
Sesuai janji Pak Dharmawan, Ken mendapat kontrak eksklusif untuk bekerja pada klien VVIP, yakni RAINBOW CORP. Tentu saja itu adalah perusahaan milik Celina Tanoesoeroyo.
Ken berdinas di RAINBOW TOWER yang terletak di Kawasan SCBD, Kemuning, Jakarta Pusat. Gedungnya megah dan modern, terdiri atas 30 lantai. Masing-masing lantai disewakan untuk perusahaan lain, sedangkan Rainbow Corp yang merupakan pemilik gedung berada di 9 lantai atas, mulai dari lantai 20 hingga 29, dengan penthouse dan infinite pool di lantai teratas.
Ken sudah mulai bekerja selama satu minggu sebagai frontdesk officer sekaligus security yang bertugas di depan Lobby. Jika ada petinggi yang hendak memasuki gedung, ia harus menyambutnya.
"Selamat pagi, Nona," Sapa Ken berusaha ramah dengan senyum merekah. Celina yang berada di hadapannya membalas senyumnya tak kalah indah. Rejeki nomplok pagi-pagi bagi Ken yang kurang asupan gula.
"Pagi, Ken! Have a nice day!" Balas gadis itu kemudian memasuki gedung dan menuju ke ruangannya di Lantai 9.
Rutinitas tanpa tantangan membuat Ken cepat bosan. Jadwal shift yang bergilir setiap pekan juga tidak membuat hatinya senang. Ken hidup dalam ketidak-aturan yang membuatnya agak jengkel. Ketika shift malam, ia harus begadang, dan ketika dapat jadwal shift pagi, ia tidak bisa bangun siang.
<"Mas'e, besok jangan lupa masuk malam ya"> Suara Pak Dharmawan terdengar lantang dari seberang. Ken mengiyakan dan mengucapkan terima kasih karena sudah diingatkan. Pembagjan jadwal sebetulnya sudah ada, dibagikan setiap awal bulan. Namun, Pak Dharmawan rajin mengingatkan Ken yang hampir selalu terlupa. Tuan muda yang hidup tanpa asisten itu memang payah dalam mengingat kejadian yang akan datang di masa depan.
*
"Huuuvv... Jaga malam gini malah suntuk. Sepi banget lagi... " Ken mendengus sambil menyeruput kopinya. Sedetik kemudian, cangkirnya kosong. Ketika hendak mengisi ulang di pantry, bubuk kopi sudah habis. Rekan patrolinya juga belum kembali. Ia tak bisa meninggalkan pos tanpa penjagaan. Jadilah, Ken menunggu sebentar.
"Pak, kopi dong,"
"Saya juga, Pak,"
Dua orang security yang sedang berpatroli kembali ke pos jaga. Mereka berdua menguap dan tampak lelah. Ken menunjukkan toples kosong yang hanya ada sedikit jejak bubuk minuman favorit mereka. Ketiganya memasang mimik putus-asa. Pada akhirnya, Ken pamit untuk membeli kopi tubruk yang ada di pelataran depan. Kedua rekannya mengizinkan. Mereka bergantian standby di pos jaga.
Setelah berjalan selama 10 menit, nahas, tukang kopi keliling yang biasa mangkal tidak tampak batang hidungnya. Ken tidak bisa kembali dengan tangan hampa, tanpa kopi, entah bagaimana nasib ronda mereka. Ia pun berinisiatif untuk membelinya di kafe tak jauh dari gedung utama. Ken menuju parkiran untuk menjemput motor bebeknya. Ducati yang dulu dipunyai Ken sedang disimpan di garasi rahasia, supaya tidak menimbulkan kecurigaan rekan-rekan kerjanya.
Belum juga sampai di parkiran motor, Ken ditabrak seseorang dari arah tikungan depan.
__ADS_1
"Celina?? Aduooohhh," Ken meringis memegangi hidungnya yang terkena hantaman dahi Celine. Celine terkesiap lantas bersembunyi di belakang bahu Ken yang lebar.
"To... Tolong.. Ken.. Ada suara sepatu kets daritadi mengejarku," ujarnya lirih dengan tangan gemetar. Ken mencoba mempertajam pendengarannya. Memang benar ada bungi ckiit.. ckiit... Namun tak lama berhenti. Ken lantas mencari sumber suara, dan...
BUGGGGGHHH!
BUGGGGGHHH!
PRAKKKKKK!
Tinju maut bertubi-tubi mendarat di perut pria pengejar Celine tadi.
Pria itu terkapar kesakitan.
"Ampuuun... Ampuuunn..!!! " Pekiknya menyerah.
"Lho ini kan si mesum yang di tempat sampah apartemen dulu itu, Lin?" Ken mencoba mengingat-ingat wajah penguntit itu.
Celina yang sudah tak gemerar, mendekat kearahnya. Benar rupanya, itu pria yang pernah ditendangnya sewaktu sedang memilah sampah.
"Gak kapok, Lo Ya! Cari gara-gara aja! Jelasin! Ngapain tadi lo ngejar-ngejar Celine?" bentak Ken sambil jongkok. Ujung jarinya menekan-nekan dahi penguntit itu.
"Ampuuunnn... Bercanda, Bang... "
"Bohong!"
"Kesel bang.. Cuma mau nakutin aja," Akhirnya ia mengaku.
__ADS_1
Celine kemudian menjelaskan kronologi penguntitannya yang dimulai sejak ia keluar kantor malam-malam akibat lembur. Celine merasa ada yang mengikutinya sejak turun dari lift sampai ke lobby, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB. Secara nalar, tidak mungkin ada orang yang masih berada di sana. Ia kemudian mendengar bunyi sepatu kets yang diseret-seret sehingga mengeluarkan bunyi khas. Celine yang biasa tomboy dan berani langsung teringat memori buruk masa kecilnya. Ia pernah hampir diperkosa kakak kelasnya ketika masih duduk di sekolah dasar. Kakak kelasnya itu memakai sepatu kets sama seperti penguntit tadi, sehingga jika ia mengejarnya, ada bunyi ckit.. ckit.. yang terdengar. Celine trauma. Ia pun lari gemetaran dan mencari pertolongan.
Ken yang mendengar pengakuan Celine tentu tak tinggal diam. Diikatnya tangan dan kaki penguntit tadi lalu digantung di depan pos jaga. Ken kemudian menelepon polisi supaya menjemput pelaku kriminal itu dan menginapkannya sejenak di hotel prodeo terdekat.
*
"Makasih ya, Ken. Gue nggak tau harus gimana kalo lo nggak ada tadi," ujar Celine tersenyum kembali. Ken memberinya segelas teh hangat karena ia gagal membeli kopi. Rekan-rekannya hendak marah tapi tak jadi karena Ken datang-datang bawa orang terikat seperti sapi.
Setelah menghabiskan tehnya, Celine mengajak Ken untuk masuk ke mobilnya. Ken sudah mengambil mobil Celine dari rubanah, dan memarkirnya di depan Pos Jaga.
Ken menuruti ajakan Celine, dan betapa terkejutnya ia setelah mengetahui apa yang terjadi.
"Hah???" Mata Ken terbelalak. Ia mengucek-ucek telinganya, takut salah fungsi karena tersumbat serangga.
"Ih.. Beneran... " Celina meyakinkan.
"Lo gila? Apa mabok?" Tanya Ken tak percaya.
"Pliss... Bakal gue bayar, Ken. It's just a business," Ujar Celine kemudian.
Gadis itu sedang membujuk Ken untuk menikah dengannya esok hari di KUA. Celine yang sedang lembur sebenarnya berpura-pura, karena ia tak ingin segera berada di Kediaman Utama Tanoesoeroyo.
Keluarga besarnya sedang merencanakan pertunangan yang diluar kemauannya. Celine ingin memberontak, karena ditolak pun percuma. Ibu dan Ayahnya tentu akan memaksanya bagaimanapun caranya. Satu-satunya jalan keluar dari situasi ini adalah dengan menjadi istri orang lain. Celina sudah memikirkannya sedari tadi ketika ada di ruang kerja sendirian dan mencoba curhat di Forum Daring KUORA. Banyak yang menyarankan hal itu. Baru saja ia hendak mencari mempelai pria bayaran, insiden penguntitan terjadi dan Ken menjadi penyelamatnya. Celine akhirnya berpikir untuk sekalian menjadikannya suami pengganti dan memberikan Ken gaji lebih banyak daripada menjadi security.
*
"Besok deh gue kabarin, pagi-pagi," Ken mengakhiri pembicaraan. Ia menutup pintu mobil Celine dan menyuruh gadis itu untuk segera pulang.
__ADS_1
"Jangan kecewain gue ya," pesan Celine. Gadis itu kemudian memacu mobilnya melintasi gelapnya ibu kota menuju ke Kediaman Utama Tanoesoeroyo di Pantai Intan Kapuk, Jakarta Utara.