PREMAN CEO

PREMAN CEO
Hide and Seek


__ADS_3

Laju motor menderu pelan di pelataran KSP Amanah. Lapangan parkir KSP yang tidak terlalu padat membuat suasana cenderung lengang, meski masih pada jam pulang kerja. Tiga orang pegawai koperasi tampak beranjak dari pintu kaca, salah seorang dari mereka membalik papan akrilik yang bertuliskan "OPEN" sehingga tanda "CLOSED" yang terbaca. Pria yang pulang terakhir itu pun mengunci pintu dengan onggokan kunci yang sangat banyak, entah berisi anak kunci apa saja hingga mengeluarkan bunyi gemerincing layaknya penari remo yang sedang manggung.


"Pak, duluan ya!"


"Dadah, Pak Breng!"


Terdengar beberapa pegawai yang lebih muda pamit kepada pria pengunci yang memang tampak sebagai pegawai tertua di sana. Pria itu melambai sambil tersenyum. Ia kemudian menuju ke tempat parkir dan mulai menaiki motornya.


"Lho, Mas. Mau ke KSP, tho?"


Laju motornya terhenti ketika melewati Ken. Kaca helm yang awalnya menutup, ditariknya ke atas agar penglihatan menjadi jelas.


"Enggak, Pak. Cuma numpang lewat aja," sahut Ken seadanya.


"Ooo.... Yawes, Soalnya udah tutup, Mas. Besok baru buka lagi jam 9," jelas Pak Hoegeng atau yang biasa dipanggil Pak Brengos--karena kumisnya sangat lebat seperti suami Inul Daratista. Pak Hoegeng merupakan manajer koperasi yang seharusnya anak buah Ken, tapi ia tak tahu. Bos yang ia ketahui adalah Bos Hafiz (Kepala Koperasi) dan Bos Virza (Direktur).


"Enggeh, Pak. Terima kasih atas informasinya," Ken melambai ke arah Pak Hoegeng yang kemudian mengangguk dan men-starter motornya kembali,


"Bos!"


Virza berlari ke arah Bosnya. Ia sangat gembira melihat keadaan Bosnya yang sehat dan sudah bisa beraktivitas seperti sedia kala.


"Bre!" sahut Ken tak kalah senang. Mereka saling mengamati keadaan diri masing-masing dan menepuk-nepuk lengan satu sama lain seakan bangga karena sudah bertahan hidup. Mereka tak menyangka bisa tersenyum kembali meski telah mengalami insiden mematikan yang membuat tulang dan daging remuk redam.


"Mari, Bos... " Ajak Virza yang sudah menyiapkan SUV hitam pekat tak jauh dari tempat mereka berdiri. Kedua pria itu lalu melanjutkan pembicaraan di Gelanggang KSP yang lokasinya tak jauh dari sana. Ken sekalian ingin sparring tinju bersama Virza. Badannya kaku semua karena hanya berbaring saja tanpa berolahraga. Virza menyambut usul bosnya dengan mata berbinar. Ia pun menantikan peluang memukul K.O. pria yang tak pernah kalah itu.


*


Matahari telah bergeser ke arah barat. Sore hari telah hadir kembali. Senja yang indah bagi kebanyakan orang Jakarta, karena dengan hadirnya senja, maka jam kerja mereka juga akan segera sirna.


Hilda yang pamit pada Ken untuk rapat dengan pihak kementerian, baru saja hendak kembali ke kantornya. Rapat mereka terbilang cukup singkat, karena berlangsung sejak siang hingga sore hari saja. Plt Menteri yang baru juga kooperatif serta tepat waktu, tidak seperti pendahulunya yang sering terlambat dan mengulur-ulur waktu supaya tampak 'sedang bekerja'.

__ADS_1


Bagi pegawai negri, durasi lama dalam bekerja adalah prestasi, namun berbeda halnya dengan pengusaha. Bagi mereka, efisiensi dan ketepatan waktu adalah hal utama. Jika pekerjaan bisa selesai dengan cepat, tentu akan sangat membantu pekerjaan lanjutan mereka. Kesibukan tiada henti pengusaha menuntut mereka untuk dapat menyusun rencana dan mengatur waktu sebaik-baiknya.


Hilda berharap masih bertemu dengan adiknya, namun sepertinya tak mungkin. Ken adalah tipikal anak yang tak bisa diam. Begitu mendapatkan informasi soal alamat Dito--target operasinya, tentu saja Ken akan bergerak dan menyelidiki rumahnya. Saat ini, Ken pasti sudah berada di lokasi antah-berantah yang hanya diketahui olehnya dan Tuhannya saja.


"Fyuh... "


Hilda menarik napas panjang karena membayangkan hal yang tidak-tidak. Romy menyodorkan energy bar dan bersiap mengantarkannya kembali ke Kantor Royal. Mereka berdua tengah berjalan ke area parkir, namun berpapasan dengan Celina, secara tiba-tiba.


"Celina?" sapa Hilda terkejut dan senang bisa bertemu adik iparnya.


"Oh... " sahut Celina yang tampak tidak senang bertemu Hilda. Hilda terkikik dalam hati mengingat kesalahan-pahaman yang sudah tercipta, namun ia berpura-pura tenang. Romy--sekretasinya tampak bingung.


"Rom, kenalin ini Celina, ISTRINYA Ken," Hilda memperkenalkan Celina pada Romy. Pria itu mengangguk dan memahami maksud Hilda agar tak membocorkan identitas adiknya. Hilda juga menekankan poin 'ISTRI' supaya enak didengar Celina yang sudah salah paham. Wanita itu pun berdehem dan menyodorkan tangan ke arah Romy.


"Panggil aja Lina," ujarnya kemudian.


"Halo, saya Romy, sekretaris Bu Hilda," sahut Romy menerima uluran tangan Celina.


"Habis meeting di sini juga?" tanya Hilda memecah kesunyian.


"Oh, iya. Tadi diundang Plt menteri yang baru," sahut Celine, lalu mengeluarkan kartu nama dan memberikannya pada Hilda dan Romy. Hilda juga melakukan hal serupa. Etiket dasar seorang pengusaha adalah saling bertukar kartu nama, agar obrolan mereka dapat bersambung sebagai pembukaan potensi kerjasama bisnis.


Informasi soal nama, jabatan, nomor kontak dan alamat tersedia dalam sebuah kartu nama. Betapa efisiennya hal itu. Seseorang tak perlu menjelaskan diriya dengan berbusa-busa dan tidak canggung jika menjabat sebagai pimpinan perusahaan. Akan terdengar aneh dan sombong jika mengatakan posisi pemilik atau direktur kepada orang asing yang belum pernah diajak bicara. Informasi yang didapat dari kartu nama, akan dengan jelas menyebutkan posisi karier tanpa harus ada prasangka karena tertulis apa adanya.


"Nice to meet you, Lina. Sayangnya, kami harus pergi. Semoga lain waktu kita bisa ngobrol, ya?" Hilda menerima kartu nama Celina dengan hati gembira. Ia jadi memiliki nomor kontak adik iparnya tanpa harus bertanya pada Ken.


"Yes, nice to meet you, too. Kabar-kabar aja, ada nomor ponselku di situ," jawab Celina. Suasana hatinya membaik. Rupanya Hilda tidak semenyebalkan dugaannya. Mereka pun berpisah jalan. Hilda dan Romy menuju ke area parkir, sedangkan Celina malah ke arah jalan raya. Hari ini, Celine tidak membawa mobil karena masih harus pergi ke tempat rapat lainnya. Ia akan dijemput oleh Jeff dan mereka akan melaju ke Jakarta Utara.


DKI Jakarta terdengar seperti wilayah yang dekat satu sama lain, karena setiap daerah berawalan dengan kata JAKARTA. Jika letaknya di utara, maka nama daerahnya adalah JAKARTA UTARA. Jika letaknya di selatan maka dinamai JAKARTA SELATAN. Orang luar Jakarta seakan iri dengan ibu kota yang terlihat dekat satu sama lain, sehingga, orang-orang dapat dengan mudah bepergian kemana saja. Mereka lupa, DKI Jakarta adalah sebuah provinsi dan memiliki luas 661,5 kilometer persegi. Wilayah DKI Jakarta juga memiliki 5 kota administratif, yakni Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara. Setiap kota administratif tersebut terdiri dari beberapa kelurahan dan kecamatan. Total jumlah kelurahan dan kecamatan di DKI Jakarta adalah 267 kelurahan dan 44 kecamatan. Jadi, tidak berlebihan jika orang jakarta akan menolak diajak bertemu oleh temannya yang berada dari luar jakarta jika mereka ada di kota administratif yang berbeda. Jam kantor yang melelahkan, ditambah arus lalu lintas padat, akan membuat mual seseorang yang diajak bertemu tiba-tiba.


*

__ADS_1


Bbbrrmm...


Sebuah mobil jemputan sudah tiba di hadapan Celine. Wanita itu masih sibuk mengetik pesan untuk Ken yang mengatakan bahwa ia akan pulang terlambat karena ada meeting dadakan di Ancol.


Mendengar deru mesin mobil si hadapannya, Celine mendongakkan kepala.


"Wait, Rom..." Ujar Celina lalu memasukkan ponsel ke sakunya. Mobil yang terparkir di depannya agak asing, karena bukan sedan. Sejak kapan Romy berganti mobil sebesar ini?


Ketika pintu digeser, Celina langsung disambar masuk ke dalam. Kaca mobil tampak gelap, di luar dan di dalam. Benar-benar kaca yang sempurna untuk mobil yang bisa menculik orang!


"HMMMPHHH...HMMPHHHHH.... "


Celina meronta-ronta karena sadar sedang tidak berada di mobil yang benar. Tubuhnya dikunci oleh dua pria besar. Salah seorang pria menekan mulut dan hidungnya dengan sapu tangan yang telah basah oleh cairan bius. Tipikal penculikan yang ada di televisi. Cara yang klasik namun efektif, karena korban yang diculik tanpa dibius hanya akan menyulitkan pengemudi mobil yang sedang berkonsentrasi menghindari kecurigaan. Tak butuh waktu lama, Celina tertidur akibat efek bius yang dihirupnya. Para penculik pun bisa santai sejenak sambil mengabari bos mereka.



*


DDRRRRRTTT


Ferdi menerima pesan di ponselnya. Ia menyunggingkan senyuman dan mengabari tantenya, Velly Tanoesoeroyo.


<"Halo, tante? Udah beres. Jangan lupa uang jajannya">


Tut.


...****************...


(Bersambung)


...****************...

__ADS_1


__ADS_2