PREMAN CEO

PREMAN CEO
Celina à Paris (2)


__ADS_3

Agenda kerja hari ini telah selesai. Celina bersiap untuk segera pulang, mungkin, ia akan mampir sebentar ke Bar. Namun, ia lupa bahwa hari ini ia sedang membawa mobil, tidak mungkin jika menyetir sambil mabuk. Celina akhirnya mengurungkan niatnya dan segera pulang lalu menonton film saja di rumah sambil meminum bir dingin. Cathy tentu saja sudah berada di rumah, karena hari sudah cukup malam. Gadis SMA itu telah terbiasa hidup mandiri karena kakaknya memang sibuk bekerja. Celina yang belum makan, berniat membeli makan malam dalam perjalanannya kembali ke rumah.


Celina keluar dari kantor dengan rasa lega karena rapat hari ini berjalan baik. Ia memutuskan untuk membuat desain gaun baru setelah jam kerja, agar di pertemuan berikutnya dapat langsung diajukan pada pihak sponsor. Dengan langkah ringan, Celina menuju ke area parkir mobil. Ia lantas masuk dan mencoba menghidupkan mesin mobilnya.


Zzrrttt...


Zzrrrtt...


"Loh, loh? Kenapa ini?" Celina terkejut menyadari mobilnya tak bisa dihidupkan. Ia mencoba sekali lagi, namun, hasilnya sama saja. Celina kemudian melihat ke arah jarum indikator bensin yang ada di hadapannya. Jarum itu menunjukkan huruf E berlogo merah. Celina menepuk jidatnya dengan keras. Bagaimana bisa ia lupa mengisi tangki bensin? Kegelisahan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, saat ia menyadari, bahwa tidak ada pompa bensin di sekitar gedung.


"Bodohnya, aku. Kenapa tadi nggak ngecek dulu. Huh!" gumam Celina dengan kecewa. Dia harus menemukan pom bensin terdekat, atau pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Celina kemudian memutuskan untuk berjalan kaki saja ke stasiun Metro terdekat, hanya 200 meter. Ia menelepon Fiona agar mengatur keamanan untuk mobilnya yang terparkir di area gedung, dan memanggil teknisi esok agar dapat menghidupkan kembali mobilnya.


Celina mulai berjalan ke arah stasiun Metro terdekat. Hari sudah semakin malam. Waktu menunjukkan pukul 23:00 WIB. Celina tidak dapat meninggalkan kebiasaan untuk terus bekerja meski jam kerja telah habis. Celina tetap melangkah dengan langkah yang sedang, tidak terlalu cepat, ataupun lambat. Namun, tak disangka, di halte depan yang lampunya sangat temaram, ada segerombol pria yang merokok dan tampak sedang menenggak minuman keras.


Perasaan Celina tidak enak, firasatnya buruk. Namun, kepalang tanggung, Celina memutuskan untuk melewati gerombolan itu dengan tenang. Hanya tinggal beberapa meter saja, Ia sudah sampai di stasiun Metro terdekat. Jika harus berbalik arah, Celina takut tidak akan mendapatkan kereta terakhir hari ini karena malam sudah sangat larut. Celina memberanikan diri untuk tidak menarik perhatian para pria itu. Celina mencoba berjalan dengan ringan dan cepat, tanpa menimbulkan suara. Sayangnya, aroma tubuhnya tak dapat menghindari ketertarikan lawan jenis. Dengan bahasa Perancis dan dalam pengaruh alkohol, gerombolan pria itu mulai menggoda Celina.


"Wah, wangi banget,"


"Eh, ada cewek, bro!"


"Suiiiit.. Cewek.. Godain kita dong,"


Celina tidak menghiraukan mereka. Ia mempercepat langkah agar segera sampai ke tujuan. Salah seorang pria secara nekat mengejarnya karena merasa terprovokasi.

__ADS_1


"Eh, sombong banget! Sini Lo! Ayo main-main ama kita,"


Pria itu menarik jas Celina yang berada dalam jangkauannya. Ia lantas menyeret Celina agar mendekat, gadis itu berteriak minta tolong namun tidak ada yang mendengar karena jalanan sedang sepi. Celina kemudian menyikut rusuk pria itu kemudian berlari sekuat tenaga.


"Kurang ajar! Kejar!!" perintahnya pada sesama rekan yang sedang mabuk. Mereka mulai berderap mengejar Celina yang tampak seperti kelinci yang hendak diterkam sebagai mangsa.


Gadis itu mempercepat larinya sambil berdoa, semoga ada orang yang lewat, lebih baik lagi, polisi yang sedang patroli. Namun, harapannya sia-sia. Jalanan masih sepi, tidak ada seorangpun yang tampak. Hal ini berlanjut hingga ke tikungan terakhir yang sedang dipalang karena perbaikan jalan. Jika ingin sampai ke stasiun Metro, Celina harus berjalan memutar ke jalan lainnya. Celina merutuk kesal. Ia kini terjepit. Segerombolan pria itu sudah menghadang jalan kembalinya. Celina tak dapat pergi kemana-mana.


"Go Away!!! Or I will scream!" Ancam Celina menakuti para pria itu. Mereka bukannya takut, malah terkekeh.


"Teriak aja, manis. Siapa yang mau denger? Orang udah malem," cetus salah seorang dari mereka dengan bahasa Perancis yang tak dimengerti Celina.


Tubuh Celina bergetar menahan tangis. Namun, Ia tak ingin terlihat lemah. Celina sebisa mungkin membendung airmatanya yang hendak tumpah.


"Let me go!" Tukas Celina sambil menepis tangan pria yang sedang ingin merengkuhnya seperti beruang lapar.


"Ayolah, sayang... Kemarilah," pria itu tak langsung menyerah, kali ini ia merangkul Celina seperti sedang mengunci lawan. Celina memberontak namun tak dapat bergerak. Tubuh kecilnya kalah besar dengan otot pria mabuk yang sedang melingkarkan lengannya itu.


"Let me go!!" teriak Celina terus menerus, namun tak ada yang mendengar. Para pria kemudian mendekat ke arah Celina yang tak berdaya dan hendak menggilir gadis malang itu.


Namun, tiba-tiba, seorang pria mendaratkan tinju dan tendangan ke arah mereka.


Bughhh!

__ADS_1


Buggh!!


Dassssh!


Dashhh!


"Jean-foutre!" tukas pria tersebut setelah menghajar pria-pria mabuk yang hendak melukai Celina tersebut.


"Connard!" balas seorang pria yang telah bangkit dan balik meninju pahlawan Celina itu.


Perkelahian pun tak terelakkan. Celina yang sedang terkulai lemas, tak dapat melarikan diri. Ia mematung di tempat kejadian. Pria misterius yang sedang bertarung melawan preman itu, tak menghiraukannya. Ia fokus melumpuhkan enam pria kurang ajar yang hampir merenggut kehormatan Celina. Setelah dirasa cukup, pria itu menghentikan tinjunya. Ia lantas mendekat ke arah Celina dan membopongnya agar dapat segera beranjak dari tempat tersebut. Enam pria yang sedang terkapar akibat pukulan dan mabuk alkohol, dibiarkan begitu saja di tengah trotoar.


Celina yang sedang berada dalam shock berat, tak mampu bergerak. Ia tak lagi meronta dalam rengkuhan pria yang telah menolongnya. Celina mendekatkan wajahnya ke bahu bidang pria tersebut dan menikmati ayunan langkah tegap dan teratur dalam dekapannya.


Pria itu lantas berjalan pelan sambil membopong Celina ke parkiran mobil di seberang jalan. Terlihat, sebuah sedan hitam tengah berkedip-kedip menunggu pemiliknya datang. Namun, baru hendak memasukkan Celina ke dalam mobil, langkahnya terhenti akibat hadangan pria lain yang merasa mengenal Celina dengan baik.


"Lâchez la fille!" teriaknya dengan mata semerah lahar gunung berapi. Tinjunya terkepal siap untuk dihempaskan.


...****************...


...Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2