
Cathy yang baru saja pulang sekolah, terkejut dengan keberadaan kakak iparnya yang tertidur di sofa sambil ditemani televisi yang menyala. Ia tak ingin membangunkan tidur nyenyaknya, karena Cathy paham sepertinya mereka berdua tadi baru saja bergulat dan menyelesaikan kesalahpahaman yang ada. Matanya melirik ke arah buket bunga mawar yang berantakan seperti habis terinjak, yang ada di karpet sofa. Cathy tak ingin tahu lebih banyak, karena itu tak ada hubungannya dengannya. Ia berjalan pelan ke arah kamarnya, dan menikmati waktu istirahatnya seperti kakak iparnya.
Tak terasa, jam dinding menunjukkan pukul 18:00 waktu setempat. Kakaknya, Celina, seharusnya sudah pulang. Kali ini, sepertinya ia akan dijemput kakak ipar. Ken terlihat bersiap dan sudah rapi setelah mandi sore tadi.
"Cathy, kakak pergi dulu ya. Kamu sudah makan?" tanya Ken yang bersiap pergi dan mengambil kunci mobilnya.
"Sudah, Kak. Tadi aku udah makan di sekolah. Nanti malam mau pesen pizza aja," ucapnya sambil menyalakan televisi. Ken mengangguk, lalu beranjak pergi.
"Kakak pergi dulu, ya... "
"Hati-hati kak,"
"Oya itu buketnya buang aja. Sampah kok itu," ujar Ken kemudian melangkah keluar pintu. Cathy hanya menggelengkan kepala dan mengambil buket itu untuk diletakkan ke dalam vas.
"Kasian, bunga nggak salah kok mau dibuang," gumamnya sambil membawa segelas air untuk dituangkan ke dalam vas. Bunga malang itu akan diletakkan di kamarnya. Cathy menebak, ada pria lain yang tadi mampir dan memberi buket bunga pada Kak Celina, namun, malah diterima oleh kakak ipar. Tentu saja bunga malang itu kemudian dibuang dan sempat terinjak, karena kesal. Cathy merasa bersimpati pada bunga malang tersebut.
*
"Ken!" Celina melambai ke arah suaminya dari arah pintu keluar. Para pekerja yang sedari tadi kepo karena mendapati bos mereka tersenyum sepanjang hari, tampak memadati kaca depan. Beberapa pasang mata mengintai dari arah sana.
"Oohh... Pantessss..... " komentar mereka serempak, setelah mengetahui bosnya sedang jatuh cinta. Tidak banyak yang mengetahui bahwa Bos Celina telah menikah, karena pernikahan itu sangat singkat dan tidak ada tamu yang diundang. Rumor yang berkembang juga simpang-siur, tak ada yang meributkannya, karena mereka telah sibuk dengan urusan proyek dan pindahan kantor ke Perancis.
"Udah.. Udah... Yok bubar," seru salah seorang dari mereka, sedetik kemudian, rombongan pengintai kaca depan pun membubarkan diri dan melakukan pekerjaan mereka kembali.
"Hai, sayang," Ken mencium bibir istrinya dengan lembut. Berada di negri cinta seperti Perancis, membuat kebiasaan mereka berubah. Menampakkan kemesraan di depan umum sudah jadi hal wajar, bahkan untuk pasangan yang belum menikah. Jadi, Ken dan Celina merasa lebih memiliki hak untuk bermesraan karena sudah menjadi pasangan suami istri.
__ADS_1
"Kita mau kemana?" tanya Ken setelah mengencangkan sabuk pengaman.
"Senja gini, ke jembatan Pont des Arts yuk?" ajak Celina sambil mendekatkan wajahnya ke arah suaminya. Ken terkikik lalu menyambar kembali bibir istrinya itu dengan rakus.
"Euuummm... Ah.. Kamu kok napsuan terus sih, sayang?" tanya Celina tanpa menghindar. Ia menyambut sentuhan demi sentuhan yang dilakukan oleh suaminya. Ken tidak menjawab dan hanya sibuk ******* kembali bibirnya. Setelah puas, baru mereka melajukan mobil menuju ke jembatan Pont des Arts untuk menikmati senja dan mengawali kencan resmi mereka sebagai pasangan yang gagal berpisah.
*
Mobil sedan Ken melaju dengan kecepatan sedang, melintasi jalanan kota Paris untuk menuju ke jembatan cinta. Konon, jika ada pasangan yang memasang gembok dengan inisial nama mereka di sana, maka, pasangan itu akan langgeng selamanya. Tentu saja Ken dan Celina tak percaya, namun, apa salahnya mencoba? Sambil menikmati panorama kota Paris yang memikat jiwa.
"Loh.. Kok.... Gak bisa pasang gembok?" ucap Celina kecewa, ketika mendapati jembatan Pont des Arts yang terbuat dari baja dan konon dipenuhi gembok cinta, tampak bersih dan berubah menjadi panel kaca.
"Memang kamu itu kudet ya, sayang?" ejek Ken yang sudah tahu bahwa pada tahun 2015, para wisatawan sudah tak diperbolehkan memasang gembok karena merusak struktur jembatan.
"Sia-sia dong, kita kesini? Mana jauh lagi! Huh! " dengus Celina masih tampak kesal. Ken merengkuh pinggangnya dan mendekatkan diri ke arahnya.
"Gak sia-sia dong sayang. Kan kita bisa liat-liat menara Eiffel tuh, ama jajan cilok. Eh, ada ngga yah disini?" Ken menghibur istrinya. Celina tertawa mendengar penuturan Ken. Mobil telah diparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ken dan Celina kemudian berjalan melintasi jembatan, lalu menyewa perahu untuk menyusuri Sungai Seine dan mengumpulkan kenangan indah bersama. Setelah puas bersenang-senang, Ken dan Celina merasa lapar. Mereka memutuskan untuk berkendara memutari kota Paris yang indah, sebelum akhirnya menyantap makan malam dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
< Jembatan Pont des Arts, saat ini>
"Makasih ya, sayang. Aku seneng banget!" pekik Celina sambil memeluk suaminya yang berada di kursi kemudi. Ken mencubit gemas pipi istrinya dengan penuh kasih sayang. Jika ia tahu, berbaikan rupanya tak sesulit itu, sudah tentu ia lakukan sejak dulu. Ken terlalu bodoh dalam urusan percintaan. Celina juga bukan tipe perempuan penuntut yang perfeksionis. Ia hanya perlu pembuktian dan ketulusan dari Ken yang dapat memperkuat cinta mereka berdua.
Perjalanan malam yang lengang, terasa ramai dengan gelak tawa mereka berdua yang menggema di dalam kabin mobil. Suara musik yang menghentak, dan juga nyanyian Celina yang mengikutinya, membuat Ken tak bisa menahan tawa. Istrinya rupanya tak bisa menyanyi dengan baik. Celina merenggut tapi tidak mengelak, karena, ia memang terbukti selalu gagal dalam audisi paduan suara di sekolah.
"Sayang, agak cepet dikit ya, aku laper," ujarnya sambil tetap meneruskan nyanyiannya yang sumbang. Ken memacu mobilnya agak cepat, karena jalanan juga sedang sepi.
Brrruuuuuummmmmm......
Kecepatan mobil kisaran 100km/jam, Celina merasa tersegarkan dengan suasana yang tercipta malam ini, meski tanpa pengaruh alkohol. Ia bahkan sudah lupa kebiasaannya mabuk-mabukan untuk menghilangkan kenangan yang menyakitkan bersama Ken kala itu.
"Wohoooooo" Celina memekik gembira, namun, tiba-tiba saja.....
BRUUUUUMMM....
CKIIIIITTTTT.....
WZZZ WZZZ WZZZZ....
BRUAAAAAKKK!!!!!
Ken membanting setirnya ke arah kiri, setelah melihat kelebat anak kecil yang mendadak berada di tengah jalan. Kebaikan hatinya mengakibatkan reflek yang tidak terduga. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan menyasar ke bangunan yang berada di pinggir jalan. Kecepatan tinggi yang sedang dipacu Ken mengakibatkan mobil sulit dikontrol. Mobil itu pun kehilangan kendali, kemudian terbalik setelah menabrak dinding bangunan. Suara dentuman menggema di penjuru jalanan yang sunyi senyap. Suara kaca pecah dan juga logam yang hancur berkeping-keping menjadikan suasana semakin mencekam. Ken dan Celina tak terlihat bernapas dengan normal dan mereka tertindih body mobil yang hampir ringsek akibat tabrakan. Samar-samar, terdengar suara teriakan orang lain yang sedang mencari bantuan.
...****************...
__ADS_1
...bersambung...
...****************...