
J'veux du soleil au réveil
J'veux pouvoir me lever
J'veux la gueule de bois
J'veux plus voir mon père pleurer
J'veux du soleil au réveil
J'veux pouvoir me lever
J'veux la gueule de bois
J'veux plus voir mon père pleurer
^^^-"Tout Oublier" oleh Angèle feat. Roméo Elvi^^^
Pagi yang sibuk di kota Paris. Celina sedang menyetir melintasi jalanan Boulevard Beaumarchais setelah melewati keindahan Sungai Seine yang terkenal. Ia memacu mobilnya dengan agak terburu-buru karena hampir terlambat untuk rapat pagi ini. Sambil bernyanyi di dalam kabin, Celina tak kehilangan fokus untuk mengendarai kereta besinya di jalanan Paris yang ramai. Sesekali, Celina menggeliat pelan ke kiri dan ke kanan untuk melonggarkan syaraf lehernya karena telah menyetir sejak pagi untuk mengantarkan Cathy ke SMA barunya di Lycée Montaigne. Cathy pulang ke Indonesia sebentar, untuk mengambil barang-barang yang tertinggal di apartemen Celina, sekaligus melegalisir ijazah di sekolah lama sebagai syarat terakhir pindah ke sekolah yang baru. Beruntung, pihak Lycée Montaigne mengizinkan Cathy cuti beberapa hari untuk pulang ke tanah air. Kala itulah, Cathy akhirnya bisa memberitahukan kepindahan Celina ke Paris pada kakak iparnya.
"Hoaaahm.... " Celina menguap sambil mengerjap untuk menahan kantuk. Semalaman ia begadang di bar, dan pagi ini sudah harus pergi bekerja kembali. Kali ini, Celina menjalani hidup dengan semborono dan masa bodoh. Ia melarikan diri dari kenyataan pahit yang telah merenggut ketenangan hidupnya. Celina tak akan bertahan dengan karakter lamanya yang permisif dan juga mudah terbawa perasaan. Pindah ke negara baru, Celina berharap dapat menjadi pribadi yang baru juga dan menjalani hidupnya dengan penuh kesenangan.
Triring...
Triring.....
Suara telepon berdering, musik di kabin mobil terhenti seketika. Celina segera memencet tombol loudspeaker yang berada di hadapannya.
<"Allô?">
__ADS_1
<"Bonjour, Madame">
<"Bonjour, Lena, Qu'est-ce qui se passe?">
<"Vous êtes où ? La réunion va bientôt commencer">
<"J'arrive bientôt, attendez-moi s'il vous plaît">
<"Très bien, madame. Faites attention sur la route">
<"D'accord, merci,">
Tut.
Celina kembali fokus untuk memacu mobilnya agar segera sampai di kantor. Lena, salah seorang sekretarisnya, baru saja menelepon untuk menanyakan kedatangannya. Celina agak sedikit terlambat untuk memulai rapat pagi karena bangun kesiangan. Cathy yang sudah menunggu sedari pagi, terlihat cemberut, karena kakaknya menolak untuk dibangunkan.
Celina akhirnya terbangun setelah alarm kelima berbunyi dan baru ingat harus rapat pagi ini. Ia lantas menyambar roti lapis dan susu kotak yang terhidang di meja, lalu segera memacu mobilnya ke Lycée Montaigne, sekolah baru Cathy. Jarak tempuh antara Montparnasse-- tempat tinggal mereka, dengan Lycée Montaigne adalah sekitar 4,5 kilometer. Sebetulnya, Cathy biasa berangkat ke sekolah menggunakan metro (kereta bawah tanah) di stasiun Montparnasse-Bienvenüe. Berbeda dari biasanya, hari ini, Cathy diantar kakaknya karena harus membawa maket miniatur kota Jakarta. Cathy tentu kesulitan untuk membawa tugas ini dengan transportasi umum karena maket-nya bisa hancur tertindih penumpang lain. Jarak tempuh ke Lycée Montaigne berkisar 20-30 menit, baik ditempuh dengan metro maupun mobil. Namun, padatnya lalu lintas, membuat metro lebih disukai oleh penduduk Paris karena terbebas dari kemacetan yang melanda jantung kota setiap paginya.
Celina berjalan dengan setengah berlari menuju ke salah satu gedung yang berada di distrik itu dengan papan reklame bertuliskan "Rainbow Corp".
"Bonjour à tous," sapa Celina ramah ke semua orang ketika memasuki pintu gedung.
"Bonjour, Madam," jawab mereka hampir serempak. Staf "Rainbow Corp" kebanyakan berisi karyawan peranakan Indonesia-Perancis. Mereka seringkali menggunakan bahasa lokal sebagai bumbu nuansa kantor mereka yang baru saja pindah. Bahasa Perancis yang sulit namun terdengar romantis, membuat para pekerja dengan senang hati mencampurkannya dalam kosakata sehari-hari.
Kantor "Rainbow Corp" tidak memiliki banyak karyawan di awal pembukaannya. Celina hanya membawa beberapa kenalan yang piawai berbahasa Perancis untuk transisi bisnis yang mulus. Ada sekitar 9 orang dengan dirinya yang mengisi kantor cabang "Rainbow Corp" di Perancis, dengan satu orang lokal yang juga bertindak sebagai guide. Keterbatasan Celina dalam berbahasa Perancis juga menjadi sandungan jika ingin berbisnis secara profesional. Oleh karena itu, Celina, memerlukan orang kepercayaan yang dapat bertindak sebagai penerjemah dan juga asistennya. Lena dan Fiona-- sekretaris pribadi Celina-- merupakan duo pekerja yang dapat diandalkan.
"Madam, rapatnya di Ruang Satre," ujar Fiona, yang sedang mengekor bosnya sambil membawakan dokumen-dokumen rapat yang diperlukan. Fiona adalah staf sekretaris yang merupakan gadis asli Indonesia. Berbeda dengan Lena, yang merupakan warga perancis asli.
"Okay, makasih, Fiona," sahut Celina setelah mengecek dokumen yang sedang dibawa Fiona. Celina kemudian melangkah menuju ke ruang rapat dan bertemu dengan pihak sponsor yang ingin bekerjasama dalam bidang fashion multikultural. Ciri khas "Rainbow Corp" adalah batik kontemporer, sehingga, konsep itu juga yang diusung untuk memperkenalkan ikon batik dengan gaya busana modern bersentuhan Eropa. Salah satu pihak sponsor yang tertarik untuk mengembangkan ide bisnis ini adalah BelleVie Paris, sebuah perusahaan mode terkenal di Perancis.
"Bonjour!" sapa Celina ramah.
"Bonjour!" sapa rekan kerja Celina tak kalah ramah.
__ADS_1
Mereka pun membuka agenda pertama dengan perkenalkan masing-masing perusahaan dan bentuk kerjasama yang ingin mereka capai. Rapat berlangsung sekitar tiga jam, dan tak terasa, sudah hampir waktu makan siang. Merekapun mengakhiri rapat dengan baik, dan nota kerjasama akan segera dikirimkan setelah mendapat persetujuan dari dewan direksi. Pihak BelleVie Paris terkesan dengan konsep dari "Rainbow Corp" yang segar dan ikonik. Perwakilan dari BelleVie Paris, Monsieur Pierre Laurent, tak sungkan memuji ide cemerlang dari Celina untuk diadaptasi ke lini mode Paris.
"Enchanté de vous rencontrer, Monsieur Pierre," ujar Celina ramah sambil menjabat tangan rekan bisnisnya. Celina berkata bahwa ia sangat senang bertemu dengan Pak Pierre.
"Je suis également ravi de vous rencontrer, Madame Celina," jawab Pak Pierre tak kalah ramah.
"Saya sebenarnya bisa bahasa Indonesia, hehe...." lanjutnya, yang membuat Celina terperangah. Sia-sia saja selama ini dia berbicara Bahasa Perancis ala kadar.
"Serius? Kenapa nggak bilang daritadi?" tanya Celina dengan wajah tertekuk. Ia malu karena telah canggung untuk berinteraksi dengan Pierre.
Pria itu tersenyum dan hanya bermaksud untuk membiasakan Celina berbahasa nasional, supaya semakin lancar. Pierre dan Celina terlihat tak jauh berbeda, sepertinya berada di usia yang sama, kisaran 30-tahunan. Pierre tak segan mengundang Celina untuk minum bersama di akhir pekan, jika sedang senggang. Celina akan mempertimbangkan ajakannya dan mengecek jadwal pribadinya.
"Au revoir, Celina!"
"Au revoir, Pierre!"
Mereka pun saling mencium pipi seperti kebanyakan orang Perancis bersalaman. Mereka kemudian berpisah jalan dengan perasaan gembira. Celina seperti sedang membuka hati untuk kembali mengenal seorang pria lebih jauh. Celina sedang berusaha untuk melupakan mantan suaminya yang telah membuat hidupnya terbolak-balik, dengan bekerja dan bersenang-senang di negri orang. Celina rindu keteraturan dan rutinitas yang damai seperti sebelum mengenai Ken yang penuh gairah dan keterkejutan.
...****************...
...Namun,...
...Siapa yang menyangka?...
...Bahwa,...
...Lelaki itu akan kembali hadir dalam hidupnya?...
...****************...
...Bersambung...
...****************...
__ADS_1