Pria Yang Merampas Kesucianku

Pria Yang Merampas Kesucianku
Kedua Calon Menantu


__ADS_3

♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️


🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih.


🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Hari ini adalah satu hari menjelang pernikahan Sebastian dan Laura. Teresia meminta Sebastian untuk membawa Laura dan Mitha, kerumahnya hari ini.


Laura dan Mithapun mau mengikutinya, meski awalnya menolak. Demi memenuhi keinginan sang calon mertua, Laura dan Mithapun tidak bisa berkata-kata lagi.


Laura dan Mitha yang baru dijemput oleh Sebastian nampak terperangah, saat melihat dekorasi acara pernikahan dengan tema garden parti yang begitu indah dan mewah.


"Wooow.. bagus banget, Ra." Puji Mitha dengan bibirnya berdecak kagum.


"Iya, Tha. Bagus banget ya!" Seru Laura menimpali.


"Apa kalian suka dengan tema dan dekorasinya?" Tanya Sebastian dengan tersenyum ramah.


"Suka kak!"


"Iya kak, aku suka banget. Kapan ya aku menikah kayak kamu, Ra?"


"Tunggu David melamar, hi.. hi.. hi.."


"Hiis.. apa sih, Ra? Malu sama kak Sebastian."


"Kenapa malu, Nona Mitha? Saya setuju saja kok, kalau memang kalian sama-sama saling mencintai dan cocok satu sama lainnya."


"Tidak apa-apa, kak Sebastian. Terima kasih, kak."


"Huem... ayo kita masuk saja kedalam." Ajak Sebastian ramah.


Laura dan Mithapun mengangguk kecil, lalu mengikuti Sebastian dan berjalan dibelakangnya.


"Selamat datang Tuan muda Sebastian, Nona Laura dan Nona Mitha." Ucap salam Martius ramah saat berdiri didepan pintu rumahnya. Penjaga rumah itu sudah mengenal Laura dan Mitha, karena sudah beberapa kali berkunjung.


"Iya, Pak Martius. Mama dan Papa ada, Pak?" Tanya Sebastian.


"Ada Tuan muda, semuanya ada didalam sedang bersantai diruang keluarga."


"Baiklah, terima kasih, Pak Martius."


"Sama-sama, Tuan muda Sebastian."

__ADS_1


Laura dan Mithapun mengucapkan terima kasih dan mengangguk kecil. "Terima kasih, Pak Martius."


"Iya, Nona Mitha dan Nona Laura."


Sebastian menggandeng Laura menuju ruang keluarga, saat penjaga rumahnya mengatakan Teresia dan Sofyan yang sedang bersantai disana.


Teresia sudah melihat kedua calon menantunya yang datang diapun begitu bahagia dengan seutas senyuman dibibirnya.


Saat kebersamaan mereka dua jam yang lalu, David bercerita kepada Teresia dan Sofyan juga Jenifer. David mengatakan bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan Mitha, sahabatnya sendiri.


David mengungkap kejujurannya, selama ini dia sudah menyukai Mitha saat mereka mulai bersahabat. Namun, saat itu Mitha sudah memiliki kekasih yang bernama Lucky Smith, jadi diapun mundur sebelum berperang.


Sedangkan David saat ini berani mengatakan cinta kepada Mitha, karena mereka sama-sama single.


"Hallo calon menantu Mama dua-duanya, yang cantik-cantik. Mari duduk disamping Mama."


"Deg.." Jantung mereka mendadak berdegup cepat.


Sontak saja Mitha tercekat, saat mendengar Teresia memanggil nama mereka dengan calon menantu. Sedangkan Laura dan Sebastian tersenyum kecil dan sedikit tercekat dengan panggilan yang ditujukan oleh Teresia untuk Mitha.


"Hi.. hi.. hi... wajah kalian kenapa tegang begitu? Jangan kaget gitu, sayang. Mitha yang cantik 'kan calon istri David, jadi calon menantu Mama juga dong." Seloroh Teresia tertawa kecil, melihat wajah kedua calon menantunya yang nampak shock.


"Ha.. ha.. ha.. rupanya David sudah bercerita kepada Mama. Baguslah, berarti sebentar lagi ada yang menyusul Sebastian ya Mama." Sebastian tertawa saat mendengar Mama Teresia mengatakan hal yang sebenarnya.


Laura dan Mitha tersenyum ramah menghampiri Teresia dan juga Sofyan. "Hallo Mama, Papa, David dan dik Jenifer." Ucap Laura, sedangkan Mitha memanggil mereka dengan sebutan Om dan Tante.


Lalu mereka mencium punggung tangan keduanya bergantian dengan hormat. Begitu juga Sebastian mengikutinya, padahal selama ini tidak pernah seperti itu.


Ketiga anak Teresia dan Sofyan semuanya baik dan ramah, namun mereka tidak pernah melakukan hal seperti yang dilakukan oleh Mitha dan Laura selama ini.


Teresia dan Sofyan merasa senang, Sebastian ikut melakukan hal yang seperti Laura dan Mitha lakukan kepada mereka.


"Anak Mama yang tidak pernah menyalami punggung tangan Mama, semenjak mengenal kalian berdua, akhirnya mau melakukan ini." Lirih Mama meneteskan air mata kebahagiaan.


Sontak saja, semua yang mendengar dan melihat Teresia berucap lirih dengan air mata yang mengalir dipipinya, yang usianya sudah tidak muda lagi. Langsung berhambur memeluknya dengan begitu sayang.


Setelah semua memeluk Teresia bergantian, yang terakhir adalah suaminya yang memeluk istrinya dengan penuh sayang dan begitu erat.


"Kita bersyukur, sayang. Kita memiliki calon menantu yang membawa kebaikan untuk anak-anak kita."


"Iya, Pah."


Sofyan mengurai pelukkannya dari tubuh istrinya, lalu mencuri ciuman dibibirnya sekilas didepan mereka tanpa rasa malu. "Cup.."

__ADS_1


Pemandangan itu sudah biasa dilihat oleh ketiga anaknya, meski Jenifer selalu mengumpat dan kesal, lalu pergi meninggalkan keduanya jika sedang berciuman seperti itu. Namun, pemandangan kali ini dilihat juga oleh kedua calon menantunya.


"Pah.. malu ada calon menantu kita, iih." Protes Teresia merengut dengan mendorong tubuh suaminya pelan.


"Tidak apa-apa sayang, mereka sudah dewasa semuanya." Seloroh Sofyan tanpa dosa.


"Aissh.. Pah, aku masih anak SMA kali. Jangan kalian nodai mata suciku. Kalau aku ingin melakukan hal itu, bagaimana? Aku tidak punya calon suami." Celetuk Jenifer menutup kedua matanya, dengan kedua jari tangannya.


"Ha.. ha.. ha.. kasihan anak gadis Mama pah, kamu sih tidak melihat tempat." Teresia tertawa mendengar anak gadisnya protes dengan kelakuan suaminya.


"Ha.. ha.. ha.." Semuanya ikut menertawakan kelakuan Sofyan dan kelucuan Jenifer.


"Duduk sini, sayang." Ucap Teresia meminta Laura dan Mitha duduk disamping kiri dan kanannya dengan kedua tangannya menepuk-nepuk sofa samping kiri dan kanannya.


"Iya, Mah." Ucap Laura.


"Iya, Tante." Ucap Mitha.


Mitha dan Laurapun duduk mengikuti kemauan Teresia, dengan berjalan kearahnya.


"Mulai sekarang, nak Mitha yang cantik harus bisa memanggil kami dengan sebutan Mama dan Papa juga, seperti nak Laura ya."


"I-iya, Tan, eeh.. M-mama." Ucap Mitha gugup.


"Panggil Papa juga dong, nak Mitha." Sela Papa Sofyan.


"Eeh.. iya, Om... eh, P-papa." Sahut Mitha masih gugup pula.


"Nah, gitu jadi senang dengarnya, Mama." Selorohnya Teresia, mengusap lengan kedua calon menantunya bersamaan.


David menatap lekat Mitha dengan senyuman mempesonanya, saat Mitha nampak malu dan shock dengan perlakuan kedua orang tuanya. Kemudian dia menghampiri kekasihnya itu, yang belum resmi diterima atau belum, lalu duduk disampingnya.


"Maafkan aku, Mitha sayang. Aku sudah membuat kamu shock pastinya hari ini." Bisik David ditelinga Mitha.


"David sayang, tidak boleh bisik-bisik kamu. Ayo katakan, kamu lagi ngomong apa sama calon menantu Mama. Kalau kamu bisik-bisik seperti itu, bulan depan Mama nikahkan kalian berdua."


"Haah..! " Sontak saja, Mitha dan David tercekat dengan ucapan Teresia, begitu juga dengan yang lainnya.


♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


__ADS_2