PREMAN CEO

PREMAN CEO
Bersusah-susah Kemudian (2)


__ADS_3

<"Breaking News!">


<"Pencalonan walikota nomor urut 1 dianulir oleh KPU akibat skandal yang baru-baru ini viral. Gaus Tanoesoeroyo yang merupakan anak kedua dari Grup Tanoesoeroyo, akhirnya gagal menjejakkan kakinya di dunia politik. bla...bla...bla....">


PRAAANG!


"AAAAAKHHH!" Velly yang sedang menyalakan TV tak kuasa menahan amarah. Ia mengamuk dan melempari TV dengan gelas wine yang sedang dipegangnya.


"Goblok!!! Gagal semua rencana kita! Papah! Gaus! Dimana, Lo!" Teriak Velly dengan lantang. Ia mengacak-acak barang yang ada di kamarnya. Pelayan yang sedang berada di luar kamar mereka tampak ketakutan. Nyonya yang mabuk dan tidak dalam suasana hati yang baik membuat mereka gemetar.


"Ngapain lo teriak-teriak?" Gaus yang baru saja tiba dari rapat mendesak, turut naik pitam, melihat tingkah istrinya yang luar biasa menyebalkan itu.


Velly yang menyadari kedatangan suaminya itu, kemudian menjambak rambutnya. Gaus mengerang kesakitan dan mencoba meloloskan diri.


"Eh, Tolol!!! Nyalon kagak becus! Gimana sekarang hah? Uang kita hilang! Elo kagak jadi walikota! Sia-sia semua!! Aaaaakkkkhhh!!!" Velly mengamuk sejadi-jadinya. Dicakarnya wajah suaminya itu dengan kuku-kuku yang baru saja dipoles di salon tadi pagi. Gaus menangkis cepat dengan kedua tangannya. Ia tak bisa bersabar lebih lama lagi. Kali ini, Gaus mendorong tubuh istrinya itu hingga terjatuh.


"Aduhhhhhh!!"


Velly memekik kesakitan dengan tulang ekor yang terbanting ke lantai marmer kamar.


"Heh! Dasar wanita gila!! Lo ngapain aja? Taunya cuma ******* doang sama selingkuhan! Gua banting tulang kesana-kemari cari dukungan! Dasar ******!"


"Ngomong apa lo?"


Kali ini Velly mencekik leher suaminya. Ia sedang tidak sadarkan diri dan dalam pengaruh alkohol. Kebiasaan marahnya lebih parah dari biasanya. Gaus memelintir tangan istrinya agar terlepas dari cekikannya. Velly makin mencondongkan tubuhnya dan menghantam Gaus dengan dahinya. Mereka berdua terjatuh. Velly kemudian bangkit dan mendorong Gaus ke arah balkon kamar. Perkelahian masih berlanjut dengan sangat sengit. Para pelayan tidak ada yang berani masuk dan menengahi konflik para majikan mereka. Tak lama kemudian.


BRAAAKK!


Suara benturan yang amat keras terdengar dari arah bawah. Alarm mobil Gaus yang terparkir di sisi barat kediaman, terdengar meraung-raung, setelah ada suara pecah di atapnya.


Pelayan yang berada di ruang utama, berhamburan ke arah sumber suara. Dan ternyata...

__ADS_1


"Astaga!! Nyonyaa!! Nyonyaa!!! Panggil ambulans!!" Seru kepala pelayan yang mendapati Velly sudah meregang nyawa setelah terjatuh dari balkon kamar.


Gaus terduduk gemetar, tak berselang lama, ia pingsan. Gaus tak ingat apapun lagi setelah membuka mata di ranjang rumah sakit dengan tangan terborgol petugas.


*


Kematian tragis Velly seakan menjadi karma atas sabotase kematian Shayna. Ia mengalami hal serupa setelah menjebak gadis malang itu agar menjadi umpan untuk menjatuhkan Grup Tang. Gaus dipenjara atas tuduhan "pembunuhan tidak sengaja" sebagaimana diatur dalam Pasal 359 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia.


Keluarga besar Tanoesoeroyo harus melewati ujian lain yakni merosotnya saham secara drastis akibat skandal yang terjadi, sehingga, mendulang protes dari para pemegang saham. Mereka mengadakan rapat darurat untuk menarik kembali dukungan finansial mereka.


Boikot produk-produk elektronik yang dirilis oleh Grup Tanoesoeroyo juga menggema di media sosial. Kerugian milyaran akibat retur produk dan kegagalan peluncuran produk baru tak terelakkan.


Tak hanya sampai di situ saja, pihak kejaksaan juga membuka kembali kasus suap jalan tol lintas-Sumatera yang sudah lama ditutup untuk menuntut keterlibatan beberapa pejabat yang berafiliasi dengan pemenang tender.


Grup Tang menggugat Grup Tanoesoeroyo atas sabotase yang menimpa putera mahkota mereka. Map merah menjadi bukti susulan yang dapat digunakan untuk menuntut mereka. Kebetulan, map itu diserahkan secara sukarela oleh Ferdi, yang kedapatan mencuri uang tunai dari brankas Presdir Devon Tang. Map itu sengaja disimpan olehnya agar tidak bocor, namun, rencananya malah blunder.


Ferdi kala itu sedang merencanakan pelarian ke luar negri setelah video Dito viral di media sosial. Ia tak ingin menjadi sasaran penangkapan sebagai kaki-tangan Black Venom dalam kasus kematian Shayna.


"Om... Om... Aku bisa jelaskan," ujar Ferdi tak bisa mengelak setelah tertangkap basah sedang mencuri segepok uang dollar dari brankas Pamannya.


"Kamu itu. Hhhh.... Seharusnya Michael mendengar perkataanku," Presdir menghela nafas.


"Apa maksud, Om? Papa kenapa?" tanya Ferdi yang terheran mendengar nama ayahnya disebut.


"Ferdi. Kamu itu bukan anak kandung Michael. Kamu aku asuh setelah kematian Michael dan Ellie supaya masih bisa menyandang nama TANG. Kamu tidak tahu? Banyak yang mau membuangmu di jalanan!" dengus Presdir kesal.


"Om.. Om.. bercanda kan? Belum puas Om membunuh ayah ibu saya??!!" Cetus Ferdi tidak terima. Ia tidak percaya kata-kata yang meluncur dari mulut pamannya itu.


"Lancang! Sembarangan kamu ngomong! Kecelakaan itu disebabkan nenekmu sendiri! Jadi kami tidak menuntut apapun karena kasihan! Kalo kamu tidak percaya, datang ke Panti Asuhan Pelita Harapan di Bekasi! Di sana ada akta adopsi dari Michael dan Ellie," jelas Presdir lantang.


Ferdi limbung. Ia bingung dengan segala hal. Hatinya dipenuhi amarah dan rasa malu serta rendah diri. Jadi, selama ini, ia adalah anak angkat? Dan Velly sudah berbohong? Ia selama ini dimanfaatkan oleh balas dendam palsu yang dikarang oleh keluarga ibu asuhnya? Ferdi tak bisa mencerna hal ini. Ia mengamuk dan menghancurkan kantor Presdir. Tak lama, Ferdi segala diamankan di polsek terdekat.

__ADS_1


*



Presdir Devon tampak sedang menelepon nomor baru dalam kontak gawainya.


Tuuuuut.....


Sambungan telepon sedang berdering.


<"Halo? ">


<"Halo, Nak?">


Ken melihat sekilas ke arah layar gawainya. Rupanya nomor ayahnya.


<" Iya, Pah?">


<" Pulanglah, terima kasih sudah bertahan. Papa tau kamu benci papa. Tapi, tidak ada pembelajaran tanpa ketegasan. Kamu harus tau, dunia ini sangat kejam. Terima kasih. Kamu sudah pantas menjadi pewaris Grup Tang, Nak>


Ken tidak serta-merta menjawab panggilan ayahnya. Ia terdiam, terpaku. Bulir-bulir hangat air mata menetes tanpa direncana. Ken terisak dalam keharuan dan rasa marah. Selama lebih dari sepuluh tahun ia mencoba bertahan hidup sendirian dan melakukan rencana demi rencana agar nama baiknya pulih serta diakui oleh ayahnya. Rupanya, skenarionya tidak berbeda dari skenario ayahnya. Semua kesulitan yang dilaluinya adalah bagian dari pembelajaran hidup untuk dapat diakui sebagai pewaris Grup Tang yang mumpuni dan memiliki kualifikasi sebagai pribadi yang dapat diandalkan.


Ken menutup panggilan itu tanpa mengatakan sepatah kata-pun. Ia dapat memahami maksud ayahnya. Namun, ia menolak untuk bereaksi. Ada asa kecil dari dalan hatinya yang ingin dipeluk orang tua sebagai anak mereka, bukan ekspektasi seorang presdir untuk ahli waris grupnya.


Ken tidak ingin serakah. Ia lega karena kesalah-pahaman ini dapat terselesaikan. Dalam perjalanannya mencari keadilan, Ken mendapatkan banyak sekali pelajaran. Termasuk belajar untuk mulai mencintai, dengan hadirnya Celina sebagai istrinya.


Esok hari, Ken akan segera kembali ke Jakarta, untuk menjalankan rencana terakhirnya.


...****************...


...bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2