
...♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️...
...🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih....
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Dikontrakkan Laura.
Sebastian menunggu Laura diluar, karena Laura sedang membuatkan minuman hangat untuk Sebastian yaitu air lemon tea.
"Kak Sebastian.. maaf, sudah menunggu lama. Ini silahkan diminum air lemon teanya, selagi hangat."
"Terima kasih, sayang! Apa boleh aku panggil sayang sama kamu?" Tanya Sebastian hati-hati.
"Boleh kak, tidak ada yang melarang." Ucap Laura dengan senyuman.
Laura duduk disamping Sebastian yang hanya berjarak kurang lebih sekitar 30 cm. Kursi yang berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu jati itu, memang Laura dan Mitha beli sengaja untuk tamu yang sedang berkunjung kekontrakkannya.
"Aku minum ya, air lemon teanya, sayang." Ujarnya dengan senyuman.
"Iya.. kak, habiskan kalau suka. Nanti aku buatkan lagi untuk kakak."
"Ha.. ha.. ha.. aku nanti kembung kalau kebanyakan minum." Sebastian tertawa saat Laura menawarkan minumannya lagi.
"Hi.. hi.. hi.." Laurapun ikut tertawa kecil.
"Usia kamu berapa, sayang?" Tanya Sebastian basa-basi, karena semua identitas Laura dia sudah tahu dari Asistennya Andre.
"Usia aku 21 tahun, kak. Kalau usia kakak berapa?"
"Usia kakak 29 tahun, jalan 30 tahun beberapa bulan lagi. Sudah kelihatan tua ya, sayang?"
"T-tidak kak, malahan wajah kakak kayak seumuran sama David, kak." Ucap Laura gugup namun jujur.
"Ha.. ha.. ha.. masa sih, sayang? Kamu sih suka bikin orang keGRan, kalau kamu mujinya begini."
"Benar serius aku, kak! Aku jujur dengan apa yang aku katakan. Nanti, kak Sebastian bisa tanyakan kepada Mitha sahabatku, apa pendapatnya tentang usia kakak."
__ADS_1
"Iya.. iya, aku percaya, sayang. Berarti kamu tidak malu 'kan, jika menikah dengan kakak, meski usia kita berbeda jauh hampir delapan tahunan."
"Tidak, kak. Mungkin kakak memang sudah menjadi jodoh aku, meski kita menikah karena insident itu. Tapi, aku sudah sadar dan menerima niat kakak untuk bertanggung jawab dengan cara menikahiku."
"Terima kasih, sayang. Jujur aku menyukaimu, teramat menyukaimu sejak melihatmu bekerja di restoranku."
"Heumm.. kenapa kakak tidak berani menghampiriku, meski sekedar berkenalan dan menyapaku saja?"
"Eemm.. karena aku takut kamu menolakku. Aku tahu, kamu tidak mau memikirkan cinta dan pacar, karena kamu sudah sibuk kuliah dan bekerja, jadi tidak ada waktu untuk berpacaran, bukan?"
"Kakak tahu dari Asisten Andre, bukan? Dia yang sudah menyelidiki semua tentang aku, biodata aku dan alamat rumah aku, bukan?"
"He.. he.. he.. iya, sayang. Asisten Andre memang paling bisa diandalkan."
"Iish.. kak Sebastian kenapa ssmpai segitunya? Sampai mengorek informasi dari sahabatku sendiri. Pasti Asisten Andre juga punya mata-mata di restoran, bukan?"
"Ha.. ha.. ha.. heumm.. kamu pintar sekali, sayang."
"Memangnya, semenarik apa sih, aku dimata kak Sebastian? Sampai kak Sebastian menyelidiki aku sampai segitunya." Laura heran dengan kelakuan Sebastian yang seperti detektive, layaknya menyamar memakai topeng tanpa identitas dan memperhatikan dari jauh dengan mengagumi seseorang, yang tidak tahu siapa dirinya.
"Semua yang melekat didiri kamu, bagiku menarik dan membuatku penasaran. Rambut kamu, mata kamu, pipi kamu, hidung kamu, bibir kamu dan seluruh wajah kamu. Tubuh kamu, sikap ramah kamu, senyuman kamu, cara bicara kamu dan semua kepribadian kamu, sayang." Ungkap Sebastian dengan gamblang.
"Iish.. enak saja! Ya tidak dong, sayang. Aku tuh benar-benar tulus, sayang dan cinta sama kamu. Kamu bisa buktikan nanti, setelah kita resmi menikah."
"Heuum.." Laura hanya bergumam pelan dan mengulum senyum. Seketika, wajahnya merona merah dengan apa yang diungkapkan oleh calon suaminya itu.
"S-sayang.. a-apa a-aku boleh pegang tangan kamu?" Tanya Sebastian begitu gugup, hingga keluar keringat dingin saat memintanya.
"Eeumm... untuk apa, kak?" Tanya Laura lirih dengan gumamman.
"A-aku i-ingin menghilangkan rasa trauma kamu kepadaku, sayang. A-aku takut, saat kita menikah nanti, masih ada rasa trauma kamu kepadaku." Ujar Sebastian gugup dengan begitu hati-hati.
"Ooh.. astaga, kak Sebastian!" Ucap Laura tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan. Lalu tangannya terulur, untuk menyentuh jari tangan Sebastian, yang begitu besar namun terawat.
Sontak saja Sebastian bergeming, saat tangan Laura menyentuh jari-jari tangannya. Namun, hatinya begitu bahagia seperti ada kupu-kupu yang beterbangan diatas kepalanya.
"B-bagaimana, kak? A-apa kakak senang? Aku tidak takut 'kan menyentuh tangan kakak." Tanya Laura gugup, mencoba terbiasa untuk berdekatan dengan calon suaminya, Sebastian.
__ADS_1
"I- iya, sayang. Terima kasih." Ucap Sebastian masih dilanda gugup.
Perlahan sentuhan tangan mereka saling menautkan jari-jarinya dan getaran dada yang berdebar-debar sedang mereka rasakan.
Merekapun mulai merasa nyaman dalam berbincang dari hati ke hati, tatapan mata yang begitu penuh arti. Laurapun seakan merasakan sudah jatuh cinta, meski dirinya belum begitu memahaminya. Lalu, mereka mulai merencanakan pernikahan dalam waktu secepatnya, setelah membereskan urusannya bersama Calista dan keluarganya.
"Kak.. aku belum bertemu dengan Papanya Kakak. Apakah beliau akan menerimaku dan menyetujui aku yang akan menjadi menantunya? Aku belum begitu yakin, kak."
"Kamu tidak usah memikirkan hal itu, sayang. Papa Sofyan pasti akan setuju, seperti Mama Teresia. Aku dan David akan bicara kepadanya dan meyakinkannya. Papaku orang yang mengagungkan tanggung jawab, diatas segalanya."
"Syukurlah, kalau begitu." Ucap Laura lega.
*******
Dikediaman Lucky.
Lucky bergeming tidak mampu menatap mata kekasihnya, dirinya sudah tidak bisa mengelak lagi. Nyatanya Calista adalah kekasih bayangannya, selama ini yang bebas dia mainkan sesuka hatinya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus Mitha lontarkan kepada Lucky, sang kekasih. Tapi, dia hanya bungkam tanpa bisa menjawab pertanyaan Mitha.
Akhirnya Mithapun emosi dengan semua pertanyaan yang dia berikan, namun tak kunjung ada jawaban. "MAS LUCKY... AKU ITU SUDAH MENGAJUKAN BANYAK PERTANYAAN, KENAPA MAS LUCKY DIAM SAJA, TIDAK JUGA MENJAWAB PERTANYAANKU?" Teriak Mitha dengan mengguncang-guncangkan tubuh Lucky.
Tidak ada jawaban, Mithapun beranjak dari kursi dan berjalan menjauh dari kedua pria yang sangat penting dalam hidupnya itu.
David ikut berdiri dan menghampiri Mitha yang terlihat sedang bersedih, dengan air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi. David berusaha menenangkan Mitha yang mulai terdengar isak tangisnya dengan cara merengkuhnya. "Hikkz.. hikkz.. hikkz.."
Lucky yang melihat David memeluk pacarnya, diapun panas terbakar api cemburu. Luckypun berdiri menghampiri mereka, lalu menarik paksa keduanya agar terlepas dan mendorong David dengan kasar. "Sssrrrrrtttt..."
"Ciiiih..! Jangan sok perhatian dengan pacar orang, kamu itu hanya sahabatnya bukan kekasihnya. Jadi, tolong kamu harus bisa menjaga sikap kamu, David." Lucky tidak suka jika David peluk Mitha didepan matanya.
David hanya mendengus kesal dengan semua ucapan Lucky, diapun mengepalkan tangannya dengan rahang yang sudah mengeras, seakan siap untuk memangsa musuhnya. Namun, David masih bisa menahan emosinya karena ada Mitha diantara mereka.
"Sayang.. aku akan menjawab semua pertanyaanmu, asalkan hanya ada kita berdua yang bicara." Ujar Lucky memintanya dengan lirih.
"Baiklah, kalau memang Mas Lucky maunya seperti itu. Aku tidak ingin, Mas Lucky menyembunyikan suatu apapun dibelakangku. Aku ini calon istrimu, Mas Lucky harus ingat itu!" Seru Mitha serius.
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--