
Pria itu lantas berjalan pelan sambil membopong Celina ke parkiran mobil di seberang jalan. Terlihat, sebuah sedan hitam tengah berkedip-kedip menunggu pemiliknya datang. Namun, baru hendak memasukkan Celina ke dalam mobil, langkahnya terhenti akibat hadangan pria lain yang merasa mengenal Celina dengan baik.
"Lâchez la fille!" teriaknya dengan mata semerah lahar gunung berapi. Tinjunya terkepal siap untuk dihempaskan.
Pria yang sedang membopong Celina tak lantas menuruti perkataan pria asing yang sok mengenalnya.
"Tunggu di sini," ujar Pria itu pelan sembari mendudukkan Celina ke dalam mobil. Celina yang setengah sadar, memeriksa keningnya. Ia merasa agak pusing akibat insiden yang baru saja terjadi. Samar-samar, ia mendengar pertengkaran dari balik pintu mobil. Celina kemudian membuka kaca jendela, dan terkejut melihat seseorang yang ia kenal sedang beradu-mulut memperebutkan dirinya. Celina lantas membuka pintu mobil dan berjalan ke arah mereka.
"Pierre, Ken, sudah, hentikan!" teriak Celina dengan mata yang nanar. Ia masih memulihkan diri akibat shock hebat yang menyerangnya.
"Lina! Kemarilah!" ujar Ken mendekat ke arah istrinya, namun, tak disambut baik olehnya. Pierre memasang badan di depan Celina seperti hendak melindunginya dari cakaran binatang buas. Celina lebih memilih berlindung di balik punggung Pierre-- pahlawan yang baru saja menyelamatkannya.
"Pergilah! Dia tidak ingin menemuimu," usir Pierre dengan bahasa Indonesia yang fasih. Ken agak terkejut karena tak menyangka rupanya pria itu bisa berbahasa Indonesia.
Celina meremas kemeja Pierre seakan takut akan sesuatu. Pria itu lantas merangkulnya dan memasukkannya ke dalam mobil. Ken tak bisa berkata-kata. Ia kalah telak karena istrinya lebih memilih berada dalam perlindungan pria lain daripada dirinya.
Pierre dan Celina melaju melewati Ken yang mematung di trotoar Quartier du Sentier. Celina meninggalkan Ken dengan perasaan yang teriris. Di satu sisi, ia lega melihat Ken dalam keadaan baik-baik saja, ada sedikit rindu yang tersisa di relung dalam hatinya. Namun, Celina sudah berjanji pada diri sendiri. Ia akan bertahan. Ia harus bertahan. Celina tidak akan pernah membukakan hati pada cinta palsu yang telah melukainya. Celina tak ingin memberi kesempatan pada Ken untuk kembali merajai hatinya yang telah ia sakiti. Ia pun memilih untuk pergi dan melawan rasa rindu yang menyeruak tanpa diperintah. Celina tak ingin pertahanannya selama ini sia-sia. Ia harus menghindari Ken sebisanya, supaya celah rindu yang menganga tak mengendalikan akal sehatnya.
Ken masih menganggap Celina sebagai istrinya, namun tidak bagi Celina. Ia merasa sudah bercerai dari Ken dan berhak untuk mendapatkan kehidupan cinta yang baru, meski memang, akta cerai mereka belum disahkan pengadilan.
*
__ADS_1
"Terima kasih, Pierre, atas bantuanmu tadi," ujar Celina sambil mendekap jaket yang diberikan Pierre padanya supaya hangat.
"Sama-sama, Lin. Boleh aku panggil Lina?"
"Tentu saja, aku tadi sudah memanggilmu Pierre, hihi... "
"Baiklah. Itu tadi siapa?" tanya Pierre mencoba berbasa-basi dan juga sedikit penasaran karena pria itu sepertinya sangat terobsesi dengan Celina.
"Mantan suami," jawab Celina enteng seperti tanpa beban. Pierre tertegun untuk sesaat. Ia kemudian menyalakan radio dan juga mengaktifkan GPS untuk mengecek lalu lintas ke Montparnasse. Tidak ada jalur yang ditutup, Pierre lantas melanjutkan menyetir melewati rute normal dan akan segera sampai dalam 40 menit-an. Celina telah menyebutkan alamat apartemennya pada Pierre ketika mereka melajukan mobil untuk pertama kalinya. Pierre kebetulan tadi ada reuni dengan sahabat SMA-nya di sekitar Sentier, kemudian, secara tak sengaja, melihat Celina sedang berlari dikejar para preman. Pierre pun segera memarkir mobilnya di bahu jalan, dan menyusul Celina yang tak berdaya. Beruntung, ia sampai tepat waktu, jika tidak, akan fatal akibatnya.
"Mantan suami, orang mana?" tanya Pierre memecah suasana.
"Orang Jakarta. Sudah ya, jangan tanya-tanya lagi, aku malas jawabnya," cetus Celina tanpa basa-basi. Pietre tersenyum sedikit lega. Rupanya, hubungan Celina dengan mantan suaminya tidak baik-baik saja. Suatu kesempatan yang baik untuknya jika ingin mendekati Celina.
Lampu sein berkedip-kedip di sisi kiri, mereka pun berbelok, dan sedetik kemudian, mobil Pierre sudah berada di gerbang apartemen.
"Kalo gitu, dinner, weekend ini?" tanyanya dengan wajah berseri-seri.
Celina mengangguk pelan. Ia tentu tidak keberatan jika hanya sekadar makan malam bersama Pierre. Celina pun melambai ke arah Pierre dan masuk ke pintu utama Aparthotel Adagio Paris Montparnasse. Apartemen yang cukup elit di kota Paris. Pierre melajukan mobilnya untuk kembali ke rumahnya sendiri, tak jauh dari apartemen Celina. Rupanya, mereka berada di area yang sama. Pierre merasa beruntung bisa mengetahui kediaman Celina.
*
"Kakak.... Kakak... Bangun!" Cathy mengangetkan Celina yang masih erat memeluk guling dan sedang nyaman bergumul dengan selimut.
__ADS_1
"Kakaaaaaakkkk!!!" pekik Cathy kali ini tanpa toleransi. Celina terkesiap dan segera bangkit dari tidurnya.
"Kenapa sih, Dek??? Brisik banget!!!" dengus Celina kesal. Ia masih ingin memejamkan mata barang sejenak sebelum bersiap ke kantor.
"Kakak... Itu.. Kakak ipar dari semalam di depan pintu," ujar Cathy yang langsung membuyarkan 'rencana tidur lagi' milik Celina. Gadis itu langsung menghambur ke arah pintu, dan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Celina tentu saja tidak membuka pintu apartemennya. Ia hanya mengintip dari peep hole yang ada di balik pintu, sehingga tak diketahui oleh tamu yang datang.
'Ken? Ngapain kamu di situ?' batin Celina tanpa mengeluarkan suara. Dalam hati ia gembira melihat pemandangan pagi ini, namun, Celina tidak ingin melukai harga dirinya. Ia tetap bersikap acuh tak acuh dan pura-pura tak mengetahui keberadaan Ken di luar sana.
Di sisi lain, Cathy terlihat sedang berkacak pinggang, menanti respon kakaknya. Ia kesal karena kakaknya selama ini jual mahal, padahal bucin setengah mati pada suaminya. Namun, dalam hati, Cathy senang mendapati kakak iparnya akhirnya bertingkah cerdas dengan melakukan hal-hal konyol untuk membuktikan cintanya, sesuai ekspektasi perempuan pada umumnya.
"Kakak, suruh kakak ipar masuk," perintah Cathy yang ditolak oleh Celina.
"Biarin aja," ujarnya acuh tak acuh.
"Astaga, Kak! Kasihan! Dari semalam dia di sana, kalau sakit gimana?" sergah Cathy kemudian beranjak ke pintu dan bersiap membukanya. Celina segera melesat ke kamar mandi karena sedang tidak dalam keadaan terbaik dalam menyambut tamu. Cathy terkekeh dan membuka knop pintu, sedetik kemudian, Ken masuk ke dalam rumah mereka. Celina juga sudah tampak bersih dan wangi, siap untuk bekerja.
"Lin..... " panggil Ken lirih. Celina yang sedang mengambul susu untuk sarapan, tidak segera merespon. Cathy yang melihat mereka berdua geleng-geleng kepala. Ia tak ambil pusing. Cathy segera pamit kepada kedua kakaknya itu untuk berangkat ke sekolah. Cathy akan naik Metro hari ini, dan membiarkan kedua kakaknya untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang tercipta.
"Hati-hati di jalan," ujar Celina dan membiarkan Ken mematung di sofa ruang tengah. Tiba-tiba, Ken meraih tangan Celina yang sedang berjalan melintasinya. Ia lalu merengkuh pinggang ramping istrinya itu dan mendekapnya dalam diam, dari arah belakang. Celina tergelitik, leher jenjangnya yang polos tanpa untaian rambut, tampak berubah suhu menjadi lebih hangat. Degupan jantungnya yang sedari tadi normal, kini berubah cepat. Nafas memburu dari arah suaminya, membuat darahnya berdesir hingga ke ujung kepala. Ken mulai mencumbui punggung cantik milik istrinya itu dengan perasaan rindu yang mendalam, seakan telah menemukan vaksin yang harus segera disuntikkan. Tubuh istrinya yang menegang menjadi semakin menarik perhatian. Dibaliknya punggung Celina agar kini berhadapan. Bibir yang ranum dan menggoda itu seakan mengundang untuk ditelan. Ken tak bisa menahan dorongan untuk menguasai Celina dalam genggaman. Namun, ia tak ingin menjadi binatang buas yang sedang menerkam mangsa.
"Boleh aku teruskan?" tanyanya dengan bisikan lirih ke dalam daun telinga istrinya. Celina yang sedang tegang dan dalam perasaan rindu bercampur ragu, mengangguk perlahan. Sebuah respon di luar dugaan. Bahasa tubuhnya seakan berbicara bahasa yang berbeda dengan otaknya. Celina sudah tak mengerti lagi harus berbuat apa dan menyerahkan penguasaan dirinya pada hasrat yang tak dapat ia bendung seperti sedia kala. Tubuh yang pernah saling menyapa, tentu saja ingin berpadu kembali. Celina dan Ken tak dapat menolak desakan gairah yang menguasai alam bawah sadar mereka. Pagi itu, hari berlangsung lebih lambat, selambat percikan api cinta yang hidup kembali, dalam untaian gerak dan peluh yang bercampur dengan sapuan kasih sayang. Mentari pagi yang hangat menjadi lebih panas, dengan ******* dan erangan yang tercipta, dari bilik kamar Celina.
...****************...
__ADS_1
...bersambung...
...****************...