
BUGGGHH!!
BUUGGHH!!
"Jab!! Jab!!!"
"Ouuucchhhh!!"
Sorak-sorai penonton menggema dari luar gelanggang yang heboh menyemangati para petarung. Peluh bercampur darah meleleh pada tubuh jagoan mereka. Bengkak dan nyeri akibat hantaman lawan tak begitu terasa, fokus utama para petarung adalah untuk memenangi pertandingan.
Bel berbunyi.
Ronde terakhir telah selesai.
2-0
Lagi-lagi, Ken memenangkan pertandingan.
Ken pun menyalami lawan sparring-nya dengan senyum merekah. Sudah menjadi kebiasaan Ken untuk berlatih tinju di arena khusus yang sengaja dibangun di dalam KSP Amanah. Ring tinju itu tak hanya difungsikan sebagai sarana latihan, namun juga sebagai ajang pelunasan hutang.
Ken yang terlahir dengan sendok emas dan juga memiliki kekayaan di luar nalar, tentu tidak memerlukan uang sebagai sumber kesenangan. Apalagi, Koperasi Simpan Pinjam yang sedang dijalankannya bukan merupakan bisnis utama. Fungsi KSP adalah sebagai penghasil dana gelap dan sarana mengembangkan jaringan bawah tanah. Semenjak ada KSP Amanah, Ken dapat dengan mudah melacak tikus-tikus yang merongrong kedamaiannya. Ken dengan mudah membalikkan keadaan jika diserang lewat jalan belakang seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya.
Di KSP Amanah, ada program unik yang hanya ada satu-satunya di dunia, mungkin. Program 'Ayo Pukul K.O. Bos Ken' merupakan program pelunasan hutang berikut bunganya, yang dijalankan sejak awal KSP berdiri. Syarat lunas hutang adalah bisa menumbangkan Bos Ken sebagai kreditur dalam sekali pukulan K.O. Seluruh hutang berikut bunga akan otomatis lunas bila berhasil melakukannya.
Selama 5 tahun bisnis berjalan, belum ada yang bisa memenangkan pertarungan. Jadilah para debitur yang mendaftar, hanya bisa pulang dengan babak belur namun tetap melunasi hutang-hutangnya yang semakin besar.
*
"Bos, ada challenger baru nih?" Seorang anak buah Ken mendorong masuk debitur yang memakai kaos coklat dengan postur agak bungkuk, terlihat, seperti seorang pemadat. Kulitnya pucat dengan area mata yang cekung. Bibir kering dan rambutnya kusut dengan banyak cabang. Penampilannya sungguh memperihatinkan.
"Bawa kemari," Sahut Ken masih terengah-engah setelah memenangi laga pertama. Pria bernama Pandji itu menerima set sarung tinju dan mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus untuk bertanding. Ia kemudian memasuki ring dan siap bertarung untuk mendapatkan pembebasan utang.
"Pertandingan dimulai, Ken vs Pandji. Winner dapat hadiah bebas utang senilai Rp, 100 juta rupiah!" Wasit mengumumkan dengan lantang dari atas arena. Tepuk tangan dan dukungan mengalir riuh dari segala arah.
"Hajaarrr... Hajaaaar.... " terdengar penonton mengompori para petarung. Mereka pun bersiap di posisi masing-masing.
Ken vs Pandji
BUGGGGHHH!
Ayunan tinju pertama dari Ken sudah membuat Pandji oleng. Dengan langkah gontai, Pandji mencoba bangkit dan menahan serangan dengan kuda-kuda.
BUGGGGGHHH!
BUGGGGHHHH!
JAB!
JAB!
Tinju Ken tak kenal ampun. Berondongan serangan seakan tak membiarkan Pandji untuk sekadar mengambil napas.
UPPERCUT!
BRUAK!!!
Pandji-pun terkapar tak berdaya.
__ADS_1
"1, 2, 3, K. O!" Suara wasit menggelegar memutuskan berakhirnya pertandingan. Utang 100 juta batal dilunaskan. Sorak-sorai penonton riuh rendah, mengelu-elukan bos kesayangan mereka yang menang laga. Wasit mengangkat tangan Ken tinggi-tinggi. Challanger kalah dalam sekali serang. Ronde pertama dan terakhir tlah usia dengan lawan terkapar tanpa perlawanan.
"Beresin, tuh. Gua cabut dulu.. Besok mau pelatihan soalnya,"
Setelah beristirahat sejenak, Ken bergegas untuk pulang kembali ke Apartemen Chiko. Ia lalu berkemas dan meluncur ke luar ruangan. Anak buahnya membungkuk hormat dan menyiapkan mobil untuk mengantar bos mereka ke jalan raya terdekat. Setelah dari jalan raya, Ken mengganti moda transportasinya supaya tak menimbulkan kecurigaan pihak manapun. Saat ini, Ken sedang menjalani kehidupan sebagai Kenny Wijaya, bukan Kenneth Tang. Sebisa mungkin, Ken ingin terlihat sederhana dan tidak menarik perhatian.
*
Malam berganti pagi.
Sunyi tenteram berubah menjadi riuh riang karena mobilitas orang-orang yang hendak mencari rezeki. Ken tak ketinggalan mengikuti arus rakyat yang harus bekerja pagi-pagi. Ia sudah siap sedari subuh untuk bertolak ke Bandung dan mengikuti pelatihan karyawan "SECURE FIT" periode ke-43.
Udara sejuk nan asri menyambut kedatangan para karyawan baru yang akan melakukan uji stamina dan ketrampilan sebagai security andalan. Ken tidak menyiapkan banyak hal, terlihat dari tas kempes tanpa isi yang sedang bergelantung pada bahunya. Di sisi lain, rekan sejawatnya tampak kesulitan membawa koper dan tas punggung yang berisi persiapan selama 14 hari karantina. Segala keperluan Ken akan diantar oleh anak buahnya secara rahasia, ketika malam tiba. Sehingga, ia tak perlu merepotkan diri dan fokus saja mengikuti prosedur yang ada.
*
Memiliki paras tampan dengan tubuh ideal, dan juga kemampuan di atas rata-rata, membuat performa Ken menjadi unggul. Tentu saja, kemampuan fisik Tuan Muda itu dipastikan jauh melesat dibanding para pesaingnya. Namun, jika ada uji kompetensi lain, semisal ketahanan konsentrasi untuk berada di dalam ruangan, atau bernegosiasi, tentu ia akan memiliki skor minimal. Ken adalah tipe yang bekerja dengan tubuhnya, bukan dengan otaknya.
*
Tak terasa, 14 hari karantina telah usai. Ken didapuk sebagai karyawan TOP "SECURE FIT" selama masa pelatihan. Hal ini tentu menjadi bahan iri-dengki karyawan lain yang ingin memperoleh predikat serupa. Ken menjadi sanjungan atasan, sekaligus musuh bersama para bawahan yang tak lain adalah rekan sejawatnya. Dipuji tak terbang, dihina tak tumbang, begitulah motto hidup Ken. Ia tak ambil pusing dan terus melaksanakan misinya untuk bisa mendapat pekerjaan ber-resumé sesuai janji pada kakaknya.
*
"Tes.. Tes... Selamat Malam. Yhaa... Baeklahhh.... Mas-mas semua... Bapak-bapak... Selamat ya sudah mau resmi kerja jadi security," Pak Dharmawan, resepsionis sekaligus MC panggung gembira, nampak berorasi di depan para peserta. Panggung gembira disiapkan oleh panitia sebagai malam apresiasi bagi para karyawan baru "SECURE FIT" karena telah berhasil menempuh pelatihan selama dua minggu lamanya.
Tepuk tangan meriah menggema di aula, tempat panggung gembira terselenggara. Pak Dharmawan berdehem-dehem, kemudian melanjutkan pidatonya.
"Yhaa... Karena hari ini hari terakhir. Mari kita seneng-seneng, gitu yaa.... " usulnya, yang kemudian disambut sorak-sorai peserta.
"Kira-kira ngapain, yhaa? Biar pada seneng? Bagi-bagi duit apa yaa?" Tanya Pak Dharmawan sejurus kemudian. Tentu saja mereka semua setuju. Pak Dharmawan kemudian memberi satu syarat.
"Dapet duit 2juta, yha? Tapi ngapain yhaa? Ada ide?" Pak Dharmawan pura-pura bertanya kepada para peserta, namun, hanya selang bebera detik kemudian, pertanyaan yang tadi diajukan, dijawab sendiri olehnya.
"Kita adu tinju aja yok, yok... Siapa yang menang dapat 2 juta. Lumayan tho? Balik modal, kalian...."
'Huuuuuuuuu' teriak para penonton kecewa karena syaratnya tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.
"Tak kasih hadiah tambahan deh.. ***** basah dari klien VVIP kita yang akan datang malam ini. Tenan lho ini.. Beliau mau nyumbang," Ujarnya menenangkan kekecewaan peserta. Mereka pun akhirnya sepakat. Tak lama kemudian, nama Ken dipanggil sebagai penantang.
Ken yang sedang nyeruput popmi di pojokan, langsung tersedak. Kenapa dia yang dipanggil?
"Yhaa..... Ini karena Mas Ken kan juara umum di pelatihan kali ini, jadi jelas dong, Mas Ken penantangnya, yho biar seru gitu lho... " Pak Dharmawan berceloteh. Ken yang masih berusaha menelan mi kenyal yang sedang nyangkut di tenggorokannya, tentu diam saja karena masih batuk-batuk.
"Nah.. Hayo siapa yang mau jadi lawannya?"
__ADS_1
Suasananya mendadak hening. Tidak ada peserta yang maju. Pak Dharmawan menepuk jidatnya. Dan memberi bonus tambahan berupa kontrak kerja ekslusif untuk menjadi security di tempat klien VVIP yang akan datang kemari.
"Saya mau coba, Pak!" salah seorang peserta akhirnya memberanikan diri. Jika dilihat sekilas, proporsi tubuhnya ideal. Ia bahkan lebih besar dibanding Ken. Namun, keahlian bertarungnya belum diketahui. Peserta bernama Ashraf itu maju dan mendapat dukungan dari semua orang.
Ken, akhirnya bisa berhenti batuk karena tersedak. Setelah mengambil minum, ia kemudian memakai sarung tinju yang sudah disiapkan panitia.
"Mulai!"
BUGHHH!
BUGGHHH!
BUGGGH!
JAB
UPPERCUT
K.O.
Hanya butuh beberapa menit sampai akhirnya Ken berhasil menumbangkan lawannya. Peserta pelatihan yang berjumlah total 100 orang itu hanya bisa melongo tanpa menyangka bahwa pertandingan adu tinju akan selesai begitu cepatnya.
"Yhaa... Menang, Yhaa... Mas Ken..... Dapet 2 juta dan.... " Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, seorang lelaki tinggi tegap berjalan memasuki aula. Kaos polo hitam dengan celana ketat dan sepatu pantofel coklat menghiasai penampilannya.
"Monggo... monggooo..., " Pak Dharmawan mempersilakan pria itu menuju panggung gembira. Ken melotot mencoba mengingat-ingat hadiah yang akan ia terima.
Pelan tapi pasti, pria itu berjalan menaiki tangga. Ketika hendak mendekat ke arah Ken.... Tiba-tiba....
BUGHHHH!
Lelaki itu terkapar dipukul K.O olehnya.
Pak Dharmawan hampir pingsan karena jantungan.
"Ya Gusti!!! Pak'eeee..... "
Ia buru-buru menghambur ke arah pria parlente tadi.
"Pak, pak.. sadar, Pak.... Ya Ampun, Mas Ken ini ngapain sich!! Kok jahat!" protes Pak Dharmawan sambil mendengus sebal ke arah Ken.
"Siapa suruh dia mau nyipok saya! Najis!"
"Siapa yang mau nyipok, Mas'e?"
"Itu! Katanya klien VVIP mau nyipok!"
"Eeee.. Lhadalah.... Itu tadi ajudannya.. Kliennya belom datang!" Pak Dharmawan menjelaskan. Dan ajudan tadi hanya berniat untuk menyampaikan selamat kepada Ken.
Ken pun mendelik tak percaya mendengar penjelasan dari Pak Dharmawan.
"Sorry, saya telat,"
Sedetik kemudian, seorang wanita tinggi semampai dengan rambut tergerai memasuki aula pelatihan.
"Celina?" Ken terbelalak, melihat seseorang yang ia kenal sedang berdiri di depannya.
"Ken! Hi!" Celine melambai riang. Ia tak menyangka akan bertemu kenalannya di tempat antah-berantah seperti ini.
Dan, keadaan ajudannya?
__ADS_1
Yah, sudah jelas, dilarikan ke UGD untuk mendapatkan pertolongan darurat.