PREMAN CEO

PREMAN CEO
Bertemu Bidadari


__ADS_3

Ken, Chiko dan Hans tertidur layaknya ikan pindang di ruang tengah apartemen. Dengan TV yang masih menyala, mereka tak tampak terganggu.


BIP BIP


BIP BIP


Alarm Chiko berbunyi. Ia mengucek matanya pelan, dan mendapati dirinya sudah kesiangan!


"Astaga!! Gua snooze alarmnya!"


Chiko lalu bergegas ke kamar mandi dan bersiap menuju ke Rumah Sakit. Hans yang masih setengah terlelap, setengah melek, melirik ke arah jam tangannya.


"Ya Ampun! Gua juga telat!" Hans buru-buru mencuci mukanya di wastafel, kemudian menyambar kunci mobil yang ada di meja.


"Gua duluan, Bre!!" Teriaknya dengan sepatu yang masih terpasang sebelah.


Ken, yang masih jadi pengangguran tentu saja tampak santai. Ia bangun perlahan, dan mulai meregangkan otot tubuhnya. Setiap pagi, ia selalu mengecek perkembangan lukanya. Sekiranya lusa, Ken harus melakukan kontrol ke dokter yang sudah mengoperasinya kemarin.


"Gua duluan, Bre! Di rumah aja! Jangan kemana-mana," Pesan Chiko lantas berlari menuju ke parkiran mobil di lantai dasar. Ken melambai dengan senyuman lebar. Ia mulai mencari kegiatan lain, setelah sarapan.


*


'Buang sampah aja deh, ini udah pada numpuk', batin Ken setelah mengamati kondisi apartemen Chiko setelah reuni kecil semalam. Kotor dan berantakan. Ken mulai membersihkan lantai dan menyedot debu-debu yang ada di ruangan. Menurut Chiko, pembantunya baru mulai bekerja kembali pekan depan. Mereka harus bahu-membahu menjaga kebersihan supaya hidup dengan nyaman.


DRRRRTTTTT


Gawai Ken bergetar. Ada sebuah pesan masuk.

__ADS_1



Begitu bunyi tulisan yang tertera pada pesan teks miliknya. Ken dengan sigap membalas.




Ken menyimpan kembali gawainya, ia melanjutkan acara bersih-bersih apartemen yang sedang dilakukannya.


Setelah memilah sampah basah dan kering yang hendak didaur-ulang, Ken membawanya dengan hati-hati menuju pusat pengolahan sampah yang berada di luar bangunan. Karena tak ingin menimbulkan ketidaknyamanan, Ken berjalan melalui tangga darurat. Hanya selang beberapa lantai, Ken sudah bisa melihat unit pengolahan dan menuntaskan pekerjaannya.


Ketika hendak membuang sampah kering di kotak daur ulang, Ken berpapasan dengan seorang wanita cantik. Saking cantiknya, rahang Ken sampai terperangah. Gadis itu mirip selebritas. Meski memakai kacamata hitam, pesonanya tetap terpancar. Apalagi kaos abu ketat dan celana super pendek yang membalut tubuhnya begitu mempesona. Menampilkan lekuk idaman setiap wanita. Sepertinya, gadis itu baru pulang berolahraga. Bekas keringat masih nampak diantara serat kain kaosnya.


Ken yang sadar tengah hampir mengiler, buru-buru mengalihkan pandangan. Ia mencoba fokus membuang sampah dengan baik dan benar. Meski area bawahnya tak bisa dikontrol. Seakan ada petinggi lewat, ia berdiri memberi hormat. Ken berdecak menahan malu. Ia ingin segera mengakhiri kegiatan membuang sampahnya yang tidak beradab ini. Untunglah gadis itu tak sadar sedang diperhatikan, karena sedang memasang airpods di kedua telinganya. Kakinya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti irama entah musik apa. Gadis itu kemudian mundur dan berbaris di belakang Ken karena hendak melakukan daur-ulang, sama sepertinya. Tubuh Ken panas dingin. Ia mempercepat aktivitasnya.


"Suwiwwiiitt.... "


Terdengar siulan seseorang dari arah berlawanan. Dua orang pria bertubuh jangkung, sedang memindai tubuh gadis cantik itu dari atas sampai bawah, seakan hendak menerkamnya sebagai mangsa.


Gadis itu tak sadar sedang dilecehkan, telinganya tersumpal musik nirkabel yang memberinya kenyamanan. Ken merasa bersyukur, karena gadis itu tak terganggu. Ken mengurungkan niatnya untuk kembali ke unit sebelum melihat gadis itu pergi dari pandangan dua lelaki konyol tadi.


Rupanya,


Dua lelaki tadi benar-benar seperti hyena. Mereka berjalan mendekat. Ken bersiap ingin menghajar orang-orang mesum itu.


Gadis itu mendadak menoleh. Airpods-nya terlepas. Ia menabarak Ken secara tak sengaja.

__ADS_1


"Maaf," ujarnya.


Jantung Ken seakan meledak. Nafasnya harum. Bibirnya ranum. Wajah mereka berdekatan.


"Eh cewek, godain kita dong... " seru pria bedebah tadi memecahkan suasana canggung antara Ken dan gadis itu.


"Ya?" Gadis itu menoleh keheranan. Apakah dia yang dimaksud? Mengapa dia harus menggoda mereka?


"Yaelah jual mahal, pakean ketat seksi gitu.. Pasti mau 'jualan', kan?"


Gadis itu mendelik marah. Berani-beraninya mereka melecehkannya.


Sejurus kemudian. Gadis itu berlari ke komentator mesum tadi, kemudian....


BUUGGGGHHHH!


"AAAAARRRGGHHHHHH" Lelaki itu menjerit sambil memegangi *********** yang bengkak akibat tendangan si gadis.


Ken yang awalnya hendak menolong, jadi ngeri sendiri. Ia ikut merasakan penderitaan sebagai sesama lelaki.


"Pasti sakit, tuh... " desisnya.


Teman korban, dengan badan gemetar, langsung menelepon kepolisian. Tak lama, dua orang petugas datang. Setelah menolong korban yang tergelepar seperti ikan mas kehilangan kolam, anggota polisi tersebut turut menahan Ken dan juga si gadis sebagai saksi.


"Lohhh.. Pak.. Apa salah saya? Pak.. Pak.. Salah orang," Ken memberontak, tangannya dikunci oleh petugas sambil diseret paksa.


"Jelaskan nanti di kantor polisi," Ujar si petugas sesuai prosedur. Ken hanya bisa pasrah dan beradu-pandang dengan gadis itu. Si gadis tersenyum kecut dan membisikkan kata maaf karena telah menyeret Ken ke dalam situasi yang membingungkan ini.

__ADS_1


__ADS_2