
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Ting.. Ting!
Babak terakhir sparring tinju antara Ken dengan Virza berakhir seri.
"Makin hebat, lo! Vir!" puji bosnya. Virza tersenyum bangga. Tak sia-sia ia berlatih tinju setiap hari karena penasaran ingin menang dari bosnya.
"Jadi, Bos. Apa rencana selanjutnya?" tanya Virza setelah menenggak habis sebotol air mineral yang tersaji di hadapan mereka.
"Ini nih gua nemu ini di rumah Dito," ujar Ken sambil menunjukkan sebuah flash disk yang diambilnya dari saku celana.
"Apa isinya, Bos?" tanya Virza penasaran.
"Haha... Ada deh... Nanti juga tau," Ken tak menjawab dan malah bermain teka-teki.
"Jadi, rencana lanjutannya?" Virza mengulangj pertanyaannya tadi.
"Yah, karena sudah ada ni barang.. . Jadi, nanti kita bikin presskon aja lah, biar cepet. Males gua lama-lama. Kalo nama baik gue udah pulih. Bokap pasti nggak marah-marah lagi, dah... " ujarnya sambil membayangkan wajah ayahnya yang bangga padanya. Tapi, Ken tidak bisa memulai bayangan itu karena ia sudah lupa bagaimana wajah ayahnya yang tersenyum bangga kepadanya. Sepertinya, sudah terlalu lama Ken berbuat onar dan selalu membuat ayahnya murka.
"Siap, Bos. Tenang aja, pasti bakal selesai ini," sahut Virza mendukung bosnya. Mereka pun terkekeh.
"Yaudah, lah. Gua cabut dulu yak. Nanti Celine nyariin," ujar Ken sambil menepuk pundak Virza. Ia bangkit lalu mengecek gawainya. Rupanya, ada pesan teks dari istrinya yang mengabarkan bahwa ia akan pulang telat. Ken lalu mengurungkan niat untuk segera pulang dan mengajak Virza makan malam.
Selesai makan, mereka berpisah jalan. Virza kembali ke markas, sedangkan Ken segera pulang ke rumah. Tak disangka, sebuah panggilan telepon menaikkan tekanan darahnya. Istrinya sedang diculik!
*
Bau bensin bercampur alkohol menguar dari dalam ruangan tempat Celina berada. Wanita itu baru saja bangun dari tidurnya dan merasa mual serta pusing. Sedari tadi, Celina merasa tubuhnya seperti digoyang-goyang karena sedang dibawa paksa oleh sekelompok pria di atas kendaraan asing yang melaju kencang. Celina baru saja menyadari bahwa ia sedang diculik. Ia terkesiap dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Aakkh... Kepalaku sakit," desis Celina tanpa dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Ia baru sadarkan diri dari pengaruh obat bius dan kini, kaki tangannya terikat kuat oleh sebuah tali tampar.
"Wah udah bangun nih, si cantik," teriak salah seorang pria yang berada di sana.
"Duh, nggak tahan aku kalo liat ni cewek. Masa icip dikit gaboleh, Bos?" tanya seorang lainnya dengan suara yang agak berat. Ia tampak mengiler melihat tubuh putih molek Celina yang basah oleh keringat dan menampakkan siluet dada serta area pribadi yang ada di bawahnya.
"Dasar kalian mokondo, modal ****** doang! Dia target VVIP. Boleh diculik, gaboleh disentuh, Tolol!! Duit seratus juta bisa lenyap, goblok!" hardik seseorang yang memiliki suara agak cempreng, sepertinya ia yang berkuasa di antara para pria yang ada.
"Siapa kalian??? Berani-beraninya nyulik gue!!" teriak Celina dengan tubuh gemetar. Kedua matanya tak dapat melihat karena dibebat kain yang yang amat ketat.
Para pria tidak ada yang menjawab pertanyaannya dan malah tertawa terbahak-bahak.
"Eh, mbak cantik. Suruh suami lo kesini cepet ya! Gausah nanyain siapa kita. Yang pasti bukan temen lo! Haa... Haa... Haa.... " tukas si bos preman dengan santai.
Kriiing!
Ponsel si bos berbunyi. Tampak di layar ada identitas penelepon yang bernama 'komandan'.
<"Halo, ndan?">
<"Gimana tuh cewek? Udah sadar?"> tanya komandan mereka dari seberang telepon.
<"Aman, ndan!">
<"Okay, lanjut sesuai plan ya. Posisi sesuai arahan,">
<"Siap, ndan! Laksanakeun!">
__ADS_1
Tut!
Telepon terputus.
Sudah bisa diduga, pria yang menelepon tadi adalah Ferdi, sepupunya Ken. Cara licik yang dilakukan olehnya untuk mendapatkan kembali map merah adalah dengan menculik Celina. Ferdi yang baru saja kembali dari Kanada, mengecek lokasi KSP Amanah. Ia mendapatkan informasi detail soal aktivitas-aktivitas yang ada di sana dan sempat melihat Ken sedang berada di area KSP. Ferdi lalu mengutus seseorang untuk membuntutinya. Dugaan Ferdi benar, rupanya, Ken adalah tokoh utama yang menjadi pemilik KSP Amanah, sekaligus pria bermotor yang menyerang markas Black Venom.
*
"Lepassss!!" Celine berteriak dan berontak. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya agar bisa melepaskan ikatan tali tampar yang menjerat.
"Mbak! Jangan gitu! Nanti kulitnya rusak!"
"Bodo!!! Lepasiiin guee!!"
Pria cempreng tampak kesal, ia pun mencekik leher Celina sehingga wanita itu pingsan seketika.
"Brisik!"
"Wuidih.. Blood choke, bre!" salah satu anak buahnya bertepuk tangan. Pria yang tampak kurus itu memang tak bisa dianggap remeh. Meski badannya kecil, tapi ia sangat mahir jiu-jitsu. Oleh karena itu, anak buahnya yang berbadan besar sangat menghormatinya, karena bosnya adalah orang yang berbahaya.
"Pinjem hapenya, yak," ujar pria yang dipanggil Bos itu bermonolog. Tentu saja ia tak bisa mengajak ngobrol orang yang sedang pingsan. Bos itu kemudian merogoh saku Celina. Pria mesum yang baru saja ingin memperkosa Celine tampak berkeringat dingin, seakan ingin mengambil-alih tugas bosnya yang sedang merogoh-rogoh saku ketat sang target.
'Plakk!'
"Mikir ape, lo?"
"Hehe.. Kagak tahan, gua... "
"Goblok!"
Bos mereka memulai sambungan telepon ke sebuah kontak bernama 'suamiku'.
<"Halo? Lin? Kamu di mana?">
Ken yang mendengar suara pria asing dari gawai istrinya itu pun murka. Darahnya mendidih. Tubuhnya bergetar karena amarah.
<"Bajingan! Siapa nih???">
<"Yang pasti bukan temen ente, pakbos. Kalo mau istrinya sehat wal afiat, bawa Map merahnya yak,">
Tut.
Sambungan telepon terputus.
"Bos, kok ngga share loc sih?" tanya salah satu anak buahnya teheran.
"Iya, gua lupa nih.... Main-main duku aja lah, bikin penasaran, gimana?" cetusnya. Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.
*
"Bajingan" Ken merutuk. Ia lalu menelepon Virza dan menceritakan bahwa istrinya sedang diculik. Pria itu lalu memerintahkan Virza untuk melacak panggilan dari nomor istrinya. Tak butuh waktu lama, Ken mendapatkan lokasi terkini istrinya dan memacu motor Ducati yang sedang diparkirnya di ruang rahasia gelanggang KSP.
BRRRRM....
BRRRRM.....
Ken melaju ke Pelabuhan Tanjung Priok. Celine sedang berada di sebuah pondok yang letaknya tak jauh dari dermaga.
Ckiiit.
Ken menghentikan laju motornya ketika sampai di sebuah pondok tua yang terletak di pelabuhan.
__ADS_1
BUGHHH
BUGGHHH
PRAAAKK
Ken menyerang orang-orang berjas yang ada di sana dengan membabi buta. Perkelahian pun tak terelakkan. Tinju dan tendangan melayang dari segala sisi. Pria-pria botak yang berada di dalam pondok juga tak kalah piawai berkelahi. Ken terkena tendangan di rusuk kiri, sehingga keseimbangan tubuhnya terganggu. Namun, ia segera bangkit lagi dan meraih balok kayu. Pria yang baru saja menenandangnya pun tumbang akibat hantaman papan. Total ada 5 pria yang memakai setelan, karena sudah tumbang satu, maka sisa empat. Ken berusaha melawan mereka, namun suara desingan pistol memecah suasana.
"Udah, udah, main-mainnya. Mana map merahnya?" tanya Ferdi dengan mengokang pistol yang diarahkan ke pelipis Celina. Istri Ken yang baru tersadar kembali setelah dicekik pria ceking itu, tampak berkaca-kaca.
"Ke.... n..... " desisnya sambil menahan tangis.
"Lin... Maaf," seru Ken yang mengepalkan tinju menahan amarah karena melihat leher istrinya yang lebam akibat cekikan.
"Udah udah.. Jangan sok mellow. Mana map merahnya???!!!" Ferdi tak tahan lagi. Ken meletakkan kedua tangannya di udara tanda menyerah. Ferdi tersenyum puas. Lalu meminta map merah yang sudah diperintahkan.
"Lepasin dulu, Lina," ujar Ken mencoba bernegosiasi.
"Eh, enak aja! Mana map merahnya???? Baru gua kasih si Lina," jawabnya.
"Fer, lo emang selalu licik ya! Dasar ular!" umpat Ken.
Ferdi terkekeh tak membela diri.
"Gue ular, lo apa? Dasar anjing buduk! Keluarga lo tuh yang udah bikin gue kayak gini,"
"Apa maksud lo?"
"Lo pikir gue nggak tau kalo bokap lo yang bikin bokap nyokap gur mati? Hah? Kecelakaan my ***! Keluarga gue yang harusnya jadi ahli waris grup karena anak pertama! Bukan bokap lo! Ngerti lo!!!" Kali ini, Ferdi seperti kesetanan.
Ia akhirnya dapat meluapkan uneg-uneg yang dipendamnya sekian puluh tahun. Kalau bukan karena tantenya, Velly, tak mungkin Ferdi mengetahui bahwa kecelakaan ayah ibunya merupakan sabotase yang dilakukan oleh ayahnya Ken agar mencaplok seluruh harta kakek mereka.
"Jangan sembarangan ngomong, lo!" Ken tidak terima omong kosong Ferdi yang melantur. Di sisi lain, Celina tampak bingung dan tak mengerti apa yang Ferdi dan Ken bicarakan. Bagaimana seorang satpam miskin dapat menjadi pewaris grup? Grup apa yang dimaksud?
"Alah bacot!!!"
DOR!
Ferdi menembakkan pistol ke udara. Celina gemetar dan ketakutan. Ken tak lagi mendebat Ferdi karena hanya akan memperburuk keadaan. Ia tak ingin Celina menjadi target pelampiasan dendam Ferdi pada keluarganya.
"Siniin map merah!"
"Oke.. Oke... Ini"
Ken melambaikan map merah dan melatakkan di lantai. Anak buah Ferdi memungutnya dan mengecek isinya. Tiga pria yang menculik Celina tiba-tiba masuk dan memberi kode bahwa settingan yang diminta Ferdi sudah siap sesuai rencana. Ferdi tersenyum lalu menyerahkan Celina pada Ken.
Ken segera memeluk Celina dan mencoba melepaskan tali tampar yang menjeratnya.
"Jangan macam-macam, gua masih pegang pistol," desis Ferdi sambil melangkah mundur ke arah pintu dengan membawa map merah. Setelah mereka semua keluar dari ruangan, Ferdi mengunci pondok dari luar.
KRATAK
KRATAK
BLARRR
Pondok itu berkobar dengan api merah yang menyala terang.
"Bajingan!!!" Ken pun harus mencari cara untuk menyelamatkan dirinya dan Celina yang terkurung di dalam pondok yang sedang terbakar.
...****************...
__ADS_1
(Bersambung)
...****************...