
Hari sudah hendak berganti. Suara langkah kaki kecil terdengar pelan memasuki ruang VVIP. Pintu salah satu ruangan digeser dengan pelan, lalu, setelah dapat memasukkan badannya, Celine menutup lagi pintu itu hampir tanpa suara. Ia baru saja selesai bekerja, alih-alih pulang dan beristirahat, Celine mendatangi rumah sakit dan menginap di sana bersama Ken.
Ruangan VVIP RSPH layaknya hotel. Ada dua ranjang untuk pasien dan penunggunya. Sofa kecil dan televisi parabola terlihat menghiasi kamar yang cukup luas dengan perabot minimalis bernuansa putih dan cokelat. Pendingin udara dengan suhu rendah, dan tirai emas, menyambut Celine ketika membuka pintu geser yang terletak beberapa meter dari seberang ranjang medis pasien.
Aroma harum bercampur desinfektan tercium setiap saat. Suara teratur dari pendingin udara dan monitor pemantau detak jantung terdengar beriringan. Celine merebahkan diri perlahan di aalah satu ranjang di sebelah Ken, kemudian langsung terpejam. Badannya sangat lelah, hari ini pekerjaannya cukup berat dan menyita tenaga.
*
"Syukurlah, keadaannya sudah membaik. Anda boleh pulang hari ini, Pak," ujar seorang dokter spesialis yang baru saja melakukan visitasi pasien. Dokter itu terlihat cukup tua dengan rambut tak lengkap. Beberapa dokter muda lain tampak berbaris rapi di sisi kanan dan kirinya dengan memegang pena dan buku catatan untuk menulis apa-apa yang dikatakan sang dokter senior.
"Terima kasih, dok."
Celine yang sudah bangun lagi setelah tidur beberapa jam, kini berada di kursi yang ada pada samping ranjang Ken. Sudah sekitar 5 hari Ken dirawat-inap di RSPH, dengan jeda sehari semalam menjalani operasi darurat. Celine sangat gembira mendapatkan kabar bahwa suaminya bisa segera pulang.
"Baik, kalau begitu, kami pamit dulu. Semoga lekas pulih kembali," ujar dokter sambil tersenyum. Sedetik kemudian, tim dokter undur diri untuk memeriksa kondisi pasien lain di komplek VVIP hari ini. Ken dan Celine mengangguk lantas berterima kasih pada mereka. Seorang perawat kemudian datang untuk memberi infus terakhir hari ini dan juga santapan pagi. Setelah infus habis, pasien baru boleh berkemas pulang.
"Kita langsung pergi ya, setelah ini," pinta Ken. Celine mengiyakan sambil sesekali menguap, ia masih menahan kantuk.
Tepat pada pukul 10 pagi, Ken dan Celine sudah keluar dari RSPH dan menuju ke apartemen mereka. Rupanya hari ini Celine sedang cuti. Ia bisa menemani Ken seharian.
"Lin, aku harus pergi bekerja nanti siang. Maaf ya. Kamu di rumah sendirian jadinya,"
"Masa langsung kerja, sih? Besok aja gimana?" bujuk Celine. Ken menggeleng.
"Udah janji ama Pak Dharmawan, nggak enak akunya," tukas Ken berbohong. Padahal, ia hendak pergi menemui kakaknya untuk mengecek paket--sebutan untuk narapidana yang baru datang-- di sana.
Celine tampak merengut namun mencoba mengerti. Ken sudah hampir seminggu tak masuk kerja, tentu saja atasannya bakal uring-uringan.
"Tapi, janji ya, nggak capek-capek?"
"Iya, sayang.... " Ken mengiyakan sambil menggoda istrinya dengan panggilan sayang. Bukannya marah, ia malah salah tingkah. Ken tersenyum usil dan bertekad untuk selalu memanggilnya dengan sebutan sayang biar seperti lagu penyanyi dangdut kesukaan Pak Dharmawan.
__ADS_1
*
"Depan belok kiri pak, nanti turun di Gedung Royal itu loh,"
Ken menavigasi sopir taksi yang sedang mengemudi di depannya. Lampu sein taksi itu pun berkedip ke arah kiri. Sopir taksi itu lantas melajukan kendaraannya sesuai arahan Ken. Mereka akhirnya sampai di tujuan beberapa menit kemudian.
"Makasih ya, Pak," ucap Ken setelah membayar argo taksi dengan uang tunai. Taksi itu pun menjauh dari pandangan dan mencari penumpang baru untuk diantar ke tujuan seperti halnya penumpang barusan.
Ken melangkahkan kakinya menuju lantai teratas setelah melapor bahwa ia adalah tamu yang sudah janjian dengan Hilda Tang. Seorang security mengantarkannya menuju lift dan memencet tombol teratas yang terhubung dengan griya tawang dan infinity pool, mirip gedung milik Celine. Arsitektur gedung seperti itu memang sedang tren, sehingga banyak gedung yang serupa, meski tentu saja desain interior masing-masing gedung berbeda, tergantung selera pemiliknya.
Tok
Tok
"Bu, ada tamu,"
"Ya, masuk aja,"
Security itu mempersilakan Ken memasuki ruangan. Kebetulan, Romy dan rekannya sedang tidak di tempat, jadi security itu langsung mengantarkan Ken menuju ruang CEO yang hanya beberapa meter dari lift.
"Dek!"
Hilda yang tadinya sibuk memeriksa dokumen, akhirnya menghentikan pekerjaannya. Ia lantas menghampiri adiknya itu dan mengecek keadaannya setelah pulang dari rumah sakit.
"Udah ngga ada yang sakit?" tanya Hilda khawatir.
"Udah amaaaan," seloroh Ken riang.
"Trus, mana paketnya?"
"Oh, right... Ayo!"
__ADS_1
Hilda menarik tangan Ken menuju ke rak buku kecil di samping mejanya. Ada sebuah tombol berwarna merah yang terletak di dalam rak, tertutup beberapa buku. Hilda memencet tombol itu, dan rak buku lain yang cukup besar, bergeser ke kanan lalu menyajikan sebuah pintu besi dengan knop memutar. Hilda mengulir knop dengan kode kombinasi, sedetik kemudian, pintu besi itu terbuka.
"Ayo, dek... " ajak Hilda, Ken mengikuti dari belakang.
Bau lembab dan tak sedap menyambut indera penciuman mereka ketika memasuki lorong gelap yang ada di balik pintu. langkah kaki mereka terdengar bergema saking heningnya tak ada suara. Lorong gelap itu tiba-tiba memancarkan cahaya ketika dilewati orang, lampu sensor rupanya. Kali ini, terlihat dinding beton yang lembab dan dingin terhampar dari lorong awal hingga ke tujuan akhir mereka.
Hanya ada beberapa sel di sana, kesemuanya tanpa lampu, sesuai namanya Dark Cell-- Sel gelap. Terdengar suara kerincing rantai besi yang cukup berat. Ada satu orang tahanan yang sedang dihukum Hilda di sana. Tentu saja wajah orang itu tak terlihat saking gelapnya. Dari balik jeruji besi itu hanya terdengar bunyi nafas teratur dan juga pendingin udara yang bersuhu sangat rendah. Tahanan Hilda gemetar kedinginan setiap saat, gigi-giginya tampak bergemeletuk seiring waktu.
Ken mendekat ke arah sumber suara, lampu sensor dari luar sel menyala. Tahanan itu mendongakkan wajahnya. Badannya yang bulat dan besar, terduduk di lantai dingin penjara. Pelipisnya berdarah bekas disiksa. Rambutnya yang hitam dan pendek tampak kusut tak terawat. Ken seperti mengenali orang itu. Setelah ia mendekatkan diri kearahnya, tahanan itu pun berkata.
"Kak Ken... " desisnya.
"Di... Dito?'
Ken terkesiap melihat paket dari kakaknya itu. Hilda berdiri tak jauh dari adiknya sambil berkacak pinggang dan mendengus kesal.
"Itu tuh dek, anak yang nusuk kamu beberapa bulan yang lalu," ujarnya.
Ken terbelalak tak percaya dengan orang yang dikenalnya itu. Bagaimana bisa ia melakukan hal itu padanya?
Tahanan itu tertunduk tanpa melawan. Ia meringis kesakitan.
"Kamu kenal?" Tanya Hilda menyadari bahwa Ken memanggil tahanan itu dengan sebutan Dito.
Ken mengangguk dan menceritakan bahwa Dito adalah anak yang ditolongnya waktu dirundung oleh beberapa anak SMA teman sekelasnya. Mengapa Dito sampai harus menusuk Ken yang sudah melindunginya? Padahal, Ken sudah menganggap Dito seperti adiknya.
"Dito... Kamu kenapa seperti itu?"
"Udahlah nggak udah sok baik," Dito tak menjawab. Ia memilih untuk diam daripada berbicara dengan Ken. Seakan, Ken adalah musuh yang sudah lama diincar.
Siapa sebenarnya Dito?
__ADS_1
...****************...
(bersambung)