
Dalam waktu kurang dari satu jam, rombongan Ken dan Celina telah sampai di Dragon Tower business & inn, di bilangan Jakarta Pusat. Sebuah gedung bisnis yang juga berfungsi sebagai penginapan milik keluarga Tang. Kantor pusat Grup Tang juga berada dalam gedung tersebut. Ken sengaja mendaratkan helikopter di puncak menara supaya bisa langsung mengeksekusi rencana lanjutannya.
Rombongan Ken melesat dengan helikopter sewaan-- menurut Ken, padahal milik sendiri-- agar terhindar dari kemacetan dan intimadasi yang tak perlu. Celina sangat gembira, dapat kembali ke ibu kota. Ia ingin segera mengabari Jeff karena sudah lama alpa, kemungkinan, sekretarisnya itu akan sangat khawatir. Lagi-lagi, ponsel Celina tidak aktif, kali ini, ponselnya hilang. Ia juga tak mengingat nomor telepon Jeff, jadi mereka putus kontak selama beberapa hari.
"Sayang, kamu mau balik ke apartemen?" tanya Ken yang mulai intim dengan istrinya. Mereka sudah mulai memanggil 'sayang' dan juga tak segan menampakkan kemesraan pada banyak orang.
Celina yang baru pertama kali mendengar panggilan itu di tempat umum, tampak tersipu. Ia menggamit lengan Ken lalu mencubitnya manja.
"Sstt... Jangan keras-keras manggil sayangnya," ujar Celina malu-malu.
"Pelan-pelan, tapi pake TOA, boleh, Ya?" godanya. Celina cemberut lalu memukul-mukul bahu Ken dengan manja.
Virza, Dito dan Bu Elih yang menyaksikan adegan itu, tampak lebih memilih untuk memerhatikan nyamuk yang sedang berterbangan di atas kepala mereka.
"Dah... Dah... Dah... Dasar penganten baru! Jadi gimane, nih? Kite ntar nginep dimane?" tanya Bu Elih membuyarkan suasana romantis Ken dan Celina.
"Sayang, aku ke apartemen dulu ya? Mau ngabarin Jeff dan ngecek project bentar," ujar Celina.
"Bu Elih dan Dito, langsung masuk ke Suite room 2301 ya, ada di lantai 23. Tinggal turun satu lantai aja, nanti biar dianter Virza," ujar Ken sambil menyerahkan kunci akses berupa kartu hitam. Mereka sedang berada di helipad, tepat di atas lantai teratas Dragon Tower.
"Itu punya siapa, sayang?" tanya Celina penasaran.
"Oh.. Ohiyaa.. Ini punya Pak Virza tadi. Dia nitip ke aku. Sayang kamu pulang sama Mas Zayn ini ya. Aku masih ada urusan di sini. Nggak papa?" tanya Ken dengan mimik khawatir.
Celina mendengus kesal. Ia merasa tak rela harus diantar supirnya Pak Virza. Namun, apa boleh buat? Ken memang harus bertugas sebagai security di sini. Celina masih berpikir bahwa Ken masih bekerja di SECURE FIT dan kali ini kebagian bekerja untuk menjaga Dragon Tower.
"Baiklah. Nanti malam aku ke sini, ya,"
"Okay! Sip!"
"Bye!"
"Bye!"
Mereka pun berpisah jalan. Ken yang tadinya penuh senyum dan ceria, kali ini melangkah masuk ke dalam gedung dengan tatapan dingin. Raut wajahnya berubah, ia tak ingin beramah-ramah dengan sembarang orang.
__ADS_1
Ken langsung menuju ke griya tawang miliknya, yang juga ada di lantai 23. Meski berpapasan dengan para pekerja di Dragon Tower, Ken tidak merasa risih. Penyamarannya belum terbongkar, jadi ia tak harus menampakkan diri sebagai pemilik perusahaan.
Sebetulnya, tidak ada siapapun yang mengetahui bahwa Kenneth Tang, putera mahkota Grup Tang, telah kembali ke Indonesia. Rumor yang beredar adalah, sang pewaris sedang diungsikan ke luar negri untuk menghindari skandal. Dan pengungsian itu telah berlangsung selama sepuluh tahun. Tidak ada yang mengetahui perawakan bahkan tampang Kenneth Tang, sang pewaris grup yang suka membuat onar.
*
"Preskon jam berapa?" tanya Ken yang sedang mematutkan diri di cermin besar. Ia tengah bersiap dengan mengenakan jas mahal, jam tangan desainer, dan juga sepatu yang tak kalah menawan. Seorang pelayan pria turut membantunya bersiap. Kali ini, Ken akan mengungkap jati dirinya sebagai putera mahkota Grup Tang yang telah kembali ke kerajaannya.
"Preskon jam 1 siang ini, Bos," jawab Virza cepat. Ia sedang memilihkan dasi yang tepat untuk padanan jas Bos Ken.
Saat ini, waktu menunjukkan pukul 11 siang. Masih ada dua jam lagi untuk menghadiri Konferensi Pers. Ken ingin tampil dengan sebaik-baiknya, sebelum memukul telak lawan-lawan yang selama ini berbuat rusuh dalam kehidupannya.
"Nyonya Celina, gimana, Bos? Nggak dikasih tau dulu?" tanya Virza khawatir. Ia adalah saksi hidup keharmonisan kedua bosnya yang tampak serasi. Pernikahan palsu itu kini menjadi nyata. Virza tentu turut bersuka cita.
Ken menyunggingkan senyuman.
"Celina, nanti saja. Kita gerak sesuai rencana," ujar Ken percaya diri.
Virza mengangguk paham, dan melingkarkan dasi pilihannya ke leher Bos Ken. Saat ini, penampilan Ken sudah seperti CEO tulen, bukan lagi satpam kontrak bayaran.
"Ganteng banget, bos!" ujar Virza takjub.
"Uang emang yang terbaik. Capek banget idup bokek selama ini," desisnya dengan bangga. Akhirnya, ia bisa mengoptimalkan nilai dirinya.
*
Ceklek.
Suara pintu apartemen terbuka. Celina tampak lelah dan ingin merebahkan tubuhnya. Namun, ia harus membuka laptop dan mengabari Jeff secepatnya, lalu mengecek perkembangan proyek pengadaan seragam ASN yang sempat tertunda. Sebelum itu semua, Celina akan mandi terlebih dahulu agar merasa lebih segar.
Namun, tiba-tiba saja.
Krieeeett....
Pintu kamarnya membuka sendiri,
__ADS_1
"Kaa........ "
"Astagaa! Kaget!!!" Celina berjingkat mendapati sesosok wanita berambut panjang yang muncul dari balik pintu kamarnya.
"Kakaaaaak...."
"Cathy!! Ngapain kamu di sini? Kok kamu bisa di sini???" Celina bertanya-tanya. Padahal ia baru saja pulang dan Ken juga belum sampai ke rumah mereka. Mengapa Cathy bisa berada di sini?
"Aku minggat, Kak. Aku ke tempat kakak kemarin malam," ujarnya tanpa rasa bersalah.
"Kok kamu tahu passcode pintu kakak?"
"Tanggal lahir kamu kan, Kak? Ketebak banget," jawabnya polos.
Sepertinya, Celina harus mengganti passcode pintu apartemennya.
"Jadi?"
"Jadi apa, Kak? Aku mau tinggal di sini aja, daripada diusir ke jalan. Keluarga kita bangkrut," rutuk Cathy kesal.
Gadis remaja itu tak tahu menahu detail skandal yang menimpa keluarganya. Namun, ia juga harus menerima akibatnya. Cathy bahkan bolos sekolah beberapa waktu ini karena tak tahan dirundung oleh teman-temannya. Celina juga baru mengetahui ringkasan kasus keluarganya dari media massa pagi ini, namun, ia tak terlalu peduli. Celina yang sudah terusir, kini memiliki kehidupan sendiri. Ia akan membantu sebisanya karena kasus yang terjadi adalah karma atas perbuatan keluarganya sendiri.
"Papah dimana?" tanya Celina sambil mengikat rambutnya, ia sedang bersiap akan mandi.
"Stroke, Kak. Udah gak kuat ngadepin tuntutan demi tuntutan. Mamah yang ngurus sama Kak David dan Kak Elijah,"
"Astaga..... Ayo antar kakak ke RS habis ini," ucap Celina lalu mulai mandi dan membersihkan badannya. Ia baru saja mengambil ponsel cadangan dari laci kamarnya, dan tidak jadi mengecek proyek pekerjaannya karena harus ke rumah sakit.
"Okay... " Sahut Cathy acuh tak acuh sambil memainkan ponselnya. Ia meminta makan pada kakaknya, namun tak ada apapun di apartemen Celina.
"Kita makan sekalian jalan aja, ya... " sahut kakaknya dari bilik kamar mandi. Cathy mengangguk dan membereskan barang-barangnya. Sampai ketika, ia tak sengaja memutar video siaran langsung yang muncul begitu saja di beranda mesin pencarian ponselnya.
..."NOW! TRENDING! PUTERA MAHKOTA GRUP TANG AKHIRNYA MUNCUL!"...
...****************...
...bersambung...
__ADS_1
...****************...