PREMAN CEO

PREMAN CEO
Au Revoir, Mon Amour! (2)


__ADS_3

Sudah tiga bulan lamanya, Ken menunggu di apartemen Celina, namun, istrinya itu tak kunjung pulang. Beberapa kali, hanya Cathy--adik iparnya, yang keluar-masuk apartemen ketika Ken pergi bekerja. Mereka berpapasan di lift, dan tidak saling menyapa, meski keluar-masuk dari unit yang sama. Celina meminta tolong pada Cathy untuk mengambilkan barang-barang yang tertinggal, dan hari ini adalah hari terakhir pengemasan barang-barang Celina. Cathy memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengemasi barang kakaknya dengan dalih sibuk, namun sebenarnya, ia sedang mengamati perilaku kakak iparnya.


'Hhh... Kakak, seandainya kakak lihat betapa lunglainya kakak ipar setiap harinya,' batin Cathy setiap kali berpapasan dengan Ken yang hampir tanpa ekspresi dan aura kejayaan karena telah kembali menjadi putera mahkota Grup Tang.


Cathy dapat menilai gelagat Ken--kakak iparnya, tidak sungguh-sungguh jahat. Namun, ia juga tak biaa memaksa Kakaknya, Celina, untuk memaklumi pengkhianatan suaminya. Cathy hanya berdoa yang terbaik untuk mereka berdua, meski tanpa aksi nyata.


"Cathy, tolong sampaikan pada kakakmu, besok aku harus ke luar negei. kemungkinan kami tidak akan bertemu hingga setengah tahun," ujar Ken sekonyong-konyong, ketika berpapasan dengan Cathy di lift pagi ini.


Cathy melirik sekilas ke arah kakak iparnya, dan mengangguk pelan. Ia mendekap barang-barang kakaknya yang tersimpan di dalam kotak. Dari hati kecilnya, ia ingin memberitahu keberadaan kakaknya, namun Cathy tak bisa mengkhianati kepercayaan kakaknya.


"Tenang aja, kamu gausah kuatir. Aku sudah tahu dimana kakakmu, tapi, aku tidak mau membuatnya tak nyaman," desis Ken seperti mengerti maksud gelagat Cathy yang serba salah.


'Seharusnya kamu ngotot aja, bodoh! Dan memohon-mohon padanya. Wanita mana yang tega sama suami yang bucin maksimal. Huv! Dasar kakak ipar bodoh!'


Batin Cathy bergejolak, ingin memaki kakak iparnya, namun tak dilakukannya. Ia menjaga citra sebagai putri anggun keluarga Tanoesoeroyo, meski keluarga itu telah hancur berantakan. Cathy juga tak dendam pada Ken, karena ia memahami posisinya sebagai korban. Keluarga Tanoesoeroyo memang salah. Beruntung, kakaknya Celina mau mengurus Cathy dan memindahkan sekolahnya sehingga bebas dari perundungan yang selama ini dialaminya.


"Ya sudah, kakak kerja dulu ya. Jangan lupa ganti passcode-nya, karena kakak juga akan pindah, kok," ujar Ken sambil mengelus kepala adik iparnya. Cathy tersentak. Ia memegang ujung jas Ken yang menjulur ke arahnya.


"Ya, Cathy? Kenapa?" tanya Ken terkejut, akhirnya Cathy mau meresponnya. Selama ini, Ken seperti berbicara dengan Tembok Cina. Kuat, kokoh, besar, dan tak bisa bahasa manusia.


"Kakakku, sudah ke Perancis," ujar Cathy kemudian.


"Ya? Kapan? Sama siapa?" tanya Ken menyelidik.


"Sama Jeff. Mereka healing berdua," ujar Cathy.


Hati Ken serasa remuk redam mendengar nama Jeff diucapkan. Ini adalah kali kedua perasaannya terasa nyeri setiap melihat Jeff dan Celina bersama.


"Cathy, apa kau tau sesuatu? Apa Celina menyukai Jeff?" tanya Ken kemudian.


"Tidak. Kakakku itu agak bodoh. Dia tidak bisa berekspresi. Dia gila kerja. Tapi, yang aku tahu, Kak Jeff sangat mencintai Celina. Ibu Jeff adalah ibu temanku. Kami bertetangga ketika aku masih SD. Kakak Celina sudah dekat dengan Kak Jeff sejak kuliah. Sejak saat itu, mereka selalu bersama, dan adiknya bilang kalau Kak Celina adalah cinta pertama Kak Jeff," ucap Cathy yang membuat hati Ken ambyar. Ia menyesali pertanyaannya kepada Cathy. Sekarang, Ken menjadi paham mengapa Jeff terlihat sangat protektif pada Celina.


"Hhhh..... Baiklah, Cathy. Terima kasih sudah bercerita. Mau kakak antar?"


"Tidak perlu, aku naik taksi," ujarnya kemudian melambaikan tangan dan keluar dari lift untuk menuju ke jalan utama.

__ADS_1


Ken membalas lambaiannya dengan senyum getir. Ia masih tak bisa menerima kenyataan bahwa Celina telah benar-benar meninggalkannya untuk bersama pria lain. Kali ini, Ken akan berusaha melupakan istrinya dan memulai hidup baru. Meski tak mudah.


*


"Gila!! Udah gelas ke berapa ini???" pekik Chiko yang baru saja sampai di apartemennya.


"Sepuluh," ujar Hans pelan dengan memegangi pelipisnya.


Ken, Chiko dan Hans, kembali bersama di markas utama mereka, apartemen Chiko.


"Huhu.. Hikss!!! Cewek brengsek!! Jahat!!! Gua dibuang gitu aja!! Huhu.. Hiksss... Dia sekarang selingkuh sama cowo lain!! Huhuu..Hiksss..."


Ken menangis tersedu-sedu dengan wajah memerah akibat pengaruh alkohol.


Hans hanya bisa menepuk-nepuk punggung Ken untuk menguatkan sahabatnya itu.


"Makanya, Bre! Ceraiin aja.... Cari cewek baru," ucapnya tenang.


"Eh! Brengsek lo!! Nggak semudah itu! Huhu.. Hikss.. Hiksss.... " Ken kembali menangis setelah menonjok wajah Hans.


"Dasar kalian ini bocah tua nakal!! Mabok, ya mabok aja, gausah kelahi! Hadehhhh!!" Dengus Chiko yang kini ikut memar akibat tonjokan salah arah dari para sahabatnya.


"Huhuu... Huhu... Celina jahat!! Huhuu.... Huuu... " Ken masih sibuk menangis tanpa menghiraukan apapun juga.


Chiko dan Hans menyerah. Mereka membiarkan saja Ken hanyut dalam lautan air mata. Sebagai sesama pria, mereka paham bagaimana rasanya sulit menangis akibat harga diri. Dengan bantuan alkohol, air bah yang selama ini ditahan kedua pelupuk matanya, akhirnya dapat tumpah juga.


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu membuyarkan tangisan Ken yang sejak tadi meraung-raung seperti bocah tantrum.


Tok!!!

__ADS_1


Tok!!!


Tok!!!


Ketukan itu tak berhenti dan memanggil-manggil pemilik rumah supaya segera keluar. Kali ini, terdengar agak kasar. Chiko segera menghambur ke arah pintu dan membukanya.


"Ken!! Ken!! Sialan dimana lo?"


Seorang pria, dengan langkah gontai, menyergap ke dalam apartemen Chiko.


"Eh, kenapa lo anjing!! Selingkuhan istri gue!!" Ken naik pitam melihat Jeff sedang berdiri di hadapannya. Tinjunya mengepal, siap dilayangkan.


"Eh, anjing! Lo tuh yang anjing!! Sial!! Udah bener-bener si lina gua kasih ke lo, malah disia-siain, anjing lo!!"


Baku hantam tak terelakkan. Kali ini, agak brutal dan beringas. Kedua belah pihak yang memukulkan tinju dengan sempoyongan berhasil melukai satu sama lain. Wajah mereka lebam dan berdarah, setelah puas bersakit-sakit, akhirnya, Ken dan Jeff terkulai di lantai ruang tengah.


Chiko sebagai pemilik rumah dan satu-satunya pria yang tidak sedang mabuk, merasa sangat dirugikan oleh tingkah 3 orang tamu yang tak tahu diri dan sudah membuat kekacauan. Ia bahkan diprotes tetangganya karena sangat berisik. Chiko harus meminta maaf dan melaporkan ke security apartemen bahwa ketiga sahabatnya sedang di-PHK jadi mabuk-mabukan supaya mengurai kesedihan.


"Dasar kalian kutu kupret!! Hadooohhhh!" Chiko menghela nafas dengan kasar, kemudian, menata Hans, Ken dan Jeff agar tidur bersebelahan di atas karpet ruang tengah.


"Lin... "


"Celina... Boss... "


"Pretty..... "


Ketiga pria mabuk itu memanggil-manggil nama kekasihnya seperti hendak ditinggal mati. Chiko sudah tidak peduli, ia merebahkan dirinya di kasur dan segera tidur, karena, besok harus berjaga shift pagi di rumah sakit.


"Lho, bentar... bentar... Ken mabok kan gara-gara Jeff cabut ke Paris sama Celina, ngapa dia di sini dah?"


Chiko yang hampir terpejam, seketika memikirkan hal random yang baru saja muncul di hadapannya. Ia jadi susah tidur karena harus berpikir. Chiko menyesali keputusannya yang absurd itu.


...****************...


...bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2