengan apa yang ia baca. Sebuah kop kosong dengan logo ular juga ada di dalamnya. Surat jenis rahasia yang serupa dengan barang bukti yang dimiliki oleh penyusup KSP tempo hari.
"Ohh... Jadi.. Elu yang udah main-main ama gue.. bahkan ampe gue segede ini? Bukan maeeeen!"
Ken terlihat sibuk memeriksa dokumen dalam map merah. Madam yang mendapati Ken sedang lengah langsung melarikan diri, namun sayang, tangan Ken yang memang memiliki reflek tinggi, langsung memukul syaraf leher Madam sehingga wanita paruh baya itu tak sadarkan diri.
Setelah mengetahui rahasia Black Venom, Ken bersiap keluar dari sarang bedebah itu. Madam yang terkulai tanla sadar, masih tetap menjadi sandera-nya. Tak lama, sebuah truk besar datang dan menerobos gedung dengan gagahnya.
__ADS_1
"SERAAAAAAANGGGG!!!" Sekelompok pria berjas hitam menyergap para anggota Black Venom. Mereka adalah anak buah Ken yang ada di kota lain. Truk itu mengangkut sekitar 30 orang, mereka datang untuk membalas dendam atas penyergapan yang dilakukan Black Venom tempo hari.
Ken keluar bersama Madam melalui pintu belakang. Ia akan membiarkan anak buahnya bersenang-senang terlebih dahulu, sebelum membumihanguskan Markas Besar Black Venom yang sangat menyebalksn itu.
Ken mengirim Madam ke rumah sakit terdekat melalui asistennya. Sedangkan ia sendiri pergi tertatih-tatih menuju apartemen Chiko. Timah panas yang bersarang di kakinya harus dikeluarkan. Namun ia tak bisa sendiri. Membawa diri ke rumah sakit hanya akan menambah beban pertanyaan dari pihak yang berwajib. Ken ingin main aman, namun, ia juga tak mau membuat Celine khawatir. Jadilah Ken memilih untuk bermalam di tempat Chiko.
Chiko yang mendapati Ken sedang terluka di depan rumahnya, dengan sigap memapah sahabatnya itu untuk masuk ke dalam.
"Yaa Ampuuun ni anak kenapa lagi!" Omelnya frustasi. Chiko selalu diributkan dengan perawatan luka temannya. Ken hanya bisa menyeringai dan memohon pertolongan. Chiko tak punya pilihan. Ia segera mensterilkan peralatan medis portabel yang dipunyainya, kemudian memulai operasi darurat di kediamannya.
*
TOK
TOK
TOK
"Ya, sebentar," Chiko yang baru selesai menjahit luka Ken, menuju ke pintu. Ken saat ini sedang istirahat akibat efek bius lokal. Tenaganya juga telah habis. Chiko membiarkan sahabatnya itu untuk memejamkan mata.
"Chiko, hai!"
"Celina?"
"Yha.. Eumm.. Kamu dikabarin Ken ngga? Udah seharian dia nggak pulang. Aku khawatir," tanya Celine dengan tampang memelas.
"Eeem..... " Chiko menengok ke arah kamar depan.
Celine yang mengerti maksud Chiko, kemudian berlari ke arah kamar depan.
"Oh My God! Ken!!"
Celine tak bisa menahan airmata yang menggenang, setelah melihat suaminya sedang terkulai dengan perban dan pakaian yang berlumuran darah.
...****************...
...(bersambung) ...
...****************...
__ADS_1