PREMAN CEO

PREMAN CEO
Bonjour, Mon Amor!


__ADS_3

"Kakak! Cepetan!" teriak Cathy dari lantai bawah. Celina yang sedang mamatutkan diri di depan cermin, menjawab dengan lantang, "Baiklah! Tunggu sebentar,"


Gadis itu lalu mengenakan kalung berlian kecil yang dapat menyempurnakan penampilannya. Gaun merah tanpa lengan dengan siluet terbuka di bagian dada, akan tampak anggun jika dililit oleh kalung berlian kecil berbentuk bintang yang baru-baru ini digemarinya. Rambut Celina dibiarkan terurai indah, sepertinya, ia sudah siap berangkat.


"Hi, Dek, menurutmu, gimana penampilanku?" tanya Celina malu-malu. Cathy yang sedang mengenakan gaun berwarna biru gelap, tentu saja terpukau oleh warna yang dipilih kakaknya.


"Cantik banget, Kak! Dijamin, semua mata akan tertuju padamu," ujarnya menggoda. Cathy lalu mengulurkan tangannya dan membenarkan kerutan di gaun Celina.


"Jangan bilang gitu, Dek. Ini kan pesta pertamaku. Gugup juga nih, kakak," kata Celina dengan wajah memerah.


"Ingat ya, Kak? Hindari lelaki Perancis. Mereka cuma mau *3** aja. Pilih pria apa kalo mau menggoda?"


"Pria Indonesia?"


"Yak! Betoool sekali! Kita akan bersenang-senang! Yuk berangkat! Mama, kami pergi dulu!" teriak Cathy pada ibunya yang sedang merajut sambil mendengarkan musik klasik di kamarnya.


Nyonya besar yang mendengar teriakan itu, lantas, membuka pintu kamarnya. "Pulang jam berapa, girls?" tanya Nyonya dengan jawaban yang harus sudah disiapkan dengan baik.


"Sebelum tengah malam?"


"Ya! Pergilah. Cathy jaga kakakmu ya? Dari itu. Okay?", titah sang Nyonya merujuk pada kemungkinan bertemu Ken, mantan suami Celina yang tak diingat oleh putrinya itu.


"Iya, Mah," guman Cathy pelan, tapi ia berencana untuk mempertemukan mereka berdua, meski harus tampak alami dan tanpa dipaksa. Oleh karena itu, Cathy melarang kakaknya untuk mendekati pria Perancis, karena, malam ini akan jadi momentum pertemuan pertama mereka setelah setahun berpisah.


Celina dan Cathy berjalan keluar dari rumah dan menuju ke arah jalan raya. Tampak di seberang, ada sebuah mobil jemputan yang akan membawa mereka ke pesta pernikahan.


"Itu mobil dari Jeff, " ujar Celina, kemudian melambai ke arah sopir yang berada di dalam sedan hitam di bahu jalan. Mobil berkedip-kedip, dan pintu di kursi penumpang terbuka. Kedua gadis itu lantas siap untuk pergi ke pesta yang penuh keindahan dan kemewahan, di jantung Kota Paris yang romantis.


*


Mobil mereka melintasi jalanan Paris yang indah dan penuh dengan nuansa cinta. Pantulan cahaya lampu dari atas Sungai Seine menambah keajaiban malam yang sedang dilalui oleh Celina. Tak terasa, mereka sudah sampai di pintu gerbang yang megah. Sopir sewaan menurunkan mereka di lobby hotel, dan berkata akan menjemput ketika dipanggil.


Celina dan Cathy memasuki hotel berbintang Belle Étoile, yang terkenal indah dan mewah. Hotel ini terletak di jantung kota Paris.


"Whoaa... Indahnya," gumam Cathy dan disetujui oleh Celina. Mereka berdecak kagum atas kemegahan interior hotel yang menampilkan suasana mewah dan elegan. Aroma floral yang menguar di dalam ruangan juga menyibukkan panca-inderanya agar memproses keindahan yang kompleks yang hanya ada di sini.

__ADS_1


Hôtel Belle Étoile termasuk hotel populer yang sering dikunjungi selebritas dan pejabat-pejabat dari luar negri. Tempatnya yang strategis dan juga panorama Menara Eiffel yang tampak dari seberang kamar, membuat reputasi hotel ini sangat terkenal. Para wisatawan tentu tak ingin melewatkan pengalaman menginap yang dapat menjadi sumber kenangan ketika berada di Kota Paris.


"Kayaknya, aku bakal kerasan di sini, Dek," desis Celina. Cathy tertawa mendengarnya. Mereka terus berjalan hingga sampai ke ballroom hotel yang ada di arah selatan. Ballroom tempat pesta pernikahan terselenggara, merupakan ruangan yang megah dengan lantai marmer dan dekorasi bunga yang indah.


"Kak, aku ambil minum dulu," pamit Cathy sengaja meninggalkan Celina untuk mencari keberadaan Ken. Mereka telah sampai di lokasi acara, dan suasana sungguh intim, juga meriah. Pengantin tampak turun dari panggung untuk bersalaman dengan tamu satu per satu, bukan sebaliknya. Tamu yang diundang pun tak banyak, hanya sekitar 100 orang, mungkin. Karena suasananya begitu akrab. Celina menunggu giliran, sambil berencana untuk memakan kudapan dan juga segelas Wine yang terhidang di meja buffet.


Celina berjalan ke arah meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia sudah merencanakan akan memakan croissant dan juga wine merah yang ada di sebelahnya. Namun, tiba-tiba


Dug.


Dahinya menabrak punggung seorang pria yang juga ingin melakukan hal serupa. Celina sedang tidak fokus, sehingga tanpa sengaja berjalan secara cepat.


"Oops, pardon," ujarnya sambil menahan napas karena terkejut. Pria itu menoleh dengan ekspresi serupa, karena tak menyangka ada seseorang yang menabrak punggungnya.


"C'est bon," balas pria itu dengan senyuman yang ramah dan sedikit menggoda setelah melihat kecantikan Celina. Gadis itu menjadi agak salah tingkah. Ia lantas mengambil croissant dan segera beranjak dari sana. Namun, rupanya pria itu tidak melepaskannya begitu saja. Ia tampak mengikuti Celina karena penasaran dengannya.


"Quel est votre nom?" tanya Pria itu.


"Je m'appelle celina. Et toi?"


"Je m'appelle Antoine."


"Kau baru di sini? Sepertinya bukan orang Perancis?" tanya Antoine menyelidik. Celina mengangguk, namun, juga menggeleng.


"Aku berasal dari Indonesia. Tapi, aku sudah lama menjadi penduduk Paris. Hanya saja, aku baru bisa keluar rumah dan pergi ke pesta pada hari ini," ujarnya dengan wajah sendu.


"Ya? Mengapa?"


"Ceritanya panjang. Aku juga hanya diberitahu, karena tidak ingat. Kau teman Hilda atau Jeff?"


"Oh.. Eum... Aku... Aku teman Jeff," ujarnya berbohong.


"Ouh... "


Celina hanya merespon singkat karena kata Jeff ia hanya mengundang dirinya. Di Paris, Jeff tidak punya teman.

__ADS_1


"Celina, kamu cantik sekali," ucap Antoine dengan lebih mendekatkan wajahnya. Terdapat aroma musk dan jasmine yang menguar dari balik jas dan janggutnya, yang membuat jantung Celina berdebar lebih cepat. Bibir manis Antoine yang berbisik ke telinga Celina, menyentuh leher jenjangnya yang tampak menegang. Antoine kemudian menghirup udara di sekitarnya dan mencoba merengkuh bibir ranum Celina yang merekah indah. Celina agak terkejut, namun, tubuhnya tak berniat menolak. Ia memang belum pernah berciuman-- seingatnya. Namun, ini terlalu mendadak.


"Eh.. Maaf. Aku belum siap," ujar Celina, kemudian menjauhkan wajahnya. Antoine yang sudah kepalang tanggung, terlihat berdecak kesal. Ia lantas menawarkan wine yang tadi belum sempat diambilnya. Celina mengangguk, dan menunggu dengan sabar. Antoine segera menuju ke meja buffet dan mengambil dua gelas wine, sebelum sampai di balkon, ia mengeluarkan sesuatu yang dituangkan di salah satu gelas wine. Setelah siap, Antoine bergegas menuju ke balkon, tempat Celina berada.


Di sisi lain, Celina yang sedang menunggu Antoine, mengamati bagian luar ballroom hotel. Tampak pemandangan indah menara Eiffel dengan kerlip bintang yang tak kalah cantik. Di seberang menara, ada jembatan Pont des Arts, yang, entah mengapa, terlihat familiar untuknya. Sepertinya ia mengagumi arsitektur jembatan itu, atau mungkin, ada hal lain yang menarik? Celina masih belum dapat menebak. Ketika ia mengarahkan pandangannya ke timur, terlihat seorang sopir taksi yang sedang menunggu di sebelah mobil. Sopir itu juga mengagumi suasana malam bertabur bintang yang ada di atas Menara Eiffel. Ia pun terlihat melempar pandang ke arah seberang, pada jembatan Pont des Arts. Celina menebak, sopir itu pun sedang mengulang kenangan bersama kekasihnya di sebuah masa. Mereka berdua tampak mirip, meski dengan posisi yang berbeda. Tak lama, Antoine datang dengan dua gelas wine di tangannya.


"Merci," ujar Celina sambil menerima wine dari Antoine. Pria itu tersenyum licik, dan mengangkat gelasnya, untuk kemudian ditempelkan pada gelas Celina.


"Santé!," jawab Pria itu kemudian meminum bagiannya.


Celina menikmati wine dan teman baru, sambil menunggu Cathy yang tak kunjung datang. Ia pamit untuk menemui mempelai sebentar, kemudian akan berbincang lagi bersama Antoine.


"Ya, silakan. Aku sudah menyapa mereka,"


"Permisi sebentar," ujar Celina kemudian beranjak ke karpet merah. Di sana, sudah ada Jeff dan Hilda yang mengenakan jas dan gaun pengantin yang cantik dan indah.


"Lina!" pekik Hilda gembira. Jeff buru-buru menyikut istrinya itu agar berpura-pura bahwa ini adalah pertemuan pertama mereka. Celina tidak mengingat Hilda. Jeff juga sudah berjanji pada Nyonya besar agar tidak menggangu kesehatan mental Celina. Hilda mengedipkan mata tanda mengerti. Celina juga tak mendengar pekikannya tadi.


"Selamat menempuh hidup baru, sahabatku!"


"Merci Beaucoup! Haha... Thanks, Boss,"


"Halo, Aku Celina," ujar Celina sambil menyodorkan tangannya ke arah Hilda. Hilda menyambut salamnya dengan pelukan, seperti memeluk adiknya yang telah lama menghilang. Celina agak terkejut, namun membalas pelukannya yang hangat.


"Selamat ya," ucapnya kemudian.


"Terima kasih sudah datang," ujar Hilda ramah.


"Sudahkah kau bertemu adikku?" tanyanya sejurus kemudian.


"Oh, ada apakah? Apakah harus ditemui?" tanya Celina penasaran.


"Oh tidak. Tadi aku cari-cari, kok nggak keliatan, hehe.. Yasudah, silakan dinikmati pestanya," ucap Hilda lalu beranjak ke arah tamu berikutnya. Celina tersenyum, dan hendak kembali ke balkon, tempat Antoine berada. Kali ini, ia agak kepanasan. Darahnya seperti mendidih dan wajahnya memerah. Ada rasa haus yang asing, yang ingin segera dituntaskan. Celina mengambil air mineral dingin, namun, tak memuaskan dahaganya. Antoine yang berada tak jauh darinya, tersenyum puas. Ia lantas menghambur ke arah Celina dan mengajak Celina untuk pergi ke suatu tempat yang sepi, berdua.


...****************...

__ADS_1


...Bersambung...


...****************...


__ADS_2