
Jadwal Hilda yang sibuk harus dilonggarkan untuk menghadiri acara pra-kampanye dari Gaus Tanoesoeroyo. Ia sudah berjanji akan datang sebagai sponsor dan pemberi rekomendasi. Dunia perpolitikan memang rawan dengan skandal. Namun, jika pengelola organisasi sosial tidak ikut andil dalam ranah politik, tentu saja usahanya akan setengah jalan.
Hilda memahami bahwa politik dapat menjadi seperti pisau. Di satu sisi, ia dapat berfungi sebagai alat serangan, di sisi lain, pisau tersebut juga dapat melukainya. Untuk itu, Hilda selalu berhati-hati dalam melangkah. Kali ini, Hilda berharap, keluarga Tanoesoeroyo dapat menepati janji mereka setelah duduk di kursi penguasa.
Tak terasa, malam pra-kampanye pun tiba. Hilda mendatangi Hotel Harrison bersama Romy untuk hadir dalam pesta yang diselenggarakan oleh Gaus. Acara ini adalah titik mula Gaus melakukan kampanye di kalangan atas, sebelum terjun ke pasar-pasar dan gang-gang sempit yang diperuntukkan bagi masyarakat kelas bawah.
"Your name is?" tanya resepsionis yang menangani tamu undangan.
"Hilda Tang," jawab Hilda dengan elegan.
"Please, have a seat," ujar resepsionis itu dengan sopan. Ia mengira Hilda adalah tamu dari luar negri karena perawakannya yang tinggi dengan rambut pirang.
"Baiklah, semuanya, mohon perhatian," suara MC menggelegar di atas panggung kecil yang disiapkan oleh panitia kampanye. Ruang serbaguna hotel yang cukup luas, disulap menjadi panggung gembira oleh tim pemenangan Gaus. Alunan musik dan tari-tarian mengiringi suasana malam yang hangat. Beberap kru televisi juga tampak diundang. Mereka sedang menikmati kudapan sambil sesekali menyorotkan kamera ke arah panggung. Hilda mencoba mencari pemilik acara, namun belum ditemukannya.
"Please welcome. Pak Gaus Tanoesoeroyo. Calon walikota jakbar kesayangan kita semua, tepuk tangan!!"
Prok
Prok
Prok
Suara tepuk tangan terdengar meriah, kebanyakan berasal dari para relawan tim pemenangan yang berada di barisan kursi depan. Mereka tampak memakai seragam putih biru bertuliskan 'Partai Harapan Bangsa' dengan topi bermaskot No.1 sesuai nomor urut Gaus di Pilkada.
"Tes.. Tes.. Ehem. Selamat malam, rekan-rekan tersayang. Terima Kasih sudah hadir di acara ini. Hari ini saya akan mendeklarasikan diri sebagai CALON WALIKOTA JAKBAR! Mohon dukungannya ya, rekan-rekan semua.... " ujarnya dengan tangan melambai tegas seakan sudah dikoreografikan sebelumnya.
Prok
Prok
Prok
"GAUS, NO. 1"
"GAUS, NO. 1"
"GAUS, NO. 1"
Terdengar sorak-sorai pendukung Gaus menggema di seluruh gedung. Hilda ikut menepukkan tangannya. Romy tampak menikmati sajian alkohol yang sangat harum dan beraneka ragam. Pesta berlangsung meriah tanpa hambatan dan ditutup dengan yel-yel pemenangan serta perkenalkan dari para sponsor. Esok hari, adalah hari efektif kampanye. Gaus akan mulai menyasar pasar tradisional untuk memikat hati para calon pemilihnya.
*
__ADS_1
Suasan pasar tradisional sangatlah ramai. Velly baru pertama kali pergi ke sini. Sepertinya ia salah kostum. Gaus tidak memberitahu rincian agenda kampanyenya dan malah memilih pasar sebagai kunjungan pertama.
"Pah, kok nggak bilang kita mau ke pasar? mana aku pake high heels ini!" ujarnya kesal.
"Lah, kamu ngapain sih pake high heels? Lagian kalo pun nggak ke pasar, apa nggak capek kalo ikut seharian pake gituan?" sahut Gaus tanpa rasa bersalah.
"Siapa yang bilang mau ikut kamu seharian? Orang cuma mau foto-foto trus upload doang, kok. Habis gitu ya aku pergi belanja, lah. Udah bosen ama baju yang gitu-gitu aja,"
"Hhhh.... Kamu tuh ya. Sabar sedikir dong. Pura-pura jadi nyonya yang baik bisa nggak sih?" kali ini suara Gaus agak meninggi.
"Eh, Pah! Nggak usah ngegas! Kalo kamu butuh ibu rumah tangga, sewa aja sana. Siapa yang bikin kamu jadi kayak gini? Ngaca dong!" cetus Velly tidak mau kalah.
Gaus terdiam tak bisa menjawab. Meski pun istrinya memang tidak setia sama seperti dirinya, tapi kemampuan bersiasatnya di atas rata-rata. Velly memang mewarisi sifat licik seperti rubah milik ibunya.
"Iya, maaf... Yaudah kamu beli sandal teplek sana, di sebelah sana tuh," Gaus mengelus tangan istrinya. Velly mendengus kesal dan berjalan ke arah toko sepatu yang ada di pojok gang.
"Eh! Itu Pak Gaus!! Ayo kesana!"
Seorang wartawan jalanan tampak berlari ke arah Gaus dan timnya yang sedang membagikan selebaran 'Coblos No. 1!' kepada para pengunjung dan pedagang di pasar. Meski suasana sangat panas dan padat, Gaus tak tampak kelelahan. Ia sedang berakting tahan banting dan menampilkan sosok pemimpin yang mengayomi warganya. Padahal, seumur hidupnya, Gaus tak pernah pergi ke pasar tradisional. Ibunya bahkan tak tahu bahwa pasar itu ada. Ia selalu membeli sesuatu secara daring dan sampai di depan rumah tanpa harus repot-repot kesana-kemari.
"Pak.. Pak Gaus!" panggil reporter itu dengan nafas tersengal.
"Oh ya. Halo semua!" jawab Gaus dengan riang. Ini adalah kesempatan untuk cari muka di hadapan wartawan.
"Tentu.. Tentu... Silakan. Apa yang mau ditanyakan?"
"Pak, bagaimana pendapat bapak soal konflik relokasi pasar ini, Pak? Lagi rame nih," tanya wartawan yang sedang jajak pendapat ke lapangan. Kebetulan, pimpinan redaksi mengutusnya untuk mencari berita soal proses relokasi pedagang Tanah Merah yang semrawut dan mengakibatkan lalu lintas Jakarta selalu macet. Banyak sektor yang terganggu, sehingga ada rumor relokasi supaya dapat mengurai kemacetan, namun, ditolak oleh para pedagang.
"Wah. Kalau itu sih," Gaus tampak berpikir sejenak. Kepala kampanye membisikkan sesuatu ke arahnya, ia lalu berdehem, dan menjawab.
"Ehem... Itu sih, saya setuju untuk relokasi. Supaya Jakarta lebih ramah jalannya, ya kan?" ujarnya percaya diri.
Tiba-tiba, sebuah tomat busuk meluncur ke arah wajahnya yang tersorot kamera TV.
****!
"Relokasi, gundulmu!! Kita wes ndek sini dari jaman merdeka kok mau dipindah-pindah!! Oya ndak mau!!"
Seorang wanita tampak marah-marah mendegar komentar Gaus yang sedang diwawancara. Wanita itu adalah pemilik kios sayur yang sedang berada di seberang lokasi Gaus.
"Eh! Bu!!! Jangan ngawur kamu!" Velly tak terima atas perlakuan wanita itu. Ia yang baru saja selesai membeli sepatu dan langsung berlari ke arah wanita penjual sayur tersebut. Velly sudah melakukan ancang-ancang untuk menjambak rambut wanita itu, namun, segera dilerai oleh Gaus.
__ADS_1
"Sudah... Sudah.. Maaf, Bu. Saya salah ngomong.. Ya, ya, kalo saya jadi walikota, saya akan bangun jalan layang saja, biar ndak macet!"
Respon Gaus langsung diiringi teput tangan meriah dari pedagang pasar. Wanita pelempar tomat itu pun sudah tidak tampak marah dan merapikan tusuk konde-nya yang hampir melorot.
Prok
Prok
Prok
"GAUS, NO. 1"
"GAUS, NO. 1"
"GAUS, NO. 1"
Para relawan tak melewatkan momentum ini dan langsung memekikkan yel-yel mereka. Gaus mengangkat tangannya yang terkepal lalu melambaikan tangan. Velly tidak jadi menjambak wanita yang sudah kurang ajar pada suaminya. Ia kini berada di sisi Gaus dan ikut melemparkan ciuman ke udara.
"GAUS, NO. 1"
"GAUS, NO. 1"
"GAUS, NO. 1"
Kemeriahan kampanye hari pertama berjalan lancar. Sampai seseorang memekikkan sesuatu yang tak terduga,
"Jangan pilih koruptor!"
Gaus dan timnya sangat terkejut tak percaya. Mengapa ada provokator seperti itu di acara kampanye mereka? Baru saja Gaus akan memerintahkan pengawalnya untuk mengurus bocah kurang ajar itu, namun, pekikan lainnya terdengar dari segala arah.
"Jangan pilih koruptor!"
"Jangan pilih koruptor!"
"Jangan pilih koruptor!"
Gaus menarik perintahnya. Wartawan yang berada di sana tiba-tiba memeriksa ponsel pintarnya. Kepala kampanye tampak pucat, ia lalu memperlihatkan sesuatu dari ponselnya pada Gaus. Mereka semua tercekat tanpa suara.
...****************...
...bersambung...
__ADS_1
...****************...