
...♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️...
...🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih....
...🥰🥰Happy Reading🥰🥰...
Seusai Laura kembali tenang dan tertidur diruangan UGD, Mithapun masih stay menemaninya.
Sedangkan Sebastian, Andre dan kedua adiknya masih menunggu diluar ruangan UGD. Waktu sudah hampir menjelang pukul satu dini hari. Bunyi ponsel Jenifer memecahkan keheningan malam.
Jenifer mengintip dari balik ponselnya, siapa yang menelponnya. Terlihat jelas nama Mama Teresia yang menelpon.
Sebastian dan Davidpun ikut menoleh kearah bunyi ponsel Jenifer, lalu menanyakan siapa yang menghubunginya.
Jeniferpun menunjukkan layar ponselnya, yang bertuliskan nama Mama.
"Angkat saja, dik." Ucap Sebastian cepat.
"Okay." Sahut Jenifer.
Jeniferpun langsung menggesel layar hijau tersebut, untuk menjawab panggilan dari sang Mama.
"Hallo Mah.."
"Hallo.. sayang, Apa kamu bersama kakak-kakakmu?"
"Iya.. Mah, Jeni bersama kak Sebastian dan kak David."
"Kenapa kalian belum pulang, sampai selarut ini?"
"Sebentar lagi kita pulang Mah, jangan khawatir! Kami sudah dewasa Mah, bisa menjaga diri. Mama istirahat saja, ingat jaga kesehatan Mah."
"Iya sudah, kalian secepatnya pulang. Sekarang, Mama mau istirahat saja kalau begitu."
"Okay Mah, good night."
"Good night too sayang, hati-hati di jalan."
"Iya Mah."
__ADS_1
Lalu keduanya mengakhiri panggilannya.
"Kak David dan kak Sebastian, sepertinya kita harus pulang, Mama khawatir sama kita belum pulang selarut ini." Tutur Jenifer memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas lengannya.
"Tapi, kakak ingin berbicara dengan Laura dan meyakinkan Laura, dik." Ujar Sebastian lirih.
"Iya sudah, kalau kak David bagaimana, mau pulang atau mau disini?" Tanya Jenifer kemudian.
"Kak David tetap disini dik, temani kak Sebastian. Kamu pulang saja sama Asisten Andre, hati-hati dijalan." Ujar David.
"Baiklah kalau begitu, ayo.. Asisten Andre kita pulang." Ajak Jenifer bangkit dari kursi dan meninggalkan kedua kakaknya.
"Siap.. Nona." Ucap Andre cepat.
*******
Laura terbangun dari tidurnya, karena obat penenang tadi. Waktu sudah hampir pagi, menujukkan pukul empat.
Laura mengedarkan pandangannya, dia melihat Mitha yang masih tertidur dikursi tunggu dengan posisi duduk dan menyeder kesandaran kursi.
Air mata Laura lolos begitu saja, takkala ingatannya kembali berputar saat dirinya bertemu dengan pria yang merampas kesuciannya itu.
Yang tidak Laura habis pikir, kenapa pria itu benar-benar nekad datang kepadanya dengan berani. Mengapa dirinya belum pernah melihatnya sama sekali sebelumnya. Mengapa pria itu harus menjadi kakak kandung dari sahabatnya yaitu David.
"Hikkzz.. hikkzz.. hikkzz.." Tangisan Laura kembali terdengar, hingga Mitha yang tertidur pulaspun seketika bangun dan mengucek matanya yang sedikit berembun karena belum sepenuhnya nyawanya terkumpul.
Mitha langsung sigap menghampiri Laura yang sedang menangis, seraya menekuk kedua kakinya dan melipat kedua tangannya dilutut kakinya dan menenggelamkan wajahnya dikedua pahanya.
"Ra.. sudah Ra, mau sampai kapan kamu terus terpuruk dan hancur seperti ini?" Tanya Mitha dengan mengusap punggung sahabatnya itu pelan.
"Hikkzz.. hikkz..." Laura tidak menjawab pertanyaan Mitha, dia masih terus menangis.
"Kemana dirimu yang tegar, Ra? Kemana dirimu yang selalu kuat dan tidak mudah diremehkan? Aku mohon Ra, untuk sekarang ini, kamu jangan lemah lagi." Ujar Mitha meminta sahabatnya kembali seperti Laura yang dulu.
Masih tidak ada jawaban dari bibir Laura, namun tangisannya seketika terhenti lalu Laura mengangkat wajahnya untuk mendongak kearah Mitha.
"Ra.. aku ingin bercerita banyak dengan apa yang aku dengar dari mulut pria itu secara langsung. Apakah kamu mau mendengarkannya?"
Dengan tersenyum kecut, Laura hanya menggelengkan kepalanya, lalu dia hendak menenggelamkan wajahnya kembali. Tapi, dengan capat tangan Mitha menahan dan menangkup kedua pipi Laura untuk tetap melihat matanya.
__ADS_1
"Ra.. dengarkan aku kali ini! Apa kamu benar-benar tidak mempercayai aku sebagai sahabatmu, yang akan selalu mendukungmu dan membelamu, heum?"
Laura masih diam, dengan dimatanya yang masih penuh dengan air mata yang mengalir tanpa suara isak tangisnya.
"Ra.. apa kamu masih kekeh dengan semua ego kamu, tanpa memperdulikan ucapanku, heum?"
Kali ini Laura sedikit bergumam pelan. "Heeem.."
Dengan wajah sedikit berbinar dan tersenyum, Mithapun memeluk Laura dengan sayang. "Ra.. percayalah padaku, dengan apa yang akan aku katakan. Demi kebaikanmu dan kita semua."
"A.. apa maksudmu, Tha?" Tanya Laura masih dengan bibir bergetar.
Betapa hancurnya hati seorang wanita, yang sudah terampas miliknya yang paling berharga, pasti akan mengalami yang namanya Traumatik, rasa cemas, ketakutan yang berlebihan, mengurung diri dan rasa benci yang mendarah daging.
"Aku ingin bercerita semua, dengan apa yang baru semalam aku tahu, Ra. Kamu harus mendengarkan apa yang aku katakan dan ceritakan. Setelah kamu tahu semua yang aku ceritakan, tentang pria itu yang tak lain adalah kakak kandung David, baru kamu boleh mengambil keputusan dan mengambil tindakan apa yang akan kamu ambil nantinya".
"Heem.. " Laura bergumam pelan lalu menganggukkan kepalanya tanda menuruti ucapan Mitha.
"Baiklah aku akan mulai bercerita sekarang, kamu harus dengar dan pikirkan baik-baik ya, Ra!" Seru Mitha mengingatkan.
Mithapun bercerita kepada Laura, saat pria itu yang bernama Sebastian dengan gamblangnya menceritakan bagaimana awal mula dia bisa suka dan cinta kepada Laura, hingga nekad memperkosa Laura. Lalu Mithapun bercerita tentang sikap pemberani Sebastian yang akan menerima semua keputusan Laura, bahkan dirinya siap dihukum penjara ataupun rela mati asalkan kamu bisa sembuh dari sakit traumatiknya.
Laura sedikit mengerutkan keningnya, merasa heran dengan cerita Mitha. Masa iya masih ada pria yang menyukainya sebagai pengagum rahasia dan begitu tega memperkosanya dengan alasan yang ambigu, pikirnya.
"Tapi, Tha! Apa demi menghindari pernikahannya dengan wanita yang tidak dia cintai, lalu dia tega melakukan itu kepadaku, heum?" Tanya Laura masih tidak membenarkan tindakannya yang berakibat fatal.
"Pria itu sudah kalut, Ra. Tidak bisa berpikir jernih dan buntu." Tutur Mitha dengan membela ucapan Sebastian semalam.
"Maaf Tha, dengan berat hati aku tetap akan menuntutnya, yang sudah merampas kesucianku dan menghancurkan masa depanku."
"Tapi, Ra! Apa yang aku katakan semua demi masa depan kamu dan keinginan kamu, untuk menjadi wanita yang tetap tangguh dan kuat."
"Aku akan tetap menuntutnya masuk penjara, Tha. Sekalipun dia bos dari tempat kita bekerja." Janji Laura dengan yakin dirinya bisa.
...♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1