PREMAN CEO

PREMAN CEO
Mengaku Pada Kakak


__ADS_3

Presdir Tang nampak resah. Ada rumor yang mengatakan bahwa putranya telah menikah. Bagaimana mungkin? Anak berandalan yang taunya berkelahi saja itu bisa menikah? Namun, Ferdi, ajudan sekaligus keponakannya, mengompori rumor itu supaya semakin panas. Presdir pun menelepon Hilda untuk mengkonfirmasi kebenarannya. Presdir masih tak ingin berbicara dengan putranya. Apalagi, ia juga sudah kembali ke Kanada. Jika tak penting-penting amat, ia tidak ingin menelepon ke Indonesia.


Hilda, di sisi lain, sama terkejutnya dengan ayah mereka. Romy juga belum bisa memastikan kebenaran rumor tersebut. Hilda masih tidak bisa menghubungi adiknya. Untuk mencegah pemberitaan yang tidak benar, mereka harus mengetahui cerita versi Ken sebagai pelaku utama. Situasi di dalam rumah tangga Keluarga Tang sedang panas-panasnya, dan, belum ada yang berhasil mengetahui kebenaran atas rumor yang tersebar di keluarga mereka.


*


Tuuuuuuttt....


Hilda mencoba kembali menelepon adiknya. Namun tak diangkat.


Ini sudah hari ketiga ponsel Ken tak bisa dihubungi. Apa yang sedang terjadi?


*


Ken yang tadinya sedang makan malam bersama istri, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan sahabat-sahabatnya. Celine sudah tertidur. Chiko dan Hans baru saja datang. Mereka meminta penjelasan atas menghilangnya Ken selama 3 hari berturut-turut. Bukannya mendapat pencerahan, mereka malah semakin bingung dan jijik dengan sikap aegyo (sok imut) Ken pada Celine, istri kilatnya.


Setelah mendengar penjelasan Ken, Chiko dan Hans akhirnya mencoba mengerti. Meski mereka tidak habis pikir, mengapa Celine terpikir untuk menjadikan anak antah-berantah ini sebagai suaminya? Padahal, secara finansial, tentu Celine lebih mapan, karena Ken masih menyamar sebagai satpam. Secara tampang, Celine yang seperti dewi khayangan, tentu tak susah jika mencari suami seorang top model atau aktor terkenal yang tingkat kegantengannya di atas wajah Ken.


Ken meremas wajah kedua sahabatnya itu dengan gemas karena begitu tak mempercayai performanya dalam memikat wanita. Setelah menginap semalam dan berbagi cerita, mereka berdua lenyap dari rumah Celine. Celine juga sudah merasa harus berangkat bekerja karena ada masalah yang kudu diselesaikan.


"Mau cabut sekarang?" tanya Ken yang melihat istrinya sudah tampil rapi dan..... Sangat cantik mempesona.


"Iya, ada problem di kantor," ujarnya sambil menyisir rambut dan mengepas jam tangannya. Ken mengernyit, "Masalah apa emang?". Celine menghela napas dan memasang mimik kesal. Tender-nya dengan kementerian terancam gagal karena ada oknum yang menyerobot antrian. Ada indikasi penyuapan juga. Namun, itu baru rumor. Makanya, Celine harus memastikannya sendiri. Ken pun menawarkan bantuan untuk membantunya. Celine tersenyum, dan merasa tak perlu bantuannya karena ini adalah persoalan administrasi, mungkin Ken tak paham. Ken yang merasa diremehkan, tersenyum kecut. Celine meminta maaf, bukan begitu maksudnya. Karena, ini urusan manajemen, Ken yang seorang security mungkin punya pemahaman yang berbeda. Lini pengetahuan dan kemampuannya berbanding terbalik 180° sehingga mungkin Ken tak paham.

__ADS_1


"Okay, kalo butuh bantuan, kabarin aja," Ken akhirnya mengalah. Ia tak ingin memaksa Celine untuk bergantung padanya. Toh, Ken bukan suami sungguhan untuk Celine. Wanita mandiri sepertinya mungkin sudah terbiasa bergerak tanpa bersandar pada siapa-siapa.


"Pergi dulu ya, Bye!"


Celine melangkah turun ke parkiran, lalu memacu mobilnya ke kantor. Ken masih duduk di meja makan dan merasa ada sesuatu yang kurang.


"Hm... Kiss goodbye-nya nggak ada, ya... " gumamnya sendirian sambil menggosok-gosok bibirnya yang basah karena teh yang baru diseruputnya. Ken tersenyum konyol membayangkan Celine mengecup bibirnya sebelum berangkat bekerja, seperti yang terjadi pada protagonis utama di sinetron-sinetron televisi.


"Hm...Gimana ya caranya biar dapat kecupan?" Ken mulai merencanakan sesuatu untuk mendapatkan ciuman perpisahan. Entah bagaimana caranya.


DRRRRRRTTTTTTTT


Gawai Ken berbunyi. Ia pun mengangkat teleponnya.


<"Sorry, Kak... Aku lupa ngecek hape, dari 3 hari yang lalu, aku bawa hapenya istri, upssss... "> Ken keceplosan. Ia belum sempat membertahu kakaknya soal pernikahannya dengan Celine


<"EH KUTU KUPREETTT... KAKAK JANTUNGAN LAGI NIH GARA-GARA KAMU. ITU BENER KAMU NIKAH? HAH? "> Teriak Kakaknya tanpa berniat memelankan suara.


Ken terkejut. Darimana kakaknya tahu bahwa dia telah menikah? Tidak mungkin ada yang tahu karena Ken merahasiakan identitasnya. Ken lalu mencoba mengorek informasi dari kakaknya, namun, Hilda juga tidak tahu-menahu darimana gosip ini berasal. Namanya juga gosip, ia datang seperti angin, dan hilang seperti asap. Tak ada yang bisa menyuruhnya datang, dan tak ada yang bisa mencegahnya pergi.


<"Ya Kakak nggak tau, kakak aja dikasih tau papah. Romy juga tau dari Ferdi. Rumornya juga udah nyebar di keluarga kita,"> jelas kakaknya.


Ken menggeretakkan giginya. Lagi-lagi Ferdi. Sepupunya yang dulu sangat dekat dengannya, kini menjadi jauh. Ken menjauhkan diri, semenjak insiden 10 tahun yang lalu. Ferdi bukannya membela, malah menyudutkannya. Padahal, datang ke kelab X adalah idenya. Setelah beberapa waktu berlalu, kelakuannya menjadi semakin menjengkelkan. Ferdi seakan tahu segala gerak-gerik Ken. Ken makin curiga pada sepupunya itu, ia pun menyuruh anak buahnya untuk membuntuti Ferdi setibanya di Indonesia beberapa waktu lalu. Namun, belum ada laporan signifikan, karena pergerakan Ferdi sama sekali tidak mencurigakan.

__ADS_1


Kekhawatiran Hilda membuat Ken merasa bersalah. Ia tahu pasti jika kakaknya akan kewalahan menghadapi berondongan pertanyaan dari keluarga besar mereka.


<"Maaf, Kak. Ini mendadak. Karena Celine itu mau ditunangkan sama orang asing. Jadi dia butuh suami secepat kilat supaya pertunangannya batal. Aku juga menyukai Celine, jadi, why not?"> jelas Ken singkat tanpa bertele-tele pada kakaknya. Ken tidak bisa terus-terusan menyembunyikan status pernikahannya pada kakaknya. Namun, banyak hal yang harus diurus, terutama mental Celine setelah mengacaukan keluarganya. Ken jadi lupa pada kakaknya.


<"Yaudah, dek. Asal kamu bahagia, kakak pasti mendukung,"> Hibur Hilda. Ia tahu Ken tidak akan ceroboh jika menyangkut masa depan anak orang. Ken tersenyum, meski tak terlihat oleh Hilda.


<"Makasih ya, Kak. Kakak de best lah, pokoknya!">


<"Yaudah, kalo kayak gini kan jadi jelas. Kakak bisa bicara sama papa. Dari kemarin papa nelponin terus. Kakak nggak ngerti harus bilang apa,"> Jelas Hilda.


<"Iya, Kak.. Tolong ya.. Aku masih malas sama papa,"> dengus Ken kesal.


Hilda tertawa.


<"Kapan mau ngenalin adik ipar? Kakak pengen ketemu dong,">


<"Sementara, googling dulu deh ya, Celina Tanoesoeroyo,"> jelas Ken. Ia memang berencana mengenalkan istrinya jika waktunya sudah tepat. Celine terlihat sibuk dengan pekerjaannya yang terkendala masalah tender. Ken tak ingin membebani istrinya.


<"Wuidihhh cakep banget! Kamu pinter milih istri, dek... "> sahut kakaknya. Tak lama, Hilda baru sadar dengan nama belakang adiknya itu. Tanoesoeroyo. Sepertinya ia mengenal keluarga itu. Namun, Hilda belum mengingat apapun.


<"Thanks, kak"> jawab Ken senang karena kakaknya merestui hubungan mereka.


<" Dek, aku pergi dulu ya, mau ada meeting sama walikota. Bentar lagi kan pilwalkot. Huvv... Banyak kerjaan, den... ">

__ADS_1


Ken mengiyakan lalu menutup telepon. Sementara itu, ia tidak menyadari bahwa situasi di KSP sedang tidak baik-baik saja.


__ADS_2