
<"Udah Loe selidiki?">
<"Sudah, Bos. Tapi keluarganya masih tidak bisa dihubungi">
<"Yaudah, nanti update terus kalo sudah ada kabar,">
Tut.
Sambungan telepon terputus.
Ken meletakkan gawainya di nakas yang ada dekat ranjangnya. Celina sedang pergi untuk rapat mendesak. Ken juga menyuruhnya untuk tak kembali ke sini jika pekerjaannya belum selesai. Ia kasihan melihat istrinya bolak-balik kantor-rumah sakit, padahal kondisi Ken tidak separah itu.
*
Setelah ditinggal sang istri, ruangan VVIP yang tadinya cerah menjadi suram. Nuansa kemewahan berbaur pekatnya desinfektan membuat kamar Ken menjadi begitu menyesakkan. Ia tak pernah merasakan hal itu sebelumnya. Dengan kehadiran Celina, semua terasa membahagiakan. Hati Ken menjadi hangat dan Wajah Ken yang sangar tak tampak menakutkan karena selalu menyunggingkan senyuman. Ah. Belum juga setengah hari, Ken sudah merindukan aroma melati bercampur kekayuan milik Celina yang biasa menyeruak dari balik jas kerja. Aroma itu begitu menenangkan ketimbang aroma therapy jenis apapun di dunia.
Malam sebelumnya memang panas. Interaksi antara Ken-Celina sebagai suami istri sudah tampak berbeda dari awal berjumpa. Pernikahan yang tak disengaja ini menjadi titik balik hubungan romantis bagi Ken dan Celina. Mereka berdua tak menyangka dapat saling berbagi kasih-sayang padahal sebelumnya tak punya. Kesibukan dunia kerja dan juga pencarian jati diri memberi tabir dalam hidup mereka akan cerita romansa.
Kisah cinta, adalah cerita yang asing, yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Hati Ken yang sering menbeku dan darahnya yang sering mendidih, tak mengenal kata hangat yang ditimbulkan oleh rasa suka dan cinta.
Rupanya,
__ADS_1
Rasa itu dapat mengubah perangai Ken menjadi lebih lembut dan menciptakan suasana hati yang sering bahagia. Ken sungguh tak bisa melepaskan Celina begitu saja. Kehadiran istrinya seperti rambu satu arah, dapat melaju ke depan tapi tak bisa putar balik ke belakang. Ken tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
*
"Gimana updatenya?" Celina berjalan beriringan dengan Jeff, mereka tampak serasi dengan jas kerja berwarna putih dan hitam yang memberi kesan formal. Setelan Celina, Jas Putih dengan celana bahan berwarna senada. Sedangkan, Jeff, selalu tampak kaku namun tetap menawan dengan setelan bernuansa gelap. Kali ini, Jeff memilih warna hitam karena jas warna lain sedang di-dry clean-kan.
"Kasus suapnya sudah ditangani KPK, Ma'am. Kali ini Pak Menteri ditahan. Jadi, tender masih di-hold dulu, karena PLT yang baru ditunjuk harus mereview semua tender yang tidak masuk dalam daftar hitam," jelas Jeff secara ringkas sambil tetap berada di sisi Celina. Mereka kemudian masuk ke ruang rapat dan mulai membahas soal rencana back-up pengadaan seragam batik di kementrian. Produk Fashion Rainbow Corp sedang melejitkan tema batik kontemporer, dan akan jadi item kebanggan untuk dipamerkan pada International show di Paris, tahun depan.
"PLT itu?" Celine mencoba mengingat-ingat singkatan yang biasa ia dengar, namun, otaknya tak mampu mengorek informasi mendalam tentang topik tersebut.
"Pelaksana tugas," sahut Jeff sambil menggelengkan kepalanya. Bosnya memang cerdas dan cekatan, namun pelupa. Tapi, di situlah fungsi Jeff sebagai sekretaris yang bisa selalu diandalkan Celina.
"Oh, right. Siapa PLT-nya sekarang?"
"Om Diki? Serius?" Celina memekik gembira. Pak Diki adalah adik dari ibunya. Celina yang didepak dari keluarga besar tentu tak tahu informasi terkini soal pamannya. Proses pemenangan tender akan menjadi lebih mudah, namun Celina tetap profesional dalam pekerjaannya. Ia tak ingin merebut kesempatan hanya karena kenal dengan penguasa.
"Good morning, everyone!" Celina akhirnya memasuki ruang rapat. Jeff mengekor di belakangnya dengan membawa tumpukan dokumen serta sampel kain batik yang akan dibahas pada rapat kali ini.
Semua ketua tim yang sudah menantj kedatangan bos mereka berdiri menyambut Celina dan Jeff. Seorang office boy tampak memasuki ruang lima detik kemudian dengan nampan berisi gelas-gelas kopi panas. Setelah membagi sama rata di tiap-tiap peserta, office boy itu pun undur diri dari ruang rapat. Celina kemudian baru bisa membuka rapat mendadak ini karena suasana sudah kondusif. Ia ingin segera melakukan rapat dengan cepat, agar agendanya selesai dan bisa kembali ke rumah sakit tempat suaminya dirawat. Celina tahu ia pasti akan sangat lelah, namun, hatinya tak bisa menolak desakan untuk segera bertemu dengan Ken.
Rapat dimulai dengan presentasi soal kasus suap menteri yang menyebabkan tender mereka sedikit terhambat. Celina lalu memaparkan perubahan linimasa yang harus mundur akibat force majeure. Ketua tim diharapkan bisa bekerja lebih keras untuk mengejar dateline sehingga keterlambatan ini tidak menyisakan kendala pada lini produksi. Celina akan mengusahakan deal kontrak secepetnya agar tim awal dapat bergerak dan kinerja mereka tak berantakan.
__ADS_1
*
<"Dek, kamu kapan keluar dari RS?">
Kakak Ken, Hilda, mendadak menelepon adiknya. Ada persoalan serius yang akan dibicarakannya. tapi, tak bisa lewat telepon.
<"Besok mungkin kak, aku juga harus mulai bekerja,"> sahut Ken sambil meregangkan tubuhnya. Sesekali ia melongok ke arah jam dinding dan mengedarkan pandangan ke arah pintu, menunggu kedatangan Celina. Padahal, dia sendiri yang melarang istrinya untuk sering-sering menjenguknya.
<"Okay, kalo gitu, kamu bisa ke Dark Cell, besok?">
<"Dark Cell?!! Why?"> Ken terhenyak kaget mendengar permintaan kakaknya.
Dark Cell bukanlah konter ponsel seperti yang ada di kampung-kampung dengan nuansa metal, lalu pilihan namanya akan dibubuhi imbuhan -cell yang merujuk pada singkatan cellphone alias telepon seluler, misalnya, Daffa Cell, Mirna Cell, atau Barokah Cell. Pokoknya, di era tahun 2000-an, setiap toko yang berjualan pulsa dan casing ponsel akan menjadi Anu-cell. Sayangnya, Dark Cell tidak termasuk.
Dark Cell merupakan sebutan dari penjara bawah tanah yang ada di kantor Hilda. Sebagai anak konglomerat, mereka tidak seratus persen percaya pada penegakan hukum yang bisa berubah-ubah sesuai mood penguasa. Dendam kesumat dan kepraktisan menjadi cikal bakal lahirnya penjara rahasia yang dikelola secara mandiri oleh mereka.
Ken tentu saja kaget dan heran mengapa kakaknya mengundangnya ke tempat seperti itu. Ada apakah gerangan?
Ken tidak mendapatkan jawaban. Kakaknya bersikeras mengajaknya untuk datang dan melihat sendiri paket rahasia yang telah disiapkannya di sana.
Apakah yang sedang disiapkan kakaknya?
__ADS_1
...****************...
(bersambung)