
DHUAAAARRR!!!
Pondok yang terbakar itu kemudian meledak.
"Bro! Cepat!!!"
Dua pria memacu jetski mereka ke arah dermaga. Tak jauh dari lokasi kejadian, tampak dua orang sedang terkapar, mereka adalah Celine dan Ken.
"Uhuk.. Uhuk.. " Ken terbatuk dan mulai sadar. Ia teringat istrinya. Ken lalu melepaskan masker kain dan menjulurkan tangannya agar dapat berbalik untuk bangkit. Ia berjalan terseok-seok akibat benturan yang cukup keras. Di tengah-tengah pelarian dari kebakaran, Ken dan Celine dikejutkan oleh ledakan kaleng bensin yang kepanasan. Mereka berdua pun terpental, beruntung, tak sampai tercebur ke dalam laut.
"Lin... Lin... " Ken menggoyang-goyangkan tubuh Celina dan melepaskan kain yang membebat mulut dan hidungnya. Syukurlah, wajah Celina aman dari luka bakar. Masker itu juga meminimalisir hirupan karbon dioksida sehingga tidak sampai melukai saluran pernapasan mereka.
"Uhuk... uhuk..." Celina mulai terbatuk pertanda sudah sadar.
"Ayo!" Ken memapah Celina supaya mendekat ke arah dermaga yang hanya berjarak lima langkah saja.
"Bos!!!"
Dua pria yang memacu jetski segera menghambur ke arah Ken dan Celina, lalu memapah mereka berdua. Ken dan Celina lantas dibonceng menuju ke arah yacht yang sedang bersandar di dermaga 2, agak jauh dari lokasi kebakaran.
*
Wiuu..
Wiuu..
Wiuu..
Suaran sirine pamadan meraung-raung di area pelabuhan. Semua orang menyingkir, kemudian memadati lokasi kebakaran. Tak jauh dari truk pemadam, dua mobil tampak mengekor di belakang. Suara sirine yang berbeda dari tiga macam instansi itu tampak ramai saling bersahutan. Mobil polisi dan van ambulans melaju tepat di belakang truk pemadam kebakaran.
"Minggir!!" teriak pimpinan tim pemadam. Mereka mulai menyemburkan air yang sangat besar dari selang pemadam. Beberapa orang tampak sudah berusaha memadamkan api dengan menggilir ember-ember berisi air laut. Mereka tampak kelelahan karena telah memadamkan api secara manual sambil menunggu petugas datang. Para awak kapal itu tak ingin kebakaran pondok tua merembet hingga ke kontainer-kontainer yang sedang terparkir tak jauh dari sana. Puluhan milyar bisa melayang akibat insiden itu jika muatan mereka ikut terbakar.
"Pak, bisa ikut kami sebentar?"
Seorang detektif mulai menangani kasus kebakaran. Ia meminta keterangan saksi yang sudah melapor, dan juga akan mencari penyebab kebakaran untuk menyimpulkan apakah kebakaran itu disengaja atau tidak.
"Saya tadi lihat, ada dua orang korban pak, di sana," saksi tersebut menunjuk ke arah ujung dermaga yang ada di belakang pondok. Petugas segera menyisir lokasi kejadian, namun, tak ditemukan siapapun yang berada di dekat TKP.
"Baik, mari ikut kami untuk memberi informasi lanjutan di kantor,"
Saksi itu pun mengikuti instruksi petugas dan masuk ke mobil patroli. Van ambulans kembali ke rumah sakit tanpa adanya pasien yang harus diselamatkan. Insiden kebakaran itu pun berakhir tanpa adanya korban. Api berhasil dipadamkan sekitar satu jam kemudian. Para awak kapal yang awalnya menyemut di lokasi kejadian, akhirnya kembali ke tempat asal mereka masing-masing.
*
"Syukurlah, hanya luka bakar kecil, dan luka-luka akibat goresan saja. Lehernya yang memar sudah kami pasang penyangga kecil agar tak bergeser. Tuan menderita luka bakar yang cukup parah. Kami oleskan salep ini terlebih dahulu, untuk mengecek apakah ada perubahan atau tidak," ujar seorang dokter yang baru saja memeriksa keadaan Ken dan Celina. Perawat yang berjaga kemudian menyiapkan obat-obatan dan mengoleskan salep luka pada Ken dan Celina. Mereka kemudian beristirahat di kamar dengan tenang. Dokter dan para perawat kembali ke rumah sakit menggunakan kapal kecil yang dikemudikan oleh salah satu anak buah Ken.
*
Sebelum memacu motor ke lokasi penculikan, Ken sudah menginstruksikan Virza untuk mengoperasikan Yacht-nya yang berada di dermaga 2, Pelabuhan Tanjung Priok.
__ADS_1
Ken berencana mempersiapkan back-up pasukan yang mungkin diperlukan. Rupanya dugaannya meleset, bukannya serangan mematikan dari para preman yang harus di-back up, malah, operasi penyelamatan dari kebakaran. Ledakan pondok sungguh di luar perkiraan. Beruntung, anak buah Ken bergerak cepat. Ken dan Celina pun berhasil selamat.
Ferdi tak ingin membuat keributan dengan Grup Tang, sehingga, para pengawalnya tidak ada yang berusaha untuk menyakiti Ken dan Celina. Misi mereka hanya untuk mendapatkan kembali map merah.
*
"Kita menuju ke Pulau Sembunyi," perintah Virza pada nahkoda Yacht, yang dibalas anggukan oleh pria tua itu.
Pulau Sembunyi adalah pulau kecil di kepulauan seribu yang luasnya tak sampai 2 hektar. Pulau itu dibeli Ken beberapa tahun yang lalu sebagai markas rahasia. Ia kemudian membangun sebuah mansion yang mirip dengan mansion mendiang ibunya di Kanada.
"Akh.. Kepalaku," desis Celina setelah terbangun dari tidurnya.
"Hai, Lin. Kamu sudah bangun?" tanya Ken yang sedang meracik kopi di sebelahnya.
"Ken! Kita dimana?" tanyanya terheran. Ia mengamati sekitarnya yang bergoyang namun penuh dengan perabot mewah dan bersinar. Lehernya juga tampak diberi penyangga, jadi ia susah bergerak.
"Kita ada di kapal," jawab Ken.
"Ya? Kapal siapa?"
"Ada pelaut yang baik trus nolongin kita kemarin. Sekarang kita dikasih tumpangan, deh," ujar Ken berbohong. Ken masih belum bisa mengungkap jati dirinya sebelum rencana balas dendamnya berjalan sempurna.
"Oh.. Begitu... "
Celina bangkit dari ranjang meski agak tertatih. Ia lalu mendekat ke arah Ken. Celina lantas meraih pinggang Ken yang sedang tak memakai apapun kecuali celana dan perban yang membalut sekujur tubuhnya. Celina mengusap tubuh itu dengan iba. Ia merasa bersalah telah menyebabkan Ken melalui semua ini hanya untuk menyelamatkan dirinya. Padahal, yang terjadi adalah sebaliknya, Celina yang menjadi korban, bukan Ken. Namun, tentu saja Celina tak mengetahui rahasia itu.
"Maaf," ujarnya.
Namun, sedetik kemudian, ia mulai meraba tubuh suaminya.
"Lin?" Ken terkejut tak percaya, istrinya melakukan hal itu.
"Ssshhh...." Celine mulai menciumi dada Ken yang bidang dan sedang dibalut perban.
"Tolong jangan menyesal, ya," merasa mendapat undangan, Ken bersiap menyerang. Ia lantas menggendong tubuh istrinya untuk dibaringkan di tempat tidur. Ken mulai menarik dagu istrinya itu dan ******* bibir ranumnya. Hasrat yang selama ini ditahan, akhirnya tumpah juga. Ken menyerang Celina seperti binatang buas yang sedang menerkam mangsa.
"Akh.. Akh... Hmppph... "
Celina tak mampu melawan. Ia tenggelam dalam kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ken memandu langkah agar istrinya dapat mengikuti dengan indah. Tubuh mereka yang sudah terikat janji pernikahan sejak lama, akhirnya menyatu jua. Malam pertama mereka rupanya berganti menjadi pagi pertama. Teriknya mentari pagi ini, bukanlah musabab dua sejoli itu basah oleh keringat.
"Aku mau kamu selamanya, Lin," ujar Ken yang sedang berada di puncak kenikmatan. Mereka pun terkulai lemas setelah puas bermain cinta. Ken dan Celina akhirnya merasakan kehidupan suami istri yang sesungguhnya. Perasaan yang tulus untuk Ingin selalu bersama dan saling memiliki.
*
Tok
Tok
"Bos... "
Virza mengetuk bilik kamar mereka. Celine yang masih terbaring di tempat tidur, tak mendengar ketukan pintu. Ken yang sudah terbangun, buru-buru mengenakan celananya dan menghambur ke arah Virza. Ia mendelik ke arah anak buahnya itu supaya menghentikan kebiasaannya memanggil dirinya sebagai bos.
__ADS_1
"Oh iya.. He.. He... " Virza meringis tanpa rasa bersalah.
"Kenapa?"
"Pak. Kita sudah sampai di pulau,"
"Okay, 5 menit,"
Ken lalu membangunkan Celine dengan kecupan lembut, dan memberitahunya bahwa mereka harus bersiap untuk turun ke dermaga. Tak lama kemudian, Celine dan Ken keluar dari Yacht yang cukup mewah itu. Celine tampak menikmati perjalanan singkat bersama suaminya, meski tak terduga. Ia juga masih bisa merasakan panasnya kamar mereka seperti kamar pengantin baru.
"Pelan-pelan, Nyonya," goda Ken yang sedang mengulurkan tangan ke arah istrinya. Celine menyambut uluran tangan itu untuk membantunya menuruni tangga yang menghubungkan yacht dengan dermaga.
Keadaan fisik Ken dan Celine masih belum cukup prima, namun, mereka bisa bergerak normal, baik untuk berjalan, maupun melakukan aktivitas lain yang tidak terlalu berat. Mereka berjalan ke arah mobil jemputan sudah menunggu di dermaga.
"Silakan, Tuan, Nyonya," sapa sopir itu kemudian mulai mengemudi. Virza tampak berada di samping sopir dan berpura-pura menjadi majikan baik yang baru saja menemukan mereka berdua.
"Makasih, ya. Pak Virza. Sudah menolong kami berdua. Kami akan membals budi," ujar Celina ramah. Ken terkikik dalam hati. Virza tampak canggung.
"Ya. Sama-sama nyonya. Sudah seharusnya manusia saling membantu. Tidak perlu membalas budi," jawabnya sekenanya.
Mereka kemudian meluncur ke Mansion ken, yang merupakan satu-satunya bangunan di sana selain pos jaga milik pemerintah. Mobil melaju pelan menyusuri jalanan yang belum diaspal. Meski agak berguncang, para penumpang masih tetap dapat menikmati perjalanan, karena di sekeliling mereka tampak pemandangan alam yang masih asri.
"Bagus banget ya, Ken! Coba kita bisa kesini terus," Celina terpesona dengan keindahan Pulau Sembunyi. Ken merasa bangga.
'Ini adalah pulau milikmu juga, istriku, tentu saja kau bisa sering-sering kemari, selama-lamanya,' batinnya.
Namun, tentu tak dapat ia katakan. Virza sedari tadi tersenyum dalam hati melihat tingkah nyonya, sedangkan Ken tampak kikuk dan canggung karena tak bisa memamerkan kebolehannya.
"Kita sudah sampai, Tuan, Nyonya. Silakan..." Sopir menarik handrem dan mulai membukakan pintu sedan hitam yang tampak mahal itu. Sepertinya keluaran BMW terbaru.
Mereka bertiga disambut dengan baik di Mansion Ken oleh kepala pelayan dan beberapa asistennya, empat orang. Kepala pelayan menunjukkan kamar mereka, kemudian mempersilahkan bosnya untuk beristirahat. Virza tentu sudah memberitahu kepala pelayan supaya tidak membocorkan identitas Ken, begitu juga pada para asisten. Mereka mengerti, dan memperlakukan Ken serta Celina sebagai tamu kehormatan.
*
"Wah, kerjaanmu emang tokcer, Fer! Udah tante transfer ya... " ujar Velly gembira menerima map merah dari keponakannya, Ferdi.
"Jelas dong, siapa dulu," ujar Ferdi terkekeh sambil menyeruput wine yang sudah disiapkan Velly.
"Bagus-bagus, kerja kalian memang hebat. Istriku, apa yang kau inginkan?" tanya Gaus tak kalah girang.
"Berikan aku saham 1% lagi aja. Yaudah ya, aku mau pergi dulu, gausah ditunggu," Velly melambai ke arah suaminya. Sudah bisa dipastikan, ia mau kemana.
"Om, saya pamit juga ya," Ferdi juga menenggak wine yang sayang jika dibuang.
"Okay, ati-ati," jawab Gaus sambil menyalakan televisi untuk memantau perkembangan elektabilitasnya. Malam ini, ia harus tidur dengan baik. Esok hari, Gaus akan menghadiri acara penentuan calon walikota Jakarta Pusat. Gaus akhirnya dapat tidur dengan tenang karena skandal sabotase yang dapat menyeret namanya telah sirna. Map merah telah berada di tangan mereka.
Namun,
Siapa yang mengira, bahwa skandal itu memang akan terjadi?
...****************...
__ADS_1
(bersambung)