PREMAN CEO

PREMAN CEO
Destinée


__ADS_3

Cathy melihat ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tidak ada tanda-tanda kehadiran kakak-kakaknya.


"Huvvv.... Ngantuk," gumamnya sambil mengerjapkan mata. Biasanya, Cathy akan tidur lebih dulu tanpa menunggu Celina, karena, kakaknya itu sering pulang dalam keadaan mabuk. Kali ini, Cathy ingin mengetahui perkembangan hubungan diantara keduanya, jadi ia menahan kantuk dan menunggu Celina dan Ken pulang. Cathy sengaja tidak menelepon karena tak ingin mengganggu kencan mereka. Ia akan bersabar menunggu para pasutri itu untuk kembali ke rumah.


Sudah dua jam lamanya Cathy menunggu, kali ini, ia tak dapat menahan kantuk yang kembali menyergap. Cathy tertidur sebentar di sofa tengah, namun, kemudian, deringan telepon, membangunkannya.


<"Halo?">


<"Cathy... Hiks... Hikss.... ">


Dug.


Ponsel Cathy jatuh ke karpet. Ia terkejut dengan kabar dan tangisan parau yang terdengar dari seberang telepon.


Gadis itu segera menyambar mantel tebal yang ada di gantungan, dan menekan tombol 'order' pada aplikasi uber setelah mencocokkan lokasi tujuan. Cathy kemudian turun ke lantai dasar dan berlari menuju ke pintu keluar sambil menunggu taksi daring-nya datang.


*


Derap langkah menggema di koridor rumah sakit yang lengang. Hari sudah akan berganti, Cathy masih belum sempat tidur dengan benar. Ia lantas berlari menuju ke kamar mayat 401 yang ada di lantai 4.


Brak!


Pintu terbuka lebar dengan sedikit guncangan. Beberapa sanak keluarganya tampak berkumpul di ruang jasad.


"Papa..... "


Cathy menghambur ke arah ranjang mayat. David dan Ellijah tampak menundukkan wajah mereka, lantas mendekap Cathy yang baru saja datang. Ellijah--kakak iparnya, memeluk Cathy dengan perasaan sendu, pun dengan David. Mereka lantas saling menguatkan satu sama lain dan mengantarkan ayah mereka ke peristirahatan terakhirnya.


Keluarga Tanoesoeroyo yang bangkrut, sudah beberapa bulan ini pindah negara untuk memulai kehidupan yang baru. Presdir Tanoesoeroyo yang terkena stroke, dirawat intensif di Rumah Sakit terkenal di Paris. David dan Ellijah yang biasa bepergian, kali ini sudah menetap dan merawat orang tua mereka, sembari menyelesaikan konflik hukum yang ada. David akhirnya mengambil keputusan untuk menjual Grup Tanoesoeroyo dan menggunakan sebagian uangnya untuk menyelesaikan kasus, serta sebagian lainnya untuk membuka usaha baru di luar negri. David memiliki koneksi yang cukup luas di Perancis, Ellijah juga sangat menyukai mode. Mereka akhirnya membuka bisnis produksi kain tenun bergaya Eropa, yang hampir mirip dengan konsep Celina, namun tentu beda gaya. Keluarga Tanoesoeroyo pun memulai hidup baru di kota seribu cinta ini.


Bersamaan dengan meninggalnya presdir, tentu saja ibu mereka menjadi janda. Tak tampak kehadiran ibunya di kamar mayat. Ellijah bilang, ibunya pingsan dan sedang dirawat.


"Celina mana?" tanya David kemudian. Cathy mengangkat bahu tanda tak tahu. Ia lalu menceritakan bahwa Ken dan Celina belum pulang ketika Cathy pergi kemari. David dan Ellijah tak tahu-menahu pertengkaran antara Ken dan Celina. Cathy juga tidak membocorkan rahasia. Ia kini menjadi anak asuh Celina, dan merasa berutang budi pada kakak ketiganya, ketika kakak-kakak lain menelantarkannya kala terhimpit insiden yang bertubi-tubi.


"Ayo kita ke mama," ajak Ellijah, kemudian menutup kain putih dari jasad presdir yang tersibak sedikit di area wajah. Mereka bertiga bergegas menuju ke ruang ICU, dan mengecek perkembangan ibu mereka yang terkena shock hebat. Esok pagi, David akan mengurus pemakaman Presdir, setelah mengabari sanak keluarga dan kolega mereka.

__ADS_1


Triiingg...


Dalam perjalanan ke ruang High Care Unit, ponsel Cathy kembali berdering. Kali ini, tampak nama 'Kak Lina' yang tampil di layarnya.


<"Halo, kakak?">


<"Allo? Est-ce la famille Celina?">


Cathy menjauhkan ponselnya sebentar dan mencoba melihat kembali layar yang tertera. Benar. Nama 'Kak Celina' tampak di sana. Namun, mengapa suaranya sangat asing dan ia berbicara dalam Bahasa Perancis?


<"Oui, Je Suis Sa Soeur, Pourquoi?">


<"Kakak anda kecelakaan. Saya mendapatkan kontak darurat dari ponselnya yang retak namun masih bisa menyala. Saya adalah Ethan, paramadis yang menjemput kakak anda,">


DEG!


Jantung Cathy serasa berhenti berdetak. Ia tak gentar, dan mencoba memastikan.


<"Ini bukan prank, kan? Anda jangan bercanda,">


Tring.


Sebuah pesan muncul dengan garis koordinat yang tertera daripadanya. Cathy terhenyak, karena, jaraknya hanya 0 kilometer. Berarti, kakaknya sedang berada di rumah sakit ini. Ia segera meluncur ke lantai dasar dan menuju ke ruang Intensive Care Unit yang selalu siaga 24 jam.


David dan Ellijah yang sedang ada di samping Cathy, ikut terkejut. Mereka kemudian mengekor Cathy untuk mencari tahu ada apa gerangan.


*


"Saya keluarga Celina," ujar Cathy sekonyong-konyong, kepada perawat yang sibuk mondar-mandir


"Ke loket sana ya, mademoiselle," ujar perawat yang tampak sibuk dan tak dapat mengantarkannya. Cathy beranjak menuju ke loket registrasi untuk mengecek pasien bernama Celina Tanoesoeroyo. Ia lalu diantar ke ruang operasi yang ada di sebelah timur ruang ICU.


Bruuk!


Cathy terduduk lemas mendapati kakaknya sedang berada di kamar operasi. Paramedis yang baru saja meneleponnya, mengabarkan bahwa, Celina dan suaminya mengalami kecelakaan di jalan raya Rue de Rivoli.

__ADS_1


David dan Ellijah yang baru saja sampai di koridor depan kamar operasi, menghambur ke arah Cathy untuk menanyakan apa yang sedang terjadi.


"Kak Celina, sedang dioperasi," gumam Cathy pelan.


"Apa????" David meremas rambutnya. Ia berjalan mondar-mandir mencoba menenangkan diri. Ellijah tak dapat menahan keterkejutannya, ia sampai terperangah dan berkaca-kaca. Tidak ada yang menyangka bahwa keluarga Tanoesoeroyo, lagi-lagi diuji dengan insiden yang sangat berat dan bertubi-tubi.


"Sudah berapa lama operasinya?" tanya David kemudian.


"Katanya, sudah tiga jam,"


"Astaga... "


Mereka lantas tetap menunggu di kursi depan kamar operasi. Lampu indikator yang ada di sisi luar masih menyala. Sudah, lewat lima jam, operasi tak kunjung selesai. Cathy tertidur di kursi tunggu. David sesekali menghilang untuk menemui ibu mereka. Ellijah tetap berada di sisi Cathy sambil menahan kantuk, dan berjaga bergantian. Tepat sepuluh jam, dan hari sudah berganti siang, operasi yang melelahkan itu berakhir juga. Lampu sudah dimatikan. Tim dokter yang telah bekerja keras, berbaris satu per satu menuju ke pintu keluar. Salah seorang diantaranya yang menjabat sebagai kepala tim operasi, mendekat ke arah Cathy dan Ellijah.


"Halo, apakah anda wali pasien Celina dan Ken?" tanya dokter tersebut dengan sopan.


"Oui! Saya adiknya. Bagaimana dokter? Bagaimana keadaan kakak-kakak saya?" tanya Cathy harap-harap cemas.


"Syukurlah, keadaan mereka sudah stabil. Setelah ini, sudah dapat dipindahkan ke ruang intensif," ujar dokter tersebut yang kemudian menenangkan hati Cathy dan Ellijah. Mereka sangat bersyukur atas kabar tersebut.


Cathy lalu pamit pada Ellijah untuk mengurus administrasi kepindahan perawatan Ken dan Celina. Sebelum mereka beranjak dari kursi tunggu, tim dokter yang menunggu di ambang pintu, tampak berbisik. Kepala tim yang tadi menyampaikan kabar tentang kondisi pasien, tampak memasang wajah sendu, sebelum menghampiri kembali Cathy dan Ellijah yang hendak menuju ke loket registrasi.


"Mademoiselle, maaf, namun, sepertinya, ada trauma otak serius pada keduanya,"


"Ya, Dok? Apa maksudnya?"


"Nanti akan kami beritahukan secara detail, jika mereka sudah siuman,"


Cathy dan Ellijah terisak, ketenangan yang baru saja mereka rasakan, sirna sudah. Kabar yang tak kalah mengejutkan, akan segera menghampiri mereka.


...****************...


...Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2