
Splash!
Splash!
Splash!
"Auuuccchhhhh!!!"
"Ohoeek.... Ohooeek..... "
"Hah! Hah! Hah!"
Chiko mencipratkan air ke wajah ketiga ikan pindang yang sedang tergeletak di ruang tengah. Ken, Hans dan Jeff merespon dengan gelagat yang berbeda, namun, satu kesamaan dari mereka, nafas yang bau arak.
"Baanggoooonn!!!" teriak Chiko menggelegar ke seisi rumah.
"Apaan, sih, Bre? Brisik!" dengus Ken kesal. Kepalanya sakit, wajahnya perih, tangannya nyeri, seperti baru saja digebukin maling motor.
"Aduh, kepalaku," Hans meringis, begitu pula Jeff.
"Lho! Ngapain Lo disini?" Tanya Ken sekonyong-konyong, ketika melihat Jeff berwajah bengkak dan sedang berada di sebelahnya, bukan di Paris, bersama Celina.
__ADS_1
"Kalian bertiga memang, wah, luar biasa!!!" sindir Chiko yang sudah rapi dan bersiap aksn pergi ke rumah sakit. Ia lalu menjelaskan secara singkat kejadian tadi malam. Ken, Jeff dan Hans menepuk wajah mereka yang bengkak dan sakit akibat ulah mereka sendiri.
"Gua, gua gak ke Paris, kok," jawab Jeff dengan nada sumbang seperti tamu tak diundang.
"Hah? Jadi sia-sia gua mengutuk Celina sampe mabok, kemaren?" desis Ken tak percaya.
"Lo emang brengsek, Bre!" ujar Jeff tiba-tiba.
"Woy! Apa maksud lo?!" cetus Ken tak terima.
"Awas! Jangan berantem!" hardik Chiko yang sudah berada di ambang pintu, bersiap untuk berangkat bekerja. Hans telah masuk ke kamar mandi dan segera menyusul Chiko ke parkir mobil. Jeff dan Ken terlihat tak bisa ditinggal berdua, Chiko harus memberi mereka peringatan supaya tidak cakar-cakaran.
"Slow, Bre! Slow! Sorry, gua kelewatan kemarin," ujar Jeff dengan kedua tangan diangkat.
"Hhhhh.... Celina patah hati berat sma Lo. Gua kira, kesempatan akhirnya datang, tapi gua salah. Setiap hari, hanya nama Lo yang disebut dalam tidurnya, meski pas bangun dia gak bakal ingat. Celina nginep di apartemen gua bareng Cathy, dan selama itu pula, kesempatan yang ada ternyata sia-sia. Dia bucin banget ama Lo!" jelas Jeff yang menbuat hati Ken berdebar. Jeff menyayangkan tingkah Celina yang diluar ekspektasinya. Sebagai pria normal, tinggal bersama cinta platonik dalam hidupnya, bukanlah hal mudah. Jeff ingin memperjelas perasaannya pada Celina, setelah memendam perasaan selama lebih dari 10 tahun. Malang bagi Jeff, Celina selalu menolaknya. Celina tidak sedang ingin membuka hatinya yang tersakiti. Ia menjadi lebih pendiam dan pemarah. Jeff tampak iba pada cinta pertama sekaligus bosnya itu. Sampai pada akhirnya, ia hilang akal dan mengkambinghitamkan Ken yang menjadi sumber kesedihan Celina. Jeff tampak malu karena telah berbuat kekanak-kanakan. Namun, hanya itu yang bisa dilakukan untuk meringankan beban perasaannya yang tertolak sekian lama.
Ken yang mendengar cerita dari Jeff tampak dirundung rasa cemburu yang berlebihan. Wajahnya tak lagi tampak marah. Namun, ia berusaha untuk sabar. Ken memahami pemberontakan istrinya dengan memancing untuk tidur di rumah pria lain, tapi otak dan ototnya tidak menerima. Jeff rela dijadikan sansak hidup, asal Ken tidak lagi menyakiti Celina, namun Ken menolak. Ia tak mau bersikap kekanak-kanakan seperti Jeff.
"Yang penting, kalian berdua nggak tidur bersama. Itu udah cukup bagi gue, Bre." ujar Ken sambil menatap nanar Jeff yang juga salah tingkah.
"Sakit, Bre. Sakit! Pria mana yang bisa melepaskan Celina gitu aja? Apalagi dia udah mau nginep di tempat Lo!" ucap Jeff yang sedang meremas dada sebelah kiri. Ken memahami ucapannya, karena, beberapa detik yang lalu, dia yang sedang berada. di posisi itu menggantikan Jeff. Rupanya, Celina hanya bersandiwara. Ia juga belum melupakan panasnya cinta mereka sebagai pengantin baru.
__ADS_1
"Bre, kira-kira, gua masih ada kesempatan, nggak?" tanya Ken sambil memandang ke arah Jeff. Ken tak mengira, cintanya akan bersambut.
Jeff mengangguk, dan memberikan alamat kantor cabang Rainbow Corp di Paris, Perancis.
"Sorry, Bre. Celina udah pindah, ke Paris, karena berada di Jakarta cuma bikin kepikiran aja. Kita buka cabang di sana, dan Boss sendiri yang mengurusnya," ucap Jeff yang pada akhirnya membuat hati Ken nyeri kembali. Namun, ia tidak patah semangat. Tak perlu waktu lama, Ken mengabari Virza agar membatalkan tiket dinasnya ke Kanada. Ken juga sudah mengirim pesan pada ayahnya supaya mengizinkannya cuti sejenak. Ia tak bisa melepaskan momen emas ini. Ken akan memperjuangkan cintanya. Ia tak mau menunggu lagi.
"Thanks, Bro! Gua bakal balas budi sama lo!" ujar Ken lantas memberinys kartu nama Hilda Tang.
"Datanglah ke coffee shop di gedung royal dan ketemu mbak-mbak cantik ini. Dijamin, spek-nya lebih tinggi dari Celina punya gua," desis Ken dan bersiap ke Paris siang ini.
"Bre! Lo kan mau ke Kanada! Kok ke Paris, sih?" tanya Hans yang baru saja selesai mandi. Ia mengingatkan Ken tentang agenda dinas luar negri yang diceritakan sendiri olehnya kemarin, sebelum mereka tepar akibat serangan alkohol.
"Udahlah, biar bokap aja. Gua harus mengejar cinta, Bre!!!" teriak Ken dari bilik kamar mandi.
Sementara itu, Jeff tampak mengamati kartu nama yang sedang dipegangnya. Jeff mencoba mengingat-ingat nama Hilda Tang di suatu tempat. Ingatannya akhirnya meraih memori yang sudah lama mengendap, tentang sosok gadis berambut pirang yang pernah menyenggol kopinya di gedung kementrian dan mengenai bagian bawah celananya. Gadis itu juga memberikan kartu nama serupa, namun tak kunjung ditelepon oleh Jeff karena lupa. Ia bermaksud mengganti uang laundry dan juga mentraktir secangkir kopi yang baru. Jeff menyunggingkan senyuman, mungkin ini adalah pagi keberuntungan untuknya. Kopi yang terhutang, akan dimintai bayaran sore ini, secepatnya.
...****************...
...bersambung...
...****************...
__ADS_1
...Besok, adegan Ken di Paris, Perancis, untuk mengejar cinta Celina. Semoga terhibur....