PREMAN CEO

PREMAN CEO
Bidadarinya Ternyata.....


__ADS_3

Korban penganiayaan telah dilarikan ke UGD. Testisnya pecah. Mungkin. Tapi tak mungkin, karena itu bukan telur sungguhan. Pembuluh darahnya pecah dan mengakibatkan inflamasi parah. Sehingga, korban harus menjalani rawat inap.


Si Gadis yang mengaku bernama Lina itu memberi kesaksian secara detil dan jelas. Juga membela Ken yang tak bersalah. Petugas polisi kemudian memanggil saksi mata lainnya. Si pelapor. Sontak, lelaki yang hampir kena sasaran tendangan maut Lina itu duduk ketakutan. Ia juga menjelaskan kurang lebih seperti Lina, hanya saja menghilangkan kalimat 'berniat untuk melecehkan' dan menggantinya dengan kata 'bercanda'.


Petugas polisi yang sedang mengetik berita acara itu pun geleng-geleng kepala. Ken yang sedang diamankan di sel lantas dibebaskan tanpa syarat setelah pelapor menarik laporannya. Lina mengancam akan melaporkan balik jika ia tak melakukan permintaannya. Lelaki itu menuruti permintaan Lina. Ia tak ingin berakhir seperti kawannya yang saat ini tak sadarkan diri di bangsal rumah sakit.


*


"Maaf ya, kamu jadi ikut keseret. Perkenalkan aku Lina," Ujar sang gadis sambil menyodorkan tangannya. Ken tersenyum dan menerima permintaan maafnya. Ia kemudian menjabat tangan Lina yang lembut seperti permadani.


"Aku, Ken. Gak papa kok, udah biasa," Ken menggigit lidahnya. Apa-apaan perkenalan diri seperti itu? Masa iya baru pertama kali ketemu cewek langsung buka rahasia udah biasa digelandang ke polsek?


"Em... Udah biasa apa?"


Untungnya Lina tak terlalu memahami konteks kalimat Ken. Ia pun berdalih bahwa dirinya sudah terbiasa disalah-pahami sebagai badboy. Padahal anak soleh. Lina tergelitik mendengar pengakuannya. Mereka pun menepi ke kafe terdekat. Sebagai permintaan maaf, Lina ingin mentraktir secangkir kopi. Ken tentu tak menolak.


"By the way, bentar.... "


Ken melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Lina. Gadis itu terkesiap. Ia merasa tersanjung karena diperhatikan.


"Makasih... " Jawabnya malu-malu.


Ken tidak ingin melihatnya dilecehkan kembali oleh orang lain. Siapa yang tak tergoda tubuh sintal berisi seperti kepunyaan Lina? Lelaki normal tentu ingin menjamahnya. Jika Ken bilang untuk menutup tubuhnya dengan sehelai kain lagi, Lina tentu akan marah dan merasa dihakimi. Ken tak ingin bertengkar. Cukup jaket saja yang disematkan dengan alibi 'supaya tidak masuk angin'.


Mereka berjalan beriringan menuju kafe. Sesampainya di sana, Lina memesan hot chocolate, dan Ken secangkir espresso.


"Udah lama tinggal di Meridien?" Lina membuka obrolan. Ken menggeleng.

__ADS_1


"Punya temen, aku cuma numpang di situ," sahut Ken percaya diri. Lina tersenyum, tidak biasanya laki-laki merendahkan diri. Sebagai anak konglomerat, ia terbiasa bertemu dengan lelaki borjuis yang selalu membanggakan hal-hal mewah, meski bukan miliknya. Lina tampak tertarik dengan kepribadian Ken yang apa adanya.


"Aku udah tiga tahun di sana... Enak loh tempatnya, coba aja pindah," saran Lina. Ken lagi-lagi menggeleng.


"Nggak ada duit," jawab Ken santai. Lina terkikik.


"Siapa teman yang tinggal di sana? Mungkin aku kenal," tanyanya sejurus kemudian.


"Dokter Chiko. Kenal nggak?"


"Oh.. Chiko? Iya kenal. Dulu kami teman satu sekolah,"


Deg Deg Deg Deg Deg Deg


Jantung Ken menjadi berdetak kencang.


"SMP Victor, angkatan 2001" Jawab Lina cepat sambil mengaduk-aduk minumannya.


"Loh.. Aku juga SMP Victor. Kok kayak nggak kenal ya? Kamu siapa nama lengkapnya?"


"Celina. Kalo dirumah dipanggil Lina. Kalo di sekolah, panggilanku Celine," Lina tersenyum.


Ken menepuk wajah dan menenggelamkannya dalam dua tangannya. Astaga! Celine! Gadis yang baru-baru ini ia pikirkan. Muncul tepat di hadapannya.


"Lin, ini gue Ken yang itu.. Yang kena skorsing pas habis berantem," Ken mulai berbicara informal pada Lina.


Lina mencoba mengingat kembali kenangan masa sekolah. Otaknya yang dipenuhi dateline proyek dan tumpukan draft desain tentu tak bisa berpikir secara optimal.

__ADS_1


"Bentar... Ken.. Ken.... " Lina memeras pikirannya supaya ingat. Ia juga penasaran. Sepertinya pernah mendengar nama itu di suatu tempat.


"Yang pernah ketusuk pisau!" Ken memberi petunjuk tambahan. Lina nyengir gembira.


"Oh my God! That KEN? Oh my God!" Lina tak henti-henti menepuk pundak Ken keras-keras. Ia sangat gembira bisa bertemu teman lama.


"Pakabar Lo?? Ya Ampun! Sori sori gue ngga ngenalin. Makin cakep Lo ya?" Lina ikut berbicara informal pada Ken. Mereka berdua menghabiskan waktu dengan sangat menyenangkan. Ken juga memuji penampilan Lina yang semakin menarik. Sampai-sampai bikin orang masuk sel tahanan. Lina menangkup wajahnya yang memerah.


"Stop it," pintanya. Ia benar-benar tak mengerti kejadian absurd hari ini. Ken dan Lina berbincang lama di kafe dekat polsek mulai dari buka hingga jelang last order.


"Maaf Pak, Buk. Kami sudah mau tutup ya," seorang pelayan mendekat ke arah mereka sambil membereskan bangku-bangku.


"Ya Ampun udah jam segini aja, Yuk cabut yuk!" Ajak Lina. Ken mengangguk. Mereka membereskan barang bawaan dan bersiap pulang ke Apartemen masing-masing.


DRRRTTTTTT


DRRRTTTTTT


DRRRTTTTTT


DRRRTTTTTT


Ken baru menyadari gawainya sedari tadi mati. Ketika baru dihidupkan, muncul pesan dan riwayat panggil tak terjawab berkali-kali.



"Astaga! Gue lupa!" Ken menepuk jidat keras-keras karena mangkir janjian hari ini.

__ADS_1


__ADS_2