
Ken tercekat tak bisa bernapas. Pelukan wanita yang tiba-tiba menghambur ke arahnya begitu erat. Napasnya sampai tersengal-sengal. Celine yang menyaksikan pemandangan tak mengenakkan itu pun langsung menarik wanita itu untuk menjauh dari suaminya.
"Maaf, anda siapa ya??!!" Tanya Celine setengah membentak. Ia merasa kesal karena kelakuan wanita yang ada di hadapannya itu. Darahnya mendidih, degupan jantungnya terpompa kencang. Celine cemburu.
"Sorry.... " jawab Wanita itu melepaskan pelukannya, kemudian mengelap air mata yang telah jatuh membasahi pipinya.
"Ken, gimana keadannya?" tanyanya kemudian tanpa menjawab Celine.
"Ada urusan apa ya?" seloroh Celine ketus dan tanpa jawaban. Wanita itu memandang Celine dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia lalu melirik ke arah Ken yang sedang geleng-geleng kepala. Wanita itu lantas menghela nafas dan menyodorkan tangannya.
"Kenalin, aku Hilda,"
"Ya, aku Celina. ISTRI KEN," jawab Celine memberi penekanan pada statusnya. Ia merasa terintimidasi sehingga harus menjelaskan posisi pentingnya dalam hidup Ken. Hilda terkikik menahan tawa. Celine tampak tersinggung.
"Ada yang lucu?" tanya Celine jutek. Hilda menggeleng.
"Maaf, anu... Aku cuma senang, Ken tampak baik-baik saja. Titip Ken, ya. Aku pergi dulu. Bye Ken!" Hilda melambai ke arah adiknya. Wanita itu lalu pergi tanpa berkata-kata.
Ken masih menyembunyikan identitas sebagai Kenneth Tang, dan tentu bingung harus memperkenalkan kakaknya. Jika Ken bilang dia adalah adik dari Hilda, tentu Celine tak akan percaya. Nama Ken adalah Kenny Wijaya, bukan Kenneth Tang. Identitas yang dikenal Celine saat ini adalah Kenny. Meski panggilannya sama, status dan juga marga mereka berbeda. Marga Tang cukup terkenal di kalangan konglomerat kelas A. Tentu saja keluarga Celine juga mengenal mereka. Meski jarang bertemu, jika dihadapkan semeja, Keluarga Tanoesoeroyo dan Keluarga Tang pasti bisa memverifikasi identitas masing-masing. Ken tak ingin mengungkapkan jati dirinya terlebih dahulu sebelum membersihkan nama baiknya. Ia tak ingin Celine terluka dan menghindar darinya yang terkenal sebagai pembunuh.
Hilda meninggalkan kamar Ken dan membiarkan Celine salah paham. Istri adiknya itu tampak kesal dan sedang berkacak pinggang. Kekesalan Celine merupakan pertanda baik, bagi Hilda, yang juga sesama wanita. Cemburu adalah pertanda cinta. Kalau bisa, Hilda akan terus berpura-pura menjadi penggemar rahasia Ken dan menempel pada adiknya untuk menguji cinta Celina.
*
Hari semakin gelap. Celine tampak berbaring di sofa sambil menonton acara drama korea. Ken sedang mengamati tingkah laku istrinya yang tidak biasa, sejak sore tadi. Ia menjadi pendiam.
"Lin, tolong air," pinta Ken yang bangkit dari ranjangnya. Ia mencoba untuk duduk dan meregangkan otot-ototnya yang masih kaku. Berbaring saja tanpa berolahraga membuat badan Ken sakit semua.
Mendengar permintaan suaminya, Celine beranjak dari sofa yang ada di depan ranjang Ken lalu mengambilkan segelas air.
__ADS_1
"Makasih," ujar Ken lalu meminumnya pelan-pelan. Celine tak menjawab.
"Lin?" panggil Ken lagi. Celine mendekat, meski tanpa bersuara.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Ken kemudian memeriksa kening Celine. Wanita itu menepis tangan Ken dan menggeleng. Matanya melotot, lalu kembali duduk di sofa, kali ini, ia mengambil buku bacaan dan merebahkan diri, lagi-lagi, tanpa suara.
Ken jadi serba salah. Ia bingung dengan perubahan sikap istrinya yang mendadak pendiam. Apakah Celine sedang sariawan?
*
"Ada yang tak nyaman, pak?" tanya perawat ketika sedang mengganti infus dan memeriksa kondisi vital Ken, serta mengecek beberapa obat yang harus dihabiskan hari ini.
"Tidak, sus. Udah mendingan. Tapi tolong itu, istri saya diperiksa. Kayaknya lagi panas dalam," ujar Ken menunjuk pada istrinya yang sedang tertidur di sofa dengan siaran televisi yang masih menyala.
"Loh, kenapa, Pak? Sepertinya ibu baik-baik saja," Perawat itu kebingungan. Ken lalu menjelaskan situasi yang sedang dialami. Memang betul pagi tadi istrinya baik-baik saja, namun, ketika menjelang siang dan seorang wanita datang menjenguknya, sikap istrinya tiba-tiba berubah. Perawat itu mendengarkan dengan seksama dan sedikit-sedikit menahan tawa.
"Bapak nggak usah bingung, nanti coba cium aja istrinya, dijamin normal kembali," jawab perawat itu lalu pamit undur diri.
"Ci... Cium?"
Wajah Ken memerah. Ia jadi membayangkan bibir Celine yang ranum dan indah seperti strawberry Bogor. Ken lalu menampar wajahnya supaya tersadar dari kehaluan kotor yang sedang dilakukannya. Suara tamparan pipi Ken yang kencang, membangunkan Celine. Ia lantas beranjak dari sofa dan berjalan ke ranjang suaminya.
"Kamu nggak papa?"
Celine akhirnya berbicara. Ken mengangguk. Ia lalu menarik bahu Celine, dan mencium pipi istrinya. Celine terkejut, namun ia tak menolak atau pun menampar Ken, wanita itu malah tersenyum dan memegangi bekas pipi yang dicium suaminya itu dengan malu-malu.
"Ih, apaan sich..... " seloroh Celine manja. Ken tertegun tak percaya. Mengapa ia tak dipukul karena sudah kurang ajar. Padahal, Ken sudah menyiapkan diri untuk menerima, minimal, tamparan dari Celine, karena sudah menciumnya tanpa izin.
Ternyata, perawat tadi telah memberinya saran yang tokcer. Ken jadi memuja perawat itu karena tak hanya jago memasang infus dan memberi obat, namun juga jago menganalisis masalah percintaannya.
__ADS_1
"Maaf..... " ujar Ken kemudian.
"Maaf untuk apa?" sahut Celine memberi ujian kualifikasi seorang suami. Ken pernah membaca jawaban dari pernyataan seperti ini di forum daring langganannya. Jawaban harus tepat dan jitu agar si penanya tidak memberi vonis eksekusi.
"Maaf karena tadi ada seorang wanita yang tiba-tiba datang dan peluk-peluk aku di depanmu, aku juga baru sadar dan lupa melepaskan pelukannya. Dia adalah kenalan terdekatku, jadi pasti khawatir, makanya sikapnya jadi seperti itu," jawab Ken mantap. Celine menyeringai, namun mimik wajahnya berkerut lagi.
"Jadi? Kalau peluk-peluk kamu di belakangku, boleh gitu?" Tanya Celine kemudian. Ken memukul kepalanya karena telah salah bicara. Seharusnya dia menggunakan kalimat efektif dan tidak ambigu seperti yang barusan dilakukannya.
"Nggak!" sahutnya kemudian. Lalu menarik istrinya itu mendekat ke pelukannya. Celine tak jadi marah. Ia sebenarnya marah dengan diri sendiri karena telah bersikap kekanak-kanakan. Celine tak pernah merasa terintimidasi atas kehadiran wanita lain selama hidupnya. Celine memang awam dalam hal percintaan, sama seperti Ken.
Perubahan suasana hati karena stimulus dari pasangan, membuat Celine uring-uringan. Padahal, pernikahan mereka tidak didasari atas rasa cinta. Mungkin benar kata orang-orang Jawa yang sering ditemui Celine ketika menggarap fashion show per-batik-an, Witing tresno jalaran soko kulino, Tumbuhnya rasa cinta karena kebiasaan (bertemu setiap hari). Hal itulah yang sedang dialami oleh Celine. Hatinya gembira jika berada di dekat suaminya, dan rasa khawatir menyergap jika terjadi sesuatu pada pasangannya.
...Inikah namanya cinta...
...Inikah cinta...
...Cinta pada jumpa pertama...
...Inikah rasanya cinta...
...Inikah cinta...
...Terasa bahagia saat jumpa...
...Dengan dirinya...
^^^M.E.-Inikah Cinta, 1998^^^
...****************...
__ADS_1
(bersambung)