PREMAN CEO

PREMAN CEO
Hide and Seek (3)


__ADS_3


KRATAK


KRATAK


BLARRR


Pondok tua yang digunakan untuk menyekap Ken dan Celina itu berkobar dengan api merah yang menyala terang.


"Bajingan!!!" Ken pun harus mencari cara untuk menyelamatkan dirinya dan Celina yang terkurung tanpa bantuan.


"Ken!!!" Celina memekik ketakutan. Ken mendekap tubuh istrinya yang gemetar itu sambil memikirkan jalan keluar yang harus segera ditemukan.


Api menjalar perlahan dari balik pintu. Makin lama, api semakin besar. Asap yang tadinya kelabu kini menjadi hitam. Pondok tua yang berada di dekat dermaga, tak banyak dilewati orang. Ken dan Celina pun tak dapat mengharapkan bantuan orang di sekitar mereka. Letak pondok tua itu sangat jauh dari lalu-lintas kapal yang bersandar di pelabuhan.


"Ken! Bagaimana ini," Celina tetap panik, beruntung, tali tampar dari tangan dan kakinya sudah terlepas. Meski kulitnya sakit karena terkelupas, Celina tak tampak terganggu. Mereka harus cepat memikirkan cara untuk meloloskan diri dari pondok yang terkunci dan sedang dilalap api.


Ken memindai sekeliling ruangan. Sebelum bertindak untuk keluar, ken menyambar dua botol air mineral bekas para pria botak tadi, dan melepaskan kaos yang membalut tubuhnya. Kaosnya kini telah tersobek menjadi dua bagian. Kaos itu kemudian dibentangkan hingga panjang. Setelah dirasa cukup memadai untuk dililitkan melingkari wajah masing-masing, Ken mulai bergegas mengikat kain kaos ke wajah mereka. Sebelum diikatkan ke wajah, kaos telah disiram dengan dua botol air sehingga serat kainnya menjadi sangat basah.


Ken lalu membebat mulut dan hidung Celina dengan kaos basah itu. Ia juga melaiukan hal yang sama pada dirinya sendiri. Setelah cukup lembab, Ken meraih kursi yang ada di ruang tersebut. Dihantamkannya kursi itu berkali-kali ke arah pintu.


BRAK

__ADS_1


BRAK


BRAK


Pintu pondok masih belum rusak. Ken lalu menendang pintu yang hampir hancur dilalap api itu, asap pekat makin menyebar ke dalam ruangan.


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk... " Celina terbatuk dan tak bisa melihat dengan jelas. Ken harus segera mengeluarkan gadis itu agar tak sampai pingsan. Bisa gawat jika Celina hilang kesadaran akibat menghirup asap kebakaran.


Ditinggalkannya pintu yang tak bisa terbuka itu, Ken lantas meraih balok kayu yang dipakainya menghajar preman tadi. Dipecahkannya jendela kecil yang hanya berfungsi sebagai ventilasi udara.


Kraak


Pyar!


Prak


Prak


Prak


Krak!


Akhirnya, rongga jendela terbuka menjadi agak lebar. Ken lantas menendang dan memukulkan balok kayu agar rongga yang melebar dapat membesar dan dapat dimasuki tubuh manusia.

__ADS_1


"Lin! Cepat kemari," perintah Ken yang sudah di ambang lubang keluar.


Celina yang baru saja tersadar dari pengaruh bius, kini harus melawan pekatnya asap yang menerobos indera penciumannya. Ia berjalan agak cepat meski sempoyongan.


"Ayo, Cepat!" Ken mengulurkan tangannya ke arah Celina.


Gadis itu segera meraih tangan Ken dan ia kini telah ada dalam dekapan suaminya. Ken lantas berjingkat dan melompat keluar pondok, namun...


DHUAAAARRR!!!


Pondok itu meledak!


Api membakar kaleng-kaleng bensin dan botol alkohol yang tersimpan di sudut ruangan. Akibat hawa panas dan tekanan yang sangat tinggi, botol dan kaleng itu meledak dan menjadikan api semakin besar.


Ledakan itu cukup dahsyat dan membuat keributan. Beberapa orang yang berada tak jauh dari mereka pada akhirnya menyadari akan kebakaran yang sedang terjadi.


"Tolooong! Kebakaran! Kebakaran!" teriak salah seorang awak kapal yang sedang berjalan di pinggir dermaga. Ia secara tak sengaja melihat kobaran api, lalu berusaha mendekat. Belum sempat berada di dekat pondok. Tiba-tiba pondok itu meledak. Ada dua orang yang tampak menjadi korban, tak jauh dari lokasi kejadian.


...****************...


(Bersambung)


...****************...

__ADS_1


__ADS_2