Pria Yang Merampas Kesucianku

Pria Yang Merampas Kesucianku
Atas Nama Sahabat


__ADS_3

...♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️...


...🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih....


🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Sejak pertanyaan David semalam, yang membuat Mitha marah dan meradang. Hingga detik ini, dirinya lebih banyak diam ketimbang berbicara.


David sebenarnya kecewa dengan jawaban Mitha semalam, yang sudah menganggap cintanya gila dan hanya sebuah permainan dan pelarian.


Jujurly dalam hati David yang paling terdalam, jauh sebelum dia berpacaran dengan Berliana mantan kekasihnya dulu. Dia pernah ada rasa kepada Mitha sahabatnya, yang sudah lebih memiliki pacar yaitu Lucky. Namun, rasa itu dia tepis jauh-jauh, karena dia tidak ingin menjadi perusak hubugan Mitha dan Lucky.


Akhirnya, dia memilih berpacaran dengan Berliana, karena memang parasnya yang tidak kalah cantik dari Mitha dan mengejar-ngejar cintanya juga.


Hubungan David dan Berliana sebenarnya sangat normal dan mesra, namun David tidak pernah bisa memuaskan Berliana diatas permainan ranjangnya.


David begitu dingin dan kurang berhasyrat dengan Berliana, jadi Berlianalah yang selalu memulainya dahulu. Mungkin karena sebab itulah, Berliana berselingkuh dibelakangnya.


Davidpun hanya menghela napas panjang, saat menyadari dirinya terlalu terburu-buru menyatakan perasaannya kepada Mitha. Padahal Mitha baru saja mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya Lucky.


Kata-kata Mitha semalam terus berputar-putar diingatan David, yang membuatnya ingin menangis tapi tidak bisa. David mengerti hati Mitha sedang terluka, mana bisa semudah itu berpindah ke lain hati, apa lagi dirinya merupakan sahabat baiknya selama ini.


"Aku ini sahabatmu, David! Kamu jangan gila! Kita sahabat, selamanya akan menjadi sahabat! Apa kamu lupa dengan perjanjian kita! Aku bukan pelarianmu dan kamu bukan pelarianku! Kita sama-sama sedang terluka dan hancur, jangan rusak pertemanan kita dengan cara seperti ini."


Kata-kata itu terus berputar dalam ingatan David, hingga dirinyapun tidak sanggup membalas ucapan Mitha semalam hingga pagi menjelang.


"Uueeemmm..." Mitha terbangun, lalu menggeliat khas bangun tidur.


Sinar matahari pagi yang menyilaukan mata Mitha, membuatnya mengerjapkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.


Mitha yang masih berbaring dipaha David, seketika terduduk dan menatap bola mata David yang memang sudah terbangun, dengan bersandar dibatang pohon kelapa.


Dirinya begitu kikuk dan gugup, saat menatapnya jika teringat kata-katanya yang sedikit keras kepada David, hingga mampu membuatnya bungkam dari semalam. Al hasil, Mithapun tersenyum canggung dan menjadi salah tingkah dibuatnya.


Lebih merasa bersalah kepada David, karena tidak seharusnya dia marah dan kesal kepada David. Bagaimanapun Davidlah yang menemani dirinya yang sedang hancur dan terpuruk, hingga luka itu sedikit terobati dengan perlahan-lahan.


Mitha mencoba membangun komunikasi kembali dengan David, yang mungkin bisa mengurangi bad mood David kepadanya.


"Vid.. apa kamu sudah bangun sedari tadi?"

__ADS_1


"Heumm.."


"Kenapa tidak membangunkanku? Apa pahamu terasa pegal dan sakit, saat aku pakai untuk bantal kepalaku."


"Tidak!" David irit bicara.


"Apa kamu masih marah, Vid?"


"Heem..!" David hanya bergumam dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu irit sekali dalam bicara? Aku seperti tidak mengenalmu, Vid"


Pertanyaan Mitha tidak ada jawaban untuk beberapa saat, suasana mendadak sepi tidak ada percakapan diantara mereka.


"Sudahlah.. Tha, kita pulang sekarang!" Ucap David dingin, lalu bangkit dari posisi duduknya, dengan menepuk-nepuk celana levisnya, untuk membersihkan pasir yang menempel.


Mitha terdiam, dirinya seakan melihat sosok David yang berbeda dari biasanya. Mitha seakan tidak percaya, dengan perubahan David yang begitu cepat dalam semalam.


"Apa dia marah, karena aku menolaknya semalam? Atau dia sudah membenciku kini? Apa dia tidak terima dengan semua ucapanku? Ataukah ucapanku semalam teramat kasar? Maafkan aku, Vid. Aku tidak bermaksud menyakitimu dengan kata-kata kasarku. Aku hanya tidak ingin persahabatan kita menjadi hancur, karena kita nanti saling menyakiti karena pelarian cinta kita masing-masing yang dipaksakan."


Mitha melamun memikirkan kata-katanya, yang mungkin saja sudah menyakiti David dengan sengaja ataupun tanpa sengaja.


"Tha..! Apa perlu aku gendong, heum?" Tanya David gemas, yang melihat Mitha seakan enggan beranjak dari tempat duduknya.


"Eeeh.. kenapa sih, kamu teriak-teriak, Vid?" Tanya Mitha terkejut dari lamunannya.


"Ha.. ha.. ha.. habisnya, kamu dipanggil dari tadi diam dan melamun terus." Tawa David yang merasa lucu melihat wajah Mitha yang sedang terkejut.


"Haiish.. kamu tuh, nyebelin!" Kesal Mitha mendorong tubuh David, yang sedang berdiri didepannya, namun tubuh David tidak goyang sama sekali.


Tanpa kata, David mengulurkan tangannya dan mengangkat tubuh Mitha, yang sepertinya enggan berdiri.


"Haap..!" Dengan cepat Mitha berdiri berhadapan dengan David saat ini.


"Vid.. aku tidak mau pulang sekarang. Aku belum siap bertemu dengan Laura dulu, Vid. Please.. !" Melas Mitha dengan wajah mengemaskan seperti anak kucing yang minta dimanja, dengan menangkup kedua tangannya didepan wajah David.


"Heum.. terus, kamu mau kemana sekarang?"


"Eemm.. aku masih mau disini dulu, Vid. Untuk satu hari lagi saja, setelah aku siap bertemu Laura." Pinta Mitha dengan tersenyum kecil.

__ADS_1


"Memangnya, kamu mau izin kuliah lagi? Sudah tiga hari loh, kita tidak masuk kuliah."


"Iya.. Vid, izin kuliah satu hari lagi. Please.. !" Mitha memohon dengan sangat dan menaik turunkan alisnya, wajahnyapun dia buat semanis mungkin, untuk merayu David agar mengabulkan keinginannya.


"Astaga.. Tha, mengapa kamu begitu menggemaskan?" Ucap David dalam hatinya, tanpa sadar sudut bibirnya tersenyum kearah Mitha.


"Vid.. ! DAVID.. !" Ucap Mitha lirih, detik kemudian berteriak karena David tidak menghiraukannya.


"Hiis.. aku tidak tuli, Tha. Kenapa kamu berteriak memanggilku?" Decak David sedikit merengut.


"Habisnya.. aku panggil, kamu malah senyum-senyum sendiri." Ucap Mitha mencari alasan.


"Ha.. ha.. ha.. habis kamu menggemaskan." Ujar David tertawa, seraya berjalan meninggalkan Mitha yang kini wajahnya sedang bersemu merah.


"David.. tunggu! Jangan tinggalin aku." Panggil Mitha, lalu mengejar langkah David yang sangat lebar.


"Kita cari makan, aku lapar, Tha." Ucap David, seraya berjalan kearah restoran disekitar pantai.


"Iya.. aku juga lapar, Vid." Ucap Mitha mengikuti.


David dan Mithapun berjalan beriringan menuju restoran siap saji yang menyediakan makanan laut, seperti ikan, cumi, udang dan kepiting.


Mitha memesan cumi asam manis, sedangkan David memesan ikan salmon saus teriyaki. Kali ini makanan yang mereka pesan berbeda, biasanya selalu sama jika sedang makan direstoran seperti ini.


"Tumben, kamu pesan ikan salmon, Vid." Ujar Mitha mengerutkan dahinya heran.


"Lagi kepingin, makan ikan." Ucap David asal.


"Ooh.. kirain aku, kamu mau makan cumi sepertiku, Vid."


David hanya menggidikkan bahunya, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Setengah jam kemudian, pesanan merekapun sudah tersaji dihadapan mereka.


Dalam diam mereka menikmati makanannya, hanya suara dentingan piring dengan sendok dan garpu yang saling beradu.


"Hai.. D- david! Apa aku tidak salah melihatmu ada disini?"


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...

__ADS_1


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--


__ADS_2