Pria Yang Merampas Kesucianku

Pria Yang Merampas Kesucianku
Perdebatan Sengit


__ADS_3

...♥️♥️Hallo.. Hallo.. Guys.. !!! Salam sehat dimanapun kalian berada.. !!!♥️♥️...


...🌹🌹Mari kita lanjut baca cerita ini yah, Kakak, Mas, Ibu-ibu dan Bapak-bapak semuanya. Kalau suka dilanjutkan yah. Jangan lupa Like, Vote, Komentar, Favorite juga biar engga ketinggalan Upnya, boleh kalau ada hadiah ☕♥️🌹 dan hadiah tips lainnya. Terima kasih....


🥰🥰Happy Reading🥰🥰


David langsung tersenyum miring, saat Calista membela Papinya dengan begitu percaya diri. Perdebatan merekapun semakin memanas, takkala keduanyapun saling melemparkan kata.


"Apa kamu punya bukti, David? Jika memang, Papiku mengusir wanita ini dari rumahnya? Dan asal kau tahu David, dialah yang sudah pergi dari rumahnya sendiri!" Sarkas Calista masih membela Papinya dan membenarkan pendapatnya, seraya menunjuk Laura dengan jari telunjuknya.


Calista memang ingat dirinya mempunyai sepupu yang bernama Laura Casandra. Namun, dirinya tidak menyangka bahwa orang yang dihadapannya kini adalah saudara sepupu yang begitu dia sayangi dahulu.


Calista berbeda tiga tahun usianya diatas Laura. Mereka berteman baik sewaktu kecil, Calista kecil selalu menemani Laura kecil bermain.


Saat Calista lulus SMP, dirinya memutuskan untuk pergi study ke Amerika. Lalu Calista tinggal bersama Oma Casandra dan Opa Alexander disana.


Setelah memyelesaikan kuliahnya, Calistapun akhirnya kembali ke Indonesia. Kedua orang tua Calista, ingin meminta bantuannya untuk memulihkan Perusahaannya yang hampir pailit, akibat tidak bisa membayar hutang-hutangnya.


Mau tidak mau, Calistapun mengikuti keinginan kedua orang tuanya, terutama keinginan Papinya, yaitu Samudra Casandra.


Calista sering menghubungi kedua orang tuanya, saat berada di Amerika dan selalu menanyakan keberadaan Laura. Namun, Samudra dan istrinya menceritakan kebohongan soal kepergian Laura, semenjak kedua orang tua Laura meninggal.


Calistapun percaya dengan apa yang dikatakan kedua orang tuannya. Hingga kini diapun tidak menanyakan lagi keberadaan Laura.


"Kenapa kau menanyakan bukti kepadaku, heuh? Bukankah sudah cukup jelas, dengan sepupumu yang berada disini, dihadapanmu!" Seru David tersenyum mengejek.


"Tapi.. aku tidak akan percaya jika Papiku mengusir Laura dan membiarkanya menderita tanpa kedua orangtuanya. Papiku sangatlah baik dan penyayang kepadaku, bahkan kepada Laura sedari kecil. Papi dan Mamiku sudah menganggap Laura seperti anaknya sendiri." Bantah Calista dengan emosi yang menggebu.


"Tapi, kenyataannya tidaklah demikian!" Ucap David santai meski lawannya sudah emosi.


"Memangnya kamu mengenal Pa.." Ucapan Calista terhenti, ketika Laura menyelanya.


"Sudah, hentikan!" Seru Laura menghentikan perdebatan mereka yang saling memanas.


Dengan raut wajah sendu dan air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya, Laurapun berdiri hendak meninggalkan mereka.


Sontak saja David dan Calistapun mendadak berhenti berdebat.

__ADS_1


Sebastian dan Teresiapun dibuat melongo, dengan apa yang sedang diperdebatkan David dan Calista, lalu merasa terkejut dengan suara Laura yang terlihat marah.


Mitha menahan lengan Laura yang sudah berdiri, lalu meminta Laura untuk duduk kembali.


Sebastian dan Davidpun hendak berdiri, namun sudah keduluan oleh Mitha.


"Ra.. tahan dulu, jangan emosi dan gegabah. Kamu harus jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, saat kamu duduk dibangku SMP dulu." Tutur Mitha.


Laurapun mendengarkan ucapan Mitha, dengan mengangguk kecil.


"Kak Calista.."Panggil Laura lirih.


"Heem.."


"A-ku memang diusir oleh Om Samudra, tepat Mami dan Papi dalam pencarian dua bulan, atas kecelakaan Papi dan Mami dalam pesawat naas itu, kak."


"Apa kamu sedang berbohong, atau menutupi kebusukanmu, Laura?" Hardik Calista tidak percaya dengan pembelaannya.


"Aku tidak pernah berbohong, soal kenyataan yang sudah terjadi. Om Samudra memang melakukan itu, untuk menguasai harta milik kedua orangtuaku."


"Ciih.. kalau memang kamu diusir oleh Papiku, bagaimana kamu bisa tetap bertahan hidup dan masih terlihat baik-baik saja sekarang? Bukankah kamu meninggalkan rumahmu sendiri, karena ingin menjadi wanita simpanan Om hidung belang?"


"Jangan asal bicara kamu kak! Sumpah demi apapun, aku diusir oleh Om Samudra dari rumahku sendiri. Aku diberi tumpangan tempat tinggal oleh orang tua Mitha, sahabatku. Hingga detik ini, aku masih dianggap seperti anaknya sendiri."


Calista memegangi pipinya dengan kesal, karena tamparan yang dilakukan Laura.


"Allaaah.. kamu sungguh pintar membohongi semua orang, jangan bilang kamu menderita selama ini. Papiku bilang sendiri, kamu marah kepada Papiku dan Mamiku, karena tidak diterima sudah dimarahi dan dinasehati karena kelakuan jelek kamu itu, bukan?"


"Stop Calista! Apa yang kamu tuduhkan kepada Laura tidaklah benar. Aku sendiri yang sudah meniduri Laura dan memperkosanya. Dia masih perawan saat aku melakukan itu. Semua itu cukup menjadi bukti, apa yang Laura ucapkan adalah benar adanya." Ungkap Sebastian dengan gamblang.


Ucapan Sebastian mampu membungkam dan menghentikan tuduhan Calista kepada Laura, wanita yang teramat dicintainya.


Seketika saja Calista dan Teresia dibuat shock, dengan apa yang dikatakan oleh Sebastian. Teresia hampir jantungan saat mendengar pernyataan Sebastian, diapun memegangi dadanya yang mulai terasa sesak dan sakit dengan tangan kanannya.


"S-sebastian, a-apakah yang kamu katakan itu sungguh-sungguh? B-bukan kebohongan semata?" Tanya Teresia terbata.


"Sudah Mah, Mama jangan banyak bicara lagi. Apa yang Mama rasakan? Kenapa Mama terlihat pucat? Apa jantung Mama baik-baik saja?" Tanya Sebastian khawatir, yang melihat Mamanya nampak pucat dengan memegangi dadanya.

__ADS_1


David, Laura dan Mithapun, ikut panik dan khawatir dengan keadaan Teresia saat ini.


Sedangkan Calista masih mematung, tidak percaya dengan pernyataan Sebastian yang baru saja dia dengar.


"J-jawab Sebastian.. !" Teresia berteriak kencang, hingga membuat para pengunjung restoran memperhatikan kearah mereka.


"Sudahlah Mah, mari kita pulang dulu kerumah, kita bicarakan baik-baik dirumah. Aku khawatir dengan kondisi jantung Mama, aku akan bicara nanti jika sudah sampai dirumah. Disaat suasana sudah baik dan jantung Mama sudah terkontrol." Ujar Sebastian menerangkan.


Teresiapun mengangguk kecil dan menuruti apa yang dikatakan oleh Sebastian.


Para pengunjung tampak riuh dan memperhatikan mereka dengan berbisik-bisik dan tatapan ingin tahu apa yang terjadi.


David mengintruksikan kepada para pengunjung untuk tidak memperdulikan apa yang terjadi dan mohon maaf atas ketidaknyamanannya.


Merekapun akhirnya pergi meninggalkan restoran itu menuju Parkiran mobil mereka.


Sebastian menggandeng Teresia dan menemaninya pulang, bersama mobilnya yang dibawa oleh supir pribadinya. Sedangkan Mitha dan Laura diantar pulang oleh David ke kontrakkannya.


Calistapun mengejar Sebastian dan Teresia untuk ikut dengannya, karena mobilnya dia tinggal dirumah Teresia tadi saat hendak kerestoran.


"Tante Tere.. aku ikut menumpang mobilnya, untuk mengambil mobilku dirumah Tante." Pintanya Calista dengan wajah memelas.


"Tidak! Kamu bisa naik taxi, untuk mengambil mobilmu kerumah." Cegah Sebastian menolak permintaan Calista.


"S-sebastian.. apa yang kamu katakan? Dia itu calon istrimu, anak pembangkang!" Omel Teresia dengan kesal, lalu memukul lengan Sebastian yang sedang menggandengnya.


"T-tapi Mah, aku akan menikahi Laura, bukan menikahi dia. Jadi hentikan ucapan Mama, untuk memanggilnya calon istriku." Sarkas Sebastian membantah Teresia.


"K-kamu..!" Ucap Teresia lirih, lalu tak sadarkan diri.


Teresia teramat terkejut, saat Sebastian akan menikahi Laura dan bukanlah Calista.


"Mama... !" Teriak Sebastian panik.


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2