
Ken tertegun tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dito Narendra. Anak bulat berponi yang pernah ia selamatkan dari perundungan teman-teman sekelasnya. Mengapa anak ini malah berbalik menyerangnya? Bahkan, hari itu juga setelah lepas dari cengkeraman geng SMA? Ken benar-benar tak habis pikir.
"Kak, bisa buka sel ini?" tanyanya pada Hilda. Wanita itu menggeleng. Ia tak ingin tahanannya kabur karena sulit sekali melacak dan menangkapnya. Meski badannya gendut dan jalannya lambat, Dito cukup cerdik dan jago mengelabui orang-orang yang membuntuti.
"Tolong, Kak. Aku perlu bicara dari dekat dengannya,"
"Gabisa emangnya dari situ aja?"
"Gak kak... Aku harus duduk di sebelahnya dengan santai, ada banyak hal yang harus diobrolin," ujar Ken memelas. Hilda tampak berpikir sejenak. Lalu mengamati rantai di tangan dan kaki Dito yang masih terpasang. Ia lalu memanggil penjaga Dark Cell dan menyuruhnya melepaskan anak itu untuk dibawa ke ruang lain yang ada di dekat sana: Ruang Interogasi.
Penjara Dark Cell memiliki dua pintu, satu pintu terhubung dengan kantor Hilda, pintu lainnya, merupakan akses utama yang letaknya di gorong-gorong bangunan sebelah Gedung Royal. Hilda membeli lahan kecil yang dijadikannya tempat rahasia untuk mengurung orang-orang yang jahat pada keluarganya. Meski hal ini ilegal, ia tak peduli. Orang jahat harus mendapat hukuman setimpal dan tidak boleh dimaafkan. Hilda adalah wanita yang keras dan kejam bagi musuh-musuhnya, namun, berbeda jika berinteraksi dengan keluarganya, terutama adiknya. Ia sangat hangat dan penyayang, karena Hilda yang membesarkan Ken sebagai pengganti ibu mereka.
Ken dan Dito kini berada di ruang interogasi yang terletak tak jauh dari tiga bilik sel tahanan. Ken mengamati Dito yang berpenampilan lusuh serta penuh bau tak sedap. Ia lalu menggeser kursinya ke samping Dito, dan mulai bertanya kepadanya.
"Salah apa kakak ke kamu, Dito?" Ken tak dendam, meski pernah dilukai oleh Dito. Bagi Ken, luka hanyalah bukti perjalanan hidupnya. Bukan masalah yang harus dibesar-besarkan. Ia sangat penasaran dengan keputusan Dito untuk menusuk perutnya. Bagaimana seseorang yang takut dengan teman sebaya, bisa nekad melukai orang yang lebih tua darinya? Lebih-lebih, Ken juga jago bela diri, hanya agak lengah waktu insiden penusukan itu terjadi. Jika ia tak lengah, bisa-bisa, Dito menjalani misi bunuh diri karena bakal dia yang ganti tertusuk, bukan Ken.
Dito masih terdiam.
Ken tak bisa membujuknya.
"Tolong, kasih kakak clue, ya? Kakak minta maaf jika ada salah ke kamu," ujar Ken yang membuat Hilda kesal.
"Kamu apa-apaan, Dek? Kenapa kamu yang minta maaf?" sentak Hilda. Ken hanya tersenyum dan berkata, "Mungkin aku ada salah yang tak sengaja ke dia, kak.... "
Hilda tetap tak setuju dengan perlakuan Ken ke tahanannya. Ken lalu menutup pintu bilik interogasi itu dan menyuruh kakaknya untuk kembali bekerja. Hilda awalnya menolak, tapi hari ini ada meeting penting untuk membahas pelantikan PLT Menteri Kebudayaan, karena Mentri yang menjabat baru saja ditangkap KPK atas kasus suap pengadaan seragam ASN.
"Yaudah, kakak pergi dulu. Tapi kamu jangan macam-macam ya... " ancam Hilda. Ia takut adiknya bertindak bodoh dengan melepaskan tahanannya. Ken mengangkat jempolnya dan menghalau kakaknya yang seperti sapi ngamuk itu supaya kembali ke ruang CEO.
"Tatto!"
__ADS_1
Ken yang masih mengusir kakaknya, terkejut pada suara yang baru saja berteriak ke arahnya. Dito akhirnya berbicara.
"Ya? Tatto kakak? Kenapa?"
Ken menunjukkan tatto naga yang berada di pergelangan tangannya. Tatto itu dibuatnya ketika masih SMA, tanda kenang-kenangan ketika pulang kampung ke Tiongkok bersama Hilda.
"Kamu pembunuh kakakku," desis Dito dengan tatapan tajam. Amarah dan dendam terpancar dari pandangannya. Sikapnya yang tenang dan dingin mengindikasi bahwa Dito bukan tipe orang yang sembarang bertindak. Lebih cenderung ke arah psikopat. Semua hal berbahaya pasti sudah matang dipikirkannya.
"Kakakmu? Siapaaa???" Ken tak bisa mengingat orang-orang yang pernah dipukulinya. Apakah pria dari Black Venom? Ataukah teman masa kecilnya? Ken tidak bisa menghitung siapa saja yang pernah adu-jotos dengannya.
Dito terdiam kembali. Ia mengetuk-ngetuk kakinya. Gemerincing rantai besi yang menjerat di kanan-kiri mengikuti irama ketukannya. Dito lantas tersenyum sinis ke arah Ken. Ia seakan tak mempercayai respon dari pria pembunuh itu.
"Dito.... Tolong jangan berbelit-belit. Kalau kakak salah, kakak siap tanggung-jawab," janji Ken.
"Oh, benarkah? Hidupkan lagi kakakku," tukasnya. Ken menepuk jidatnya dan memijat keningnya dengan keras. Kali ini, apa yang harus dia lakukan?
"Dito... Please.... " Ken memohon. Digeretakkan gigi-giginya, setelah ini, sepertinya kesabaran Ken akan habis.
Ken terpaku, ia kehabisan kata-kata. Wanita yang telah memfitnahnya, adalah kakak Dito? Ken tak bersuara untuk beberapa saat. Rasa sakit akan pengkhianatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tak pernah memaafkan wanita itu dan juga orang-orang yang telah mempermainkannya.
"Apa kau tau kebenarannya?" Kali ini Ken tersenyum sinis ke arah Dito. Korban? Siapa korban di sini? Siapa pembunuh yang dimaksud? Ken adalah korban selamat, sedangkan kakak Dito adalah korban yang sudah tewas. Pelakunya? Tentu saja orang yang merancang skema menjijikkan itu.
"Kebenaran bahwa kau pembunuhnya??????" Kali ini Dito berteriak dengan mata memerah. Ia menyimpan dendam yang sangat lama terhadap pembunuh kakaknya. Karena kematian kakaknya, hidupnya jadi makin menderita. Ibunya yang tidak bekerja harus banting tulang menjadi pengumpul rongsokan, dan keluarga Dito menjadi lebih miskin dari biasanya karena masih harus tetap membayar hutang yang ditinggalkan kakaknya.
Ken menghela nafas panjang. Ia tak bisa menyalahkan remaja labil yang ada di hadapannya. Sudah pasti anak itu hanya akan mempercayai apa yang ia lihat di berita. Mana mungkin ia mengerti teori konspirasi ataupun jebakan fitnah yang sudah dirancang orang lain untuk mereka berdua?
"Dito... Kakak paham kamu sakit hati Tapi itu bukan salahku," jawab Ken dengan mimik serius. Dito meludah ke arahnya dan tak mempercayai satu pun perkataannya. Penjaga sel yang melihat kejadian itu merangsek masuk dan hendak menamparnya, namun dilarang oleh Ken. Ia mengelap bekas ludah Dito dan membisikkan sesuatu padanya. Dito kemudian diam tanpa menjawab. Ia kembali tenang.
"Udah pak, bawa dia balik," perintah Ken pada penjaga Dark Cell. Dito digelandang kembali ke sel tahanan tadi. Kali ini, Dito tak meronta ataupun meminta untuk dilepaskan. Sepertinya ia menunggu pembuktian dari kata-kata yang baru dibisikkan Ken padanya.
__ADS_1
*
"Kak, nanti malam lepasin Dito ya, kasian anak orang," pinta Ken pada kakaknya, setelah keluar dari Dark Cell. Kini ia berada di ruang kantor Hilda lagi.
"Enak aja!" Hilda menolak.
"Tenang deh, kak, aku punya paket yang lebih bagus nanti," Ken mencoba bernegosiasi. Hilda memicingkan matanya, mencoba menganalisis perkataan adiknya, apakah ia sedang berbohong atau tidak.
"Beneran?"
"Sumpeeehhhh... "
"Baiklah.... " Hilda akhirnya menyerah.
"Minta alamat Dito tapi ya, aku mau mengecek sesuatu... "
"Okay," Hilda menuliskan alamat kontrakan yang ditinggali oleh Dito dan Ibunya di daerah Depok, Jawa Barat.
"Thanks, Kak.... See you!"
Ken mengecup pipi kakaknya lalu meluncur ke luar gedung dan menaiki ojek motor untuk sampai ke lokasi targetnya.
Kali ini,
Nama baik Ken akan segera pulih kembali.
...****************...
(Bersambung)
__ADS_1
...****************...